Chapter 4. Di Balik Kenyataan Yang Fana

Tidak ada yang menyangka bahwa kejadian seperti itu akan menimpa mereka. Maksudnya dunia ini memang tidak benar-benar aman untuk di tinggali, sesama manusia bukan berarti bisa saling memahami, hanya saja mereka cukup sedikit egois tentang apa yang mereka raih.

Dadanya cukup berdebar ketika mereka masuk ke dalam kantor yang penuh petugas, wajar bagi gadis kecil karena di dalamnya penuh dengan orang dewasa serta semenjak kejadian kemarin sungguh itu adalah hal yang membuatnya trauma sementara.

"Jadi tuan Vicktor, apa kamu bisa ceritakan kronologis kejadiannya?" salah satu di antara mereka bertanya.

Pria dengan nama tag di saku kanan sejajar dengan jantung itu tertulis Bernard Shaw dia adalah orang yang bertanya itu. Tubuhnya cukup berisi bisa di katakan gendut jika di lihat sekilas. Tangannya gesit dia memainkan tikus untuk menjalan komputer depan layarnya.

"Seorang pria berjaket mencoba mengambil sesuatu dariku,"

Bibir sedikit pecah, matanya kering dan merah, semuanya setuju bahwa itu terlihat seperti mata panda. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama memberi julukan itu pada orang yang memiliki lingkaran hitam. Padahal panda adalah hewan yang malas.

Hatinya cukup gelisah karena gadisnya berada di ruangan yang berbeda, entah apa yang membuatnya terkoyak mungkin itu adalah sebuah kenangan bayang-bayang akan trauma itu cukup mengerikan, tidak ada yang semengerikan selain sebuah masa lalu.

"Apa benda ini? Kenapa dia ingin mencuri itu darimu?"

"Entahlah, aku cukup yakin ini ada hubungannya dengan istriku, karena benda ini dia pernah ingin memilikinya."

Berbagai macam perasaan muncul dalam bentuk visual sedih, menyeringai, percaya, dan merasa curiga. Memang pantas wujud itu di jumpai secara nyata dan gila. Walaupun dia berkata seperti itu tak merasa dirinya rendah terhadap apapun.

Barnard Shaw mengambil sebuah sarung tangan karet yang elastis dan meneliti benda yang di serahkannya tersebut dengan hati-hati serta mendetail mencoba mencerna isi kepala perampok "Untuk apa kunci ini dia ambil?" pikirnya kurang lebih.

Corak unik yang di ukir di atas papan kain seperti sebuah Pandora yang memikat roh-roh jahat dan kunci itu mungkin berisikan sebuah bisikan-bisikan setan yang kelam meminta untuk di bebaskan.

"Sepertinya aku tidak bisa menyimpan benda ini sebagai barang bukti, terlalu banyak kenangan di dalamnya bukan?"

"Humm ... Aku rasa begitu," tak tahu harus berkata jujur atau bohong karena itu bukan sepenuhnya milik dirinya.

"Baiklah jika begitu, aku akan memotretnya sebagai barang bukti." pria muda itu seperti seorang petugas magang.

Investigasi terus di perluas dengan ciri-ciri pria yang telah di jelaskan sebelumnya,di antaranya bisa jadi tidak peduli tentang kasus ini dan menganggap enteng. Dunia mana yang harus aku percayai angannya.

Kedua insan akhirnya bertemu, lega dan tenang datang tak di undang justru itu adalah hal yang terbaik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan senyumnya masih tetap di sana seperti dia lahir. Petugas perempuan itu melambaikan tangan dia membalasnya dengan serupa.

"Apa dia menanyakan sesuatu padamu?"

"Tidak terlalu, dia hanya bertanya bagaimana rasanya tinggal bersamamu."

"Ohh," berusaha tegar dan tetap terjaga, matanya tertuju pada jalan raya. "Jadi apa jawabanmu?'

"Membosankan."

"Hey, kita tidak akan beli menu spesial lagi kalo begitu!" dengan mata sinis sayu yang lemah dia mencoba menahan diri untuk tidak tertawa.

