Malam itu memang sangat ramai-ramai, salah satu di antara mereka sedang berulang tahun, pesta yang sangat mengejutkan banyak sekali balon dan pernak-pernik. Kira-kira siapa yang menjadi bintang tamunya hari ini.
"Wah, wah, cukup meriah hari ini." ucapnya yang tergesa-gesa bingung.
"Jangan bilang kau tahu, hari ini bakal terjadi. Maka dari itu kamu susah payah lewat beranda belakang?" balasnya dia tertawa kecil di tutupi oleh tangannya yang kasar.
Dia hanya bisa tertawa, tidak ingat siapa yang sedang berulang tahun- jika seandainya balon gantung yang berbentuk nama itu tidak ada di sana maka bisa di pastikan dia tidak ingat selamanya. Pria yang menyedihkan, bahkan di sebut seorang "Ayah" Tidak lagi layak.
Bukan berupa alasan kenapa dia bisa lupa, bukan karena memorinya hilang ingatan. Karena semua dalam pikirannya berisi tentang istri yang telah menghilang. Satu hari bertepatan dengan tanggal insiden mengenaskan itu, dua puluh sembilan Juni.
Di saat yang tak terduga di luar, ujung jendela, seorang badut dengan golok itu melihat ke arahnya. Entah apa yang dia pikirkan serasa tak puas bermain kejar-kejaran, akhirnya dia turun juga. Topeng itu sangat menggemaskan anak kecil saja bahkan ingin memeluknya, siapapun orang di balik itu tidak ada yang peduli.
Padahal cuaca hari itu sangatlah dingin, namun kulit dan pori-pori seorang ayah anak satu ini mengeluarkan banyak sekali air asin di kulitnya. Seolah-olah dia sedang berolahraga, jogging sepuluh kilometer. Di tambah mulai sedikit mengalami kejang ketika badut itu tidak ada lagi di pandangannya.
Suara pintu ketukan tiga kali sedikit nyaring dan lambat alunannya, membuat salah satu orang bergidik panik kalang kabut. Segera mengambil pisau yang ada di meja dan mengarahkannya dengan cepat.
"Ah, kamu tidak sabar ingin memotong kuenya? Ayolah kita bahkan belum menyanyikan ulang tahun." ibu satu anak ini sepertinya tidak bisa menilai seseorang dengan baik. "Sebelum itu, aku akan buka pintu, kira-kira siapa tamu kali ini."
Tonic Immobility menyerang, suara tidak sanggup keluar bahkan ketika ingin sekali pun tidak bisa berguna. Itu salah satu respon tubuh manusia yang gagal.
Pintu di buka dan tamu itu adalah badut itu. "Hey, repot-repot segala sampai menyewa seseorang untuk merayakan. Sepertinya ayahmu memang tidak melupakanya. Amelia."
Geleng-geleng kepala, mata terbelalak, menginstruksikan untuk tidak menyentuh siapapun dalam pesta meriah ini. Wajah pucat bibir mengering, dehidrasi, kaki gemetar. Di saat yang baik ini apa yang harus aku lakukan? Pikirnya.
-Kenapa orang-orang selalu merebut kebahagian orang-orang.
Lagu ulang tahun pertama telah di nyanyikan, acara berdoa telah di laksanakan, tiup lilin berhasil di hembuskan, hanya tersisa satu lagi acara pemotongan kue.
"Baiklah Amelia, siapa yang ingin pertama kali di suapi."
Ayahnya membantu memotong kue yang bertuliskan enam belas tahun, di atas lapisan coklat tebal yang lumayan mewah.
"Aku pikir, aku ingin suapan pertama, di berikan kepada ayahku."
Suapan pertama melayang dari tangannya mungil dan gembul, secuil kue di atas sendok yang kecil bahkan lebih kecil dari uang koin.
Suapan itu tidak pernah sampai pada mulut ayahnya, semuanya bengong melihat air pancuran anggur merah di bawah kerongkongan ibunya Angelica, bisa di katakan itu adalah air mancur yang luar biasa tidak ada duanya.
Sesuatu seperti bola jatuh di atas meja menggelinding, membuat siapapun meringis kengerian, dan itu adalah kepala. Tidak bisa melakukan apapun selain berteriak, terpaksa harus membungkam dengan cara yang sama. Mengayunkan dengan cara vertikal hingga keluar pusat pikiran.
Jika bayangkan lagi, sungguh ulang tahun yang cukup meriah di bulan Juni ini, tidak ada yang tahu akan seperti apa pertumbuhan mentalnya yang pasti itu adalah hal yang paling berkesan.
Pingsan adalah jalan terbaik untuk melarikan diri, badannya lemas tak berdaya, Amelia sekarang berada dalam pelukan ayah. Mencari tempat untuk bersembunyi dari badut gila.
Tempat yang paling teraman sedunia yang di sebut rumah pun tak lagi bisa di jadikan tempat yang nyaman. Setelah menyaksikan sesaat kejadian yang meriah, tidak mungkin bisa di lupakan begitu saja dengan sebotol bir kaleng.
Tidak ada cara selain bersembunyi. Vicktor saat ini begitu bingung mencari jalan keluar agar terhindar dari pembunuh berkedok badut jalanan, Amelia yang syok melihat sahabatnya bergelimang darah tentu dia pingsan seakan itu adalah mimpi buruk semata.
Pintu di kunci, tak lupa juga di taruh penahan di gagangnya agar tak bisa dengan mudah di dobrak. Namun itu tak membuat berhenti begitu saja, jendela yang penuh kaca di hancurkan, bahkan si pembunuh tak peduli dengan dirinya sendiri, serpihan kaca yang masih menempel itu menusuk seluruh tubuhnya.
Tidak ada pilihan lain selain melarikan diri dari rumah sendiri, semua pintu hancur lebur dibacok. Lari sekencang tenaga seraya menggendong putrinya yang tak sadarkan diri di jalan komplek yang sepi.
Membawa beban yang tak seimbang tentu melelahkan, kakinya tersandung mereka berdua terjatuh. Pembunuh itu datang dengan hawa yang dingin, sekali pun ingin menggusur diri sendiri tetap tidak akan bisa lolos.
"Apa yang kalian inginkan dari kami? Kau tak perlu melakukan hal itu!" teriakan itu bukan sekedar berisikan amarah. "Kenapa? Kenapa kau harus melakukan ini? Katakan saja apa maumu?"
Tak di gubris, semua kata-kata yang keluar hanya menghentikan pergerakannya sedikit. Ketika akan menyembelih Vicktor, suara letupan senjata api keluar dan itu membanjiri wajah Vicktor dengan darah. Melihat wajahnya menghilang seketika, tidak tahu harus berkata apa tapi itu membuatnya tenang walau bahkan di momen yang gila.
Pria yang menembak itu adalah ayahnya Angelica dia baru pulang dari pelatihan militernya kemungkinan besar dia baru saja melihat keluarga dalam kondisi berantakan. Perasaan apa yang ada di hatinya bisa di lihat dia terus menembaki pembunuh itu sampai pagi buta.
Pembawa acara televisi itu perempuan yang cantik, dia mengatakan kejadian yang sebenarnya dengan lantang dan tegas.
"... Dua korban jiwa, diketahui bahwa itu adalah keluarga ... Ibunya tewas dengan kepala terpisah, sedangkan putrinya terbelah tepat di wajahnya ... "
"Acara televisi ini, tidak bisa menyembunyikan sedikit privasi orang lain." sambung seorang dokter, dia mematikan televisi.
"Bagaimana kondisi dia?" sekali lagi Vicktor tidak kehilangan mata panda itu.
Dokter tetaplah dokter, manusia spesial cukup mengerti tentang manusia lain. Dia membawakan sebuah kaleng minuman segar yang berisikan sedikit stamina. Setidaknya itu cocok bagi orang yang stress.
"Dia baik-baik saja, sedari awal kondisinya tidak terlalu baik di tambah secara kebetulan kejadian itu datang menghampiri, dia hanya butuh istirahat."
Pria yang berusaha kuat itu dengan gagah meninggalkan ruangannya, di hatinya masih memiliki penyesalan yang harus bagaimanapun di sampaikan kepada yang bersangkutan.
Anthonio Gerrad dia cukup sibuk di kantor kepolisian, kedatangan seorang tentara dan membunuh seorang pembunuh secara tiba-tiba cukup membuat heboh seantero jagat maya.
"Itu salahku, aku sudah bilang bahwa orang itu mengejarku tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa." ucapan itu di iringi badannya yang siap di jadikan samsak.
"Tidak ada yang salah darimu, kau hanya melindungi keluargamu, aku gagal melindungi keluargaku, tidak perlu bersalah yang salah ... Seandainya dia tidak ada, kejadian ini tidak akan terjadi!"
Motif dan tujuan pelaku tidak di ketahui hingga waktu yang tidak nentu. Wajahnya sudah tidak bisa di identifikasi, pakaian badut yang sangat jarang di pakai terlebih lagi ini bukan musim Halloween. Sementara kepolisian mencatat bahwa itu serangkaian pembunuhan itu menyangkut hilangnya Anastasya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments