"Aku rasa kau cukup arogan hari ini, aku lupa menyimpan benda itu ... Apa kau bisa menunggu sebentar?"
"Kapan pun kau siap, aku akan menunggu." tegas dia berucap, sangat bisa di percaya.
Kadang-kadang hanya untuk bersikap tenang dan santai di butuhkan tenaga yang ekstra di situasi seperti ini. Vicktor berjalan ke tangga atas menuju kamar Amelia tanpa melakukan gerakan mencurigakan.
Wajahnya yang masih belia dan polos akan dunia luar sana membuat hati sang ayah ingin mengorbankan apapun demi kelangsungan hidup.
"Aku ini sungguh kejam ... " lirihnya membelai kepala Amelia.
"Hmm ...," dia terbangun membuka matanya perlahan, "Ayah, Ayah, aku melihatnya dia bahagia di sana," dia hampir meneteskan air mata, apakah dia mengigau pikir Vicktor.
"Apa yang kau lihat?" tanya santai, sesekali melihat jendela luar.
"Aku melihatnya, untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat ibu!" sedikit teriak dari kerongkongan haus.
"Aku ingin mendengarkan cerita manis itu, tapi kita tidak punya waktu sayang, apa kamu punya benda itu? 'Master Key' paman toko loak itu ingin dia mengambilnya lagi,"
Benda itu di pegang erat hingga terasa sangat hangat, tidak ada yang percaya bagi orang lain apa yang di impikan Amelia. Apakah dia mengambil sesuatu harapan dalam mimpi itu?
"Apa paman pemilik toko itu datang kemari? Aku ingin melihatnya juga," tarik baju mencoba menyadarkan dirinya.
"Aku rasa itu ide buruk, paman loak ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Apa kamu ingat? Ketika kita dalam bahaya kamu harus sembunyi di mana?"
"Di gudang belakang." jawabnya.
"Kamu pintar, jadi apa bisa kamu lakukan sekarang sayang?" Vicktor membelai rambutnya dan mencium pipinya, "Aku pasti akan kembali." seakan-akan takut hal buruk terjadi Vicktor tak ingin melihat wajahnya untuk terakhir kali.
Usianya yang masih di katakan belia, perintah itu sangat bisa di dengar dengan baik dia menurutinya. Bahkan raut wajah itu berusaha menutupi ketakutan, kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya namun itu hanya hal yang tidak terlalu berat baginya.
Menuruni anak tangga bersama, tentu pria yang berdiri di depan pintu itu melihat putrinya berjalan ke belakang menuju gudang karena tangga menyatu dengan ruang tengah.
"Pasti cukup merepotkan bukan, ketika putrinya terbangun ingin pergi ke toilet?" ajak pria berjaket itu mencari topik. " ... Apa mungkin dia memimpikan sesuatu?"
"Hmm, apa maksudnya?" Vicktor cukup penasaran apa dia bisa menebak atau dia sama seperti dirinya, seorang ayah yang merawat gadis.
"Yah, maksudku apa dia telah bertemu dengan ibunya?" ucapan itu keluar dari mulutnya langsung tanpa ancang-ancang.
Menggigil tubuhnya bukan karena gentar, tetapi suhu tubuhnya mulai meningkat di lihat dari matanya yang tak bisa di kontrol. Di sisi lain tangannya yang hendak memberikan 'Master Key' tiba-tiba tertahan dan tetap sembunyi di balik kantung celana belakang.
"Apa maksudnya itu?"
"Apa tebakanku benar? Yah, tidak kusangka dia melihatnya pasti itu adalah kenangan yang indah-"
Tak perlu basa-basi lagi, tanpa adanya wasit ataupun ring Vicktor meraih kerah bajunya, mengancam dengan mata terbelalak hingga nafas mereka saling beradu.
"Apa yang kau inginkan? Jangan main-main denganku!" berat suaranya tak tertahankan bagai auman singa.
"Aku hanya asal menebaknya, aku minta maaf telah menyinggung, soal istrimu yang menghilang memang terkenal di kota ini, aku minta maaf." dia merasa menyesal wajahnya ketat namun tetap tak menutupi kecurigaan Vicktor. "Jadi apa kau mendapatkan kotak kunci itu?"
Vicktor pergi ke dalam menuju kulkas mengambil sebuah bir kesukaannya. Matanya bermain melihat ke sekeliling hanya untuk memastikan bahwa putrinya telah menepati janjinya.
"Kunci, huh?" bir itu di potek dan gas dalamnya keluar, lalu menenggak dengan puas. "Benda itu aku tak tahu, sepertinya aku lupa menyimpan." Vicktor hanya duduk di sofa menghadap televisi yang menyala.
"Aku tahu kau akan berkata seperti itu, jadi ... Kau ingin aku mengambilnya secara paksa?"
Tubuhnya tidak terlalu kekar namun nyalinya sanggup beradu, Vicktor bukan orang sembarangan yang akan menyerah begitu saja terhadap cemoohan terhadap harga diri keluarga yang dia genggam.
"Sungguh malam yang indah." sambut Vicktor melipat lengan baju.
Pria yang menyamar menjadi pemilik toko loak itu bersikeras merebut apa yang bukan seharusnya jadi milik dia, terlebih lagi dia bukan orang yang bakalan pergi tanpa membawa hasil.
Pukulan pertama di lancarkan oleh Vicktor tepat mengenai wajahnya. Rasanya seperti terbentur keras oleh bata balok yang jatuh dari lantai dua. Namun, pria loak palsu itu tak bergeming dia sanggup menahannya, mendorong dengan keras ke dalam hingga Vicktor terjatuh, lalu merogoh ke belakang saku celana seolah dia tahu bahwa benda itu ada di sana.
"Master Key" jatuh ke tangan pria loak palsu itu, tentu Vicktor tidak ingin selesai begitu saja. Bergulat layaknya pemain sumo saling mendorong menghancurkan barang-barang hingga akhirnya benda yang di incar itu terjatuh.
"Kau akan kecewa, ingat itu! Vicktor kau akan kecewa!" teriaknya dengan keras tanpa ragu orang sekitar mendengar.
"Apa yang telah aku kecewakan setelah selama ini aku hidup?" jawabnya sambil mengunci pergerakan pria itu.
Tak lama Amelia keluar dari persembunyian dan melihat mereka berdua berbaring bercengkrama keras. Matanya tertuju pada benda yang tergeletak dekatnya itu adalah "Master Key" Amelia mengambilnya dan memegang erat di dadanya.
"Amelia pergilah menuju rumahnya Angelica!" perintah ayahnya.
"Ha ha ha ha!" dia tertawa terbahak-bahak padahal tak ada yang lucu sama sekali. "Kau tidak akan mengerti soal ini, kau sudah gila Vicktor!! Seharusnya kau biarkan benda itu ada padaku!"
Tidak berselang lama polisi yang sedang patroli di kota kecil itu datang ketika mendengar ada laporan soal perampokan di rumah terpencil dekat hutan.
Si pria loak melarikan diri dari tempat kejadian perkara tanpa menjatuhkan barang bukti apapun selain bekas rumah yang berantakan.
Amelia kecil putri kesayangan Vicktor telah melakukannya, dia memanggil polisi setelah datang ke rumah tetangganya yaitu ibu Angelica. Sang pahlawan juga sang penyelamat satu-satunya keluarga yang bisa menyelamatkan hanya dengan keluarga pula.
Karena hari sudah terlalu larut serta kantor polisi pusat terlalu jauh untuk melakukan perjalanan, mereka terpaksa harus berjaga-jaga rumah Vicktor untuk akhirnya hari esok melaporkan kejadian yang terjadi secara lengkap.
Amelia dan Vicktor mendekap bersama dalam kamar untuk pertama kalinya dalam rentang waktu dua belas tahun. Kehangatan pelukan dan keamanan menyelimuti Amelia itu sudah semacam mukjizat baginya. Berbeda dengan Vicktor yang melamun dalam pejamkan mata dia memikir pria aneh itu dengan sungguh-sungguh ingin mencoba menahannya dari sebuah benda tersebut. Ucapan yang ambigu terlalu banyak terlontar mencoba mencerna apa yang ingin dia sampaikan kepadanya.
"Mungkin aku akan mencoba memilih hidup ini dengan cara yang tak masuk akal sekalipun."
"Apa itu?"
"Mungkin mencoba mempercayai bahwa bintang bisa mengambulkan permohonan."
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments