Maysa duduk di ruang tamu dengan gelisah menunggu sang suami yang tak kunjung pulang. Azan magrib berkumandang, dia memutuskan sholat terlebih dahulu. Wanita itu ingin mencurahkan semua kegelisahan yang dirasakannya. Hanya pada Tuhan, tempat terbaik untuk mengadu.
Tidak ada manusia mana pun yang mau rumah tangganya hancur, tetapi Maysa sendiri tidak akan pernah mau diduakan. Kini semua masih samar. Dia hanya ingin kebaikan dalam keluarga yang sudah dibangunnya.
Dalam doanya Maysa memohon agar Tuhan memberinya kemudahan dalam menghadapi setiap cobaan yang silih berganti. Dirinya bukan orang yang ahli agama yang memiliki kadar keimanan yang kuat. Dia adalah manusia biasa yang pendiriannya bisa goyah kapan pun.
Kembali Maysa meneteskan air mata. Dia benar-benar takut dengan kemungkinan terburuknya. Setiap tetes air mata yang wanita itu keluarkan, justru semakin membuatnya terluka. Apalagi jika mengingat betapa baiknya pria itu padanya selama ini. Yang paling ikut bersedih, pasti ibu dan kedua mertuanya.
Selama ini dia selalu menganggap mertuanya seperti ibunya sendiri. Mereka juga sama, menganggap Maysa seperti putri sendiri. Apalagi sejak kehadiran Eira. Gadis kecil itu adalah cucu pertama, sudah pasti menjadi cucu kesayangan.
Usai shalat, Maysa duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi guna mengalihkan kegundahan hatinya. Namun, tetap saja hatinya tidak tenang. Pikirannya terus saja tertuju pada sang suami.
Di manakah dia? Dengan siapa? Apa yang dilakukannya? Berbagai pertanyaan ada di kepalanya yang tak kunjung mendapat jawaban.
Waktu makan malam telah lewat. Sekarang jam sudah menunjuk ke angka delapan. Maysa sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Berkali-kali dia mencoba untuk tidak berburuk sangka kepada sang suami. Namun, waktu demi waktu membuat semuanya semakin rumit.
Maysa baru ingat jika suaminya akhir-akhir ini memang sering pulang malam dengan alasan lembur. Entah itu karena pekerjaan atau hal lainnya. Dia tidak pernah berburuk sangka pada Rafka dan percaya jika memang pria itu sedang banyak pekerjaan. Akan tetapi, anehnya gajinya tidak bertambah padahal sudah jelas-jelas sang suami sering lembur.
Semua terkuak satu persatu saat Maysa menggabungkan setiap kejadian yang dialaminya. Dia mencoba mengingat kehidupan rumah tangganya. Barangkali wanita itu pernah melakukan kesalahan. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang diketahuinya.
Hingga pukul sembilan malam terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Maysa yakin jika itu Rafka. Dia sangat mengenali suara mobil suaminya. Wanita itu segera ke depan untuk membukakan pintu. Sebelum keluar, Maysa mengintip di jendela terlebih dahulu untuk memastikan jika itu benar Rafka.
Ternyata memang benar, itu adalah suaminya. Pria itu turun dengan membawa tas kerja. Ingin sekali Maysa mencecarnya dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada di kepala, tetapi dia mencoba untuk menahan diri. Bagaimanapun Rafka tetaplah suaminya dan dia harus menghormatinya.
Maysa membuka pintu saat sang suami hampir sampai. Rafka sempat terkejut, bahkan sampai membolakan matanya, tetapi kembali berusaha bersikap biasa saja. Pria itu tersenyum mendekati istrinya. Senyum yang dulu sangat dia sukai. Sekarang, wanita itu lebih suka sang suami bersikap datar, tetapi penuh cinta daripada manis. Namun, penuh dengan kepalsuan.
"Assalamualaikum, Sayang, kok, tumben kamu masih belum tidur? Nggak nemenin Eira?" tanya Rafka begitu mendekat ke arah istrinya yang ada di depan pintu.
Maysa mencium punggung tangan Rafka dan mengambil alih tas yang ada di tangan pria itu. Begitulah kebiasaannya jika sang suami pulang. Namun, sejak pria itu sering lembur, dia sudah jarang melakukannya karena saat itu dirinya sudah tertidur bersama dengan Eira.
Wanita itu menatap sang suami. Terlihat dari wajahnya, pria itu sangat kelelahan. Entah kelelahan karena apa. Maysa tidak ingin berburuk sangka yang akhirnya nanti malah membuat fitnah.
"Eira ada di rumah mama, Mas. Tadi dia nggak mau pulang jadi, malam ini dia nginap di rumah mama," jawab Maysa berbohong.
“Apa tidak apa-apa dia di sana? Apa tidak merepotkan mama?”
“Tidak, mama justru senang dengan kehadiran Eira di sana. Rumah tidak sepi lagi. Riri juga senang ada keponakannya di sana.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Maysa memang sengaja berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Banyak yang ingin ditanyakannya pada Rafka, tetapi biarlah sang suami membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Nanti setelah makan malam, wanita itu akan bertanya. Maysa tidak ingin lagi menahan semuanya sendiri.
"Mas, mau disiapin air hangat?" tawar Maysa saat keduanya berada di dalam kamar. Bagaimanapun dia tetap harus melayani Suaminya.
"Boleh."
Wanita itu pun berlalu menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk sang suami. Sementara Rafka menunggunya di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel. Saat Maysa keluar dari kamar mandi, terlihat sang suami tersenyum sendiri sambil menatap ponselnya.
"Ada apa, Mas? Kok, senyum-senyum sendiri?" tanya Maysa membuat Rafka terkejut.
"Oh, bukan siapa-siapa, hanya teman kerja yang lagi bercanda saja," jawab Rafka. "Airnya sudah siap, Sayang?" lanjutnya mengalihkan perhatian.
Maysa hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia masih merenungi apa yang Rafka katakan. Wanita itu mencoba untuk percaya pada sang suami meski dalam hatinya menolak. Biarlah waktu yang akan menjawabnya jika itu memang benar.
Sambil menunggu Rafka selesai mandi, Maysa menyiapkan pakaian. Dia juga menghangatkan makanan untuk makan malam mereka. Wanita itu memang belum makan malam karena menunggu sang suami. Selain itu, dia juga tidak berselera.
"Mas, makan malamnya sudah siap. Ayo, kita makan malam dulu!" ajak Maysa setelah melihat sang suami sudah selesai mandi dan juga sudah rapi.
"Aku sudah makan malam, Sayang, sama temen-temen tadi," sahut Rafka salah tingkah dan Maysa bisa melihat itu.
"Oh, sudah, ya? Kenapa tidak bilang dari tadi, Mas? Padahal aku sudah menghangatkannya untukmu."
"Maaf, aku lupa. Aku mau tidur dulu, badanku capek sekali," ucap Rafka sambil menggerakkan kepalanya seolah dia memang sangat lelah.
"Tunggu dulu, Mas. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Sebentar saja."
"Ada apa?" tanya Rafka sambil mendudukkan tubuhnya itu di tepi ranjang.
"Aku ingin bertanya padamu, Mas. Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur," ucap Maysa dengan menatap sang suami.
Rafka menyernyitkan keningnya. Dia juga menatap sang istri. pria itu merasa ada sesuatu yang terjadi di sini, tapi belum menemukan apa itu. Rafka pun mencoba untuk terlihat biasa saja dan menunggu istrinya bertanya. Meski dalam hati dia merasa ada sesuatu yang janggal.
"Mas, seharian ini kamu ke mana saja?" tanya Maysa.
"Kerja, dong, Sayang! Memangnya ke mana lagi?"
“Mas, jangan berbohong padaku. Kita ini suami istri, seharusnya saling terbuka satu sama lain.”
"Aku memang kerja, kamu tahu sendiri kalau aku sering lembur. Pekerjaanku akhir-akhir ini semakin banyak."
"Kalau, Mas, lembur, kenapa gaji kamu masih tetap sama? Kamu harus jujur sama aku. Apa saja kegiatan kamu sehari-hari?"
“Maksud kamu apa, sih? Aku seharian memang kerja! Kamu pikir aku pengangguran, malas-malasan setiap hari?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Endang Priya
kenapa maysa g merekam saat ngikutin suaminya.
2023-01-28
1
Yani
Kerja sama selingkuhan ,salut sama Maysa bisa menahan emosi
2022-11-24
0
Yuli Astuti
Egois banget , nyesel nanti tuh ternyata ceweknya matre dan Maysa hidupnya bahagia dg suami baru yg baik dan kaya raya
2022-07-07
3