Tak lama menempuh perjalanan, Aruna sampai di gudang yang dimaksud anak buahnya. kuda yang ditungganginya segera ia serahkan kepada anak buahnya yang sudah menunggu di sana.
"Dimana Mereka?" tanya Aruna setelah dirinya menemui kepala gudang.
"Mari Nona."
Aruna dibimbing untuk untuk masuk ke dalam gudang kosong tempat pencuri itu ditawan. Sepanjang perjalanan, para penjaga membungkukkan tubuh mereka memberi hormat pada sang pemilik tempat dimana mereka bekerja.
“Silahkan Nona.” Kepala gudang yang biasa dipanggil paman Du itu membukakan pintu untuk Aruna.
Di dalam gudang, ada tiga orang yang di dudukkan di lantai. Ketiganya diikat satu-satu.
Aruna melihat mereka dengan seksama. Pandangan matanya dingin dan teliti. Dia tidak akan membiarkan dirinya ceroboh sama sekali. Para tawanan yang mendapatkan tatapan penuh selidik dari gadis cantik di depannya segera menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana seorang gadis memiliki aura yang begitu mendominasi.
“Apa tujuan kalian sebenarnya?” suara yang merdu namun penuh tekanan itu terdengar seperti menusuk hati. Bukan hanya para tawanan yang gemetar. Para penjaga pun merasakan hal yang sama dengan ketiga tawanan itu.
“Mereka hendak mencuri barang yang akan kita lelang pada awal musim semi panas Nona.” Jawab paman Du.
Menghiraukan penjelasan paman Du, Aruna masih sibuk meneliti setiap mimik wajah tiga orang laki-laki di depannya.
“Untuk aliansi dagang mana kalian bekerja?” ketiga tawanan segera mendongakkan kepalanya. Anak buah Aruna saling memandang. Perkataan nona mereka sungguh di luar perkiraan mereka.
“katakan!!!” teriak Aruna sambil menodongkan mata pedang yang ia ambil dari salah seorang penjaga yang ada di dekatnya pada leher salah satu pria yang terikat di lantai.
“Pembunuh bayaran.” Gumam Aruna setelah melihat bahwa tidak ada ketakutan dan keraguan yang ada di mata ketiga pria tersebut.
“Geledah mereka!” Aruna melemparkan pedangnya pada pengawal yang pedangnya telah ia ambil. Aruna duduk di atas kursi satu-satunya yang ada di ruangan itu. Menyilangkan kaki kirinya dengan anggun. Sementara anak buahnya melakukan tugasnya untuk menggeledah para tawanan.
“Mereka dari serikat pembunuh bayaran “Lotus Hitam” nona.” Kata salah satu penjaga setelah menemukan tato bergambar lotus hitam yang ada di punggung para Tawanan.
Kemudian, setelah diketahui bahwa mereka bertiga adalah orang bayaran, banyak pertanyaan yang dilontarkan pada mereka. Namun tidak ada satupun informasi yang keluar dari mulut ketiganya.
“Huh! Serikat Lotus Hitam. Pantas saja mereka sangat loyal.” Aruna mengibaskan hanfunya sebelum menghampiri ketiga orang itu.
“Paman Du.” Orang yang disebut namanya segera mendekat. Aruna mengulurkan tiga butir pil bening dari balik hanfunya. Paman Du segera menerima dan tahu apa yang harus ia lakukan.
Dengan paksa, satu persatu mereka menelan pil bening itu. Pil itu adalah pil kejujuran. Aruna tidak akan berbuat kejam pada orang yang tidak tahu apa-apa. Bagaimanapun, mereka hanyalah bawahan yang menuruti perintah atasan.
Setelah menunggu sekitar lima menit, Aruna kembali membuka mulutnya.
“Apa yang akan kalian lakukan di tempatku?” suara Aruna yang tegas dan dingin segera terdengar.
“Kami hanya diminta untuk membakar gudang milik Nona.” Jawab salah seorang diantara para tawanan.
“Berani sekali atasanmu menerima perintah seperti itu.”
“Siapa yang menyewa kalian?” lanjut Aruna.
“Kami tidak tahu. Kami hanya menerima perintah dari atasan kami.” Jawab salah satu tawanan.
Aruna mendengus sebal. Tidak ada cara lain untuk mengetahuinya selain datang secara langsung. Para pembunuh dari serikat Lotus Hitam memang tidak pernah tahu untuk siapa mereka bekerja karena mereka hanya mendapatkan perintah dari atasan. Jadi, seperti apapun usaha untuk membuat mereka buka mulut tidak akan pernah berhasil.
“Kurung mereka! Berikan ramuan pencuci otak. Mereka berani bermain dengan kita akan tahu akibatnya.” ucap Aruna acuh.
“Baik Nona.” Anak buahnya segera bekerja. Ketiga tawanan segera diseret untuk dibawa ke penjara bawah tanah yang memang tersedia disana.