"Haha," menggelitik di perut tak kuasa menahan rasa tawanya, "hanya bercanda, aku bilang kau bau alkohol."

"Tidak ada jawaban yang bagus dari keduanya."

Makanan di hidangkan, pelayanan cantik itu selalu saja menggoyang pinggulnya setelah selesai menyampaikan pesanan, itu semacam sihir untuk pelahap nafsu makan bagi sebagian orang tapi siapa tau dia mempunyai masalah ambeien di bokongnya.

Pria berjaket itu bisa saja berkeliaran di sekitar mereka berdua. Pilihan yang cukup berbahaya untuk makan di luar, namun tidak ada pilihan bagi pria yang tidak bisa masak menjadi tantangan tersendiri untuk bertahan hidup mengandalkan orang lain.

Menatap wajah yang melahap menu spesial itu cukup unik walaupun dilihat berkali-kali tak pernah bosan, menu itu cukup besar tapi tetap saja itu menu kanak-kanak. Sesekali tatapan tajam tertuju kepada gerak-gerik mencurigakan hanya untuk bersikap waspada akan bahaya.

"Hey, mari kita pulang hari ini."

"Ah, yah tentu." penolakan dalam hatinya tergedor oleh insiden yang terjadi.

Pukul tujuh sudah terlalu malam baginya untuk hari ini, bahkan tidak terlalu malam untuk seekor kupu-kupu untuk mulai berterbangan. Wajar tidak ada yang terbiasa ketika hal luar biasa terjadi, maksudnya ketika saat besok akan ada rencana piknik terlalu senang malah menjadi tidak tenang karena terlalu senang. Berbanding terbalik dengan suasana Vicktor.

Televisi di rumah mulai membicarakan hal yang tidak penting, semacam perubahan kabinet pemerintahan dan visi misi itu hanyalah dongeng tidur belaka. Hendaknya mengambil sebuah bir dalam kulkas yang berjejer empat kaleng lagi, teringat akan perkataan Amelia tadi siang, itu adalah tamparan keras bagi ayah di pipinya sedikit menyayat dalam hati.

Semua celah telah tertutup, angin malam yang kejam pun perlu izin untuk memasuki rumahnya bahkan penguasa malam turut bingung namun ada satu celah di tembok tepat di atas hampir mendekati atap itu satu-satunya harapan cahaya rembulan untuk mampir ke dalamnya.

Kedua kalinya tidur bersama rasanya begitu hangat bagai di hamparan rumput musim panas itu adalah momen di mana ketika saling jatuh cinta, bayangan senyum itu selalu menghantuinya setiap saat bahkan ketika Anastasya menghilang senyuman itu tetap ada dia sedang tidur di sampingnya.

Mimpi indah itu memudar seolah-olah tau dirinya bukanlah sebuah kenyataan, pergi menjauh dan tak akan pernah datang lagi.

Mentalnya sedikit goyah ketika ketukan pintu kembali terdengar dan itu gangguan dari sebuah momen yang tak akan pernah terwujud. Mendengar setiap suara yang terketuk namun tak ada niatan untuk menghampirinya.

Namun penasaran tetaplah menjadi bagian dari manusia, turun dari kasur secara perlahan agar putrinya tak terbangun. Vicktor berjalan ke dapur untuk membawa sebuah pisau berkarat yang memang tak pernah di gunakan lagi, langkahnya mengendap bagai kucing yang berburu. Menengok ke arah jendela, namun siapa sangka yang dia lihat adalah ibunya Angelica.

"Aku penasaran ada perlu apa dia datang kemari?"

Ketika akan kembali tidur- kaget setengah mati bukan main sesuatu berdiri tepat di belakang sebelum menyadari bahwa itu adalah Amelia, pisau yang di pegang genggam siap akan menikam.

"Apa kau tebangun?"

"Aku hanya ingin pergi ke toilet," desahnya penuh kantuk.

Detak jantungnya tidak pernah berhenti untuk beberapa menit, bahkan sampai mencucurkan keringat yang dingin. Gejala kecemasan menyerang untuk semua orang yang tidak mempunyai riwayat sekalipun.

Amelia telah selesai dan akan kembali, dia memang cukup penakut jika pun terpaksa sendiri dia sanggup melakukannya tanpa di temani. Saat kaki menginjakkan tangga pertama, ketukan pintu kembali muncul sepertinya Ibunya Angelica memang ada urusan tertentu yang membuatnya dia datang kemari di seperempat malam.

Hal yang sama di lakukan sebelum di bukakkan pintu, Vicktor mengintip di jendela dan apa yang dia lihat wajah penuh luka dan darah menempel di kaca- sontak panik dan lari menuju Amelia. Pria itu membawa senjata api dan menembak ke arah lubang kunci. Kepanikan melanda seluruh ruangan, di tambah teriakan gadis melengking membuat Vicktor merasa gila gelagapan.

Saat sadar terdengar suara langkahnya, itu berarti dia sudah masuk ke dalam rumah. Satu-satunya tempat yang di anggap aman adalah gudang, di balik perabotan tua dan berdebu itu adalah jalan keluar ke arah hutan.

"Pintu ini terkunci! Pintu ini terkunci!" teriak Amelia syok.

Langkah kaki itu terus terdengar jelas dan semakin keras, sesekali riuh tembakan senjata api berat itu di tembakan. Pembunuh tak kenal ampun itu julukan yang pantas baginya.

"Aku tak ingat dimana kunci pintu ini berada!" sambung Vicktor. "Bahkan ini terlalu kuat untuk di dobrak, sialan! Apa-apaan makhluk itu, masalah terus berdatangan!"

Apa yang ada di pikiran orang yang putus asa, kita tidak akan pernah tahu sebelum mengalami hal serupa. Mungkin doa-doa dalam hati terus berkecamuk berharap untuk di tolong, memohon dan berharap itu adalah sama namun bisa jadi berbeda.

"Ap-apa kunci itu bisa? He. He." lemah lesu tanpa harapan dia menunjuk menggunakan telunjuk tepat di sebuah kotak kunci.

Vicktor sibuk menutup pintu dengan barang-barang yang tak mudah untuk di dobrak, berbagai macam rongsokan mulai dari lemari, pintu dan masih banyak yang lainnya di tumpuk menjadi satu.

"Maksudmu 'Master Key' ini?" mengambil benda yang di maksud lalu memecahkan kacanya, kunci itu keluar warnanya hitam sangat pekat, "aku tahu ini gila, tetapi kegilaan ini harus kita coba." teringat akan ucapan pemilik loak bahwa kunci yang mampu membuka apapun.

Dia memberikan kunci itu pada putrinya layaknya memberikan sebuah harapan palsu hanya untuk menenangkan hatinya yang lusuh, paling tidak mengorbankan dirinya adalah naluri ayah paling tinggi. Dia bersiap menghadang walau taruhannya nyawa setidaknya slogan membunuh dari pada di bunuh itu lebih baik.

Mahkluk ganas itu berhasil mengalahkan pintu dan sekarang berhadapan langsung, senjata laras panjang berat di todong. Tidak ada tanda-tanda untuk mengucapkan sepatah kata dari mulutnya.

"Jadi ini adalah akhir hayatku? Setidaknya jangan bunuh putriku yang manis ini, apa mungkin kau ingin mengambil sesuatu dariku? Katakan saja apa maumu, setidaknya jangan nyawa putriku." tidak ada makna tersirat dari ucapannya itu adalah perkataan yang tulus dari lubuk hati seorang ayah.

Namun lawan bicaranya tak mempunyai sedikit hati, selembut sutra pun tak bisa tersentuh dia tetap menarik pelatuknya, tubuhnya pun terlempar.

Luwes suara terdengar semacam panggilan untuk akhir hayatnya, di rasa bahwa itu cara mati yang cukup tenang tanpa ada rasa sakit yang menawan. Mungkin aku sudah di surga firasatnya.

"Ayah! Ayah! Ayah!"

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!