Chapter 2. Pengujung Di Malam Hari 2

Burung bersiulan tanda waktu alam berbunyi, menurut Vicktor itu adalah alarm paling murni yang dia dengar tidak perlu merogoh kocek untuk membeli alarm elektronik yang hanya bisa berbunyi satu suara.

"Pagi ayah, tidak berangkat kerja?" baju lusuh rambut berantakan bukti bahwa dia memang tidur nyenyak.

"Pagi sayang, hari ini mereka semua mengadakan meeting. Ayah hanya seorang desainer biasa, jadi tidak perlu repot-repot mengikuti kegiatan aneh itu," dia menyeduh kopi sendiri, ciri khasnya adalah kopi hitam dengan gula tiga sendok.

Cuaca yang cukup dingin membuat mereka hanya duduk memandangi pemandangan biasa dari dalam rumah melewati kaca jendela, cukup hangat rumah mereka memiliki cerobong asap yang besar.

"Kalau begitu sungguh kebetulan," kebalikan dari kopi, dia menyeduh segelas susu hangat di campur sedikit sereal.

"Apanya yang kebetulan, apa kamu tidak bersiap-siap berangkat?"

"Makanya aku sebut kebetulan, sekolahku cukup bermasalah dengan cuaca, guruku bilang hari ini akan libur untuk menyambut musim dingin," jelasnya duduk bersebrangan.

"Apa itu semacam candaan atau alasan tidak ingin masuk sekolah?" tentu tidak langsung percaya dengan ucapan putrinya, musim dingin masih terlalu jauh untuk di sambut.

"Ayolah ... Itu kenyataannya." wajahnya sedikit merengek meringis ingin di percayai.

"Oke ... Setelah minum mari kita periksa sama-sama,"

"Baiklah, tidak bisakah menerima sedikit kenyataan yang terjadi ... " Amelia berjalan menjauh tentu ucapannya memudar di telinga.

Bukan karena tidak percaya atau tidak bisa menerima kenyataan pahit yang ada, sejujurnya dia hanya ingin mengajak putrinya jalan-jalan selagi waktu luang masih terbuka lebar besar. Agar terlihat sedikit meyakinkan bahwa masih tertipu dengan ucapannya, mereka berdua mengunjungi tetangganya dan bertanya perihal libur tersebut, dan ternyata jawabanya sama persis dengan yang di ucapkan Amelia.

Sedikit berbangga hati di wajahnya terukir bahwa dia memang berkata jujur, namun dengan tatapan curiga dan sinis penuh canda Vicktor tak setuju dengan itu, akhirnya dia membawa mobil rongsok mini itu untuk berkeliling melihat kondisi sekolah.

Jalanan lumayan lembab dan bisa meluncur kapan saja jika pengendali kurang ahli dalam mengemudi. Keluar dari kawasan rumah berarti keluar dari daerah hutan. Suasana yang belum pernah di lihat akhirnya terlihat, melihat dia terpesona saja sudah cukup untuk merasa bersyukur telah hidup, namun tak selang beberapa dia menyadari bahwa tujuannya telah di lewati.

"Hey, bukankah kita ingin melihat kondisi sekolah libur? Ini terlalu jauh aku rasa," ucapnya sambil memakan roti lapis yang sebelumnya telah di siapkan.

"Ah, yah soal itu aku melihatnya sekolahmu memang kosong. Ngomong-ngomong selagi kita keluar, apa kamu ingin mengunjungi suatu tempat?"

Cairan gasoline sangat mahal bisa menghidupi satu keluarga sekaligus tetapi untuk kelangsungan hidup kendaraan tentu kita harus memberikan sedikit makanan bagi mereka yang mati.

Selagi sibuk memikirkan tempat yang mana dia harus kunjungi serta pertaruhkan dalam sekali kesempatan hari, dia mulai fokus. Mungkin pada saat itu sekilas terlihat seperti seseorang yang ingin mencoba menggapai impian mereka, wajahnya tampak terlalu serius untuk hal yang sederhana.

"Jadi-"

"Aku rasa aku ingin mengunjungi angkasa!" itu terlalu antusias kedengarannya.

"Kita tidak akan menaiki pesawat luar angkasa -kan?" jawab bingung.

"Maksudku planetarium, yah itu dia sebuah tempat yang penuh dengan mimpi-mimpi indah,"

"Kenapa bisa di sebut mimpi indah? Apa karena terlihat tidak masuk akal? Yah, aku tahu bintang dan planet itu adalah sesuatu yang belum terbiasa kita lihat." Vicktor pikir-pikir mungkin ucapan dia ada benarnya.

"Bukan itu yang aku pikirkan saat ini, aku sering lihat orang-orang berdoa pada bintang jatuh," sanggah ucapan ayahnya.

"Maksudmu terlalu indah harapannya jadi mereka membawanya bersama bintang jatuh itu untuk melenyapkan impiannya, itu ironi sekali."

Setelah sampai mereka menontonnya dengan seksama banyak orang bergembira melihat sesuatu yang asing bagi mereka. Putri Andromeda, Pompa Air, Cendrawasih, Pembawa Air, dan masih banyak lagi. Bahkan benda yang tak terjamah sekalipun mempunyai cerita yang bagus bahkan tragis.

"Tiada hal yang cukup anggun selain menikmati indahnya alam semesta yang penuh keajaiban."

Mengalihkan suasana baru menuju tempat yang penuh asa, mereka berdua berjalan-jalan di pinggir pantai menghirup udara garam yang sesekali membuat mata mereka perih. Api unggun dan teh kemasan hangat adalah cara untuk merayakan kebahagiaan bagi tubuh.

"Benda apa itu? Tidak seperti ayah yang membuang-buang uang dengan benda aneh," Amelia melihat sebuah kotak kayu unik yang di pegang Vicktor.

"Pria toko loak antik itu menitipkan benda ini padaku, dia bilang ibumu menyukai benda semacam ini." jelasnya sambil melihat isi dalam kotak melalui kaca luar.

"Ini hanya sebuah kunci? Tidak berkilauan bahkan terlihat biasa,"

"Yah benda aneh ini mungkin tak berguna, tapi memiliki harga jual tinggi karena tersimpan masa lalu di dalamnya. Aku penasaran apa 'Master Key' ini bisa membuka apapun?" mengocok benda kayu yang di pegangnya.

"'Master Key' huh? Sudah semacam film dongeng saja. Jadi menurutmu apa ibu akan pulang?" tanya Amelia, dia biasa saja waktu yang di habiskan bersama Anastasya tidak terlalu melekat dari memorinya.

"Berharap itu penting sayang, karena kita bisa hidup lebih lama karenanya. Lagi pula ibumu pergi tanpa pamit, jika memang ingin pergi kita harus mendengarkan ucapan pamitnya." sudah terbiasa dengan percakapan sehari-hari seperti ini, semacam meningkatkan semangat hidup bagi Vicktor.

"Sepuluh tahun itu cukup lama aku pikir, apa perlu kita menunggu sepuluh tahun lagi?"

"Paling tidak kita harus hidup dahulu agar bisa menunggu selama itu putriku yang cerewet."

Berbincang-bincang mereka hanya berhenti sampai disitu, tidak perlu bintang jatuh untuk mengabulkan rasa salah, mereka hanya meratapi bintang yang masih terang teguh berdiri menyinari.

Cukup lelah perjalanan, mampir ke restoran favorit dan memilih menu sederhana yang instant seperti biasa sudah jadi hal yang lumrah. Sadar akan kesehatan mereka bisa jadi bermasalah paling tidak itu tidak membuat mereka mengalami obesitas, maksudnya burger itu sangat enak tak peduli apa itu efek samping.

Sayup-sayup mata mulai mengantuk, perjalanan panjang memang selalu bikin raga layu saat ini itulah yang mereka rasakan. Kecupan di kening itu tampak bau alkohol namun menenangkan itu adalah perasaan Amelia, dan sekarang adalah bagi para pria untuk berhayal sebelum tidur yang nyenyak.

Hembusan angin dan lantunan lagu dari daun yang saling beradu itu adalah musik pengantar tidur terbaik yang pernah di ciptakan, hafalannya terus melambung hampir membuat dia terpana akan tetapi di luar sana tiba-tiba ada pengganggu merusak lirik lagu.

"Pemilik toko loak itu tak kenal waktu untuk berkunjung sialan," Vicktor mencari sebuah benda kotak kayu tersebut. "Aku rasa Amelia memegangnya," dia membuka pintu terlebih dahulu dan mulai menyapa. Gelagatnya cukup aneh di bandingkan pria sebelumnya yang menggunakan jaket itu sangat keras tampilannya padahal tidak hujan sama sekali.

"Apa benda ada padamu?" suara pria itu agak sedikit lihai dalam artian lain, maksudknya dia mencoba meniru sesuatu.

Vicktor merasa heran sedikit saja kecurigaan muncul pada dia, "Benda apa maksudmu?"

"Jangan bercanda kau pasti memilikinya benda itu yang aku berikan padamu .... " auranya semakin kuat dan menarik sebuah mangsa, Vicktor sangat yakin dia adalah orang yang berbeda.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!