Pagi ini kediaman Han Aruna mendadak ramai. Berbagai persiapan mereka lakukan untuk keberangkatan rombongan mereka ke istana. Dua kereta sudah dipersiapkan untuk segala keperluan selama tiga hari di istana. Satu kereta berisi perlengkapan Han Aruna seperti hanfu dan juga perhiasannya. Sedangkan satu kereta lainnya berisi persediaan untuk para pelayan dan juga pengawal pribadinya.
Para pelayan sibuk menyiapkan segala keperluan dipandu oleh Han Mora secara langsung. Wanita paruh baya itu mempersiapkan segala keperluan untuk Han Aruna dan memastikan tidak ada yang keliru.
Sebagai seorang ibu, rasa khawatir dan was-was tentu saja dia rasakan untuk anak gadisnya. Ini adalah kali pertama Han Aruna akan berada di lingkungan istana. Ia takut putrinya akan menjadi sasaran empuk manusia licik disana. Yah meskipun ia tahu anaknya itu sangat cerdik dan teliti, masih ada sedikit kecemasan di hatinya.
Jika ia tidak dalam keadaan kurang sehat saat ini, ia akan menemani putrinya itu. Menjaga dan membimbing nya dari dekat akan mengurangi segala macam resiko bahaya.
Sedangkan gadis ya g sedang dikhawatirkan nya saat ini sedang bermain pedang bersama Jei di halaman paviliun nya. Terkesan acuh dengan jamuan bunga yang akan berlangsung di istana esok hari.
Namun di saat dirinya sedang asik bermain pedangnya, suara melengking membuyarkan konsentrasi nya hingga membuat mata pedang Jei berhasil memojokkannya dan bertengger di leher putihnya.
“Kali ini anda kalah nona.” Kata Jei.
“Jei ini curang. Aku kaget dengar suara merdu ibu.” Ejeknya. Jelas-jelas ia tadi mengusap telinganya karena merasa terganggu. Ia sendiri heran dari mana wanita yang berkata bahwa ia sedang sakit itu memiliki kekuatan yang cukup besar untuk berteriak sekencang itu. Membuatnya kalah untuk pertama kalinya dari Jei.
“Dalam pertarungan tidak ada kata tidak siap nona. Lain kali nona harus fokus pada pertarungan yang sedang terjadi. Tidak boleh Meleng ataupun pecah konsentrasi. Akan sangat bahaya ke depannya.”
“Aku tahu Jei.” Sungut Aruna. Ia paling anti dengan kekalahan. Itulah sebabnya ia kesal sekarang.
“Aruna kenapa masih belum bersiap hah? Mau membuat kediaman kita malu karena penampilanmu yang urakan?” Han Mora menghampiri Han Aruna dan menarik telinga putrinya keras. Membuat si empunya mengaduh.
“Ibu ini sakit. Lepaskan! Lagipula apa yang harus aku persiapkan? Semua bukankah sudah dipersiapkan oleh ibu?” bantah Aruna sambil menggosok telinganya yang ngilu.
“Gadis bodoh! Kamu harus menyiapkan dirimu. Pergilah perawatan. Biar di sana kamu kelihatan paling bersinar.” Kata Han Mora sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil menerawang jauh.
Percayalah, di kepala Han Mora saat ini sudah tergambar jelas penampilan cantik Aruna yang mengenakan hanfu indah dengan sapuan make up yang menawan. Penampilan yang sangat jarang bisa ia lihat mengingat putrinya lebih suka memakai hanfu sederhana atau hanfu pria. Sungguh kecantikan yang disia-siakan baginya.
“Apakah itu perlu Bu? Bukannya hanya jamuan makan biasa?” goda Aruna. Ia tahu betul maksud ibunya.
Mana bisa ia datang ke istana dengan penampilan nya yang biasa-biasa saja. Tentu saja ia akan menjadi bahan gunjingan jika itu sampai ia lakukan. Namun baginya tidak harus seserius itu menghadapi jamuan bunga. Ia hanya cukup berias seperlunya dengan memakai hanfu mewah. Penampilannya sudah akan menawan. Tidak perlu sampai merawat diri dengan berbagai macam hal yang menghabiskan banyak waktu. Akan lebih baik ia gunakan waktu itu untuk latihan pedang seperti saat ini.
“Aku pusing menghadapimu. Menurutlah untuk saat ini. Se Se bantu nonamu untuk perawatan. Aku tidak ingin panampilan buluknya mencoreng nama baik Anggrek Bulan milikku.” Katanya pedas. Yang Se Se segera datang dan menyerakan handuk kecil untuk menyeka keringat nona mudanya setelah ia mengiyakan perintah sang nyonya besar.
