Chapter 20. Aku Kasat Mata?

Pada akhirnya semua orang tidak ingin merasakan apa itu penyesalan, bisa jadi yang dipilih Vicktor adalah sebuah penyesalan itu sendiri. Membukanya berarti memilih pilihan yang berat, baginya itu adalah masa depan yang baru dia lihat padahal dirinya yang lain sedang asik menjenguk istrinya yang sudah tua dan rapuh.

Hanya bermodalkan nekat dan usaha yang tidak pasti bahwa dia berada dijalan yang tepat, mungkin saja itu adalah jalan yang sesat. Dia berusaha melewati rintangan itu sendirian, apakah dia menginginkan kehidupan yang layak sesuai harapannya atau telah berubah menjadi sebuah ambisi dan egoisme untuk memenangkan sebuah penghargaan.

Vicktor melewati sebuah pintu portal yang transparan bagai genangan air, merefleksikan sebuah dunia yang dia lihat selama dia tinggal dalam sebuah siksaan.

Tubuhnya sedikit demi sedikit kembali menjadi utuh, mengeras dan tumbuh seperti ulat yang keluar dari kepompong. Vicktor berubah menjadi kupu-kupu indah, dia menjadi manusia seutuhnya setelah sekian lama dia hidup dalam bayangan.

"Akhirnya kematian telah usai, sampai jumpa neraka. Tadinya aku ingin bilang begitu tetapi dunia ini sendiri tidak jauh berbeda. Walau begitu sedikit saja kebahagiaan yang ingin aku rasakan, bukan sebagai penonton, sebagai pemain juga."

Vicktor mendatangi rumah sakit dan berusaha membunuh dirinya sendiri sebagai persyaratan mutlak untuk tetap tinggal di dunia, sebagai ganti Vicktor yang asli. Kebetulan dia pergi ke toilet dengan begitu akan lebih mudah untuk melakukannya.

"Tenang saja, ini akan sangat mudah. Menggorok lehernya, tusuk jantungnya, atau mungkin patah setiap tulang."

Pikiran-pikiran keji yang sudah terbiasa bermunculan di setiap detiknya. Orang lain mungkin berpikir dalam setiap detik itu seperti, "bagaimana caranya kita bernafas," atau "cara membuat eskrim itu bagaimana." Berbeda dengan Vicktor dia adalah mantan penghuni neraka, semakin ahli dalam teknik membuat nyawa hilang.

Namun selang beberapa lama di toilet Vicktor hanya bisa melihat wajah dirinya terpampang menghadap kaca dengan raut muka yang sedih dan bahagia, kalo diibaratkan seperti siput laut yah, kalian tidak akan pernah tau wajahnya.

"Ahhh, berhenti saja. Pembunuh juga tidak tega melihat wajah seperti itu."

Mentari berganti Noah, menunggu semua para pengunjung pulang termasuk dirinya sendiri yang lelah akan semuanya, dia sekarang tak berani untuk menghadapi hantu sepuluh tahun yang telah hilang. Keberanian yang telah membuat tangannya berdarah-darah seketika hilang bagai cahaya bulan yang redup.

Dia hanya memiliki sedikit waktu yang membuatnya menekan gas untuk tetap melanjutkan langkah kaki dari ujung pintu menuju wanita yang sedang berbaring tersebut. Vicktor berjalan melangkah bayangan bulan menyinari wanita itu membuatnya gugup. Mata mereka saling bertemu wanita itu begitu panik.

"Aku pikir kamu sudah pulang, Alice terlalu takut untuk tidur sendiri di rumah, apa kamu meninggalkannya begitu saja?"

"A-aku tidak bermaksud untuk itu, a-aku hanya ingin menjengukmu sebentar saja."

"Bohong! Kamu tidak pandai berbohong, siapa kamu? Mempunyai wajah yang mirip dengannya, apa cerita itu benar adanya? Cerita tentang... orang yang tersesat dalam harapannya sendiri?"

Dia tidak berubah sama sekali, wajahnya yang oval matanya hijau zamrud, rambut pirang kemerah-merahan. Yang berubah hanya daging yang lebih mengkerut dan kulit yang menipis. Butuh ekstra nyali hanya untuk menghadapi manusia yang akan segera menjadi mayat. Bagaimana mungkin Vicktor bisa gemetar dengan itu semua, setelah semua harapan yang dia Agungkan terkabul di depan mata.

Dia melanjutkan menulis di sebuah kepingan buku catatan kecilnya sejengkal. Apa yang lebih penting dari sebuah nyawanya sendiri dibandingkan dengan sebuah cat tinta dan serpihan tipis pohon jati.

"Ingin rasanya bertanya, 'kemana saja selama 10 tahun lamanya? Aku menunggumu hingga merusak segalanya.'"

Wanita itu tidak punya waktu untuk itu, dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Vicktor hanya bisa bersyukur telah melihatnya sendiri paling tidak sepuluh tahun diembannya, kini jawabannya telah tiba di depan mata.

"Kesepakatan kita tidak seperti ini, dirimu akan kembali aku tarik ke dalam surga ini. Jika kau ingin terus hidup bunuhlah dirimu sendiri, demi keseimbangan dunia, dua entitas yang sama tidak boleh berada dalam satu dunia. Kiamat akan menanti di depan matamu."

"Biarkan aku hidup paling tidak hingga akhir hayatnya selesai memenuhi hidupnya. Kumohon, tolonglah."

Apa yang terjadi jika semuanya terjadi, apa yang seseorang bisa begitu teguh pada sesuatu yang bahkan tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Apakah Vicktor merasa bahwa dia hidupnya telah cukup untuk itu semua, bagaimana jika dia masih memiliki penyesalan karena telah menjumpainya.

Takdir seperti apa yang akan menanti, jika seandainya dia tidak melakukan hal tersebut. Jika dia melakukan itu dan menjadi bagian keluarga sebagai pengganti dirinya sendiri, apakah itu adalah takdir yang seharusnya terjadi. Mungkin saja tidak seperti itu, semuanya terjadi hanya karena sebuah kesalahan tetapi apa itu kesalahan. Jika kesahalan tidak ada apakah kehidupan akan kembali normal dan utuh, mungkin tanpa itu hidup menjadi lebih hambar dan tidak memiliki artinya sama sekali.

Apakah Vicktor memiliki arti sebagai kehidupannya sendiri, bagaimana dia menilai harga hidup seseorang hanya untuk meredam segala impian.

"Bagiku hidup ini begitu menarik bagaikan film layar lebar yang membosankan tetapi membuat penasaran bagaimana kisah ini berakhir. Akun yang sudah mengalami kematian tetap saja iri dengan kehidupan, hingga akhirnya lebih memilih untuk hidup dalam penyiksaan. Justru itu lebih baik, jantungku tidak pernah tegang seperti ini sebelumnya."

Vicktor hanya perlu sedikit saja waktu untuk menemaninya dalam kebahagiaan sebagai rasa puas raga dan jiwa. Dia lebih memilih untuk tetap mati dari pada mencuri kebahagiaan orang lain.

"Hidup di dunia lebih baik dari pada mati, tetapi jika harus mengorbankan lagi lebih banyak nyawa, lebih baik aku tidak hidup. Yang sudah mati tidak bisa mencampuri yang masih hidup."

Pada akhirnya Vicktor membuat dirinya semakin baik memahami dirinya sendiri, terkadang butuh waktu untuk melihat sesuatu yang salah padahal sangat jelas sekali, namun manusia selalu telat menyadari itu adalah salah satu penyesalan Vicktor.

"Ada baiknya membuka pintu itu, akhirnya dosaku telah terpenuhi sekarang binasalah bersama jiwaku."

Tekad kuat hanya untuk memilih sesuatu yang salah kedalam keberadaan yang benar, mungkin dia masih menyimpan sesuatu untuk dikemas baik-baik bagi masa depannya. Apa yang dia tulis dalam kenangan tulis tertulis dalam kertas, Anastasya. Istri Vicktor membuatnya terbuka bahwa kesempatan tidak selalu datang membawa keberuntungan tetapi juga sebuah hasil yang buruk, dirinya datang membawa beban yang berat terkelupas dalam sayatan hati dan kembali menyayat dirinya sendiri. Apa yang lebih baik menjadi seorang penonton kehidupan.

Terpopuler

Comments

Mrtlye Camila

Mrtlye Camila

Membunuh diri sendiri apakah termasuk bunuh diri?

2022-09-01

18

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!