Rasanya cukup aneh merayakan ulang tahun secara berkala di waktu yang sama dan singkat. Padahal baru saja kemarin mereka merayakan namun dengan penuh insiden. Tetapi tetap saja ini cukup berbeda dari sebelumnya.
Vicktor dan Amelia tidak bisa pergi terlalu jauh. Mereka selalu berdekatan satu sama lain, entah karena gugup atau takut. Sebelumnya baru saja mengunjungi makam mereka dengan penuh air mata. Melihat dia hidup di depan kue ulang tahun besar, sangat membuat perasaan ganjil.
Lilin berhasil di dapat dari lemari dapur penuh debu, hanya ada beberapa lilin saja yang dia dapatkan. Di bersihkan lalu di pasangkan serta di nyalakan oleh korek api yang panjang yang telah di sediakan.
"Apa tidak ada lilin lain? Hanya tiga? Ini agak aneh." katanya dia tersenyum.
"Yah, kami tidak punya lilin yang utuh."
"Tak perlu formal begitu, memangnya kita ini siapa?" tatapan itu berbeda dari sebelumnya.
-Apa maksud dari perkataan itu? Memangnya kita ini siapa? Yah, kita ini siapa. Kamu yang siapa?
Setelah semua acara santai yang meriah. Tidak ada tanda-tanda sebuah penyerangan. Bahkan, mereka berdua sudah cukup berjaga-jaga dengan serius. Keringat, khawatir dan perasaan memburu dalam dirinya terus mendengung.
Kenyamanan yang mereka rasakan malah membuat sebuah keheranan. Tak percaya bahwa itu terjadi, kenormalan bagi mereka tidak bisa lagi di bedakan dengan sebuah kenormalan yang normal.
Vicktor dan Amelia berpikir untuk keluar rumah meninggalkan mereka berdua di dalam. Dalam benaknya juga sedikit heran, kenapa mereka begitu santai di rumah orang lain yang memang itu bukan miliknya. Ibunya Angelica membersihkan segala macam kotoran dan debu. Bahkan dia siap membuat sebuah menu makan malam baru.
Mobil Jeep hitam itu di parkir di depan rumah Anthonio. Mungkin dia baru saja membeli mobil tersebut. Pulang dari pelatihan militer mungkin saja dia punya banyak waktu untuk berlibur bersama keluarga. Dia keluar dan akan pergi menggunakan kendaraan tersebut.
"Hey, gadis manis, bukankah kamu sedang ada pesta." dia Anthonio menyapa duluan.
"Kita sudah selesai, bagaimana kabarmu? Terakhir kali kita bertemu saat kau pulang latihan militer." sambut balik Vicktor mewakili Amelia.
"Apa? Aku baik-baik saja,"
Suara tangisan bayi muncul dari rumahnya di sambung oleh seorang ibu yang mencoba menenangkan. Tidak ada yang aneh dalam itu semua, itu pemandangan yang biasa. Sampai akhirnya dia berkata dengan lantang dan berani.
"Hey, sayang bantu aku. Aku rasa dia ingin di gendong olehmu." nada yang rendah dan menarik perhatian itu adalah wanita yang cukup muda.
Berhenti sejenak menguraikan apa yang baru saja di lihat. Bahkan sekali-kali Vicktor membolak-balikan kepala dari rumahnya menuju wanita tersebut berulang kali. Semuanya pecah ketika Amelia menanyakan hal yang semua orang tanyakan.
"Siapa wanita itu?" dengan polosnya dia berkata, seakan mencoba membalas kebaikan ayahnya, mewakili ucapan.
"Oh, tidak. Amelia apa kamu lupa? Dia adalah istriku tercinta! Kita baru saja menikah." jawabnya penuh eksentrik.
Suara tonggeret terdengar begitu jelas pada musim panas terik di bulan Juli ini. Seharusnya ini musim yang lumayan dingin, bahkan tidak lagi di perhatikan. Mobil mereka pergi lumayan jauh meninggalkan mereka berdua yang sedang melambaikan tangan. Tidak saling tanya bahkan saling tatap tidak ada yang berani.
Merasa tidak nyaman, akhirnya tujuan kembali muncul seperti ide lampu yang terang. Kali ini mereka menaiki taksi untuk sampai ke kantor di mana seharusnya Vicktor bekerja. Kejutan kembali terulang, para staff di sana bahkan tak mengetahui salah satu pegawainya sendiri.
"Hey, Jasse ... " walau dengan reflek ragu dan takut sapaan itu tidak di hiraukan.
Petugas keamanan turut mengerek mereka berdua keluar kantor. Seolah mereka semua tidak lagi sama. Membuat bingung kenapa dunia ini penuh hal yang berbeda dari sebelumnya.
"Apa kamu yakin ... Ayah bekerja di perusahan besar ini?"
"Tentu!" dia luntang-lantung tak karuan. "Aku bekerja di sini tapi mereka seolah tak mengenalku, kamu ingat bukan Jasse dia salah satu kolegaku."
"Yahh ... Hey lihat di sana."
"Ap-"
Mata mereka tertuju oleh pedagang eskrim yang tertulis "Warna-warni dingin dan penuh ceria" Itu cukup mencolok kalangan anak-anak apalagi di tambah logo eskrim besar dengan penuh lelehan karamel. Di pesan dua buah corong eskrim spesial yang cukup besar untuk di nikmati seharian.
Bapak-bapak yang menggunakan topi dan seragam putih itu menghampiri. "Apa eskrim itu dingin?"
Melihat pada eskrim yang di makan lalu menjawab. "Tentu ini dingin. Memangnya ada eskrim yang tak dingin?"
"Bagaimana menurutmu? Apakah itu ada?" dia kembali menjaga stand dagangnya dengan penuh senyum.
Vicktor yang bingung ditanyai seperti itu mengadu pada Amelia.
"Apa itu semacam lelucon?"
"Wajah pak tua itu cukup serius, mungkin memang ada eskrim yang tak dingin." jawabnya cuek menjilati eskrimnya.
"Jangan bercanda, aku tak paham apa itu lelucon di dunia ini? Atau mungkin dia hanya ingin mencoba berteman dia kelihatan kesepian."
Setelah cukup menghabiskan waktu di pinggir jalan menghabiskan eskrimnya yang lezat. Mereka pulang ke rumah untuk beristirahat. Rumah mereka tampak menyala terang bahkan ada kepulan asap di dapurnya, teringat akan kenangan Anastasya yang selalu memasak makanan yang mewah dengan bahan sisa. Ketika di buka pintu perlahan terlihat ibu Angelica sedang memasak dan Angelica sendiri dia menonton televisi drama konyol.
"Apa yang kalian lakukan? Seperti memasak?" rasa waspada tidak bisa di hilangkan, dia tetap mencoba meraih pistol.
"Ya, aku memasak untuk kalian, memangnya apa lagi? Bukankah ini seperti biasa?" jawabnya yang selalu di iringi senyuman di lapisi apron merah muda.
"Seperti biasa? Apa maksudmu?"
Semuanya berkumpul di ruang makan yang kecil. Hidangan yang tersaji benar-benar mirip dengan apa yang di lakukan oleh istrinya di masa lalu. Air matanya terkumpul di dua tempat yang sama, namun tak saling berhamburan.
"Jika kamu punya masalah ceritakan saja, tidak biasanya kamu berjalan pergi berdua bersama, biasanya kita selalu pergi bersama-sama bukan?" angguknya.
"Itu berarti kita-" sebelum keluar dari mulut, Vicktor melihat foto di dinding dengan bingkai bunga. Foto pernikahan itu telah berubah. Hanya memastikan kembali dia melihat cincin yang ternyata sama dengannya.
Jam tidur telah berbunyi semuanya mengambil posisi untuk tidur. Amelia dan Angelica dia tidur bersama di lantai dua dengan jeritan bahagia di dadanya.
Vicktor tidur bersama ibunya Angelica tersebut yang kenyataan dia adalah istri Vicktor di dunia ini. Tidur saling membelakangi nyatanya memang ada yang aneh dalam perasaan keduanya. Namun, sudah beberapa menit dia membalikan tubuhnya dan merangkul.
Vicktor penasaran apakah pertanyaannya telah benar. "Apa kamu masih bangun?"
"Yah, hari ini cukup panas."
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Tanyakan saja,"
"Apakah kita- Apa aku bekerja?"
"Apa ada masalah di tempat kerjamu? Bukankah itu hanya sebuah toko antik yang jarang di kunjungi?"
Mendengar toko antik dia teringat sesuatu yang sangat jelas.
"Apakah kita menikah?"
Pertanyaan kedua Vicktor tidak di jawab mungkin saja dia telah tidur. Ketika akan bangun ingin memastikan sesuatu pada saat itu juga wanita yang tidur bersama berubah menjadi tidak punya wajah dan berusaha mencekik dengan keras. Dia berbicara bahkan mulutnya rata dengan kulit lebih buruk dari mimpi buruk.
Sang penyelamat datang Amelia memukul belakang kepalanya menggunakan teflon tebal yang cukup keras. Mencoba melarikan diri dari mahkluk aneh yang selama ini mereka hadapi. Ketika akan menuju pintu keluar, Angelica menghadang dengan wajah penuh darah bahkan dia kehilangan bola matanya. Lebih mencekam lagi dia memegang pisau.
Tidak ada waktu untuk berpikir di lantai atas mahkluk tak berwajah turun dengan cepat. Terpaksa dia harus menembak salah satu yaitu dia yang menghalangi jalan keluar.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
hiroha
Kena prank sub judul wkwk ngeri
2022-08-27
48