-Apakah kilas balik kehidupan sedang menampar? Teriakan itu mirip dengan ... Mungkinkah dia juga tidak selamat? Ah, inikah rasanya sebuah kematian? Aku akan mencarimu di mana pun kau berada.
"Ayah! Ayah!"
Cahaya terang menyilaukan mata meresap langsung menuju pupil namun tak berlangsung lama semuanya menjadi jelas. Tempat itu semacam ruang hampa penuh bintang dan bintik-bintik galaxy penuh warna dan berkilauan. Kakinya napak dan berjalan seakan dia menginjak karpet tembus pandang.
"Hey Amelia sayang, apa kita sedang di surga atau mungkin ... neraka? Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan dari kekacauan itu."
"Apa yang kau bicarakan? Tempat ini cukup aneh ... " bukan tidak sanggup melihat ayahnya, namun pemandangan alam semesta jauh lebih di luar bayangan.
"Kita sudah mati bukan? Hari-hari yang kita lalui berakhir juga," merasa tak curiga namun hanya untuk memastikan dia meraba seluruh tubuh. "Kurasa mati lebih dari yang kubayangkan, maksudku lihat ini begitu indah-"
"Karena manusia gila itu kamu ketularan gila? Apa mungkin karena alkohol, kita sama sekali tidak mati. Kunci yang kau sebut 'Master Key' benar-benar bisa membuka apapun?" dia masih terfokus pada hal yang luar biasa.
Mencoba mencerna apa yang yang terlontar dari mulutnya, jika ini di sebut sebagai halusinasi? Orang dengan gangguan jiwa sekalipun pasti terperangkak karena tak bisa berkata-kata. Seberapa banyak logika di kerahkan tetap tidak bisa memecahkan solusi.
"Percuma, aku masih tidak mengerti."
Vicktor mengambil kunci hitam itu dari tangan Amelia, yang asalnya tak berguna mungkin itu adalah penyelamat keluarga satu-satunya. Sudah semacam keajaiban Tuhan yang memang sengaja di berikan pada mereka berdua.
Hampir menghabiskan waktu satu jam hanya untuk memperhatikan planet-planet berkeliaran di atas kepala mereka, bahkan bisa melihat bumi itu sendiri.
"Kita tidak mempunyai planetarium sebesar ini bukan? Di belakang gudang ini?" Amelia bertanya-tanya, duduk meringkuk melindungi kaki.
-Jika di pikir-pikir itu sudah mustahil pintu gudang menjadi jembatan antar galaxy, lagi pula siapa yang repot-repot membangun ini?
Di belakang mereka hanya sebuah pintu gudang dan di depan mereka hanya sebatas ruang hampa yang tak kenal batas, orang waras pasti setuju untuk balik lagi meskipun pembunuh sedang menunggu.
Menarik nafas dalam lalu menghembuskan begitu saja, dia Vicktor meraih tangan Amelia dan segera menuju pintu tersebut. Bagaimana pun juga kita harus bangun dari mimpi indah ini, menurutnya.
Mata mereka terbuka lebar bersiap-siap jika serangan berikutnya menyerang, tetapi itu tidak seperti yang di harapkan karena di balik pintu tersebut cahaya silau melebihi lampu sorot terangnya terpaksa membuat mereka memejamkan mata.
"Selamat datang," wanita itu cengengesan. "Sudah kubilang jangan bermain-main di gudang seperti ini, jadi baju kalian kotor."
-Senyum itu ... Ini terlalu indah ... Seandainya ini mimpi ... Ini terlalu indah ....
Tak sedang hujan saat itu, bahkan badai pun tak ada, tetapi pria ini kebasahan di pipinya penuh air, mungkin begitu takut dengan wanita itu sehingga keringatan.
"Siapa itu ayah?" dengan polosnya dia melirik dan berkata tanpa ada beban.
Wanita itu berjalan menghampiri mereka berdua, rambutnya panjang seperti daun di kala musim gugur warnanya, matanya tidak terang seperti biji buah coklat, badannya ramping bukan model namun karena dia seorang wanita karir.
"Kenapa menangis begitu? Seperti anak kecil saja, lihat dia Amelia saja tertawa karenamu."
"A-Anastasya!" tidak tahu seberapa berat yang dia alami, terbukti bahwa teriakan itu mampu mengguncang siapapun.
Kilas balik kehidupan yang mereka alami benar-benar sedang menamparnya. Tak peduli mau seberapa banyak pun hal yang datang mau itu kenyataan atau bahkan sebuah mimpi dari harapan itu tetap menyiksa mental.
Mereka berdua di bawa ke sebuah ruang tamu menghadap pemandangan hutan yang lega, itu adalah suasana pagi hari yang pernah di lalui. Wanita itu menyeduh sebuah kopi dengan gula tiga sendok dan susu dengan sedikit sereal kesukaan Amelia sedangkan dia sendiri hanya menyeruput air teh hangat bunga melati.
Saling berhadapan, namun posisi duduk yang agak berbeda karena canggung dan waspada. Amelia duduk di pangkuan ayah karena itu adalah sofa dengan satu tempat. Entah apa yang ada di pikirannya tetapi dia merasa dia bukanlah yang di harapkan.
Tertulis bahwa dalam kalender bahwa itu adalah bulan Juni yang hangat akan tetapi jika lebih teliti di atas tanggal ada tahun yang menyatakan bahwa ini sepuluh tahun yang lalu.
"Cuaca yang indah bukan?"
"Yah,"
Fatamorgana yang sangat jelas sampai-sampai tak tahu bahwa ini sebuah kenyataan, seakan-akan cahaya mentari hanya menyoroti dirinya begitu terang bahkan kegelapan enggan menyentuh.
"Kenapa kamu melihat dengan mata sedihmu begitu? Aku jadi malu-malu," dia kembali tersenyum, "beri tahu aku sesuatu yang mengganjal di pikiranmu."
"Kemana kau akan pergi?" pertanyaan itu cukup aneh tetapi dia tetap tak menjawab, mungkin dia salah bertanya jadi dia mengulangi perkataannya. "Dimana kamu bersembunyi?" malah tambah aneh.
" ... " mulutnya berkata layaknya seorang pantomim.
"Apa? Aku tidak mendengarmu."
Berapa kali Vicktor bertanya seakan suara itu tak muncul dari kerongkongan, lebih tepatnya suara itu lenyap sebelum sampai ke telinga. Di rasa sudah cukup bermain-main dalam mimpi dengan berat hati memutuskan untuk pergi dari rumahnya sendiri.
"Kita berdua akan pulang- maksudku kita akan pergi keluar sebentar, terimakasih wahai ... istriku tercinta."
Pegangan erat dari Amelia yang asalnya renggang menjadi keras, setelah mendengar kalimat terakhir yang ayah ucapkan. Setelah selama itu ternyata dia tidak sadar dengan sosok sang Ibunda, dia melihat ke arah wajah ayahnya dan mulai menahan tangis namun di balas dengan senyuman yang berat.
"Kemana kalian akan pergi? Kuncinya ada di atas lemari loh, istirahatlah sebentar lagi akan aku siapkan makan malam,"
"Tidak, tidak usah-" kalimat tolakan itu belum selesai, karena Amelia berusaha melangkah menghampirinya.
-Hentikan itu anakku, ini hanyalah ... Ilusi, jangan lebih dari ini hentikan ... Hentikan ... Langkah kaki itu kita tidak bisa hidup hanya untuk memenuhi harapan palsu.
Apapun yang terjadi walau harus mengiris hatinya, Vicktor tidak bisa membiarkan kenyataan palsu memasuki kehidupannya. Tetapi seandainya jika tidak ada Amelia disisinya, mempertaruhkan sepuluh tahun untuk duduk manis menikmati kopi sepanjang hari tidak jadi masalah.
Kunci segera di letakkan dalam lubang kunci dan membuka pintu depan rumah secara perlahan tapi pasti, berusaha untuk tidak memalingkan wajah. Amelia tetap saja ingin mencoba memeluknya.
Kaki sudah melangkah ke dalam cahaya, tiba-tiba dari ujung lorong di mana Anastasya berada mulai menggelap dan akan mencoba melenyapkan mereka berdua. Seketika saja wajah cantik dan anggun itu berubah menjadi tengkorak terbang dengan cepat mendekati.
"Kemarilah!"
Sadar kembali mereka berada di depan rumah, meratapi kunci itu dengan seksama mau bagaimanapun tetap saja kunci ini tidak ada unik-uniknya sama sekali.
-Apa yang terjadi dalam hidupmu tidak akan pernah terjadi dalam hidupku, menjauhlah yang tak kasat mata.
Hawa hangat membunuh tiba-tiba datang dari belakang menyentuh pundak Vicktor, reflek meraih tangannya dan menodong pisau yang ternyata itu adalah ibunya Angelica. Semuanya menjadi tahu tatapan kejam itu bukan sekedar untuk bertahan diri, tetapi ketakutan akan mimpi buruk.
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud, aku datang untuk mengajak kalian makan malam bersama, bagaimana?" panik berbicara cepat sekali.
Langsung melepas tangannya dan menunduk menyesal, tersenyum pada putrinya lalu mulutnya terbuka, "Bagaimana menurutmu Amelia? Apa kau ingin?"
"Ide bagus aku rasa, setelah seharian lelah aku ingin bermain bersama Angelica!" dia memeluknya tanpa meninggalkan perasaan, sudah seberapa jauh gadis itu bisa menahannya dengan tenang.
"Sejak hari itu, aku cukup waspada."
Berjalan memperhatikan kedua anak-anak dengan celemek masih menempel di badannya. "Hal itu sudahlah wajar, bagi orang tua yang ingin melindungi sesuatu yang berharga."
"Terimakasih banyak, telah menjaga Amelia selama ini." nadanya kembali berat dan terisak. "Ucapan terimakasih saja, sepertinya tidaklah cukup."
Dia tidak menjawab perkataanya, bahkan tak menolak. Bukti bahwa dia memang menerima semua beban yang ada selain masalah keluarga pribadinya juga masalah yang lain. Dunia ini penuh keajaiban dan penyiksaan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments