Paru-paru memompa keras jika di samakan oleh sesuatu itu lebih mirip seperti peluit kecil yang terjepit. Tidak tahu mau jadi apa jika melihat mahkluk mengerikan berada di samping mereka sepanjang waktu. Membayangkannya saja sudah membuat merinding setiap hari. Segera ingin pergi dari dunia ini, akan tetapi ada tempat yang harus di kunjungi.
"Apa ... Kau tidak apa-apa?" jongkok dan mencoba membuatnya tetap tegar.
"Tidak, aku tidak melihat tembakan itu." kepalanya di geleng-geleng tetapi kerutan dahinya tak bisa di bohongi.
Toko loak antik berdiri di belakang mereka tepatnya. Ketika mendengar ucapan mahkluk misterius tersebut memancing mereka untuk datang ke toko loak di dunia yang berbeda. Pemilik toko tidak ada yang beda, kakek-kakek tua terlihat bisa pikun kapan saja dia menjaga.
Ketika masuk ke dalam dia langsung menceramahi mereka, dia terdengar mengoceh soal pekerjaan. Tampaknya Vicktor membuat dia marah tanpa alasan yang jelas.
"Ada apa?" Tanya langsung Vicktor.
"Ada apa kau bilang? Dari mana saja kau? Aku menjaga toko ini sendirian dari siang." Nada itu tidak beraturan karena faktor usia.
Vicktor merasa menyesal sekaligus heran dia bertanya-tanya. "Apa aku bekerja di sini?"
"Apa maksudmu? Bahkan kau lebih pikun dariku? Kau karyawan di sini. Apa itu alasanmu ingin berhenti?" Balasnya penuh perhatian dan sedikit emosi.
"Tidak- tidak aku hanya ingin memastikan saja, aku cukup pusing hari ini. Terlalu banyak minum." Kebohongan terkadang bisa menyelamatkan dunia.
"Hey, kenapa? Itu bukan seperti dirimu? Kamu bilang tidak pernah minum selama hidupmu."
-Apa? Aku tidak pernah minum selama hidupku? Apa mungkin aku yang di dunia ini tidak pernah minum? Maksudku siapa orang yang mirip denganku?
Amelia bahkan geleng-geleng kepala mendengarnya keluar sebuah ucapan yang mustahil bisa di lakukan oleh ayahnya tersebut. Bahkan dia tersenyum meledek tanpa pamrih. Amelia melihat sesuatu dari balik dinding dan itu adalah jadwal jaga toko. Ternyata ada orang selain Vicktor menjaga toko tersebut salah satunya ada nama yang dia kenal.
Vicktor merasa terperanjat melihat nama itu terpampang jelas. Dia bahkan berterimakasih kepada Amelia telah melihat dengan kepala matanya. Merasa petunjuk semakin dekat. Vicktor mencari tahu tentang orang tersebut.
"Apa kau tahu nama-nama orang yang berada di jadwal ini?" Berjalan mendekat dan menunjuknya.
"Oh itu, yah tentu aku tahu."
"Aku ingin kau beri tahu semua nama-nama ini," menariknya jadwal yang menempel di dinding dan di taruh di atas meja.
"Bagaimana aku menjelaskan pada orang yang mabuk? Sedangkan kau sudah tahu orang-orang itu."
Vicktor tersenyum simple dan kehilangan kata-kata. "Kalo begitu beri tahu aku satu nama saja," dia mencari sebuah nama yang baru saja membuat dia memiliki cahaya, "nama ini, yah nama ini!"
Kakek itu melotot, membuka kacamata dan mengangkat tongkatnya. "Jangan mempermainkanku," dia memukul kepala dengan benda keras itu.
"Hey, aku tak mempermainkanmu!" Protes Vicktor pada kakek, walaupun memang tidak emosi.
"Itu buktinya alkohol membuatmu buruk, bahkan kau tidak tahu namamu sendiri!"
"Apa- Apa, maksudku ... Apa!" Kalang kabut pikiran serasa di awan, melarikan diri dari toko meninggalkan Amelia. "Tidak- ini bahkan tidak bisa masuk akal."
Vicktor akhirnya menyadari sesuatu dari kejanggalan yang dia rasakan selama ini, selain soal kunci ajaib dia mendapatkan sesuatu yang membuatnya syok. Dia mempertanyakan eksistensinya sendiri. Seperti, apakah kita ini benar-benar ada.
Amelia berusaha mengejarnya di iringi oleh pak tua yang bahkan tak melangkah satu pun dari tempatnya. Amelia pun ikut pucat melihat wajah ayahnya yang penuh keringat di tambah matanya melotot seakan melihat sebuah neraka di depannya.
Setelah beberapa menit wajahnya telah pulih, bahkan dokter pun bingung bagaimana bisa sembuh secepat kilat setelah apa kenyataan menyerang dirinya. Dia menggendong Amelia di bahunya terlihat lebih tinggi pemandangan malam hari yang dingin.
"Menurutmu apa kita bisa hidup?"
"Kita ini sedang hidup, apa ayah sudah kehilangan arah? Tujuan untuk mencari ibu bagaimana, menyerah saja?"
"Kamu benar, aku memang ayah yang payah. Bahkan ulang tahunmu sendiri sejujurnya aku tidak ingat."
"Aku tahu itu dan aku tidak peduli soal itu, yang terpenting kita bersama."
Tidak ada yang bisa lebih membakar hatinya selain kata-kata putrinya. Dia begitu dekat namun terasa jauh, terkadang kita perlu melihatnya dengan jelas bukan dengan mata melainkan dengan perasaan. Harapan tidak akan pernah bisa hilang dari mana pun, sekalipun itu hayalan setidaknya bisa menciptakan kebahagiaan sesaat.
Dia meraih sebuah kunci hitam gelap itu. Melakukan perpindahan dunia lagi menuju lebih baik, kembali berharap bahwa dunia yang dia injak kembali ke dunia asal paling tidak dunia itu adalah dunia yang berisi mimpi indah.
"Bawa aku kembali ke dunia itu sekali lagi," dia melihat ke putrinya, "apa kamu siap?"
"Apapun yang terjadi ayah akan menyelamatkanku bukan?"
"Pasti-"
Mobil sedan lewat dengan keras, mendadak berhenti di simpang jalan. Dia pria yang kekar membawa sesuatu di tangannya, semacam kantong kresek besar. Pria itu adalah Anthonio Gerrad dia bersama istrinya.
"Halo Vin dan ... Gadis lucu Amelia, aku membawakan kalian semacam camilan ringan."
Amelia menerimanya dengan sungkan, "terimakasih banyak."
"Baru pulang pesta huh?" Vicktor bersenang-senang, "ngomong-ngomong apa kau ingat seseorang yang bernama ... "
"Kau bercanda dia istrimu bukan!"
Dia pulang kembali bersama mobil dan isinya. Kresek itu berisi berbagai macam camilan seperti yang dia katakan. Namun, hal semacam itu tidak akan di bawa melainkan di simpan di depan pintu orang rumah yang bukan sebuah kenyataan. Nyatanya semua itu mungkin bersifat halusinasi semata di mana semua orang terlihat begitu menderita dengan wujudnya tanpa karuan.
Pintu di buka dan masuk, dunia yang yang baru saja dia kunjungi tidak jauh berbeda dengan suasana malam yang sama. Putuskan untuk membuka pintu dan di dalam tidak ada siapapun selain senandung seorang gadis.
Alice adalah kata untuk menggambarkan gadis itu, dia berdiri di depan kaca dan berpose. Lalu dia menyambut kepulanganmu dengan cuek seperti gadis-gadis puber lainnya. Berbeda tanggapan dengan Amelia dia begitu menyayangi dan memeluknya erat.
-Apakah dia Alice yang sama? Alice yang mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan hidup kita.
Visual rumah menjadi berubah kembali seakan ini memang di penuhi aura remaja yang lekat. Dekorasi ruangan yang aneh namun fleksibel sangat leluasa untuk beristirahat. Bahkan dia bisa tidur di depan televisi dengan layak kali ini.
"Alice, apa kegiatanmu hari ini?" Tanya Vicktor selagi mencari-cari bir kalengan.
"Itu tidak penting, yang paling penting urus wajahmu, begitu suram apa pekerjaanmu sebagai kondektur begitu melelahkan?"
Tidak heran lagi dengan jawaban yang berbeda-beda sudah selayaknya seperti itu dan itu hal wajar. Cukup aneh jika ada orang yang menjawab dengan benar. Semua beban luntur ketika air pancuran menyibak ke tubuhnya. Pada saat itu juga dia berpikir bahwa hidup hanya sebuah permainan dengan peta yang sangat luas.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments