Pagi baru telah datang dari bola mata mereka begitu memerah, sudah semacam kelilipan garam. Tidak ada yang mudah menjalani pagi hanya dengan mimpi buruk yang indah. Tidak ada gairah semangat, bahkan motivasi berita seolah semacam dongeng hangat yang kacau.
Hanya untuk mengelabui orang lain, segenggam air dingin di basuhkan tepat di wajah mereka saling berurutan tak lupa menyikat gigi mereka depan kaca besar yang mampu masuk ke dalamnya.
Sulit rasanya melalui tanpa berkata sepatah kata pun, bahkan untuk sarapan mereka menggunakan isyarat. Seperti mencondongkan roti bakar, "Apa kau ingin roti?" dia membalas dengan menggelengkan kepala, "tidak."
Di luar sana sudah ada yang menunggu dan dia adalah Angelica bersama ibunya. Wanita itu melambaikan tangannya dengan cerah di ikuti putrinya yang kriting. Pemandangan itu bukanlah yang pertama bahkan berkali-kali.
Mobil rongsokan mini itu di bawa untuk mengantarkan para gadis cilik ini untuk sampai di sekolahan dengan selamat dan tepat.
"Sudah menunggu lama? Maaf, putri kami memang lambat," tak terima ungkapan tersebut, Amelia menyenggolnya.
"Masih cukup pagi, untuk berangkat jadi bersantai saja."
Pukul tujuh memang terlalu pagi untuk berangkat sekolah bagi mereka karena biasanya jam delapan adalah waktu yang tepat untuk masuk. Tidak terlalu masalah bagi mereka datang pagi biasanya anak seumuran menengah bermain-main batu tumpuk.
Cukup menyebalkan bagi Victor untuk membawa mobil kolot, dia biasanya menitipkan di bengkel Master Repair kenalan semasa SMU. Pemiliknya bernama Isaac Julian, pria dangkal ilmu mekanik yang coba-coba buka usaha sendiri akibatnya dia rugi hampir sekitar dua ratus juta. Neneknya bahkan mengusir, dia sudah seperti gembel yang pemberani tapi bodoh.
"Halo bung, seperti biasa aku titip mobil."
"Ohh," matanya teler, melantur tak jelas, "apa kau butuh perbaikan?"
"Terakhir kali kau mencoba memperbaiki mobilku ini menjadi sebuah traktor." tertawa keras meledek dengan keji.
"Jauh lebih baik dari mobil reyot ini,"
"Sial."
Fokus pada pekerjaan sebagai desainer yang handal dan terpercaya hanya beberapa klien yang perlu di tangani. Terkadang cukup merepotkan untuk melayani dari salah satu mereka, apesnya lagi kontrak yang mereka minta di putus di tengah jalan hanya karena salah sedikit saja dalam logo mereka.
Itu bagian dari sebuah kehidupan tak ada mereka tidak aja jatah, apalagi pekerjaan ini tidak banyak di gandrungi karena pelanggannya yang sedikit.
Ketenangan dalam keramaian biasa di temui oleh orang-orang yang lelah, Vicktor tertidur di meja bekerja. Semua lampu telah padam kecuali kursi miliknya sendiri. Tujuh panggilan tak terjawab di ponsel membuat penasaran akan jawaban, ada salah satu pesan yang berisikan bahwa Amelia telah pulang bersama Angelica karena lama jemputan darinya.
"Halo, maaf merepotkanmu lagi, aku ada banyak kerjaan dan melupakan kalian." hanya untuk memastikan bahwa mereka aman dengan sentuhan kebohongan.
"Tidak apa, mereka semua berkumpul di sini- sebentar lagi makan malam, apa kamu ikut juga?" suara dalam telepon tak terlalu jelas karena gemericik hujan.
"Aku takut tak sempat datang tepat waktu, jadi kalian duluan saja."
"Baiklah pastikan jangan terlalu malam ... Dah."
"Dah."
Malam-malam di tengah hujan begini rasanya membosankan beruntung ada payung seseorang yang seperti sengaja di tinggal di rak ujung depan pintu keluar, kemungkinan besar itu adalah payung seseorang yang masih lembur. Tak memperdulikan soal itu dan lebih memilih melanjutkan jalan pulang. Namun sebelumnya dia mulai teringat akan sesuatu yang heboh.
