14. Sama-sama emosi

Rafka terdiam, dia memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan dari istrinya. Rasanya sudah tidak ada alasan yang bisa dikatakannya. Pria itu menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan guna menutupi kegugupannya.

"Kenapa diam, Mas? Apa kamu sedang berpikir untuk mencari alasan yang lain? Selama ini aku sudah cukup bersabar menghadapi kamu. Aku tidak menyangka kamu bisa setega itu padaku dan juga pada Eira. Di mana Rafka yang dulu, yang selalu perhatian pada keluarga, yang selalu mengutamakan anak daripada yang lain. Ke mana perginya suamiku?" Maysa benar-benar emosi.

Dia bahkan sampai meninggikan suaranya karena sudah sangat geram pada sang suami. Kesabarannya sudah ada dibatasnya. Rafka tahu istrinya sedang marah karena selama ini, Maysa selalu bertutur kata lembut dan tidak pernah menyakiti orang lain.

"Kamu bicara apa, sih? Tentu saja aku masih memikirkan kalian. Apa salahnya kalau aku mentraktir teman-temanku. Secara tidak langsung mereka juga yang membuatku naik jabatan."

"Tapi tidak harus melupakan kewajiban kamu sebagai seorang suami dan juga Ayah."

"Aku tidak pernah melupakan kewajibanku. Aku masih menghidupi kalian."

"Dengan uang lima ratus ribu satu bulan? Kamu pikir itu cukup? Jangankan untuk keperluan keluarga, itu hanya cukup untuk kebutuhanmu sendiri selama satu bulan. Setiap sarapan kamu minta makan enak. Kebutuhan seperti parfum dan lainnya, kamu mau yang mahal. Dari mana semua itu?"

"Seharusnya kamu bersyukur, aku setiap hari pulang. Bagaimana kalau aku sama sekali tidak memikirkan kalian berdua?"

"Itu akan lebih baik menurutku, daripada kamu hanya bisa membuatku susah. Setiap hari, Eira selalu menanyakan bagaimana papanya? Kapan papanya pulang? Apakah papanya membelikan dia mainan? Selama ini aku sudah sangat berusaha agar kebutuhan kita selalu tercukupi. Aku banting tulang dan tidak pernah kenal waktu. Bahkan aku tidak bisa mencurahkan kasih sayangku sepenuhnya pada putriku, tetapi di luar sana, kamu berbahagia dengan wanita lain! Apa kurangnya aku? Kalau kamu ingin aku cantik, aku juga bisa asal kamu bisa memfasilitasinya. Kurang baik apa aku pada keluargamu."

Maysa tidak kuasa menahan air matanya. Dia menangis, meratapi nasib rumah tangganya. Bagaimana bisa Rafka berubah begitu banyak. Wanita itu sudah berusaha agar keluarganya baik-baik saja. Namun, jika suaminya tidak memikirkan keluarganya, bagaimana keluarga ini akan baik-baik saja.

Keutuhan rumah tangga tidak bisa dijaga satu orang saja. Maysa juga perlu seseorang untuk menjadikannya lebih kuat. Akan tetapi, saat ini sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi. Tiang rumahnya sudah rapuh, tidak bisa diperbaiki lagi.

"Wanita lain apa maksud kamu?" tanya Rafka dengan suara keras. Dia tidak terima dengan apa yang istrinya katakan.

"Kamu tidak perlu berpura-pura. Aku sangat tahu kalau kamu punya simpanan dan dia teman kerja kamu, kan? Dia juga yang membuat kamu melupakan kami. Kamu menggunakan gajimu untuk bersenang-senang dengannya, kan?"

"Dengar! Itu gaji aku. Aku yang sudah bekerja keras tanpa mengenal waktu dan kamu seenaknya hanya meminta dan meminta. Terserah aku mau memberimu berapa. Kamu cukup bersyukur saja, jangan banyak bertingkah."

Maysa tertawa miris. "Apa katamu bersyukur? Lalu membiarkan suamiku bermain gila di luar sana. Mungkin saat ini Eira belum mengerti apa-apa tentang kelakuan ayahnya. Bagaimana suatu hari nanti jika dia sudah mengerti! Apa yang harus aku sampaikan padanya? Tidakkah kamu mengerti sekarang statusmu adalah seorang ayah! Berikanlah contoh yang baik untuk anakmu. Jika kamu saat ini berbuat maksiat, bagaimana dengan anak kita kelak? Aku tidak ingin dia membuat dosa yang akan semakin membuat masa depannya hancur. Aku tidak ingin dia sepertimu!"

"Seharusnya kamu memberi pengertian kepadanya."

"Mendidik anak bukan hanya tugasku. Itu tugas kita berdua. Kenapa kamu seolah-olah melimpahkan semua tanggung jawab kepadaku? Apa tugasmu sebagai seorang laki-laki?"

"Tugasku tentu saja mencari nafkah. Memang apa lagi?"

"Mencari nafkah seperti apa? Yang bagaimana? Nafkah yang kamu gunakan untuk berfoya-foya dengan teman-temanmu dan juga gund*kmu itu!" pekik Maysa dengan emosi. Saat ini dia benar-benar tidak dapat mengendalikan diri. Unek-unek yang sejak tadi ditahannya seolah keluar begitu saja saat ada celah.

"Sejak kapan mulutmu jadi tidak tahu aturan seperti itu?"

"Sejak suamiku tidak tahu jalan pulang!"

"Semakin hari, aku semakin tidak mengenali kamu. Entah siapa yang sudah meracuni pikiran kamu atau jangan-jangan kamu sudah bosan denganku dan ingin mencari laki-laki lain di luar sana!"

"Jangan memutarbalikkan fakta. Nyatanya kamu sendiri yang lebih suka bersenang-senang dengan para wanita di luar sana."

"Kamu jangan bicara omong kosong. Aku tidak pernah bersenang-senang dengan wanita manapun. Kalau sekedar makan siang, bukankah itu wajar antar sesama teman kantor."

"Baiklah jika itu memang teman kantor. Sekarang jawab pertanyaanku yang pertama tadi. Ke mana saja gaji kamu selama ini? Bukankah menjadi seorang manager keuangan gajinya cukup tinggi? Lalu kamu ke mana kan uangnya?"

"Itu bukan urusanmu! Seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa itu gajiku. Sepenuhnya milikku, kamu tidak perlu tahu. Sudah cukup aku beri uang, selebihnya Itu urusanku sendiri."

"Tapi kamu juga punya kewajiban terhadap aku dan juga Eira!" kesal Maysa. Dia tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana lagi pada suaminya jika pria itu juga punya tanggung jawab padanya dan pada putrinya.

"Dari tadi kamu hanya bicara tanggung jawab, tanggung jawab saja. Kamu tidak usah khawatir, bulan depan aku akan memberikan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu inginkan? Akan aku berikan kepadamu. Kamu puas!" teriak Rafka.

"Aku menunggunya. Dari dulu kamu juga selalu bicara seperti itu. Nyatanya semua tidak terbukti, itu hanya omong kosong yang setiap bulan kamu katakan."

"Tunggu saja bulan depan. Uang itu akan ada di tanganmu dan setelah itu aku harap kamu bisa puas! Kamu juga bisa menguasai rumah ini." Rafka membanting pintu dan meninggalkan rumah dengan emosi.

Dia mengendarai mobil, entah pergi ke mana. Lebih baik seperti itu, keduanya sama-sama sedang emosi. Jika masih dalam satu rumah, sudah dipastikan akan ada pertengkaran lagi. Sepeninggal Rafka, Maysa menangis di ruang tamu seorang diri. Untung saja Eira sudah tidur di kamarnya yang sedikit jauh dari ruang tamu, jadi dia tidak akan terbangun.

Maysa menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak keluar. Dia tidak ingin siapa pun mendengarnya. Apalagi sampai membangunkan putrinya. Setelah cukup menumpahkan tangisnya, Maysa pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Dia ingin mencurahkan kegelisahan hatinya pada Sang Maha Pencipta. Seperti yang pernah mamanya katakan, dia selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkahnya. Entah kedepannya jalan itu benar atau tidak, setidaknya dia berusaha untuk yang terbaik.

Doa-doa dia panjatkan untuk kebaikan rumah tangga dan juga putrinya. Apa pun kenyataan yang akan dihadapi nanti, dia berharap agar bisa lebih tegar. Dia harus menjadi wanita kuat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk putrinya. Hanya gadis kecil itu kekuatan yang dia miliki saat ini. Usai mencurahkan kegelisahan hatinya, Maysa memasuki kamar Eira dan membaringkan tubuhnya di sana.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Alif Anshori

Alif Anshori

bodohny sdh lht berkali2 knp gk d rekam kn sdh ada hp🙄🙄

2024-07-05

1

teti kurniawati

teti kurniawati

kok sama bgt ya. alasan syukur hy utk menutupi aib

2023-02-02

0

teti kurniawati

teti kurniawati

umum para lelaki ky gitu

2023-02-02

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan
2 2. Memastikan penglihatan
3 3. Terluka
4 4. Luangkan waktu
5 5. Bertanya tentang keseharian
6 6. Balik marah
7 7. Teman kerja
8 8. Mencari tahu
9 9. Kepercayaan yang hilang
10 10. Menggali informasi
11 11. Menginap di rumah Mama
12 12. Tawaran dari Bu Rina
13 13. Gajimu berapa?
14 14. Sama-sama emosi
15 15. Rafka bingung
16 16. Orang tua Rafka
17 17. Aku tidak mau berbagi
18 18. Terbuka
19 19. Mama adalah segalanya
20 20. Ingin bercerai
21 21. Yakin ingin berpisah
22 22. Kebahagiaan Eira
23 23. Ingin menikah
24 24. Membuat kejutan
25 25. Bertemu sahabat lama
26 26. Rafka datang
27 27. Buka hatimu
28 28. Masalah
29 29. Rencana reuni
30 30. Mengunjungi Eira
31 31. Bertemu Bu Ira
32 32. Penjual kain
33 33. Eira masih tanggungjawabmu
34 34. Dio
35 35. Untuk Eira
36 36. Anak Mama
37 37. Datang ke pesta
38 38. Tama
39 39. Rasa
40 40. Bertemu lagi
41 41. Bukan wanita baik
42 42. Semua demi Dio
43 43. Tawaran taaruf
44 44. Dio sakit
45 45. Ingin menjenguk
46 46. Karena Dio
47 47. Tante Maysa
48 48. Setuju
49 49. Ikut kerja
50 50. Menitipkan Dio
51 51. Bertemu Papa
52 52. Permintaan Dio
53 53. Pelan
54 54. Berkunjung ke rumah Maysa
55 55. Makan siang
56 56. Pergi ke sekolah
57 57. Sampai kapan?
58 58. Berbicara berdua
59 59. Berbohong
60 60. Adit
61 61. Lamaran
62 62. Papa dan Mama
63 63. Jangan menyesal
64 64. Menuju halal
65 65. Sah
66 66. Resepsi
67 67. Bersama anak
68 68. Janji yang belum terlaksana
69 69. Keluarga baru
70 70. Ibu
71 71. Mamanya Dio
72 72. Dio tidak suka Oma
73 73. Tuduhan atau kenyataan
74 74. Marahnya Mama Rafiqah
75 75. Pelukan Kakak
76 76. Rasa cinta Adit
77 77. Tidak akan setuju
78 78. Memaafkan
79 79. Istri Adit
80 80. Bertemu Adit
81 81. Mengertilah
82 82. Berita
83 83. Luka Adit
84 84. Beda pendapat
85 85. Pria baik
86 86. Baikan
87 87. Pergi berempat
88 88. Bertemu kembali
89 89. Hatiku milik orang lain
90 90. Penolakan
91 91. Meminta restu
92 92. Usaha
93 93. Liburan yang gagal
94 94. Liburan yang gagal 2
95 95. Masak untuk calon mertua
96 96. Ingin liburan
97 97. Liburan bersama
98 98. Restu Mama Rafiqah
99 99. Akan ada lamaran
100 100. Persiapan lamaran
101 101. Keluarga Adit
102 102. Diterima
103 103. Ikut Maysa
104 104. Kedatangan Rafka
105 105. Ingin meminjam rumah
106 106. Sakit hati
107 107. Aku minta maaf
108 108. Mengambil hati
109 109. Penyesalan Rafka
110 110. Mengingat kebersamaan
111 111. Tama sakit
112 112. Tama Sakit 2
113 113. Obrolan malam
114 114. Pergi memeriksa persiapan pernikahan
115 115. Demamnya turun
116 116. Rencana sekolah anak-anak
117 117. Ikut ke butik
118 118. Kedatangan Bu Nadia
119 119. Kembali
120 120. Ajakan melayat
121 121. Datang
122 122. Perdebatan di tengah duka
123 123. Mengenang Rumah dulu
124 124. Senyum anak-anak
125 125. Persiapan pernikahan
126 126. Untuk pengajian
127 127. Makan kue bersama
128 128. Pengajian
129 129. Papa Dimas sakit
130 130. Tidak bisa dihubungi
131 131. Halal
132 132. Ingin menjenguk mertua
133 133. Undangan
134 134. Pasrah pada keadaan
135 135. Pesta resepsi
136 136. Calon?
137 137. berharap datang
138 138. Pertama
139 139. Sakitnya Papa Dimas
140 140. Uang dan tisu
141 141. ART baru
142 142. Mencari perawat
143 143. Kak Tama
144 144. ART baru 2
145 145. Perawat untuk Papa Dimas
146 146. Rencana kejutan
147 147. Memasang CCTV
148 148. Calon adik
149 149. Terima kasih
Episodes

Updated 149 Episodes

1
1. Pekerjaan
2
2. Memastikan penglihatan
3
3. Terluka
4
4. Luangkan waktu
5
5. Bertanya tentang keseharian
6
6. Balik marah
7
7. Teman kerja
8
8. Mencari tahu
9
9. Kepercayaan yang hilang
10
10. Menggali informasi
11
11. Menginap di rumah Mama
12
12. Tawaran dari Bu Rina
13
13. Gajimu berapa?
14
14. Sama-sama emosi
15
15. Rafka bingung
16
16. Orang tua Rafka
17
17. Aku tidak mau berbagi
18
18. Terbuka
19
19. Mama adalah segalanya
20
20. Ingin bercerai
21
21. Yakin ingin berpisah
22
22. Kebahagiaan Eira
23
23. Ingin menikah
24
24. Membuat kejutan
25
25. Bertemu sahabat lama
26
26. Rafka datang
27
27. Buka hatimu
28
28. Masalah
29
29. Rencana reuni
30
30. Mengunjungi Eira
31
31. Bertemu Bu Ira
32
32. Penjual kain
33
33. Eira masih tanggungjawabmu
34
34. Dio
35
35. Untuk Eira
36
36. Anak Mama
37
37. Datang ke pesta
38
38. Tama
39
39. Rasa
40
40. Bertemu lagi
41
41. Bukan wanita baik
42
42. Semua demi Dio
43
43. Tawaran taaruf
44
44. Dio sakit
45
45. Ingin menjenguk
46
46. Karena Dio
47
47. Tante Maysa
48
48. Setuju
49
49. Ikut kerja
50
50. Menitipkan Dio
51
51. Bertemu Papa
52
52. Permintaan Dio
53
53. Pelan
54
54. Berkunjung ke rumah Maysa
55
55. Makan siang
56
56. Pergi ke sekolah
57
57. Sampai kapan?
58
58. Berbicara berdua
59
59. Berbohong
60
60. Adit
61
61. Lamaran
62
62. Papa dan Mama
63
63. Jangan menyesal
64
64. Menuju halal
65
65. Sah
66
66. Resepsi
67
67. Bersama anak
68
68. Janji yang belum terlaksana
69
69. Keluarga baru
70
70. Ibu
71
71. Mamanya Dio
72
72. Dio tidak suka Oma
73
73. Tuduhan atau kenyataan
74
74. Marahnya Mama Rafiqah
75
75. Pelukan Kakak
76
76. Rasa cinta Adit
77
77. Tidak akan setuju
78
78. Memaafkan
79
79. Istri Adit
80
80. Bertemu Adit
81
81. Mengertilah
82
82. Berita
83
83. Luka Adit
84
84. Beda pendapat
85
85. Pria baik
86
86. Baikan
87
87. Pergi berempat
88
88. Bertemu kembali
89
89. Hatiku milik orang lain
90
90. Penolakan
91
91. Meminta restu
92
92. Usaha
93
93. Liburan yang gagal
94
94. Liburan yang gagal 2
95
95. Masak untuk calon mertua
96
96. Ingin liburan
97
97. Liburan bersama
98
98. Restu Mama Rafiqah
99
99. Akan ada lamaran
100
100. Persiapan lamaran
101
101. Keluarga Adit
102
102. Diterima
103
103. Ikut Maysa
104
104. Kedatangan Rafka
105
105. Ingin meminjam rumah
106
106. Sakit hati
107
107. Aku minta maaf
108
108. Mengambil hati
109
109. Penyesalan Rafka
110
110. Mengingat kebersamaan
111
111. Tama sakit
112
112. Tama Sakit 2
113
113. Obrolan malam
114
114. Pergi memeriksa persiapan pernikahan
115
115. Demamnya turun
116
116. Rencana sekolah anak-anak
117
117. Ikut ke butik
118
118. Kedatangan Bu Nadia
119
119. Kembali
120
120. Ajakan melayat
121
121. Datang
122
122. Perdebatan di tengah duka
123
123. Mengenang Rumah dulu
124
124. Senyum anak-anak
125
125. Persiapan pernikahan
126
126. Untuk pengajian
127
127. Makan kue bersama
128
128. Pengajian
129
129. Papa Dimas sakit
130
130. Tidak bisa dihubungi
131
131. Halal
132
132. Ingin menjenguk mertua
133
133. Undangan
134
134. Pasrah pada keadaan
135
135. Pesta resepsi
136
136. Calon?
137
137. berharap datang
138
138. Pertama
139
139. Sakitnya Papa Dimas
140
140. Uang dan tisu
141
141. ART baru
142
142. Mencari perawat
143
143. Kak Tama
144
144. ART baru 2
145
145. Perawat untuk Papa Dimas
146
146. Rencana kejutan
147
147. Memasang CCTV
148
148. Calon adik
149
149. Terima kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!