Chapter 19. Aku Yang Tak Kasat Mata

Jika seandainya bisa menggantikan posisinya mungkin itu yang disebut kebahagiaan. Membunuhnya adalah hal yang terbaik untuk mengambil alih. Vicktor mulai tidak tahan dengan kondisinya yang tidak bisa melakukan apapun hanya menyaksikan kehidupan tanpa mengalami kematian.

Pada akhirnya semuanya hanya tentang pandangan pribadi tidak melakukan apapun sama sekali tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan, itu adalah pemikiran Vicktor saat ini dia sangat ingin kembali seutuhnya menjadi manusia namun, kutukan Dewa Thoth tidak bisa dihindari dialah yang berkuasa atas jiwamu saat ini.

"Apa kau ingin merasakan kebahagiaan?"

Sekali lagi dia mendengar ucapan tersebut, utusan langit bisa saja mendengar hatinya yang tergesa-gesa. Dosanya akan dirimu dimasa lalu sedikit demi sedikit telah dilupakan. Kebimbangan selalu hadir dalam sebuah pilihan, apa yang harus dikatakan sebelum pilihan itu terjadi.

"Apakah aku bisa merasakannya?"

Vicktor balik bertanya seolah tidak ingin rugi dengan pertukaran yang dia lakukan selama ini.

"Tentu saja!"

Sebelum hal itu terjadi semua yang dianggap dunia telah hilang dari seluruh pandangan, dia melihat dirinya yang lain yang sama-sama tak kasat mata. Bukan Vicktor seorang tetapi ada Vicktor lain yang memang tak memiliki wujud melainkan sebuah bayangan transparan. Mereka terjebak dalam dunia kaca layaknya dirinya yang hanya bisa menyaksikan panggung siksaan untuk mendapatkan giliran kebahagiaan.

"Apa ini!? Apa yang coba kau lakukan!?"

"Bodoh! Itu adalah wujudmu sendiri, tidak hanya dirimu yang ingin hal itu tetapi semuanya juga menginginkannya. Dirimu telah terjerat dalam lingkaran dan menciptakan banyak dirimu dalam sebuah harapan. Mereka mempunyai ingatan dan pemikiran yang sama karena mereka adalah dirimu! Lihatlah dia adalah orang yang harus dirimu lawan tunggu apalagi? Bunuhlah, hadiah akan tiba hanya untuk satu pemenang."

Vicktor dipaksa untuk saling membunuh satu sama lainnya, yang tidak lain adalah perwujudan dirinya sendiri. Jika dibayangkan rasanya bagaimana melawan diri sendiri, seperti dalam rumah kaca yang menampilkan banyak bayangan diri dan mereka semua melawan menyerang dirimu sendiri. Tidak ada yang bisa bertahan selain dirinya sendiri.

Rasa sakit dan pertumpahan darah tidak lebih dari seorang monster. Mencabik-cabik, membelah, menusuk, bahkan saling mematahkan mereka semua bertarung demi mewujud impian dalam harapan. Layaknya diri kita telah lama bertarung jauh-jauh hari sebelum lahir. Bagaikan setetes air mani berlomba-lomba untuk mendapatkan sebuah karunia dari miliaran juta sel yang menginginkan hal sama, hanya satu yang akan menang dan dia mendapatkan apa ketika menang.

"Mendapatkan sebuah kesengsaraan dan penderitaan lebih jauh lagi dibalik itu semua sembunyi dari itu semua hanya satu yang orang-orang lain gapai adalah kebahagiaan."

Orang lain tidak tahu bagaimana cara kerjanya kehidupan ini bahkan Vicktor pun yang telah mengunjungi ribuan kali dunia yang berbeda tidak sanggup memahami arti itu semua, yang mereka tahu hanyalah untuk mengambil apa itu kesenangan padahal kita perlu belajar dan memahami rasa sakit terlebih dahulu sebelum pada akhirnya kita semua merasakan hal sama.

Dari sekian banyak dirinya Vicktor mungkin bisa dianggap orang yang kejam dan sadis, kewarasan mungkin dipertanyakan, mengapa dia bersikeras bertahan hidup hanya untuk mendapatkan kefanaan. Padahal kematian lebih baik untuknya.

Merobek jantung, membelah otak, membutakan mata, demi mewujud impian dia bahkan tak terluka sama sekali. Dia mungkin bertanya saat ini.

