Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah orang tua Rafka. Tampak pintu sudah terbuka, sepertinya ada tamu yang datang. Rafka dan Vida berjalan memasuki rumah.
"Assalamualaikum," ucap Rafka.
"Waalaikumsalam."
Ternyata di rumah ada Mia—adik Rafka—yang datang bersama dengan sang suami dan anaknya. Selama ini wanita itu tinggal bersama dengan sang suami, jarang sekali bisa datang berkunjung.
"Rupanya ada pelakor yang datang ke sini," sindir Mia.
Dari dulu dia tidak menyukai Vida. Saat mamanya mengatakan mengenai kakaknya, Mia sangat marah pada Rafka. Dia juga seorang wanita jadi sangat tahu bagaimana perasaan Maysa jika tahu semua ini. Dirinya juga sangat menyayangi kakak iparnya itu. Maysa wanita yang baik, tidak pantas kakaknya berbuat seperti itu.
"Mia, jaga kata-katamu. Tidak ada yang pelakor di sini. Kakak mencintai Vida dengan tulus. Tidak pantas kamu berkata seperti itu. Dia juga calon kakak ipar kamu," tegur Rafka.
"Selamanya Aku tidak akan pernah menganggapnya kakak ipar. Kakak iparku hanya Kak Maysa. Tidak ada yang lain."
"Kenapa kamu sangat membenciku? Aku juga tidak pernah mengusik kehidupan kamu?" tanya Vida.
"Apa kamu tidak punya kaca? Kamu pikirkan apa kesalahan kamu sebagai seorang wanita! Aku tidak habis pikir bagaimana kamu bisa menyakiti wanita lain padahal kamu juga seorang wanita."
Vida terdiam dengan mengepalkan kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuhnya. Apa salahnya mencintai Rafka? Bukankah laki-laki bisa memiliki istri lebih dari satu?
"Sudah, jangan ribut," tegur Mama Ishana—mama Rafka. "Vida, sebaiknya kita ngobrol di teras saja. Di sini Om Fadil masih ingin berbincang dengan suami Mia."
"Iya, Tante."
Mama Ishana berjalan lebih dulu diikuti Vida dan Rafka. Mia menatap malas pada mereka. Dia tidak habis pikir dengan mamanya. Sudah jelas-jelas Vida bukan wanita baik, masih saja diperlakukan semanis itu.
Di teras, ketiga orang itu berbincang. Rafka tidak sungkan lagi bermesraan dengan Vida di depan mamanya. Meski hati Mama Ishana sulit menerima semua ini, tetapi dia tetap mencobanya. Keputusan putranya juga tidak bisa diganggu lagi.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat pemandangan menyesakkan di depan rumah itu. Siapa lagi kalau bukan Maysa. Awalnya dia berniat datang ke rumah mertuanya untuk bertanya keberadaan sang suami, sekaligus menceritakan apa saja yang sudah Rafka lakukan padanya.
Sudah biasa bagi Maysa berbicara keluh kesahnya dengan mama mertuanya. Dia berharap bisa mendapat ketenangan saat datang ke rumah ini. Namun, ternyata wanita itu salah. Justru hatinya semakin tersakiti. Ternyata tidak ada orang yang benar-benar menyayanginya selain Mama Rafiqah dan Riri.
Orang tua Rafka sudah jauh lebih tahu mengenai hubungan Rafka dengan wanita lain. Mama Ishana juga terlihat sangat akrab dengan Vida. Padahal dia sangat percaya pada wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya, lalu apa arti dirinya selama ini? Kenapa Mama Ishana begitu tega padanya?
Selama ini mereka sangat dekat, bahkan seperti ibu dan anak. Akan tetapi, sekarang yang dilihatnya hanya pengkhianatan. Maysa berpikir jika dirinya akan mendapatkan kekuatan dari orang tua Rafka, tetapi kenyataannya malah sebaliknya. Hatinya begitu perih melihat semua ini.
Air mata menetes di kedua pipi Maysa. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya karena dikhianati suami dan keluarga mertuanya. Orang yang selama ini dia percaya untuk menggantungkan hidupnya. Namun, merekalah yang menusuk dari belakang.
Mama Ishana begitu sok melihat keberadaan Maysa di depan rumahnya. Wanita itu sampai berdiri saking terkejutnya. Hal yang selama ini dia takutkan akhirnya terjadi juga. Mama Ishana merasa dirinya seperti tersangka yang tertangkap basah. Meski tergagap, dia mencoba untuk berbicara.
