Barisan kereta mengantri di gerbang istana untuk masuk ke dalamnya. Kereta-kereta mewah dari berbagai kediaman menunggu gilirannya untuk masuk. Satu persatu kereta diperiksa kelengkapannya. Tidak memberikan sedikit pun kesempatan untuk menyelundupkan barang-barang yang berbahaya.
Bahkan para penjaga juga hanya diperbolehkan membawa satu jenis senjata untuk mereka masing-masing. Akan banyak tamu yang datang. Jadi keamanan. Harus ditingkatkan.
Han Aruna ada di dalam salah satu kereta yang ikut mengantri itu. Bermain catur di dalamnya dengan Yang Se Se yang menjadi pelayan kepercayaan nya. Di dalam kereta itu hanya ada dirinya dan Yang Se Se. Sedangkan lima pelayan lain yang ikut bersamanya duduk di dalam kereta di belakangnya.
“Rombongan kediaman Han dipersilahkan masuk.” Teriak seorang penjaga setelah menerima laporan dari rekannya bahwa mereka telah selesai memeriksa.
Han Aruna akhirnya merasa lega semua ini akhirnya berakhir. Ia tidak menyukai duduk diam di dalam ruangan sempit seperti kereta dalam waktu yang lama. Andai bukan karena paksaan Han Mora, ia akan lebih memilih memacu sendiri kudanya.
Han Aruna beserta Yang Se Se dipersilahkan memasuki aula untuk acara penyambutan yang akan berlangsung setelah matahari tenggelam. Sedangkan rombongan yang datang bersamanya langsung dibawa oleh petugas untuk menempati kediaman yang disediakan untuk para tamu. Mereka akan berada di istana selama tiga hari untuk acara perjamuan menyambut musim semi ini.
Seorang Kasim mengumumkan kedatangannya dengan lantang ketika Han Aruna memasuki aula. Di dalamnya sudah banyak tamu yang hadir lebih dulu. Mereka duduk di tempat yang sudah ditentukan berdasarkan posisi dan status keluarga mereka.
Keluarga Han adalah salah satu keluarga ternama di kekaisaran. Namun posisinya masih berada di bawah para menteri. Jadi tempatnya berada di barisan nomer dua sejajar dengan keluarga bangsawan lain. Namun posisinya berada di bagian paling dekat dengan kursi Kaisar. Menandakan posisi keluarga Han paling tinggi dibanding bangsawan lainnya.
Sembari berjalan, Tidak lupa Han Aruna menyapa beberapa orang yang ia kenali. Sebagai orang baru yang muncul dalam usaha keluarga nya, Han Aruna masih belum mengenal banyak orang. Hanya beberapa yang menjadi mitra atau datang untuk urusan bisnis yang ia kenali. Sedangkan yang lainnya, baginya tidak menarik dan tidak penting. Ah abaikan saja.
Bisik-bisik langsung terdengar dari para wanita di sana. Mereka mengagumi kecantikan Aruna. Namun tak sedikit dari mereka yang mencibir sikap Aruna yang dianggapnya sombong.
“Aku tidak menyangka jika nona Han sangat lah cantik.” Bisik satu nona muda yang berada satu barisan Mentri di depannya.
“Percuma cantik tapi tidak berpendidikan. Dia kan besar di laut. Pasti tidak punya etika.” Ejek temannya.
“Namun dia terlihat anggun.”
“Kita belum melihat wujud aslinya saja.”
Menyela pembicaraan para tamu, seorang Kasim meneriakkan kedatangan keluarga yang membuat Aruna menjadi tegang.
“Jendral besar Jang dan kaluarga tiba.”
Seorang laki-laki paruh bawa berjalan dengan penuh wibawa berada paling depan. Wajah tuanya yang terlihat masih cukup tampan penuh ketegasan khas seorang jenderal. Sedikit di belakangnya, Jang Hao Shan berjalan memancarkan aura nya. Wajahnya yang tampan merupakan daya tarik tersendiri bagi para nona muda di sana. Selain berharap menjadi istri atau selir para pangeran, para gadis ini tentu juga berharap menjadi salah satu wanita yang menarik hati para tuan muda yang terhormat seperti Jang Hao Shan ini.
Selir Ye berjalan dengan anggunnya di belakang Jang Fang Lin. Di sampingnya ada Jang Mue Lan yang masuk ke jajaran tiga gadis cantik di kekaisaran Shao setelah putri Shen Feiyang. Di sampingnya ada Jang Dong He. Dia juga mempunyai wajah yang cantik.
Jang Fang Lin berjalan menuju tempatnya. Duduk di barisan depan pertama. Berseberangan dengan tempat duduk Aruna.
Jang Hao Shan mencuri pandang untuk melihat adiknya. Ia yakin bahwa untuk saat ini tidak ada seorangpun dari keluarganya yang mengenalinya. Sebuah senyuman muncul di bibirnya saat ia bersyukur adiknya mempunyai hidup yang lebih baik. Namun ia masih menyayangkan karena adiknya hidup bahagia di tempat orang lain.
“Tuanku, hamba perhatikan jika tuan muda mencuri pandang pada gadis muda itu. Apakah saat ini tuan muda sudah menemukan jodohnya?” bisik selir Ye. Namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh orang di sekitarnya. Ia berpura-pura perhatian. Namun ia masihlah rubah tua yang licik.
Melihat dari tempat duduknya, Aruna bukanlah seorang yang memiliki jabatan penting. Hanya sebatas bangsawan yang diundang. Setidaknya itulah yang ada di pikirannya. Dan jika Jang Hao Shan memiliki jodoh dengan jabatan yang rendah, posisinya di dalam keluarga tentulah akan ikut rendah meskipun ia merupakan pewaris sah kediaman Jenderal Jang.
Kalau hal itu sampai terjadi, maka dirinya masih akan mampu melawan dan menekan kekuasaannya pada Jang Hao Shan seperti sebelumnya karena tidak memiliki pendukung yang kuat.
“Ah Gege memiliki penglihatan yang bagus. Nona muda itu cukup cantik untuk dibawa pulang sebagai istri.” Kata Jang Mue Lan.
“Apakah itu benar Shan’er?” Tanya Jang Fang Lin penasaran. Posisi kediaman Jenderal Jang bukanlah posisi yang bisa diremehkan. Jika putranya memilih pasangan yang lebih rendah darinya, itu tidak masalah.
“Tidak ayah. Aku hanya sedikit teringat seseorang saat melihatnya. Sepertinya dia seseorang yang pernah ada di masa lalu.”
“Sepertinya itu tidak mungkin. Itu adalah nona muda Han. Dia selalu beradaa di lautan sejak kecil. Dan baru kali ini masuk ke dalam istana. Aku rasa kita tidak mungkin pernah bertemu dengannya sebelumnya.” Kata Jang Mue Lan. Diam-diam, gadis ini sudah memata-matai Han Aruna. Dia mendengar jika posisi kecantikannya bergeser menjadi ketiga di kekaisaran gara-gara gadis yang sedang diperhatikan kakaknya ini. Tentu saja ia harus segera bertindak.
“Ah sudahlah. Jangan memperpanjang masalah. Kali ini kalian harus bersikap baik. Jangan sampai membuat nama baik kediaman kita dipermalukan.” Putus Jang Fang Lin. Perdebatan tidak akan selesai jika melibatkan mulut wanita di dalamnya. Akan banyak hal lagi yang akan muncul dan dibahas.
Di tempatnya, Aruna duduk sambil menikmati teh dan kudapan ringan yang tersedia di atas mejanya. Aruna duduk bersama dengan Yang Se Se di sampingnya yang sibuk melayaninya. Karena dia hanya datang seorang diri, tempatnya menjadi tempat yang paling kosong. Hanya ada dua penjaga yang ada di belakangnya dan Jei dan Yang Se Se di kedua sisinya.
Siapapun yang melihat komposisi ini pasti akan merendahkan Aruna dan mengejeknya di dalam hati.
“Nona, hamba melihat tuan muda Jang dari tadi melihat ke arah anda. Aku yakin dia menaruh hati pada nona.” Bisik Yang Se Se.
“Biarkan saja Se Se. Ia punya mata. Dia berhak menggunakan matanya untuk apa pun yang dia inginkan.” Aruna bukannya tidak menyadarinya. Ia tahu kakaknya itu melihatnya dari tadi. Dan ia yakin bahwa kakaknya telah mengenali identitas nya yang sebenarnya. Dari tatapan matanya yang lembut bersahabat, dapat terlihat binar kerinduan di sana. Bukan tatapan memuja seperti para pemuda lainnya.
Sebenarnya ia tidak sepenuhnya membenci kakaknya itu. Pada saat ia di usir, ia sendiri tahu bahwa kakaknya masih kecil dan tidak punya kekuatan. Apalagi saat itu ia masih dalam perguruan untuk belajar. Dan jika saat itu ia ada di sana, sudah dipastikan kakaknya akan berusaha melindunginya sekuat tenaga.
Ah, sepertinya jika mereka berdua bertemu dan ternyata Jang Hao Shan mengenalinya, ia tidak akan mengelaknya. Ia pun merindukan sang Gege.
*
*
*
...^^^~°The Story Of Han Aruna_15°~^^^...
Terima kasih sudah mampir 😎
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
MashMellow🍭
whyyy????
bukannya bapakmu yg mengusir Aruna dari rumah dan memutuskan perhubungan anak beranak, jangan lupa yang itu
2025-01-18
0