Di ruangannya Lara terlihat melamun, ia meletakan dagunya diatas kedua tangannya sebagai tumpuan. "Kenapa ya aku tidak bisa fokus hari ini?" Ia melihat ke arah jam digital yang ada di dekatnya. "Sudah siang, apa karena aku belum makan jadinya tidak fokus ya? Atau?"
Lara tiba-tiba teringat akan ucapan Van di mobil tadi yang mengatakan akan melindunginya. Lara menepuk kedua pipinya, "Kenapa sih aku jadi malu-malu begini ingat perkataan Van tadi? Padahal melindungiku kan memang sudah jadi tugasnya."
Tak lama kemudian bel di ruanganya berbunyi, "Oh i- iya masuklah," ucap Lara setenang mungkin.
"Maaf Nona mengganggu jam istirahatmu."
"Tidak apa-apa Miranda. Memangnya ada apa?"
Miranda menghadap Lara yakni untuk memberitahukan kalau Jeden Lee direktur pemasaran di Miracle, lusa sudah akan kembali dari Tokyo dalam rangka workshop selama dua minggu.
"Jadi dia sudah akan pulang? Tumben sekali dia tidak memberitahuku dulu?"
"Kalo soal itu Tuan Jeden bilang, Nona yang sulit di hubungi."
"Benarkah?" Lara langsung meraih ponselnya yang ada di atas meja yang dari tadi memang sejujurnya belum ia sentuh sama sekali. "Astaga!" Ternyata ada lebih dari lima puluh panggilan dan belasan pesan dari Jeden yang Lara tidak Tahu.
"Kenapa Nona?"
"Hehe ternyata ponselku aku bisukan makanya dari tadi aku tidak tau ada panggilan ataupun pesan masuk," jelas Lara malu-malu.
"Sepertinya Nona sedang tidak fokus ya?"
"Entahlah! Oh iya Mira kita makan siang bersama yuk!"
"Sebenarnya aku mau tapi maaf Nona kali ini aku tidak bisa," Miranda hari ini sudah berjanji kepada ayah dan ibunya untuk pulang dan makan siang dirumah.
"Begitu ya?"
"Maaf ya Nona."
"Tidak apa-apa, oh iya bagaimana keadaan Pak Jah?"
"Ayahku sudah sehat, dia bilang maaf karena sudah merepotkanmu."
"Oh tidak sama sekali, aku malah senang mendengar Pak Jah sudah sehat."
"Sekali lagi aku minta maaf tidak bisa menemanimu Nona."
"Astaga Mira, kita ini sudah saling kenal sejak lama kenapa kau masih saja begitu tidak enakan padaku, sudahlah tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku permisi dulu Nona."
"Miranda tunggu!"
"Ada apa Nona?"
"Um– itu, aku mau tanya, ap– apa kau melihat Van?"
Mira mengernyitkan keningnya, "Memangnya ada apa Nona bertanya begitu?"
"Ya– aku mau tau saja dia dimana, soalnya aku ada perlu dengan dia."
"Kenapa kau tidak telepon saja."
"Oh iya kau benar, haha kenapa aku tidak kepikiran, bodoh sekali aku," Lara tiba-tiba jadi malu sekali rasanya.
"Nona kau ini kenapa sih?" Miranda merasa Lara agak aneh.
"Aku? Aku tidak apa-apa, sudahlah kau cepat pulang pasti orang tuamu sudah menunggu dirumah, oh iya sampaikan juga salamku buat Nyonya Jah."
"Baikalah kalau anda bilang begitu, aku permisi dulu."
"Bye Miranda, huft!" Akhirnya Miranda keluar juga dari ruangannya. Lara sungguh malu dibuatnya, kenapa juga dirinya harus bertingkah aneh begitu saat bahas Van di depan Miranda? "Ya ampun Lara sepertinya kau benar-benar butuh makan deh!"
**
Di kantin perusahaan Van terlihat tengah menikmati sebotol air mineral, tiba-tiba saja ada dua orang pegawai perempuan datang duduk didekatnya dan menggodanya.
"Hai Tuan, aku baru kemarin melihatmu apa kau pegawai baru disini?" Ucap Dona salah satu pegawai miracle yang doyan bergosip.