"Ma—Maysa, kamu datang! Ayo, kita masuk! Di dalam ada Mia. Dia baru saja datang," ajak Mama Ishana.
Dia berusaha untuk terlihat biasa saja, padahal jantungnya saat ini sedang berdetak tidak karuan. Tidak mendapat jawaban dari Maysa, Mama Isyana mencoba mendekatinya. Sang menantu yang perasaannya sudah hancur memilih mundur dua langkah. Bahkan Eira yang ada di gandengannya pun ikut mundur.
"Kenapa Mama begitu tega padaku? Selama ini aku menganggap Mama seperti ibu kandungku sendiri, tetapi kenapa harus seperti ini?" tanya Maysa dengan air mata yang menetes.
"Maafkan Mama. Mama hanya tidak ingin rumah tangga kalian hancur. Mama melakukan semua ini demi kalian dan juga Eira. Mama tidak ingin Eira kehilangan orang tuanya karena perpisahan kalian. Itulah kenapa Mama tidak mau ikut campur. Rafka berjanji akan berbicara denganmu dalam waktu dekat. Mama juga tidak berani mengatakan semuanya padamu. Itu pasti akan sangat menyakitimu."
"Apa bedanya nanti atau sekarang? Sama-sama membuat aku sakit hati. Bahkan sangat sakit hati saat melihat orang yang aku sayangi ternyata selama ini mengkhianatiku. Mama yang sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri tega berbohong padaku," ucap Maysa dengan air mata yang terus menetes.
Eira yang tidak mengerti pun hanya menatap mamanya. Tiba-tiba saja dia juga ikut menangis. Maysa segera menggendong putrinya dan mengusap punggung gadis kecil itu. Bukan maksudnya untuk membuat Eira menangis.
Tadi air matanya menetes begitu saja tanpa bisa dicegah. Sekuat tenaga Maysa berusaha agar menghentikan tangisnya. Dia harus kuat. Ini baru permulaan, wanita itu tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan orang-orang yang sudah menyakiti dan menghianatinya. Maysa akan menunjukkan bahwa dia wanita yang kuat.
"Sepertinya kedatanganku tidak di waktu yang tepat. Sebaiknya aku pulang." Maysa membalikkan tubuhnya. Mama Ishana yang merasa bersalah segera mencegah menantunya.
"May, sebaiknya kamu bicarakan semuanya dengan Rafka. Dia sudah berjanji pada Mama akan bersikap adil."
"Adil? Maksud Mama aku harus rela dimadu, begitu?" tanya Maysa yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan mertuanya.
Mama Ishana terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Kenyataannya memang seperti yang dikatakan menantunya. Maysa yang melihat keterdiaman mertuanya dapat menyimpulkan jika tebakannya benar. Bagaimana bisa wanita itu berpikir demikian. Membayangkan hal itu saja tidak pernah, apalagi harus menjalani.
"May, sebaiknya kamu istirahat dulu di sini. Lihat, Eira sedang menangis. Tidak baik di jalan seperti ini."
"Mama jangan khawatir, dia akan lebih baik pergi bersamaku. Jika dia masih berada di sini, aku tidak yakin masa depannya akan baik-baik saja melihat papanya bermesraan dengan wanita lain," ucap Maysa pelan agar putrinya yang berada dalam gendongannya tidak mendengar. "Aku juga tidak pernah berpikir untuk berbagi suami dengan wanita lain. Lebih baik aku melepaskan anak Mama."
"May, kamu bicara apa? Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan melepasmu!" seru Rafka yang sedari tadi hanya diam saja. Dia hanya memberi ruang untuk mama dan istrinya untuk berbicara, tetapi tidak menyangka dengan apa yang Maysa katakan.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
kek begini nih mama gak ada akhlak ..
koq malah ngebiarin anak nya mesra2an dgn perempuan gak halal ...
diiih ... pengen jedotin kepalanya biar waras ...
2022-12-11
1
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
bagus Mia ... 👍👍👍
harus tegas sama pengkhianat dan pelakor ..
2022-12-11
0
Yani
Enak bener ga mau melepaskan sekarang perempuan punya hak yang sama bisa gugat cerai
2022-11-24
0