Chapter 13. Aku Orang Gila

Pagi hari sangat ribut, berbeda dengan hari-hari lainnya. Vicktor terbangun di tempat tidur sofanya, melihat Alice dan Amelia bersenang-senang di halaman depan rumah. Di depan mejanya ada sebuah pancake hangat dengan segelas susu di samping kanannya. Dia memakannya tanpa ragu, karena pikir mereka sengaja membuatkan untuk dirinya.

Bingkai foto terlihat hanya ada tiga foto di dalamnya, Vicktor kembali berpikir bagaimana dia bisa mempunyai seorang anak dalam di dunia ini.

"Bersenang-senang?" Tanya dia yang sudah pasti itu terlihat.

"Sepertinya kamu juga sudah bersenang-senang." Balik jawab Amelia.

"Maksud kalian soal sarapan itu? Ayolah itu tidak bisa dikatakan bersenang-senang, aku juga ingin bersenang-senang."

Mereka bertiga cukup meriah padahal hanya bermain kejar-kejaran biasa. Tak jauh berbeda dengan kucing yang mengejar kupu-kupu, kucing itu melupakan jalan pulangnya. Jika mereka berdua seolah sedang melupakan masa lalunya.

"Apa mobil tua itu ada di sana?" Tanya Vicktor pada Alice seraya menunjukan jempolnya ke arah garasi.

Alice mengangguk. "Tapi itu sudah rusak, sudah sedari dulu aku menyuruhmu untuk memperbaiki."

Vicktor berhenti melangkah. "Apa kau bilang? Mana mungkin aku bisa memperbaiki benda itu."

"Bukankah kau bekerja sebagai konduktor mesin?"

-Itu benar sekali, sekalipun aku berangkat kerja aku tidak bisa mengendarai atau memperbaiki apapun di sana. Bagian yang terburuk aku langsung di pecat.

Vicktor tidak punya cara lain selain membawa mobil itu ke bengkel temannya yang konyol dengan cara di dorong sejauh empat ratus meter dari rumahnya. Setelah sampai dengan baju basah kuyup karena keringat, tempat itu ramai bahkan namanya berubah, cukup populer di kota ini.

"Bahkan orang goblók seperti dia mampu menjadi orang sukses seperti ini, apakah kita hidup di dunia yang salah?"

Mobil tua itu dititipkan berharap segera diperbaiki lebih dahulu dibandingkan pengunjung yang lain. Alice datang dengan motor unik yang berisik knalpotnya. Motor itu mirip dengan Harley-davidson yang digadang-gadang motor legendaris.

"Dari mana kau dapatkan motor itu, huh?" Vicktor hampir kehabisan napas.

Tubuh dia berkata seperti tidak peduli. "Entahlah, aku dapatkan benda ini dari orang yang kalah taruhan."

"Cukup liar ... "

Alice membawa motornya berkeliling kota tanpa henti. Tampaknya dia tahu bagaimana tingkah Vicktor yang seharusnya dilakukan, bukan seorang yang payah seperti ini. Baju yang basah menjadi kering terbawa angin yang hangat, bisa di bilang semacam setrikaan berjalan.

"Jadi kenapa repot-repot mendorong mobil itu ke bengkel?"

"Ada tempat yang harus aku kunjungi, cukup jauh."

Motor berhenti di sebuah kafe dan restoran, ternyata di sana sudah ada Amelia yang menunggu. Tampaknya Alice cukup akrab dengan pemilik toko tersebut. Dia berbincang-bincang perihal penjualan dan minuman.

Menikmati minuman segar dikala panas dan cape itu lumayan membuat tubuh terasa mengasikkan. Tetapi, rasa nyaman tetap membuat Vicktor waspada dengan tingkah laku para pelayan dan pelanggan yang ada di dalam ruangan tersebut. Mata mereka begitu menyorot kencang ke dalam hati, membuat mental sedikit menciut.

Vicktor sebelum memulai pembicaraan dia ingin duduknya bersamaan dengan Amelia. Alice pun bertukar tempat dengannya. Hanya untuk berjaga-jaga Vicktor mengambil langkah lebih jauh dengan duduk dekat pintu keluar.

"Jadi, katakan padaku dengan siapa aku menikah?" Perkataan itu muncul dari mulutnya spontan.

"Kamu tidak pernah menikah," jawab singkat Alice, "jika kamu bertanya soal Amelia dan Aku, kita berdua adalah anak adopsi."

Hening tak bergeming, ringikan belalang musim panas terasa mencairkan suasana. Vicktor tau seseorang sedang mengincar dirinya bahkan jauh sebelum hal itu terpikir. Statement yang di keluarkan oleh Alice membuat Vicktor curiga bahwa ada campur tangan dirinya dengan sebuah kunci yang dia bawa kemana-mana. Dia terlalu tenang walau sikapnya yang arogan dan blak-blakan.

Dua jam berlalu Vicktor pergi dengan Amelia tanpa pamit menuju bengkel yang di tuju. Mobil tua itu sudah siap berjalan. Salah satu pembayaran yang dia ajukan dengan menuliskan alamat rumahnya.

"Aku tidak punya uang saat ini, kalian bisa ambil rumahku, itu alamatku."

Para pegawai di sana hanya bisa bengong dan menganga, seolah rumah bagaikan pertukaran batu dan pasir, yang membuatnya yakin adanya identitas dan sertifikasi murni. Amelia di buat kejang dengan tingkah laku yang sembrono, melihat memang mereka berdua tidak memiliki keaslian di dunia saat ini.

Amelia memandang tegas ayahnya yang sedang menyetir dia cukup marah, pipinya menggembung. "Apa yang sedang kau lakukan? Mau kemana kita? Bahkan Alice kita tinggalkan begitu saja, setidaknya hubungi dia."

"Kamu sendiri yang bilang, kita masih belum kehilangan harapan, di mana langit di junjung kita akan selalu mencari jawaban tentang ... Ibumu."

Jalan yang di tempuh tidaklah pendek, perlu waktu dua hari dua malam untuk sampai ke rumah istrinya, rumah orangtuanya. Hanya itu satu-satunya petunjuk dimana lagi harus mencari awal sebuah kejadian. Anastasya dan Vicktor bertemu di sebuah panti asuhan dan lansia, mereka berdua menjalin kasih yang dalam hanya dalam satu pertemuan. Hingga sampai menikah mirip seperti dongeng dalam buku kanak-kanak.

Kakek tua menggunakan kursi roda terlihat di dorong oleh seorang gadis muda, bisa di bilang dia adalah anaknya. Kakek tua itu adalah kepingan masa lalu yang dulu pernah di rawat oleh istrinya Vicktor.

"Apakah kamu tahu seorang suster bernama ... Anastasya?" Tanya Vicktor pada kakek tersebut.

"Kamu ... Kita pernah bertemu sebelumnya ya ... " samar suara kakek itu bahkan serak."

"Dia ada di dalam," jawab anaknya, "apakah kamu pernah bertemu dengannya?" Dia bertanya soal kakek kali ini.

" ... Mungkin."

Bangunan tua yang sudah ada sejak abad ke sembilan belas. Hitam dan keropos tidak pernah di daur ulang, auranya begitu kokoh dan kuat walau sudah tergerus zaman. Panti asuhan sekaligus tempat lansia dirawat berkumpul dalam ruangan yang berbeda.

Di pandangan Vicktor terlihat jelas bahwa dirinya mengalami kejang sementara. Apa yang dia lihat adalah sebuah ketidakadilan, sumber dari segala sumber masalah penyakit. Anastasya sedang bermesraan dengan pria lain yang tak lain adalah petinggi pemilik bangunan tersebut. Bercumbu mesra tak tertahankan seperti saat dia bersama dengannya dahulu.

"Jangan pergi!" Teriak Amelia menghentikan langkah kaki Vicktor, memegang erat tangannya. "Ayah, tidak pernah mempersiapkan hal buruk menurut kita itu salah?"

Memalukan bagi Vicktor termakan oleh emosi bahkan putrinya lebih paham soal perasaan. "Maaf ... Ini di luar dugaanku .... "

Jika seandainya tidak ada Amelia disisinya, Vicktor bagaikan orang gila yang mengaku-ngaku bahwa dia adalah miliknya, dia adalah istrinya. Jika dipikir-pikir, bisa saja orang gila yang kita lihat di sekeliling kita mungkin saja dia mengatakan kebenaran pahit yang baru saja dia alami di dunia lain yang tidak pernah kalian ketahui.

"Mungkin saja ada fakta di balik omong kosong orang waras, sebaliknya ada omong kosong di balik fakta orang gila."

"Aku harap begitu."

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!