“Bu, tapi dua hari yang lalu aku baru saja perawatan. Aku rasa tidak perlu untuk hari ini.” Aruna masih mencoba menghindar. Baginya perawatan kulit tidak begitu penting untuk nya.
“Tidak ada tapi-tapian. Se Se cepat bawa nonamu ini pergi. Mataku akan tercemar melihat wajahnya yang kumel berkeringat.” Usir Han Mora membuat Han Aruna mendengus sebal namun masih berjalan menuju kamarnya untuk melakukan perawatan di dalam kamar mandi.
Di dalam kamar Aruna segera melepas hanfunya dibantu oleh Se Se. Sedangkan dua pelayan lain menyiapkan air panas dan juga perlengkapan untuk perawatan. Lulur tradisional dan juga masker. Mereka juga menyiapkan uap harum yang akan mereka aplikasikan untuk rambut Aruna.
Aruna masuk ke dalam kamar mandi dengan satu lapis hanfu yang menjadi dalaman setelah para pelayan mengatakan jika semua persiapan telah siap.
Dibantu Se Se. Aruna kembali melepas satu lapis hanfu terakhirnya dan meninggalkan kain putih yang melilit tubuhnya. Dengan perlahan Aruna berjalan dan memasukkan dirinya ke dalam bak mandi yang cukup besar. Berukuran tiga kali empat meter. Bahkan karena ukurannya, ini bisa disebut kolam.
Aruna duduk di tepi bak mandi yang cukup dangkal. Meletakkan kepalanya di pinggir bak dan membiarkan para pelayan membersihkan dan merawat rambutnya. Kedua tangannya juga ia rentangkan di tepi bak. Dua orang pelayan menghampiri dan menggosok pelan lengan putih susu milik Aruna.
Para pelayan selalu mengagumi tubuh majikannya itu. Putih yang sempurna. Sehalus sutra dan sewangi bunga Gardenia. Wajahnya pun sangat cantik meskipun tanpa polesan make up sedikitpun. Pesona yang membuat para kaum hawa merasa iri dan kaum Adam akan meleleh dibuatnya.
“Nona, saya yakin para pangeran akan terpesona pada kecantikan Anda.” Kata seorang pelayan di antara mereka.
“Benar nona. Kecantikan nona tidak ada bandingannya di kekaisaran ini.” Kata pelayan yang lain. Sedangkan Aruna hanya diam mendengarnya. Masih setia menutup matanya menikmati pijatan pada lengannya.
“Hamba dengar-dengar dalam perjamuan Bunga kali ini semua pengeran akan hadir dan memilih istri dan juga selir. Apalagi putra mahkota masih melajang sampai sekarang. Pasti banyak gadis yang akan tampil maksimal nanti.”
Aruna masih diam. Tapi ia mengingat betul apa yang para pelayannya gosipkan. Mereka mulai mengompori Han Aruna untuk menjadi yang terbaik. Atau mungkin menjadi istri putra mahkota. Ini akan menjadi nasib yang mujur.
“Apakah ibu yang meminta kalian mengatakan semua hal ini padaku?” tanya Aruna dengan nada malasnya. Ia tahu betul apa maksud mereka.
Ketiga pelayan yang tadinya asik menggosip kini terdiam. Nona mereka sangat cerdik sehingga ia bisa menebak maksud mereka. Memang semua itu atas perintah dari Han Mora.
“Katakan pada ibu aku akan melakukan yang terbaik. Tapi dengan caraku.”
Pesan Aruna yang diterima Han Mora menjadikan wanita paruh baya itu menjadi mendung. Bukan maksudnya untuk menekan Han Aruna dengan pernikahan. Namun ia terpaksa melakukannya.
Usianya yang sudah mulai tua tidak akan lagi mampu melindungi dan menjaga putrinya itu. Ia takut jika ia pergi tanpa mempercayakan putrinya pada orang yang tepat, yang kuat yang bisa memastikan keselamatan Aruna ia akan merasa sangat sedih.
Namun dari pesan Aruna, ia paham jalan yang akan diambil Aruna bukanlah jalan yang ia maksud. Gadisnya itu tidak suka bergantung pada orang lain. Gadis ini terlalu mandiri. Han Mora berharap jika ia akan mendapatkan suami yang baik yang menyayanginya dengan tulus. Tentu dengan kekuatan dan kekuasaan yang besar. Ke depannya jalan tidak akan mudah.
Meski bagaimanapun, Han Mora bukanlah seorang ibu yang memaksakan keinginannya. Ia mencoba menghormati keputusan Aruna dan hanya bisa berdoa yang terbaik untuk anak gadisnya itu.
*
*
*
...^^^~°The Story Of Han Aruna _14°~^^^...
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa like👍 dan komentar yang membangun EA. 😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
~Daf r r
mana nih pria bertopeng
2023-07-18
0