"Tuan namamu siapa? Aku Tara aku dari divisi marketing."
"Tuan perempuan tua itu sudah kepala tiga, lebih baik kenalan denganku yang masih muda."
Astaga...! Wanita-wanita ini kenapa sih? Van jadi bingung mau bersikap bagaimana. Disatu sisi ia merasa terganggu, disisi lain ia tetap harus jaga sikap demi nama baik Lara.
"Tuan kenapa kau diam saja, kau tidak mau pesan makanan apapun? Atau mau aku pesankan saja."
"Jadi siapa namamu, aku tidak pernah tahu ada pegawai yang super tampan seperti dirimu."
Kedua wanita itu benar-benar membuat Van tergganggu dan risih. Untungnya tak lama kemudian ponsel Van berdering sehingga ia punya alasan untuk lepas dari kedua makhluk itu. "Ah maaf nona-nona aku harus angkat telepon sebentar."
"Eh, kenapa kau harus pergi dari sini hanya untuk angkat telepon? Angkat saja disini." Dona menahan lengan Van agar tidak beranjak dari duduknya. Sial! Van baru saja ingin menjawab namun keburu panggilannya mati. Dan saat ia memeriksa history ponselnya, ternyata panggilan barusan dari Lara.
"Ternyata Nona yang telepon!"
"Nona? Nona siapa maksudmu? Panggil saja aku Tara, atau kau bisa panggil aku kakak karena usia kita pasti tidak terpaut jauh," Ucap Tara dengan gestur genit.
Selang sebentar datanglah pesan masuk dari Lara. Pesannya bertuliskan ;
Lara : "Jadi kau sedang asyik dengan para wanita genit itu hingga tidak sempat untuk mengangkat panggilanku?! *emot kesal."
"Jadi dia melihatku disini?" Mata Van langsung bergerak ke sekeliling mencari keberadaan Lara. Dimana dia? Mata Van langsung tertuju pada gadis cantik yang berdiri agak jauh memandang ke arahnya dengan tatapan tidak suka, dan tak lama gadis cantik itu pun buang muka lalu pergi. Van pun refleks meminta kedua wanita pengganggu itu agar tidak menghalanginya. Akan tetapi mereka masih keras kepala menahannya, hingga akhirnya Van naik pitam dan mendadak berubah jadi dingin dan serius. "Aku bilang minggir sekarang, atau aku buat kalian enyah selamanya!" Melihat Van yang mendadak jadi serius membuat kedua wanita itu bergidik ketakutan lalu buru-buru pergi. Segera Van dengan langkah cepat dan wajah khawatir mengejar Lara. Van mengejar namun Lara keburu tak terlihat. Dirinya pun bertanya pada resepsionis, "Apa Nona Lara keluar sedirian?
"Iya Nona Lara baru saja keluar gedung sendirian."
"Sial!" kekhawatiran Van semakin menjadi, ia pun buru-buru keluar mengendarai mobilnya untuk mencari Lara.
**
"Aku harap dia masih berada disekitaran sini." Van dengan mata tajamnya menyisir di setiap jalan dan tempat yang ia lewati, berharap Lara masih ada di dekat sini. Untungnya tak lama kemudian Van pun menemukan gadis ber-blazer merah jambu yang ia cari. Gadis itu duduk didekat air mancur taman. Dengan segera Van pun turun dari mobil dan menghampirinya.
"Nona Lara!"
Mendengar namanya dipanggil, Lara langsung menengadahkan kepalanya menatap sosok Van yang kini ada dihadapannya.
"Nona kenapa kau sendirian disini? Kenapa kau tidak bilang kalau kau mau keluar? Kau tau kan berbahaya sekali sendirian keluar saat ini."
Lara bangkit dari duduknya. "Untuk apa aku bilang, bukankah kau sedang bersenang-senang dengan dua wanita tadi?!"
"Nona sepertinya kau salah paham."
"Salah paham apa, aku lihat sendiri kau menikmati duduk diantara dua wanita tadi hingga panggilan ku saja tidak kau angkat! Masih mau mengelak!?" Ujar Lara kesal. "Lagipula— memangnya mereka lebih cantik dari aku apa?"
