"Eh? Bukankah ini adalah adegan yang sama? Jadi begitu, untuk apa aku telat menyadari hal ini? Biarkan saja. Tapi tunggu dulu, jika seandainya saja aku tidak memberikan kunci itu pada diriku, bukankah aku baru saja merenggut kebahagiaannya? Apa yang baru saja kulakukan, astaga! Ini keterlaluan. Aku kenapa?"
Vicktor kehilangan sesuatu hal dalam dirinya yang membuat dia sadar bahwa itu tidaklah berguna. Membuat keluarga lain rusak demi mendapatkan keluarganya apa, sungguh memalukan. Mau bagaimana pun tetap saja itu salah, Vicktor berusaha merebut kembali apa yang telah diberikan.
Besok pagi, menjaga toko loak bukanlah suatu hal buruk. Maksudnya tidak ada siapapun yang mampir, hanya saja orang tua atau bahkan mahasiswa yang ingin melakukan observasi sebagai tugas acuannya yang mampir ke sana.
"Sebaiknya aku bersiap-siap. Kakek tua giliranmu jaga toko ini."
Pakaian sudah siap, penyamaran sama seperti kemarin pun tidak luput untuk dikenakan. Vicktor ingin merebut kembali kunci yang dia berikan padanya. Identitasnya harus benar-benar tertutup, meniru sebuah bunglon yang mencoba mengelabui mangsanya.
Ketukan pintu dimulai dari tiga ketukan saja sudah cukup membangunkan seseorang dari dalam rumah. Yah, itu cukup lebih dari cukup membuat penasaran siapa orang di balik pintu itu mungkin dia sudah tahu. Dia membuka pintu tanpa penjagaan dan mulai menyapa, dia merasa aneh pada Vicktor yang mengenakan jaket padahal cuaca cerah.
Vicktor menyadari hal itu dan itu adalah kesalahannya, mencoba meniru sebagai toko loak yang pertama malah membuatnya curiga dari awal.
"Apa benda itu ada padamu?" Vicktor menanyakan sebuah kunci yang diberikan kemarin.
"Benda apa maksudmu?" Ternyata dirinya sendiri lebih peka akan bahaya.
"Jangan bercanda kau pasti memilikinya benda itu yang aku berikan padamu.... " Vicktor lebih tegas dari biasanya, bermaksud untuk lebih cepat dia memberikan benda tersebut.
"Aku rasa kau cukup arogan hari ini, aku lupa menyimpan benda itu ... Apa kau bisa menunggu sebentar?"
Vicktor merasa menyesal setelahnya, rencana untuk merebut kembali gagal total. Vicktor tidak bisa menebak dirinya sendiri padahal dia adalah orang yang sama, bayangannya, bahkan jiwa dan raganya, miliknya seutuhnya. Bahkan mengaca pada kaca untuk melihat wujud kita sendiri, kita justru tidak bisa memperhitungkan apa yang kita lakukan, pikiran apa yang ada di dalamnya. Bahkan bertanya-tanya, kamu ini siapa? pada kaca.
Vicktor melihat Amelia pergi ke belakang gudang, tentu dia tahu betul apa yang sedang dia lakukan, dia pergi untuk bersembunyi dari segala macam kejahatan dan keburukan. Dia tahu dia sendiri yang mengajarinya.
"Pasti cukup merepotkan bukan, ketika putrinya terbangun ingin pergi ke toilet? Apa mungkin dia memimpikan sesuatu?"
"Hmm, apa maksudnya?" Dia terpancing, Vicktor harus meyakinkannya dengan sepenuh hati untuk merebut kembali.
"Yah, maksudku apa dia telah bertemu dengan ibunya?" ucapan itu keluar dari mulut Vicktor langsung tanpa ancang-ancang.
Tiba-tiba saja dia syok seakan melihat setan depan wajahnya, dia bukan takut, dia marah besar. Vicktor kembali melakukan kesalahan yang lagi. Dia bahkan bingung sendiri, kenapa hal itu terjadi. Bukankah dia telah menyaksikan semua adegan tersebut tetapi tidak ada satupun kata yang membuatnya merasa percaya.
Takdir begitu kejam seolah-olah dia menutupi kenyataan sesuai dengan kemauannya, dunia tidak begitu adil untuk orang yang menderita. Tetapi adil bagi orang yang berada. Kenapa hidup begitu tragis jika di bandingkan dengan semut yang hidup berkeliaran dalam rumah hanya untuk mengerubungi sebutir gula, apakah mereka juga berpikir itu tidak adil.
