10. Menggali informasi

"Kamu sendiri, tidak ada niat untuk menarik simpati atasan kamu agar bisa naik jabatan, seperti yang dilakukan Mas Rafka?" tanya Maysa.

"Tidak, aku lebih nyaman dengan pekerjaan yang aku dapat dengan kerja kerasku. Bukan maksudku untuk mengkritik apa yang dilakukan Rafka. Hanya saja aku takut suatu hari nanti mereka menuntutku karena sudah menaikkan jabatanku. Kamu tahulah, di dunia ini tidak ada yang gratis," jawab Ryan yang diangguki Maysa.

"Kamu benar, bahkan pada orang terdekat pun masih mengharap imbalan." Maysa meminum minumannya untuk melegakan tenggorokannya yang sudah mengganjal banyak hal sedari tadi. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Silakan saja. Asal jangan tanya berapa uangku, yang tentu saja tidak ada apa-apanya dibanding uang Rafka," Ryan tertawa seusai berkata diikuti Maysa yang juga ikut tertawa.

Bedanya wanita itu menertawakan kemalangan nasibnya, yang hanya diberi nafkah lima ratus ribu. Padahal gaji suaminya cukup besar. Jika dulu itu bukan masalah yang besar karena dia sanggup menutupnya. Sekarang itu menjadi masalah besar baginya.

Seharusnya Maysa bisa mendapat nafkah berkali lipat dari yang selama ini diterimanya. Akan tetapi, wanita itu hanya mendapat secuil dari gaji sang suami. Dia jadi penasaran, apakah yang diucapkan Rafka mengenai uang untuk mertuanya itu benar atau tidak. Jika itu juga bohong, bukankah sangat keterlaluan?

"Kamu bisa saja. Bagiku berapa pun gaji seorang suami, asal istrinya ridho pasti akan berkah, bukan begitu?" tanya Maysa yang justru membuat Ryan bingung. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."

"Ah, iya," sahut Ryan dengan tersenyum canggung.

"Aku ingin bertanya padamu, aku harap kamu menjawabnya dengan jujur."

"Kenapa aku tiba-tiba merasa ini sesuatu yang serius." Ryan mencoba menegakkan punggungnya yang semula bersandar.

"Aku hanya ingin mengetahui semuanya dan tidak ingin terlihat bod*h seorang diri. Apa kamu tahu Mas Rafka memiliki hubungan dengan rekan kerjanya?" tanya Maysa dengan menatap wajah pria yang ada di depannya.

Ryan terlihat gelagapan dan kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Melihat hal itu, membuat Maysa tahu jawabannya tanpa pria itu mengatakan apa pun. Yang jadi pertanyaannya, sejak kapan sang suami menjalin hubungan dengan wanita lain?

Maysa mencoba mengingat sikap Rafka padanya. Tidak ada yang berubah, semua masih sama. Urusan ranjang pun tidak ada yang berbeda. Suaminya pun masih bersikap hangat kecuali kemarin saat dirinya bertanya soal wanita itu.

Itulah pertama kali Rafka membentak dan mengangkat tangannya. Selama ini setiap kali mereka ada masalah, justru sang suami yang memberi nasihat dan kekuatan untuknya. Namun, sekarang melihat pria itu mendua. Tidakkah Rafka menganggap keluarganya berarti.

Maysa mengingat kembali bagaimana dirinya bekerja keras untuk keluarganya. Bahkan dia harus menitipkan putrinya yang baru berusia satu tahun, pada ibunya hingga kini usianya tiga tahun. Rafka sangat tahu bagaimana wanita itu berusaha bekerja, dari menjual kue, buruh cuci, hingga akhirnya bertemu Bu Nadia dan bekerja padanya. Namun, kenapa pria itu mengkhianatinya?

"Maaf ... itu bukan ranahku untuk ikut campur," jawab Ryan dengan suara lirih.

"Tidak apa-apa. Aku sudah tahu jawabannya." Maysa mencoba untuk tetap tersenyum meski hatinya penuh luka.

"Kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada suamimu? Bukan maksudku untuk menggurui, tapi akan lebih baik kamu tidak libatkan orang lain dalam urusan rumah tanggamu. Rafka pasti marah jika ada yang ikut campur dalam urusan rumah tangganya."

"Dia yang lebih dulu membawa orang lain masuk dalam rumah tangga kami," sela Maysa.

"Tidak seharusnya kamu melakukan hal yang sama."

"Terima kasih nasihatnya. Oh, ya, ini untuk anak kamu. Anak kamu laki-laki, kan?" ucap Maysa sambil menyerahkan sebuah mainan mobil-mobilan yang dibelinya tadi.

"Iya, anakku laki-laki. Kenapa kamu memberikan ini untuk anakku? Bukannya ini kamu beli buat anakmu?"

"Tidak, anakku perempuan. Dia tidak suka mainan mobil-mobilan."

"Terus, kenapa kamu membelinya?"

"Sebenarnya itu untuk keponakanku, tapi baru saja dia kirim pesan kalau tidak jadi datang ke sini. Jadi daripada terbuang percuma lebih baik untuk anak kamu saja," ucap Mahesa mencoba mencari alasan. Sebenarnya tadi dia asal mengambil mainan tanpa tahu apa yang dia bawa. "Silakan dinikmati. Aku ada urusan, tidak apa, kan, kalau aku pergi lebih dulu."

"Oh, tentu. Maaf jika kata-kataku ada yang membuai sakit hati," ucap Ryan yang merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, aku permisi." Maysa berlalu meninggalkan Ryan seorang diri.

Melihat wajah Maysa, pria itu bisa menyimpulkan ada masalah dengannya. Terlebih wanita itu menanyakan teman kerja Rafka yang sebenarnya sudah diketahuinya. Dia tidak mungkin mengatakan pada istri sahabatnya karena Ryan tidak tahu jelas, sejauh apa hubungan mereka. Pria itu hanya tahu keduanya sering pergi bersama.

Maysa meninggalkan restoran menuju taman terdekat. Dia ingin menumpahkan rasa sesak di dadanya. Setahun lamanya dia dibohongi. Wanita itu sama sekali tidak pernah menaruh curiga pada sang suami. Maysa selalu percaya apa pun yang Rafka katakan.

Dia bertanya-tanya, apa dirinya punya salah hingga sang suami melakukannya? Namun, tak ada satu jawaban pun yang tepat. Wanita itu menelusuri taman mencari tempat yang nyaman untuknya.

Di sebuah kursi panjang di sebuah taman, Maysa menangis terisak. Maysa memilih tempat itu karena hanya di sana yang jauh dari kerumunan orang-orang sekitar. Dia memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya. Eira juga masih sangat kecil untuk mengerti apa yang terjadi pada orang tuanya.

"Kenapa kamu tega padaku, Mas? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan Eira? Kita bukan anak muda lagi yang bisa mudahnya menjalin hubungan dan putus di tengah jalan. Kita sudah membangun rumah tangga ini bersama-sama dengan komitmen untuk sama-sama kita jaga, tetapi kenapa kamu menghianati semuanya? Selama ini aku selalu bersabar menghadapi ujian dalam pernikahan kita. Aku juga tidak pernah merasa keberatan jika harus ikut banting tulang untuk keluarga kita, tetapi kenapa kamu tega pada kami?"

Air mata Maysa semakin deras. Dia sama sekali tidak ingin menghentikan tangisnya. Biarlah orang-orang melihatnya, yang terpenting saat ini wanita itu bisa merasa lega.

Setelah cukup lama menangisi nasibnya, Maysa mencoba meneguhkan hatinya. Setelah ini dia harus menjemput Eira di rumah mamanya. Wanita itu tidak ingin membuat siapa pun tahu jika dirinya tengah bersedih. Terutama sang mama, orang yang selalu tahu perasaannya tanpa harus dijelaskan.

Setelah hatinya tenang, Maysa mencoba menutupi wajah sembabnya dengan alat make up yang dibawa. Hanya bedak dan lipstik yang ada. Sebisa mungkin dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Mudah-mudahan tidak ada yang menyadari apa yang disembunyikannya.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Siti Asmaulhusna

Siti Asmaulhusna

kasian klo sbgai istri slalu dihianati smoga ada balasan nya nuat si Rafka baik u/ si may hayu May smangat tinggal kan laki2 jahat bgtu

2023-01-29

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

ayo Maysa ... jadikan air mata kamu itu yg terakhir utk Rafka..

2022-12-10

0

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

nice novel thor lanjutkan

2022-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan
2 2. Memastikan penglihatan
3 3. Terluka
4 4. Luangkan waktu
5 5. Bertanya tentang keseharian
6 6. Balik marah
7 7. Teman kerja
8 8. Mencari tahu
9 9. Kepercayaan yang hilang
10 10. Menggali informasi
11 11. Menginap di rumah Mama
12 12. Tawaran dari Bu Rina
13 13. Gajimu berapa?
14 14. Sama-sama emosi
15 15. Rafka bingung
16 16. Orang tua Rafka
17 17. Aku tidak mau berbagi
18 18. Terbuka
19 19. Mama adalah segalanya
20 20. Ingin bercerai
21 21. Yakin ingin berpisah
22 22. Kebahagiaan Eira
23 23. Ingin menikah
24 24. Membuat kejutan
25 25. Bertemu sahabat lama
26 26. Rafka datang
27 27. Buka hatimu
28 28. Masalah
29 29. Rencana reuni
30 30. Mengunjungi Eira
31 31. Bertemu Bu Ira
32 32. Penjual kain
33 33. Eira masih tanggungjawabmu
34 34. Dio
35 35. Untuk Eira
36 36. Anak Mama
37 37. Datang ke pesta
38 38. Tama
39 39. Rasa
40 40. Bertemu lagi
41 41. Bukan wanita baik
42 42. Semua demi Dio
43 43. Tawaran taaruf
44 44. Dio sakit
45 45. Ingin menjenguk
46 46. Karena Dio
47 47. Tante Maysa
48 48. Setuju
49 49. Ikut kerja
50 50. Menitipkan Dio
51 51. Bertemu Papa
52 52. Permintaan Dio
53 53. Pelan
54 54. Berkunjung ke rumah Maysa
55 55. Makan siang
56 56. Pergi ke sekolah
57 57. Sampai kapan?
58 58. Berbicara berdua
59 59. Berbohong
60 60. Adit
61 61. Lamaran
62 62. Papa dan Mama
63 63. Jangan menyesal
64 64. Menuju halal
65 65. Sah
66 66. Resepsi
67 67. Bersama anak
68 68. Janji yang belum terlaksana
69 69. Keluarga baru
70 70. Ibu
71 71. Mamanya Dio
72 72. Dio tidak suka Oma
73 73. Tuduhan atau kenyataan
74 74. Marahnya Mama Rafiqah
75 75. Pelukan Kakak
76 76. Rasa cinta Adit
77 77. Tidak akan setuju
78 78. Memaafkan
79 79. Istri Adit
80 80. Bertemu Adit
81 81. Mengertilah
82 82. Berita
83 83. Luka Adit
84 84. Beda pendapat
85 85. Pria baik
86 86. Baikan
87 87. Pergi berempat
88 88. Bertemu kembali
89 89. Hatiku milik orang lain
90 90. Penolakan
91 91. Meminta restu
92 92. Usaha
93 93. Liburan yang gagal
94 94. Liburan yang gagal 2
95 95. Masak untuk calon mertua
96 96. Ingin liburan
97 97. Liburan bersama
98 98. Restu Mama Rafiqah
99 99. Akan ada lamaran
100 100. Persiapan lamaran
101 101. Keluarga Adit
102 102. Diterima
103 103. Ikut Maysa
104 104. Kedatangan Rafka
105 105. Ingin meminjam rumah
106 106. Sakit hati
107 107. Aku minta maaf
108 108. Mengambil hati
109 109. Penyesalan Rafka
110 110. Mengingat kebersamaan
111 111. Tama sakit
112 112. Tama Sakit 2
113 113. Obrolan malam
114 114. Pergi memeriksa persiapan pernikahan
115 115. Demamnya turun
116 116. Rencana sekolah anak-anak
117 117. Ikut ke butik
118 118. Kedatangan Bu Nadia
119 119. Kembali
120 120. Ajakan melayat
121 121. Datang
122 122. Perdebatan di tengah duka
123 123. Mengenang Rumah dulu
124 124. Senyum anak-anak
125 125. Persiapan pernikahan
126 126. Untuk pengajian
127 127. Makan kue bersama
128 128. Pengajian
129 129. Papa Dimas sakit
130 130. Tidak bisa dihubungi
131 131. Halal
132 132. Ingin menjenguk mertua
133 133. Undangan
134 134. Pasrah pada keadaan
135 135. Pesta resepsi
136 136. Calon?
137 137. berharap datang
138 138. Pertama
139 139. Sakitnya Papa Dimas
140 140. Uang dan tisu
141 141. ART baru
142 142. Mencari perawat
143 143. Kak Tama
144 144. ART baru 2
145 145. Perawat untuk Papa Dimas
146 146. Rencana kejutan
147 147. Memasang CCTV
148 148. Calon adik
149 149. Terima kasih
Episodes

Updated 149 Episodes

1
1. Pekerjaan
2
2. Memastikan penglihatan
3
3. Terluka
4
4. Luangkan waktu
5
5. Bertanya tentang keseharian
6
6. Balik marah
7
7. Teman kerja
8
8. Mencari tahu
9
9. Kepercayaan yang hilang
10
10. Menggali informasi
11
11. Menginap di rumah Mama
12
12. Tawaran dari Bu Rina
13
13. Gajimu berapa?
14
14. Sama-sama emosi
15
15. Rafka bingung
16
16. Orang tua Rafka
17
17. Aku tidak mau berbagi
18
18. Terbuka
19
19. Mama adalah segalanya
20
20. Ingin bercerai
21
21. Yakin ingin berpisah
22
22. Kebahagiaan Eira
23
23. Ingin menikah
24
24. Membuat kejutan
25
25. Bertemu sahabat lama
26
26. Rafka datang
27
27. Buka hatimu
28
28. Masalah
29
29. Rencana reuni
30
30. Mengunjungi Eira
31
31. Bertemu Bu Ira
32
32. Penjual kain
33
33. Eira masih tanggungjawabmu
34
34. Dio
35
35. Untuk Eira
36
36. Anak Mama
37
37. Datang ke pesta
38
38. Tama
39
39. Rasa
40
40. Bertemu lagi
41
41. Bukan wanita baik
42
42. Semua demi Dio
43
43. Tawaran taaruf
44
44. Dio sakit
45
45. Ingin menjenguk
46
46. Karena Dio
47
47. Tante Maysa
48
48. Setuju
49
49. Ikut kerja
50
50. Menitipkan Dio
51
51. Bertemu Papa
52
52. Permintaan Dio
53
53. Pelan
54
54. Berkunjung ke rumah Maysa
55
55. Makan siang
56
56. Pergi ke sekolah
57
57. Sampai kapan?
58
58. Berbicara berdua
59
59. Berbohong
60
60. Adit
61
61. Lamaran
62
62. Papa dan Mama
63
63. Jangan menyesal
64
64. Menuju halal
65
65. Sah
66
66. Resepsi
67
67. Bersama anak
68
68. Janji yang belum terlaksana
69
69. Keluarga baru
70
70. Ibu
71
71. Mamanya Dio
72
72. Dio tidak suka Oma
73
73. Tuduhan atau kenyataan
74
74. Marahnya Mama Rafiqah
75
75. Pelukan Kakak
76
76. Rasa cinta Adit
77
77. Tidak akan setuju
78
78. Memaafkan
79
79. Istri Adit
80
80. Bertemu Adit
81
81. Mengertilah
82
82. Berita
83
83. Luka Adit
84
84. Beda pendapat
85
85. Pria baik
86
86. Baikan
87
87. Pergi berempat
88
88. Bertemu kembali
89
89. Hatiku milik orang lain
90
90. Penolakan
91
91. Meminta restu
92
92. Usaha
93
93. Liburan yang gagal
94
94. Liburan yang gagal 2
95
95. Masak untuk calon mertua
96
96. Ingin liburan
97
97. Liburan bersama
98
98. Restu Mama Rafiqah
99
99. Akan ada lamaran
100
100. Persiapan lamaran
101
101. Keluarga Adit
102
102. Diterima
103
103. Ikut Maysa
104
104. Kedatangan Rafka
105
105. Ingin meminjam rumah
106
106. Sakit hati
107
107. Aku minta maaf
108
108. Mengambil hati
109
109. Penyesalan Rafka
110
110. Mengingat kebersamaan
111
111. Tama sakit
112
112. Tama Sakit 2
113
113. Obrolan malam
114
114. Pergi memeriksa persiapan pernikahan
115
115. Demamnya turun
116
116. Rencana sekolah anak-anak
117
117. Ikut ke butik
118
118. Kedatangan Bu Nadia
119
119. Kembali
120
120. Ajakan melayat
121
121. Datang
122
122. Perdebatan di tengah duka
123
123. Mengenang Rumah dulu
124
124. Senyum anak-anak
125
125. Persiapan pernikahan
126
126. Untuk pengajian
127
127. Makan kue bersama
128
128. Pengajian
129
129. Papa Dimas sakit
130
130. Tidak bisa dihubungi
131
131. Halal
132
132. Ingin menjenguk mertua
133
133. Undangan
134
134. Pasrah pada keadaan
135
135. Pesta resepsi
136
136. Calon?
137
137. berharap datang
138
138. Pertama
139
139. Sakitnya Papa Dimas
140
140. Uang dan tisu
141
141. ART baru
142
142. Mencari perawat
143
143. Kak Tama
144
144. ART baru 2
145
145. Perawat untuk Papa Dimas
146
146. Rencana kejutan
147
147. Memasang CCTV
148
148. Calon adik
149
149. Terima kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!