"Kamu sendiri, tidak ada niat untuk menarik simpati atasan kamu agar bisa naik jabatan, seperti yang dilakukan Mas Rafka?" tanya Maysa.
"Tidak, aku lebih nyaman dengan pekerjaan yang aku dapat dengan kerja kerasku. Bukan maksudku untuk mengkritik apa yang dilakukan Rafka. Hanya saja aku takut suatu hari nanti mereka menuntutku karena sudah menaikkan jabatanku. Kamu tahulah, di dunia ini tidak ada yang gratis," jawab Ryan yang diangguki Maysa.
"Kamu benar, bahkan pada orang terdekat pun masih mengharap imbalan." Maysa meminum minumannya untuk melegakan tenggorokannya yang sudah mengganjal banyak hal sedari tadi. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Silakan saja. Asal jangan tanya berapa uangku, yang tentu saja tidak ada apa-apanya dibanding uang Rafka," Ryan tertawa seusai berkata diikuti Maysa yang juga ikut tertawa.
Bedanya wanita itu menertawakan kemalangan nasibnya, yang hanya diberi nafkah lima ratus ribu. Padahal gaji suaminya cukup besar. Jika dulu itu bukan masalah yang besar karena dia sanggup menutupnya. Sekarang itu menjadi masalah besar baginya.
Seharusnya Maysa bisa mendapat nafkah berkali lipat dari yang selama ini diterimanya. Akan tetapi, wanita itu hanya mendapat secuil dari gaji sang suami. Dia jadi penasaran, apakah yang diucapkan Rafka mengenai uang untuk mertuanya itu benar atau tidak. Jika itu juga bohong, bukankah sangat keterlaluan?
"Kamu bisa saja. Bagiku berapa pun gaji seorang suami, asal istrinya ridho pasti akan berkah, bukan begitu?" tanya Maysa yang justru membuat Ryan bingung. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."
"Ah, iya," sahut Ryan dengan tersenyum canggung.
"Aku ingin bertanya padamu, aku harap kamu menjawabnya dengan jujur."
"Kenapa aku tiba-tiba merasa ini sesuatu yang serius." Ryan mencoba menegakkan punggungnya yang semula bersandar.
"Aku hanya ingin mengetahui semuanya dan tidak ingin terlihat bod*h seorang diri. Apa kamu tahu Mas Rafka memiliki hubungan dengan rekan kerjanya?" tanya Maysa dengan menatap wajah pria yang ada di depannya.
Ryan terlihat gelagapan dan kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Melihat hal itu, membuat Maysa tahu jawabannya tanpa pria itu mengatakan apa pun. Yang jadi pertanyaannya, sejak kapan sang suami menjalin hubungan dengan wanita lain?
Maysa mencoba mengingat sikap Rafka padanya. Tidak ada yang berubah, semua masih sama. Urusan ranjang pun tidak ada yang berbeda. Suaminya pun masih bersikap hangat kecuali kemarin saat dirinya bertanya soal wanita itu.
Itulah pertama kali Rafka membentak dan mengangkat tangannya. Selama ini setiap kali mereka ada masalah, justru sang suami yang memberi nasihat dan kekuatan untuknya. Namun, sekarang melihat pria itu mendua. Tidakkah Rafka menganggap keluarganya berarti.
Maysa mengingat kembali bagaimana dirinya bekerja keras untuk keluarganya. Bahkan dia harus menitipkan putrinya yang baru berusia satu tahun, pada ibunya hingga kini usianya tiga tahun. Rafka sangat tahu bagaimana wanita itu berusaha bekerja, dari menjual kue, buruh cuci, hingga akhirnya bertemu Bu Nadia dan bekerja padanya. Namun, kenapa pria itu mengkhianatinya?
"Maaf ... itu bukan ranahku untuk ikut campur," jawab Ryan dengan suara lirih.
"Tidak apa-apa. Aku sudah tahu jawabannya." Maysa mencoba untuk tetap tersenyum meski hatinya penuh luka.
"Kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada suamimu? Bukan maksudku untuk menggurui, tapi akan lebih baik kamu tidak libatkan orang lain dalam urusan rumah tanggamu. Rafka pasti marah jika ada yang ikut campur dalam urusan rumah tangganya."
"Dia yang lebih dulu membawa orang lain masuk dalam rumah tangga kami," sela Maysa.
"Tidak seharusnya kamu melakukan hal yang sama."
"Terima kasih nasihatnya. Oh, ya, ini untuk anak kamu. Anak kamu laki-laki, kan?" ucap Maysa sambil menyerahkan sebuah mainan mobil-mobilan yang dibelinya tadi.
"Iya, anakku laki-laki. Kenapa kamu memberikan ini untuk anakku? Bukannya ini kamu beli buat anakmu?"
"Tidak, anakku perempuan. Dia tidak suka mainan mobil-mobilan."
"Terus, kenapa kamu membelinya?"
"Sebenarnya itu untuk keponakanku, tapi baru saja dia kirim pesan kalau tidak jadi datang ke sini. Jadi daripada terbuang percuma lebih baik untuk anak kamu saja," ucap Mahesa mencoba mencari alasan. Sebenarnya tadi dia asal mengambil mainan tanpa tahu apa yang dia bawa. "Silakan dinikmati. Aku ada urusan, tidak apa, kan, kalau aku pergi lebih dulu."
"Oh, tentu. Maaf jika kata-kataku ada yang membuai sakit hati," ucap Ryan yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku permisi." Maysa berlalu meninggalkan Ryan seorang diri.
Melihat wajah Maysa, pria itu bisa menyimpulkan ada masalah dengannya. Terlebih wanita itu menanyakan teman kerja Rafka yang sebenarnya sudah diketahuinya. Dia tidak mungkin mengatakan pada istri sahabatnya karena Ryan tidak tahu jelas, sejauh apa hubungan mereka. Pria itu hanya tahu keduanya sering pergi bersama.
Maysa meninggalkan restoran menuju taman terdekat. Dia ingin menumpahkan rasa sesak di dadanya. Setahun lamanya dia dibohongi. Wanita itu sama sekali tidak pernah menaruh curiga pada sang suami. Maysa selalu percaya apa pun yang Rafka katakan.
Dia bertanya-tanya, apa dirinya punya salah hingga sang suami melakukannya? Namun, tak ada satu jawaban pun yang tepat. Wanita itu menelusuri taman mencari tempat yang nyaman untuknya.
Di sebuah kursi panjang di sebuah taman, Maysa menangis terisak. Maysa memilih tempat itu karena hanya di sana yang jauh dari kerumunan orang-orang sekitar. Dia memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya. Eira juga masih sangat kecil untuk mengerti apa yang terjadi pada orang tuanya.
"Kenapa kamu tega padaku, Mas? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan Eira? Kita bukan anak muda lagi yang bisa mudahnya menjalin hubungan dan putus di tengah jalan. Kita sudah membangun rumah tangga ini bersama-sama dengan komitmen untuk sama-sama kita jaga, tetapi kenapa kamu menghianati semuanya? Selama ini aku selalu bersabar menghadapi ujian dalam pernikahan kita. Aku juga tidak pernah merasa keberatan jika harus ikut banting tulang untuk keluarga kita, tetapi kenapa kamu tega pada kami?"
Air mata Maysa semakin deras. Dia sama sekali tidak ingin menghentikan tangisnya. Biarlah orang-orang melihatnya, yang terpenting saat ini wanita itu bisa merasa lega.
Setelah cukup lama menangisi nasibnya, Maysa mencoba meneguhkan hatinya. Setelah ini dia harus menjemput Eira di rumah mamanya. Wanita itu tidak ingin membuat siapa pun tahu jika dirinya tengah bersedih. Terutama sang mama, orang yang selalu tahu perasaannya tanpa harus dijelaskan.
Setelah hatinya tenang, Maysa mencoba menutupi wajah sembabnya dengan alat make up yang dibawa. Hanya bedak dan lipstik yang ada. Sebisa mungkin dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Mudah-mudahan tidak ada yang menyadari apa yang disembunyikannya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Siti Asmaulhusna
kasian klo sbgai istri slalu dihianati smoga ada balasan nya nuat si Rafka baik u/ si may hayu May smangat tinggal kan laki2 jahat bgtu
2023-01-29
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
ayo Maysa ... jadikan air mata kamu itu yg terakhir utk Rafka..
2022-12-10
0
Imam Sutoto Suro
nice novel thor lanjutkan
2022-11-19
0