Vicktor akhirnya baku hantam setelah apa yang dia ucapkan. Bahkan kata-kata sanggup membuatnya melakuan apapun untuk orang yang tercinta, layaknya dirinya melakukan apapun walau harus mengorbankan nyawa orang lain.
Kunci itu berhasil di raih, dari saku belakang akan tetapi kekuatannya mendominasi Vicktor, dia cukup muda di bandingkan Vicktor yang sekarang dia lebih tua umurnya.
Amelia yang mendengar keributan keluar untuk melihat. Dia sekilas melihat wajah Vicktor dan merasa bingung kenapa ayahnya ada dua. Kakinya terhenyak ingin meraih tetapi terpaksa mematuhi perkataan ayahnya untuk pergi ke melarikan diri. Vicktor bahkan tidak bisa menahan melihat putrinya lucu dan mungil yang asing terhadap wajahnya.
"Ha Ha Ha Ha!"
Polisi yang sedang patroli tiba-tiba datang setelah beberapa menit Amelia keluar. Vicktor menyadari hal itu dan pergi melarikan diri sebelum tertangkap menuju hutan dalam yang gelap dan anehnya ada sebuah gubuk kecil dengan lampu menyala.
-Kau yang memanggilnya, anak pintar, kau cerdas Amelia. Aku ingin bertemu kembali denganmu di hari itu, di tempat yang sama, di hari yang sama.
Tiba-tiba dalam gubuk tersebut mendesis, gesekan dedaunan begitu mengerikan dalam hutan. Sesuatu yang mengerikan keluar dia tidak memiliki mata namun dengan tenang berjalan seolah dia melihatnya dengan jelas. Dia mendekati Vicktor dan memberikan sebuah senjata Shotgun di lengannya.
"Jika kau ingin bertemu dengan keluargamu, kembali berkumpul dalam satu keluarga, kau harus membunuh dirimu sendiri."
Dirinya mungkin telah kehilangan akal dan mulai berhalusinasi, bisa saja itu efek samping dari kunci asli yang dia bawa dari Mesir. Apa pun itu, rencana baru untuk kembali datang kali ini Vicktor ingin membuat dirinya yang satu benar-benar lenyap tanpa akhir. Terprovokasi oleh pria yang tidak di kenali yang bahkan menganggapnya sebagai mahkluk ghaib yang menjawab semua pertanyaan dalam hidupnya.
"Kenapa? Kenapa kau tahu?"
"Kau akan tahu dengan sendirinya."
Vicktor tidak langsung pergi dari sana lebih memilih bermalam bersama pria tua aneh yang menyendiri di dalam hutan. Lagian polisi setempat akan memeriksa seluruh tempat terutama berbagai macam toko loak antik yang menjadi sasaran utamanya. Menjadi buronan polisi lebih menakutkan dibandingkan menjadi buronan ajal yang siap merenggut siapapun, maksudnya siapapun bisa mati tiba-tiba begitu saja.
"Kenapa aku harus membunuh diriku sendiri yang lain?"
"Untuk menjadi milikmu seutuhnya."
"Itu karena aku ada dua?"
"Itu karena kamu begitu banyak, kau harus membunuh dirimu sendiri untuk menghilang semuanya dan kembali ke awal segalanya."
Vicktor beranggapan membunuh seseorang adalah yang cukup lumayan sadis terlebih dia harus membunuh orang dengan wujudnya sendiri, ucapan pria tua aneh dan buta itu mungkin tidak masuk di akal tetapi dunia ini aneh semuanya adalah semacam replika yang kebingungan membuktikan siapa yang asli diantara kau dan aku.
Apakah orang pernah berpikir bahwa aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Sedari awal ketika membicarakan soal itu agak sedikit bingung. Jika saja kita melakukan sesuatu yang buruk akan di cap sebagai manusia buruk juga bukan itu adalah wujudnya sendiri. Kenapa orang-orang saling menyalahi sedangkan yang di lakukan orang tersebut adalah hal buruk. Sesuatu kata yang tidak berguna, jadi apa perlu aku membunuh aku agar terlihat bagus di mata orang.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Mr x
Kebanjiran fakta
2022-08-27
37