Master Key dua kata tersirat dalam pikiran sembari memegang sebuah kunci, berhubung berada di kota Vicktor ingin mengunjungi toko loak antik yang terkenal tersebut. Hanya berjarak dua ratus meter dari tempat dia beranjak. Cahaya toko itu cukup terang, mentang-mentang antik bahkan lampu yang di pakai pun ikut serta.
Memasuki toko yang di penuhi lampu pijar kuning masa lalu sungguh bisa membuat siapapun bernostalgia. Piring, guci, telepon, bahkan pemutar musik kaset hitam ada di dalamnya. Namun bukan itu yang di cari melainkan seseorang yang memang sukar di temui.
Semuanya serba antik, bahkan yang jaga toko itu pun kelihatan antiknya. "Pak tua, kemana penjaga toko muda yang bekerja di sini?"
Sebelum menjawab dia memperbaiki posisi kacamata hanya untuk melihat wajah yang mungkin di tidak asing. "Maksudmu siapa? Apa itu Wilson anakku?"
"Tidak, tidak, maksudku pria yang bernama Vincent apa dia ada di sini?" jawab lebih keras, berpikir bahwa dia gangguan pendengaran.
"Vincent? Aku tak kenal pria bernama Vincent ini,"
Kakek tua ini memang pikun atau dia memang tidak memperkerjakan seseorang bernama Vincent, Vicktor memberikan sebuah kunci berserta kotak itu kepada kakek berharap dia tau sesuatu soal benda aneh tersebut.
Dia mengambil alat yang memang khusus untuk meneliti benda yang di anggap kuno, sedikit ragu jika kakek itu paham soal barang-barang langka bahkan dia tak tahu cara memakai pakaian dengan benar sekalipun.
Dia geleng-geleng kepala, "Benda ini cukup unik, bisa di pastikan kayu ini berumur sekitar seribu tahun lalu."
"Wow! Lebih tua dari dirimu?"
"Yah tentu lebih tua dari diriku,"
-Kakek tua itu cukup terkesan berarti benda ini memang asli keberadaannya, lalu siapa orang yang bernama Vincent mengaku-ngaku dia sebagai karyawan di toko anti loak yang bahkan tidak ada sama sekali. Lalu keajaiban macam apa kunci ini? Dorongan halusinasi? Atau semacam hipnotis? Cukup berbahaya aku pikir.
Malam telah larut kata-kata yang di sampaikan sudah seperti janji dia ingkari agar pulang tidak terlalu malam. Insting manusia lagi-lagi bekerja di saat genting, seperti ada seseorang yang mengawasi dari kejauhan namun sepertinya itu adalah perasaan was-was jadi tidak perlu di pusingkan.
Semakin cepat berjalan menuju bengkel untuk mengambil mobil, perasaan itu semakin tinggi. Mencoba untuk melirik ke seluruh arah sebelum akhirnya naik ke mobil adalah hal yang sering di lakukan orang lain ketika sendirian di malam hari. Tidak ada yang aneh dari kejadian tersebut tetapi mobil lain di belakang dengan cahaya redup ikut mengejar seakan dia mengincar.
Vicktor hanya berusaha untuk tidak berpikiran buruk soal itu sembari dia mencari toko loak lain yang mungkin saja ada yang baru di kota tersebut. Kenyataan itu tidak mungkin bahkan mobil itu semakin mengencang. Sabuk pengaman di kencangkan laju kendaran tua ini tidak lagi di ragukan, ada dua jalan memotong di depan dan tak tahu harus pilih yang mana.
Mengambil jalur lurus menuju kota kembali dengan kencang akan tetapi Vicktor membantingkan stir ke arah jalur yang lain. Berhenti sejenak untuk memperhatikan mobil tadi dan ternyata dia putar balik. Bahkan siapapun pasti kalap orang itu benar-benar sedang mengejar.
Hanya satu yang terpikir, yaitu dengan mengebut dan masuk ke dalam hutan lalu lari meninggalkan mobil tanpa jejak menuju rumah Angelica lewat belakang.
Seisi rumah kaget karena tak pernah ada yang datang dari belakang rumah perlu beberapa menit sebelum menyadari bahwa itu Vicktor. Mengintip dari dalam memperhatikan siapa yang mengejar. Orang gila lain muncul dari dalam mobil membawa sebuah golok panjang dengan kostum badut yang kusam.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments