"Van?" Lara memanggil nama pengawalnya itu beberapa kali, namun tak ada jawaban. "Kemana dia?" Lara pun ke ruang tamu dan tidak disangka ternyata ia malah melihat Van yang tengah tertidur di sofa dengan mengenakan kaos polos warna hitam lengan pendek.
"Kenapa dia tidur di sofa? Apa karena aku jadi dia terpaksa tidur disini?"
Lara yang penasaran dengan wajah Van yang sedang tidur pun berjalan mengendap-endap, memdekati Van yang masih tertidur lalu memperhatikan wajah pria itu. Lara langsung dibuat senyam-senyum memandangi wajah Van tengah tertidur.
"Kalau sedang tidur begini dia terlihat sangat tampan dan manis sekali, berbeda sekali kalau saat dia marah." Lara memperhatikan wajah Van dengan seksama. Garis wajahnya yang tegas dan indah, hidung mancung, warna kulitnya yang seperti madu, alis tebal dengan rambut hitamnya yang berantakan. Astaga sungguh pria dihadapanku ini tampan sekali...! Belum lagi lengannya yang berotot, ditambah jari-jarinya yang lentik dan berurat. "Astaga! Rasanya aku ingin teriak saat ini," ungkap Lara sambil menutup wajahnya karena malu.
"Nona sedang apa?"
Lara meringsek kaget melihat Van tau-tau sudah terbangun dan bersuara. "Eh, ka- kapan kau bangun?"
"Daritadi aku sudah bangun, tapi melihat Nona sepertinya sedang memperhatikanku tidur jadi aku tak membuka mataku."
"Benarkah?" Ya ampun aku jadi malu sekali rasanya.
"Nona Jangan duduk dibawah begitu," ucap Van melihat Lara yang malah duduk di bawah.
Keduanya kini duduk berdampingan di atas sofa. Van langsung menanyakan keadaan Lara saat ini.
"Aku baik-baik saja, hanya saja memang kalau ingat kejadian semalam masih membuatku merinding. Karena jujur ini pertama kalinya dalam hidupku melihat langsung seseorang tertembak," jelas gadis itu dengan tatapan sayu.
"Maaf, membuat Nona jadi harus melihat hal seperti itu."
Lara melirik Van yang sepertinya merasa sangat menyesal. "Sudahlah tidak perlu merasa bersalah, lagipula cepat atau lambat aku pasti akan melihat kejadian seperti itu. Yang jadi pertanyaanku sekarang adalah, siapa orang dibalik penyerangan semalam, apa mungkin orang yang sama dengan orang dibalik penyeranganku waktu itu?"
"Aku rasa tidak," balas Van serius.
"Eh kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena modus penyerangannya berbeda, dan—" Van merasa kalau orang sebelumnya punya tujuan tertentu. Sedangkan penyerangan semalam murni seperti sebuah penyerangan subjektif, terlebih yang diincar juga bukan Lara tapi Van. "Apa mungkin?" Van mengerutkan keningnya.
"Mungkin apa Van?" Lara penasaran.
"Ah tidak, aku belum punya gambaran jelas hanya menebak saja jadi aku tidak mau gegabah."
"Seperti itu ya?" Lara hanya mengangguk saja.
Van tidak bisa langsung mengatakan kepada Lara kalau ia curiga dengan Jeden karena tidak ingin membuat Lara jadi lebih khawatir lagi.
"Oh iya Nona, aku minta maaf aku tidak punya apa-apa untuk sarapan jadi—"
"Ah tidak masalah, habis ini aku boleh pinjam kamar mandimu kan?" Lara bangkit dari duduknya.
"Ka- kamar mandi untuk apa?"
"Aku mau mandi dan bersiap ke kantor,"
"Ta- tapi..."
"Tidak usah khawatir aku nanti akan menelepon Miranda untuk membawakan pakaian untukku dan juga sarapan untuk kita."
"Baiklah kalau begitu Nona."
"Tapi kalau air mineral ada kan? Soalnya aku haus mau minum," ucap Lara.
"Tentu saja, biar aku ambilkan air untukmu," Van pun langsung bergegas mengambilkan air putih untuk Nonanya itu.