“Persiapkan diri, besok kita akan mendatangi sarangnya.” Aruna menyeringai. Sepertinya besok akan menyenangkan. Dia sendiri hampir bosan karena hanya mengurus perdagangan. Sudah lama ia tak menggunakan kemampuannya untuk bertarung.
Keesokan harinya, setelah menghabiskan sarapannya, Aruna segera menyiapkan. Hanfu pria berwarna hitam dengan pola ular piton berwarna biru sudah melekat di tubuhnya. Rambutnya ia ikat tinggi dengan gelang rambut berwarna hitam senada dengan hanfu yang ia pakai.
“Sudah mau berangkat?” tanya Han Mora yang melihat Aruna berjalan ke arahnya.
“Iya bu.”
“Mereka sangat berbahaya nak. Apa tidak sebaiknya para penjaga saja yang pergi kesana.”
“Oh ayolah bu. Ini akan seru. Lagipula aku sudah sangat lama tidak merengganggakan otot-ototku. Selama satu bulan dirumah aku rasa mulai bosan.”
Nyonya Han tergelak. Bagaimana bisa gadis yang ia besarkan menjadi seperti ini. Aruna bahkan lebih memiliki sifat pria yang dominan dibandingkan sifat seorang putri bangsawan yang anggun.
“Huh! Harusnya dari dulu aku tidak membawamu ikut berlayar. Lihatlah dirimu. Bisakah kamu disebut seorang gadis sekarang?”
“Bukan bu. Aku bukanlah gadis secara umum. Aku tentu saja berbeda dari mereka. Ibarat kata, aku ini versi lengkap.”
“Kamu benar. Versi lengkap seorang putri bangsawan yang anggun dan tuan muda yang tangguh.” Nyonya Han manggut-manggut. Ia tak menyangka gadis yang ia besarkan selama sepuluh tahun ini akan tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Dengan bakat multi talenta yang ia miliki akan menjadikannya wanita terhebat di masa depan.
“Itulah aku. Baiklah ibu aku berangkat dulu. Tolong minta pelayan menyiapkan minuman segar ketika aku kembali.” Pamit Aruna.
“Baiklah. Bersenang-senanglah Aruna.”
Aruna yang mendengar itu tergelak ringan. Sudah lama rasanya ia tidak menggerakkan otot-ototnya untuk menghajar orang. Jika ia sedang berlayar, akan banyak perompak yang akan ia hadapi sehingga tidak akan merasa bosan seperti sekarang.
Namun ini sudah satu bulan ia tidak ikut berlayar. Hanya anak buahnya yang mengarungi lautan dan masih dua bulan lagi mereka baru akan kembali. Huh! Rasanya ia sudah merindukan lautan yang luas dan penuh dengan kejutan.
Aruna sudah berada di depan kediaman. Kudanya sudah menunggu disana. Begitu juga dengan anak buahnya.
Semua mata memperhatikannya. Aruna memang jarang terlihat di muka umum. Itulah mengapa wajahnya masih belum familiar bahkan untuk warga yang tinggal di sekeliling kediaman ataupun rumah lelangnya. Biasanya Aruna akan memakai kereta sebagai alat tansportasinya sehingga akan jarang wajahnya terekspos. Bisa dibilang inilah pertama kalinya ia menampakkan wajahnya di depan umum pada siang hari.
Wajah yang dirias natural menambah daya pikat dan ketegasan pada wajah cantik alami itu. Dengan anggun dan agung pada saat bersamaan, Aruna duduk dengan tegak di atas punggung kuda hitam gagah yang akan membawanya ke tujuannya.
Di belakangnya, ada sepuluh orang dengan seragam penjaga kediamannya mengikuti. Dengan tubuh yang tegap dan berotot kesepuluh pria itu mengikuti Aruna yang sudah menggelak kudanya.
“Siapa gadis cantik itu?” tanya seorang warga.
“Apakah dia Nona muda Han?” tanya si B.
“Mungkin saja. Dia tidak pernah menunjukkan wajahnya. Siapa sangka jika ternyata ia sangatlah cantik.” Kata si C.
“Aku sangat beruntung dapat melihat kecantikan itu. Sepertinya dialah kecantikan nomer satu di kekaisaran ini sekarang.” Kata di D.
“Kamu benar. Bahkan putri mahkota saja tidak secantik dia. Padahal sepertinya ia tidak merias dirinya dengan baik.” Kata si E.
Aruna mendengus. Mendengar orang-orang bergosip tentangnya sungguh tidak nyaman. Aruna heran kenapa orang-orang suka sekali bergosip. Padahal apa yang mereka bicarakan tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Sungguh perbuatan yang membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna.
Akhirnya Aruna segera melajukan kudanya dengan cepat setelah melewati pasar yang ramai. Telinganya terasa berdengung.
...~♡♡♡~...
^^^_-~*The Story Of Han Aruna_10 *~-_^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
~Daf r r
mantul
2023-07-18
0
~Daf r r
mantap
2023-07-18
0
fifid dwi ariani
trus sejahtera
2022-12-01
0