Van tersenyum kecil. "Nona apa kau tidak senang kalau aku dekat dengan perempuan lain?"
"Eh? A- apa maksud perkataanmu? Kau pikir aku cemburu?"
"Aku tidak sebut Nona cemburu lho padahal."
Lara seketika jadi malu, untuk menutupi rasa malunya gadis itu malah marah-marah di depan Van. "Pokoknya kau itu menyebalkan, sok tampan, suka tebar pesona, dan genit aku malas melihatnya!"
"Lalu kau ingin aku bagaimana?" Suara Van mendadak serius dan terdengar mengintimidasi.
Kalau sudah begini Lara jadi kikuk dibuatnya. Bibir Van saat ini dekat sekali dengan kening Lara, ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu dikeningnya. Degup jantung Lara berubah jadi makin cepat. Astaga kenapa denganku, kenapa perasaanku jadi begini? Pria ini juga, kenapa tiba-tiba auranya berubah sih?
"Nona tolong jawab, apa kau marah aku dekat dengan wanita-wanita itu? Kau tidak suka dengan mereka? Kau ingin aku menjauhi mereka, atau kau mau aku memberi pelajaran pada meraka? Katakan saja apapun itu, aku akan lakukan semua yang kau perintahkan, yang penting kau memaafkanku."
Degup jantung Lara makin tak terkendali, ditambah Van kini malah berpindah jadi bicara didekat telinganya. "Katakan saja Nona kau ingin aku bagaimana, hidupku sepenuhnya kini ada ditanganmu." Wajah Lara terasa semakin panas, tubuhnya pun merasa seperti tergelitik saat mendengar desah suara Van membisiki telinganya. "Nona Lara aku–" Lara semakin tidak tahan ia pun mendorong pria itu.
Lara mengantur nafasnya. "Baiklah dengar ya Van, pertama mulai sekarang kau tidak boleh genit-genit atau dekat-dekat dengan wanita lain apalagi dikantor, dan yang kedua kau harus segera angkat panggilanku kalau aku telepon kapanpun itu. Dan yang ketiga–"
"Ketiga apa?"
Dengan wajah memerah karena malu Lara memberanikan diri mengatakannya, "Yang ketiga kau harus ingat, aku bukan cemburu padamu, aku– aku hanya tidak suka saja pengawalku dikenal sebagai pria genit. Dan yang terakhir! Bilang pada wanita yang suka genit padamu itu kalau kau pengawal pribadiku dan jangan kasih kesempatan mereka genit-genit lagi padamu, paham?!"
Van lagi-lagi dibuat menyeringai kecil dengan semua perkataan Lara.
"Jangan diam saja, kau paham kan maksudku?"
"Iya Nona aku paham."
"Oh iya ada satu pertanyaan."
"Apa itu?" Van Penasaran.
"Um— menurutmu, aku dibanding dua pegawai wanita tadi siapa yang lebih cantik?"
"Huh?" Van dibuat melongo mendengar pertanyaan polos dari Lara. Dia membandingkan dirinya dengan bawahannya sendiri? Apa gadis ini otaknya sudah eror?
"Sudah jawab saja!" Desak Lara.
"Kalau menurutku—"
"Sudah-sudah, tidak perlu kau dijawab!" Lara tiba-tiba malah berubah pikiran dan merasa malu sendiri dengan pertanyaannya itu.
"Nona yakin tidak mau dengar jawabanku?"
"Sudah tidak usah! Ayo kita ke restoran saja makan siang!" Ujar Lara menahan malu dan berjalan duluan.
Van pun hanya bisa tertawa kecil melihat raut wajah malu-malu menggemaskan gadis yang kini berjalan didepanya itu. "Gadis yang aneh, padahal semua orang juga tau jawabannya siapa yang tercantik kalau ditanya begitu," gumam Van.
Bersambung...
Jangan lupa di like komentar dan favoritin biar author semangat 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
lucu vemesh imut kayak nya gitu deh
2023-07-17
0
Bembi Arkana
mnrik
2022-12-30
0
Deliani Deliani
yabg cantik lara ya van
2022-11-23
1