**
Di apartemennya yang mewah Jeden terlihat tengah santai menikmati sarapan dengan dengan kondisi satu tangannya di gips akibat mengalami cedera setelah dihajar Van kemarin. Wajah Jeden yang awalnya terlihat santai seolah tengah menanti kabar menyenangkan, tiba-tiba berubah kesal saat menerima telepon yang memberitakan kalau penyerangan semalam malah menewaskan orang yang ia bayar, dimana dua orang pria tewas dan duanya ditangkap oleh kepolisian, dan itu artinya?
"Dasar orang-orang tidak berguna! Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa dikalahkan oleh pria busuk itu seorang diri!"
Jeden naik pitam ia benar-benar tak terima karena gagal memberi pelajaran untuk Van. Jeden nampak menelepon seseorang.
"Halo ini aku Jeden Lee, aku cuma ingin bilang kalau aku tidak akan melunasi bayaran untuk kalian, karena orang-orang kalian tidak berhasil melakukan pekerjaannya yang kuminta!"
....
"Aku tidak peduli! Kalian tidak akan bisa memaksaku!"
Jeden langsung mematikan ponselnya, dan melemparkannya ke atas kursi. "Van Baj*ngan sialan!" Jeden murka. "Sebenarnya siapa orang gila itu, aku yakin dia pasti bukan pengawal biasa. Sepertinya aku harus cari tahu asal usul pria itu!"
**
Selagi Lara mandi Van menunggu di ruang tamu sambil melakukan olahraga seperti push up dan sit up ratusan kali. Sebenarnya rutinitas seperti itu memang selalu dilakukan Van setiap hari untuk menjaga kebugaran dan staminanya, namun entah kenapa kali ini Van sepertinya lebih semangat dari biasanya. "Dua ra- tus, dua ratus satu, dua ratus dua....!" Van menghitung push up-nya.
"Sudah dua ratus lebih, tapi aku harus lanjut kalau tidak otakku bisa berpikir kemana-mana membayangkan Nona Lara tidak pakai baju di kamar mandiku!" Van ternyata sengaja olahraga lebih keras lagi supaya otaknya tidak fokus pada hal-hal mesum seorang pria dewasa. "Dua ratus tiga puluh!" Van akhirnya berhenti push up dan diam sejenak, namun kepalanya masih saja membayangkan Lara yang tengah mandi. "****! Aku membayangkan bosku sendiri, itu terasa menjijikan bukan? Hais! Kenapa ayahku harus menurunkan nafsu s*x-nya yang besar itu padaku sih!" Keluh Van kesal.
Ia pun lanjut sit up, tapi ditengah-tengah melakuakn sit up ia malah mendengar jeritan dari arah kamar mandi.
"Nona?" Van yang penuh keringat pun bergegas lari ke kamar mandi.
**
"Nona ada ap- " Van yang panik seketika malah dibuat menganga kala dirinya melihat Lara dengan rambut basah yang hanya berbalut handuk kecil yang menutupi bagian sensitifnya. Pria itu menelan ludahnya.
"Van! Kenapa bengong, itu ada kecoa cepat ambil! Aku takut!" Lara ketakutan karena ada kecoa ternyata.
"Ma- maaf Nona." Van pun langsung mengambil kecoa itu dan membuang menghanyutkannya ke dalam kloset.
"Sudah," ucap Van menoleh dan lagi-lagi ia harus melihat Lara yang hanya dililit handuk, Van berusaha mengalihkan sambil menahan napas, tapi sayangnya adik kecil dibawah perut Van tidak bisa diajak kompromi.
Lara menatap kebawah perut Van, "Van itu dicelanamu..."
Sial dia lihat! Van segera berbalik badan karena malu, untungnya saat seperti itu ia diselamatkan oleh suara bel yang berbunyi.
"Um Nona, kau teruskan saja mandinya biar aku buka pintu dulu, mngkin itu Nona Miranda yang datang!" Ujar Van lalu ngibrit pergi.
Melihat tingkah Van sepeti barusan Lara hanya bisa tetawa geli.
Bersambung....
JANGAN LUPA DI VOTE LIKE DAN COMMENT 🙏 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
yah Van konek 😀😀😀😀😀🤭🤭🤭
2023-07-17
1
Kusii Yaati
rezeky nomplok Van...😜🤣🤣🤣
2022-12-27
0
Deliani Deliani
kecoa2 hadi semangat van
2022-11-24
0