"Sudah berapa kali aku melakukan ini?"

Tak peduli apa yang akan terjadi dirinya harus tetap menang. Tumpukan mayat menjadi singgasana untuk dirinya yang telah berhasil bertahan, Vicktor adalah sebuah kejuaraan, bagi mereka yang tak kasat mata ingin terlihat oleh sesuatu adalah hal yang paling diidam-idamkan.

Menjadi terlihat itu berarti harus siap untuk menjadi tontonan tetapi juga menjadi sebuah mata untuk menonton hal lain bagi dirinya. Dewa telah melihat dan mendengarkan siapa sangka juara kali ini adalah orang yang sama, tidak ada bedanya baginya siapa yang menang semuanya sama-sama kloning.

Sebelum dia berkata-kata dia tertawa kencang, jika seandainya dunia mendengar mungkin akan gempar setengah populasi.

"Kau telah menang, sesuai janji yang menang akan diberikan sebuah hadiah sesuai dengan keinginan sang pemenang. Dirimu ingin kebahagiaan itu? Jadi bagaimana, kau harus siap untuk persyaratan terkahir. Benar, bunuh dirimu yang ada di dunia. Lihat dia begitu bahagia bermain permainan rumah-rumahan, wajahmu yang disana sepertinya sangat senang bisa berkumpul bersama kedua keluarga besarmu itu di rumah terpencil ini. Apa kau siap?"

Vicktor hanya bisa terdiam ditumpukan mayat dirinya, tidak hanya itu bahkan kubangan darahnya bisa dipakai untuk renang sekalipun. Renang dalam darah cukup berat karena itu kental sekali bagaimanapun Vicktor harus mengarungi hal itu sekali lagi.

Bingung setelah usahanya yang keras, jerih payah yang dia kabulkan hanya untuk sebuah kalimat.

"Akankah aku sanggup menggantikan diriku yang dulu?"

Dia tidak mendengar ucapannya, semuanya tergantung pada Vicktor tidak ada campur tangan lagi dari yang atas. Dia mungkin bersenang-senang melihat Vicktor, menikmati semua pertunjukan manusia konyol namun bagi Vicktor ini adalah sebuah pilihan sulit yang telah diberikan.

Tangan besar menjulang dari langit seolah dia ingin memberikan sesuatu. Dari jarinya dia memegang sebuah malapetaka yang bahkan Vicktor takut bukan main, dia muntah darah.

"Ambil ini, jika pilihanmu telah tekad bukalah pintu itu."

Vicktor mengambil beda itu dari jarinya, itu adalah "Master Key" kunci yang dulunya dianggap keajaiban sekarang bisa dikatakan pembawa bencana. Setelah kunci itu diambil, muncullah sebuah pintu seperti yang dikatakannya, pintu itu biasa saja tidak ada istimewa sama sekali layaknya pintu dari gubuk tua.

"Jika kau membuka pintu itu, berarti kau memilih kebahagiaan seperti yang diharapkan lalu bunuhlah dirimu dan gantikan dirimu. Jika tidak aku akan mengambilnya kembali."

Jika kuncinya dilepas dari tangannya berarti kebahagiaan yang dimaksud pudar dan tiada. Memilih untuk menjadi tak kasat mata juga enggan. Vicktor hanya bisa berdiri di depan pintu tanpa ada niatan untuk membukanya sama sekali.

Vicktor memikirkan kembali apa yang harusnya dia lakukan demi yang terbaik. Keberadaan mungkin lebih baik ditiadakan akan tetapi api dalam dirinya masih belum padam. Pada akhirnya Vicktor hanya bisa berdiam diri depan pintu selama beberapa tahun sedangkan dia menyaksikan umurnya dan keluarga telah bertambah tua.

Melihat istrinya yang sudah sakit-sakitan dia bahkan menulis surat secara diam-diam, wasiat apa yang akan dia berikan kepada anak dan cucunya dengan panjang lebar. Vicktor masih ragu haruskan dia membuka pintu dan menyaksikannya secara langsung detik-detik sisa hidupnya.

"Jika seandainya ini lebih baik dari pada tidak, akan aku coba untuk memperhatikan kalian dari dekat!"

Terpopuler

Comments

Vara Fitriani

Vara Fitriani

fantasy author sejauh ini keren, kalo dibuat film keren nih

2022-09-07

11

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!