"Kenapa kita pergi dari dunia yang bisa saja itu aman untuk di tempati?"
Salah satu harapan bertemu dengan Anastasya tidaklah buruk sejauh ini. Namun, hati yang menderita tidak ingin menjadi sebuah penampungan air hangat asin yang banjir. Vicktor mulai terbiasa dengan kunci ajaib yang disebut "Master Key" dengan seenaknya mereka berdua pergi menuju dunia lain tanpa batas, bagaikan harapannya utuh kembali.
"Mungkin kita bisa mencari celah masa depan yang indah."
Dunia yang tidak terhubung dengan realita, jika bertanya soal realita mungkin ini terdengar konyol bagi mereka. Mereka yang sudah menyaksikan banyak hal hal semacam realita tidak lagi di usik dalam benaknya.
Mereka pergi tanpa bertanya kepada siapapun menuju tempat yang sama, panti asuhan dan lansia. Anastasya tidak terlihat di sana walau luas gedung lebar tinggi menjuntai sudah dipastikan dia lenyap.
"Apa menurutmu, ibumu tidak ada di sini?" Tanya Vicktor membelah dua coklat batangan.
"Mungkin ini dunia yang berbeda dari sebelumnya, aku mulai berpikir, apa jadinya jika kita meninggalkan dunia lain menuju dunia sekarang?" Amelia yang cantik bahkan tidak sungkan melahap coklat sekali lahap.
Vicktor mulai mencari sumber dari internet. "Aku tak tahu konsep waktu yang kita lalui, apa mungkin ini semacam teori relativitas Einstein? Jika dia hidup dan tahu soal ini, mungkin bisa mencari tahu soal asal kehidupan."
Jalan menuju pulang terblokir oleh sesuatu badai yang lebat, akhir-akhir radio dalam kendaraan mobil tua itu menyiarkan tentang alam yang buruk. Dunia yang mereka tempati mempunyai alam yang berbeda-beda di bulan yang sama, Juni. Bahkan waktu bagi mereka terlihat sama, tak bertambah atau berkurang sedikit pun hanya alurnya saja yang beda.
Jalanan begitu sumpek, sepertinya terlihat ada sebuah kendaraan yang melintas begitu salah hingga terguling. Salah satu pohon yang besar itu bergoyang-goyang kencang. Vicktor tak mau pohon itu jatuh mengenainya, jadi dia memundurkan mobil dengan panik.
Pria besar keluar dari mobil setelah Vicktor menabrak bemper depan mobil.
"Apa masalahmu? Sudah tau ini macet, terus mundur?" Dia sangat marah bisa-bisa di hajar olehnya jika salah tingkah.
"Sesuatu di depan sana begitu buruk, kau tahu aku terpaksa-"
Pohon itu benar-benar terjatuh menimpa mobil di depannya, kaca mobil memuncratkan darah. Sudah di pastikan mereka meninggal ketiban pohon. Tidak ada yang bisa disalahkan semuanya tenang keluar dari mobil dan meninggalkan begitu saja.
Kejadian begitu memilukan, mereka baru saja menyaksikan orang mati walau bukan pertama kali tetapi, tetap saja itu membuat mereka mual dan stres.
Hampir empat jam, badai akhirnya berlalu. Sangat melelahkan hanya duduk santai, hanya saja tubuh tidak merasa lebih nyaman. Di pinggir pantai ada seseorang yang menjual sosis bakar, mereka berhenti di sana untuk makan sesuai uang saku.
Amelia duduk mengarah pantai yang gelap berpantun cahaya bintang, di mulut pantai begitu ramai, banyak yang masih bermain semacam: Voley dan akrobat lainnya. Yang membuat tidak nyaman ada satu anak laki-laki duduk sangat jauh melihat kearahnya dengan tersenyum lebar.
Amelia berdegup kencang di buatnya, dia menyeringai serta kepalanya miring dengan sangat melenting. Ketika Vicktor datang untuk duduk bersama Amelia melihat wajahnya begitu mendekat.
"Apa yang kau lihat? Sangat panik dan cemas." Dia memberikan sosis bakar padanya.
"Seseorang memperhatikanku." Pandangan Amelia tidak ingin lepas darinya.
Bocah yang hanya memakai celana itu ada duduk di sebelah mereka, Amelia gelagapan panik ketika melihatnya. Dia anak aneh tak karuan, seolah dia bukan lagi seorang manusia keberadaannya tak bisa dideteksi. Bisa jadi dia alien yang menyamar, atau mungkin seseorang yang menciptakan sebuah kunci ajaib itu, siapa yang tahu. Dia lari begitu sudah melihat mereka berdua.
"Haruskah kita pulang? Wajahmu begitu pucat sekali." Vicktor tak kuasa menahan sengatan emosionalnya.
"Yah,"
Sesampainya di rumah lampu menyala terang benderang tanpa sesaat sebelumnya Vicktor berpikir dia tidak meninggalkan ruangan dengan lampu menyala. Mungkin saja Alice ada di dalam sana dengan dimensi yang sama seperti kemarin.
Sebenarnya Vicktor tidak ingin masuk ke dalam dan lebih memilih tinggal di luar ataupun sebuah rumah sakit inap. Tetapi Amelia begitu panas jatuh demam untuk pertama kalinya. Terpaksa harus masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Vicktor mengetuk pintu serta menodongkan senjata di balik jaketnya.
"Tunggu sebentar!"
Suara seorang pria menyaut dari dalam, Vicktor merasa dirinya harus lari dari rumah dan meninggalkan Amelia di depan pintu tak berdaya. Pintu di buka Vicktor telah bersembunyi di balik pepohonan menyatu dengan kegelapan. Terlihat seorang pria itu adalah dia sendiri dengan istrinya, dia merasa khawatir tentang Amelia yang baru saja pulang.
Heran sekaligus bingung bahkan kata-kata saja tidak cukup untuk menjelaskan nalar dari sebuah cuplikan film layar lebar. Dia baru saja melihat dirinya sendiri bersama dengan Anastasya yang masih hidup. Vicktor bertanya ke warga setempat yang berjalan-jalan membawa sebuah pohon cemara kecil.
"Bisakah kamu beritahu ini tahun berapa?"
"Ini tahun 1999 bulan Desember tentu saja, Marry Christmas."
Tepat sepuluh tahun yang lalu, itu adalah tahun yang mengenaskan dengan penuh penyesalan. Bahkan seharusnya dia sudah tiada bulan ini, yang mengurusnya dia sakit adalah dia sendirian di bulan Natal ini. Merasa sudah tak berdaya Vicktor lebih memilih mengakhiri hidupnya di Natal ini berharap hujan salju ini menimbunnya mengubur semua masa lalu dari kehidupan yang fana.
Kesadarannya mulai menghilang, Hipotermia menyerang, darah membeku air mata kering tak membatu.
Pak tua loyo itu membawa sebuah lentera di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang tongkat. Dia berteriak tak tak henti-hentinya memukul-mukul kepala Vicktor memastikan bahwa dia tetap sadar.
"Di mana aku berada?"
"Toko Loak Antik, barang jadul dan barang kuno, ada masalah dengan itu?"
Ini adalah sebuah permulaan bagi Vicktor, semuanya tertuju padanya takdir berada di tangannya kali ini dia yang mengendalikan.
"Siapa namamu anak muda?"
"Aku... Hmm... Vincent."
"Baiklah kalo begitu, mulai hari ini kau akan bekerja di sini, kau ingin pekerjaan bukan? Menyerah pada apa yang kau usahakan membuat hidupmu sia-sia. Bunuh diri? Bukan pilihan yang bagus bagimu, hiduplah sampai kau tiada."
-Jadi kakek tua ini yang membuatku hidup kembali? Setelah semuanya aku mencoba mengakhiri. Sungguh konyol dan ironis, konsekuensi dari permainan waktu sungguh luar biasa menyiksa lucu sekali.
Jadi Vicktor tidak punya waktu untuk bersantai dia mencari salah satu sebuah kunci sebagai rencana awal baginya. Lagi pula itu tidak bisa di sebut awal memangnya di mana awalnya semua kejadian ini, jika harus dipikir lagi.
Sebuah pekerjaan unik bagi Vicktor mengharuskan dia bangun di pagi hari untuk ikut memulai kerjanya di sebuah tempat jauh di negara Mesir. Memakan perjalanan yang panjang melewati berbagai macam pengawasan, jaman yang masih rawan peperangan dan penyelundupan barang illegal.
Bagi Vicktor itu adalah perjalanan relaksasi, bagaikan sebuah pemberian dari Tuhan untuk beristirahat dengan tenang dan damai. Bagaimanapun juga semuanya perlu istirahat tidurlah jika mengantuk, tidurlah jika waktu jiwamu telah selesai.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments