Malam yang cukup menggigil saat itu. Vicktor membawa semua perlatan tidur menuju tempat dimana Amelia di rawat. Kondisinya sudah membaik namun dia sadar akan kejadian yang baru saja menimpa, tepatnya dua hari yang lalu badai menerjang membuatnya terguncang. Baginya tidur adalah hal tepat untuk terbangun dari mimpi buruk yang nyata.
Ketukan pintu itu datang dari arah lorong, pintu rumah sakit mempunyai kaca tembus pandang berbentuk oval dan itu adalah seorang dokter. "Hey, kau bisa tidur di kamar sebelah." tunjuknya menggunakan jempol dan jari lainnya mengepal.
"Tidak apa, aku baik-baik saja di sini."
"Oke, beritahu saja aku jika butuh apapun."
Semua orang di rumah sakit selalu berbaik hati. Menawarkan diri atau sekedar membantu meringankan beban dengan curhatan. Tidak ada yang buruk dari perlakuannya, rumah sakit berisi orang-orang yang memahami apa artinya penderitaan.
Malam hari emang identik dengan dingin oleh karena itu cairan dalam tubuh mudah sekali ingin keluar. Tak sengaja ketika buka pintu tepat di depannya ada seseorang yang duduk di tempat duduk pengujung. Tak jelas yang pasti dia duduk menundukan kepalanya di lutut membuat rambutnya terburai dan menutupi wajah.
Selesai dari kamar kecil, Vicktor berjalan dan perempuan itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Namun, ketika akan masuk kembali ke ruangan dia muncul dari arah kamar kecil. Lumayan mengagetkan jika itu terjadi pada siapapun.
"Apa kamu ingin," perempuan itu menyodorkan minuman susu rasa stroberi, sangat perempuan sekali.
Jika lebih di perhatikan dia masih gadis kisaran umur dua puluh dua tahun. Rambutnya pirang dan lurus, wajahnya terasa tidak asing bagi Vicktor. Terlihat dia orang yang pandai bergaul tidak peduli siapa orangnya dia akan mengajak bicara.
"Terimakasih," susu mungkin bisa memudahkan tidur jadi dia menerimanya." Ngomong-ngomong apa kita pernah bertemu?"
Gadis itu berjalan lalu kembali duduk di tempat yang sama. "Apa aku terlihat familiar di matamu?"
Gadis ini memang pandai memancing lawan bicaranya.
Tak sadar Vicktor pun duduk di sebelahnya sambil menikmati susu kotak yang cukup hangat kemasannya.
"Entah, seperti aku pernah melihatmu di suatu tempat."
Dia hanya tersenyum tanpa memutar kepalanya dan tidak ada tanda-tanda akan membalas dialog pria yang bau matahari itu.
Kembali bertanya hanya untuk mencairkan suasana. "Apa kau sedang menunggu seseorang? Kalau tak keberatan bisa tidur di kamar sebelah yang kosong itu."
"Aku tak menunggu siapapun-" dia berhenti berucap karena kaget melihat wajah Vicktor yang memperhatikannya dengan tegas. "Aku hanya ingin istirahat, aku tidak punya tempat tinggal, aku meloncat-loncat dari kota ke kota."
"Ah, apa yang terjadi? Bertengkar atau semacamnya?"
"Hanya berkelana, mencari sesuatu yang lain, atau mencari jawaban yang tidak pasti."
"Itu terdengar ceroboh tapi cukup berani. Aku rasa itu cukup unik di masa itu aku pun merasa sesuatu ada yang kurang jadi aku mencarinya sesuatu itu tetapi kau tidak akan dapat."
"Karena itu sulit di dapat?"
"Karena itu tidak pernah ada di tempat lain,"
Mereka berdua cukup lama berbincang-bincang sampai akhirnya larut malam tiba membuat mereka tak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata.
Pagi hari tiba semuanya tampak baik-baik saja, gadis itu bahkan akrab dengan Amelia yang baru saja membuka matanya. Mereka bahkan berbicara yang seorang pria tidak tahu. Bagi Vicktor yang terpenting adalah kesembuhan Amelia, teman baru mungkin terdengar sedikit kejam tetapi itu bisa menyembuhkannya dari trauma walau setetes.
Gadis itu cukup aneh, ketika di sandingkan mirip adik dan kakak. Cukup yakin bahwa mitos tentang tujuh kembaran di dunia itu benar adanya. Dalam berbagai sisi dia memang mirip dan punya kesamaan yang tidak jauh berbeda.
"Jadi kita akan pulang sekarang?"
"Aku rasa begitu sayang," Vicktor sejujurnya tidak ingin pulang ke rumah itu, karena masih banyak masih banyak hal mengerikan jika di ingat oleh Amelia. Namun, tidak ada pilihan lain, rumah itu penuh juga dengan memori yang tidak ingin di lupakan.
"Bagaimana dengan Alice? Apa dia ikut?"
"Siapa Alic-" benar, bahkan dia belum tahu siapa gadis itu. Berkenalan pun belum sempat. "Alice jika kau tidak keberatan bisa tidur bersamanya."
Alisnya terangkat seakan terkejut kata itu keluar dari mulutnya secara langsung, "Kau yakin?"
Hanya membalas dengan anggukan kepala.
Akhirnya semua setuju, tidak ada yang tidak bisa di tolak dari permintaan putrinya sendiri. Lagi pula Alice tidak seperti orang asing yang memiliki hawa kecurigaan bagi sekitar. Bisa jadi karena dia orang perantauan, sifat baik yang bisa menyita perhatian orang lain adalah salah satu untuk bertahan hidup.
Banyak yang tidak sadar bahwa kehidupan begitu singkat, bagaikan rumput di pinggir jalan tidak lama setelahnya mereka di potong habis tanpa sisa sedikit pun. Bahkan rumput-rumput itu tidak tahu bahwa mereka tumbuh di ladang yang salah.
Tidak ada lagi hal yang bisa membuat tenang selain harapan, itu yang di alami Vicktor. Dia melihat kunci hitam di atas meja yang bisa membawa kemana saja, membuat dirinya tidak tenang dan gelisah. Berharap bahwa dia bisa menemukan istrinya atau mengembalikan waktu ke sebelum kejadian di mulai adalah hal gila.
Dari lantai atas sebuah tangisan kecil terdengar, baru saja satu kaleng di tenggak belum cukup untuk menghilangkan rasa jenuh dan pusing, bahkan untuk melemaskan kaki saja tidak bisa.
Alice dia duduk di balik pintu dengan tenang mendengarkan isak tangis Amelia. Dia bahkan tak menyadari suara langkah kaki.
"Apa terjadi sesuatu?" Vicktor mencoba membuka pintu tetapi di halangi oleh Alice.
"Semua orang perlu waktu untuk sendiri,"
"Mungkin kau benar," mengingat kejadian masa lalunya dirinya sangat suram bisa sedikit mengerti perasaan Amelia rasanya di tinggal. "Apa kau tidak berniat memenangkannya?"
"Biarkan dia menangis sendiri, dengan begitu dia jauh lebih menerima kenyataan dengan jelas."
"Ya, itu benar."
Teringat suatu hal Vicktor ingin memperlihatkan kunci ajaib itu pada Alice namun tak sengaja di jatuhkan. Membuat kebisingan yang di dengar Amelia, mengganggu tangisannya di kala duka. Tentu saja itu menaikan tensi waspada miliknya.
"Ada orang di sana?" ucapnya terjal berusaha untuk tidak menangis.
Pintu di buka dan menjawab senyum terlebih dahulu. "Aku menjatuhkan sesuatu, apa itu membangunkanmu?"
Amelia melihat kunci yang di pegang telapak tangan besarnya itu lalu berkata, "Apa kita bisa kembali dengan itu."
Kata-kata cukup berbahaya mampu membutakan seseorang. Vicktor merasa dirinya memenuhi syarat untuk melakukan hal gila lagi, baginya kunci itu semacam keajaiban instant yang datang seperti di restoran. Otaknya mengiyakan ucapan putrinya, jika benar bisa kembali mungkin Angelica dan ibunya bisa selamat, serta ada kemungkinan bisa bertemu dengan Anastasya kembali.
"Tidak! Kau tidak boleh melakukannya!" teriakan itu berasal dari Alice, bagaimana mungkin dia berkata begitu tanpa tahu apa topik pembicaraannya.
"Apa maksudmu?" tanya Vicktor.
"Kalian tidak boleh melakukan hal seperti itu, kalian ... Tidak boleh memikirkan hal fantasi begitu."
Ada yang salah dengan ucapannya dan itu terdengar ambigu. Segera langsung menyadari setelah selama dia merasakan keanehan semenjak memegang kunci itu.
"Kau tahu benda ini!" keras sekali dia berkata, hingga bulu kuduk orang merinding mendengarnya. "Kau tahu kunci ini! Siapa kau!" Vicktor mendorong menyudutkan ke arah tembok.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments