Josse memasuki rumah dengan pakaian kerjanya serta di tangan kanan mengangkat sebuah pisau daging yang besar sekali. Tidak ada ciri-ciri dia akan bernegosiasi atau berunding mendinginkan kepala bicara empat mata. Wajahnya begitu terobsesi akan mencincang sesuatu.
Alice yang sekarat menyadari bahwa dirinya tidak akan bertahan karena racun. Lebih memilih untuk menahan Josse dengan menangkap dan mencekiknya.
"Pergilah! Gunakan kunci itu untuk pergi!"
"Tidak, Aku tidak akan pergi bersamamu, Menghindarlah aku akan menembaknya!" ragu Vicktor tidak bisa mengambil posisi yang tepat untuk menembak.
"Pergilah! Aku tidak akan bisa lolos-" kata itu adalah kata terlahir yang dia ucapkan sebelum akhirnya dia bersimbah darah karena di lehernya hampir putus terbesit.
Mengambil kesempatan yang kejam, mengorbankan nyawa demi keselamatan diri mungkin itu adalah hal yang paling memalukan dan sangat menyesalkan. Tak ada yang bisa di lakukan selain melarikan diri.
Kembali ke tempat utama yaitu gudang dimana pada saat itu kunci membuka ruang hampa untuk pertama kali. Lalu membawa ke sebuah masa lalu yang penuh bunga yang kelam. Hingga akhirnya mereka berdua melakukannya lagi, heran kemana lagi dia akan pergi, bahkan dia orang waras pun lupa di mana dunia yang sebenarnya dia harus tempati.
Sungguh pemandangan yang indah, tak ada duanya. Ciptaan Tuhan yang megah yang tak sanggup siapapun membuatnya. Jika kita berpikir kenapa planet,galaxy,dan objek lain dipenuh dengan lingkaran, bulat, spiral. Seakan-akan memberi makna bahwa hidup terus bergerak, tanpa batas, tanpa ujung.
Kembali ke pintu awal, Amelia dia berlari dengan kencang entah seperti sedang berharap, wajahnya penuh dengan tangisan. Seperti dia yakin akan bertemu dengannya sekali lagi walau sebentar, walau tipuan.
Ternyata oh, ternyata yang terjadi adalah rumah mereka sama sekali tidak terlihat. Era telah berubah, awan hitam dengan hujan putih bertebaran dan itu adalah sebuah abu. Perkotaan dan hutan sudah tidak ada lagi di sana, layaknya bagai tempat sesudah kiamat hancur berantakan.
Sejauh mata memandang tidak ada sebuah kehidupan akan muncul di hadapannya, mungkin serangga sekalipun tidak hidup di sana.
"Apa yang terjadi, ayah?"
"Aku juga tidak tahu, ini seperti bencana alam atau perang dunia ketiga?"
"Apa sebaiknya kita kembali berpindah tempat?" Amelia menunjuk menuju pintu di mana mereka muncul.
"Mungkin ... Mungkin sebaiknya kita menyelidiki apa yang benar-benar terjadi di dunia ini, apa kita benar-benar berada di dunia yang sama?" rasa penasaran selalu bersama, itu yang membuat manusia terus hidup.
Tidak ada kata komplain dari mulut putrinya, wajahnya tak menunjukan ketakutan apapun ketika bergandengan tangan. Aneh tapi itu adalah sebuah kenyataan, bergandengan tangan membuat seseorang merasa nyaman bahkan dengan siapapun orangnya.
Langkah kaki menuju tempat insting manusia, mencari mahkluk hidup selain dirinya. Setelah berjalan sekitar satu kilometer dari rumah, semuanya tampak hancur dan kacau namun, ada satu tempat yang menyala dan itu seperti api pembakaran.
Di telusuri lebih dalam, ada seseorang yang menggunakan jaket plastik serta masker anti gas. Dia menodongkan senjata laras panjang menuju ke arah mereka berdua.
"Siapa?" ucapnya kaget dengan suara seperti robot karena di tutupi masker.
"Kita, hanya manusia biasa." melangkah perlahan seraya mengangkat tangan kanan satu lagi melindungi Amelia.
"Manusia katamu?!" dia cukup kaget dan terheran.
Pria itu cukup muda kisaran umur tiga puluh tahun, dia tidak sendirian tampaknya yang tertidur lelap di dekat api unggun itu adalah adiknya. Mereka semua tidak normal dengan kata lain cacat fisik dan organnya. Semua kehancuran kota memang di sebabkan ledakan nuklir, manusia sangat kecil kemungkinan bisa hidup akibat radiasinya.
"Aku heran kenapa kau tampak baik-baik saja? Aku cukup yakin udara di sekitar sini sangat tidak baik." dia memberikan masker gas tambahan, seperti dia memang selalu membawa masker gas cadangan.
"Apa dia masih hidup?" Amelia bertanya tentang adiknya yang tertidur tersebut.
Jika harus di katakan, cukup parah kulit wajahnya meleleh, tulangnya terlihat jelas lebih mirip mayat hidup. Sedangkan pria yang bernama Michael hanya terluka di bagian kaki akibat reruntuhan bangunan, dia juga terkena radiasi sepertinya cukup berat nafasnya.
"Dia hidup, masih ingin hidup, aku bisa membunuhnya kapan pun, tetapi dia masih ingin hidup." jawabnya tanpa rasa sakit.
Waktu berlalu seakan seperti kayu yang di jadikan bahan bakar api, sudah lama tak memandang kobaran yang cukup besar seakan jiwa kita ikut terlena melihatnya. Momen itu tak berlangsung lama ketika Michael menarik pelatuk hingga Amelia terbangun bergetar kaget.
"Apa yang kau tembak?" tanyanya langsung berdiri melindungi serta tangannya memegang pistol di saku kanan.
"Manusia ... "
"Apa kau bilang? Manusia!"
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, kita tidak bisa membiarkan mereka hidup, mereka terlalu menderita, aku hanya tidak ingin terpapar penyakit." sikap itu dia semacam terbiasa dengan kondisi kacau ini.
Vicktor tidak bisa tenang berada di sisinya terlebih karena Amelia rawan akan trauma, maka dari itu mereka kembali berkemas berniat untuk pulang ke tempat asal.
"Hey, cilik apa kau siap?"
"Sebentar lagi, aku harus membawa benda ini," Amelia cukup membawa banyak barang-barang aneh.
Vicktor jalan dahulu sedikit meninggalkannya. Ucapan Michael cukup ambigu, kenapa dia harus menembak mati orang-orang yang mencoba bertahan hidup. Jalan memutari mayat yang telah di tembak, alangkah terkejutnya di situ Vicktor melihat wajahnya sendiri.
"Aku menjadi ... Mayat!" lirihnya di iringi detak jantung yang hebat.
Namun, Amelia memanggil dan bersiap pergi. Beruntung di saat yang tepat sebelum pikirannya menjadi gila. Pertama kali dalam perjalanan menemukan manusia di kekacauan ini dan yang paling mengejutkan dia melihat dirinya sendiri mati tergeletak, entah jika itu orang lain mungkin akan berteriak kegilaan.
Sekali lagi Vicktor mengarungi pikiran tentang kunci yang tidak hanya bisa membuka apapun tetapi membawa kemana-mana juga. Dia bergelut dalam pikirannya tentang kelogikaan dan kenyataan. Bahwa kunci itu membawa menuju multiverse atau dunia lain dengan alur yang berbeda. Senang sekaligus mengerikan entah apa yang harus di tampilkan dalam wajahnya tetapi dia akhirnya menemukan harapan baru.
Pertemuan selalu ada perpisahan, mungkin itu yang baru saja di alami. Seberapa tidak bergunanya kita di hadapan orang-orang tapi dengan kehadirannya, atau dengan ucapan kita mampu mengubah sesuatu dalam hidup. Jadi perjalanan ini bukan hanya tidak berarti yang kita perlu hanya harus kita resapi.
Pintu telah terlihat, kunci telah di masukan masing-masing dalam diri mereka mempunyai sebuah harapan yang maka nantinya akan membuat mereka bahagia, sedih atau mungkin tidak keduanya.
Pintu di buka pemandangan baru telah hadir, rumah mereka utuh dan layak untuk di kunjungi kembali.
"Aku telah kembali, jadi takdir apa yang harus aku tempuh hari ini."
Tidak ada yang aneh dari semua itu, yang aneh dan membuat mereka merinding adalah Angelica dan ibunya ada di ruang tamu.
"Hey, lama sekali, apa kalian berhasil membawanya?" tanya ibunya Angelica yang tersenyum lebar.
"Apa? Apa yang kita harus bawa?" tanya balik Vicktor.
"Tentu saja sebuah lilin, bukannya aku sudah bilang?"
Amelia bahkan tak mau muncul di hadapan Angelica, dia hanya bersembunyi di balik kaki ayahnya. Sedikit takut tetapi trauma mengingat kejadian, bahkan rasa benci tak beralasan ikut hadir dalam benaknya.
"Untuk apa?" masih belum paham Vicktor terus bertanya.
"Untuk apa kamu bilang? Tentu saja, untuk putri cantikmu Amelia dia sedang berulang tahun, hari ini bukan?"
-Dua puluh sembilan Juni, kita kembali ke masa lalu?
Pikirnya pada saat itu juga, bingung dan ragu melihat ke sekeliling hanya untuk memastikan bahwa ini benar terjadi. Kalender yang menempel di dinding mengiyakan semua pertanyaan Vicktor. Itu adalah momen yang berbeda dari sebelumnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments