Lara bersama pengawal pribadinya kini berada di sebuah restoran terkenal untuk menikmati makan siang. Terlihat Lara sibuk melihat-lihat daftar menu yang tertera di buku menu. "Baiklah aku pesan ini saja." Lara meminta pelayan untuk mencatat pesanannya yakni sup scallop dan jus stroberi. "Kau mau pesan apa?"
Van celingak celinguk, "Nona bertanya padaku?"
"Memangnya aku bersama siapa lagi selain dirimu?"
"Aku tidak, aku nanti biar makan di kedai dekat kantor saja." Van memang lapar tapi bagaimanapun ia tetap saja hanya pengawal, tidak mungkin ia makan satu meja dengan bosnya sendiri.
Namun Lara tetap memaksa Van agar memesan makanan juga. "Sudah pesan saja, aku tidak suka makan sendirian."
"Ta- tapi?"
"Aku tidak mau tau ini perintah cepat pesan, atau aku pesankan saja?"
"Baiklah, aku pesan steak dan minumnya aku mau–"
"Tolong beri dia wine!" Ujar Lara seolah meneruskan apa yang diinginkan Van.
Bagaimana dia tau apa yang ingin aku pesan?
"Baik Tuan dan Nona tolong tunggu pesanannya akan dibawakan sebentar lagi," ucap si pelayan lalu pergi.
Van menatap Lara yang duduk di berhadapan dengannya.
"Kenapa kau melihatku begitu?"
"Tidak, aku hanya penasaran saja kenapa Nona bisa tau minuman yang mau aku pesan?"
Lara tersenyum kecil, "Aku tau sejak pertama kita berjumpa."
Van mengangkat satu alisnya. "Maksudmu?"
"Aku tau kau suka sekali minum anggur dan minuman beralkohol lainnya, soalnya aromamu hampir selalu bau anggur dan alkohol, iya kan?" Lara terlihat percaya diri dengan tebakannya.
"Ternyata Nona orang yang suka memperhatikan orang-orang disekitarnya, itu manis sekali," tukas Van diikuti senyum kecilnya. Senyumannya itu sontak membuat jantung Lara berdegup tak beraturan.
"Silakan...!"
Pesanan mereka berdua akhirnya datang. Lara hari ini cukup bersemangat makan, mungkin efek kesalnya tadi hingga membuat perutnya butuh banyak di isi. Saat tengah menikmati makan siang mereka, tiba-tiba saja terjadi insiden dimana ada seorang pelayan wanita yang kakinya tersandung dan hampir terjatuh, untungnya Van yang duduk tak jauh dari tempat pelayan itu tersandung langsung sigap memeganginya, "Hampir saja, kau tidak apa-apa kan Nona pelayan?" Ucap Van.
"Oh- i- iya aku tidak apa-apa tuan, terima kasih," ungkap pelayan wanita itu sambil terpana melihat Van.
"Ehem - ehem!" Lara berdeham. Van langsung melepaskan tangannya dari pinggang si pelayan wanita dan kembali ke tempat duduknya. Ia melihat ke arah Lara yang kini tengah makan dengan begitu lahapnya. "Um- Nona apa kau sungguh sangat lapar?"
Lara tak menjawab dan malah makin cepat mengunyah makanannya. Sepertinya mood Lara lagi-lagi kembali tidak baik setelah melihat Van menolong pelayan tadi.
"Nona makannya pelan-pelan saja, aku takut nanti kau–"
"Nanti apa? Nanti aku akan gendut begitu maksudmu, tidak ramping seperti nona pelayan yang pinggangnya kau peluk tadi? Memang kenapa kalau aku jadi gendut? Itu kan bukan urusanmu, lagipula aku mau makan seperti apa itu terserah aku!"
Padahal Van tidak membahas bentuk tubuh sama sekali tapi jawaban Lara malah kemana-mana. Wanita kalau sedang kesal atau cemburu memang susah ditebak. "Baik Nona aku akan diam saja dan lanjut makan."
Lara sebenarnya juga tidak tau kenapa dirinya sejak kemarin jadi aneh begini. Apa iya aku cemburu? Tapi mana mungkin! Lara sepertinya belum menyadari arti perasaannya saat ini.
**
Setelah selesai makan siang di restoran Van kembali mengantar Lara ke kantor, di sepanjang perjalanan Lara sama sekali tidak bicara, bahkan ia sama sekali tidak mau melihat ke arah Van.
"Nona kita sudah sampai di kantor," ucap Van.
Lara tak kunjung beranjak dari dalam mobil meski sudah berada di depan lobby pintu masuk kantor.
"Bukakan sabuk pengamanku!" Tiba-tiba saja Lara menyuruh Van membukakan sabuk pengamannya.
"Baik," Van pun langsung membukakan sabuk pengaman Lara. Alih-alih ingin mengerjai pengawalnya itu, justru kebalikannya Lara malah yang jadi repot sendiri. Jantungnya lagi-lagi berdegup dengan kencang saat Van berada begitu dekat untuk membukakan sabuk pengamannya. Bahkan Lara bisa dengan jelas mengendus aroma tubuh pengawalnya itu. Aroma anggur bercampur wangi segarnya shampo dan sabun yang digunakan Van membuat Lara benar-benar seperti ingin melayang. Oh tidak, jantungku berdegup makin keras aku harus segera pergi! Ucap Lara dalam hati.
Setelah sabuk pengamannya terbuka Lara pun segera mendorong Van lalu keluar dari mobil dengan perasaan gugup bercampur malu.
"Halo Nona Lara," sapa pegawai di lobby.
Bahkan sapaan pegawainya sama sekali tak dihiraukan Lara saking gugupnya.
Van yang baru saja memarkirkan mobil langsung menyusul ke dalam, niat hati menyusul bosnya itu tapi sepertinya Lara sudah berada di lift menuju ruangannya. "Dasar gadis kecil, sedikit-sedikit marah dan lalu kesal, lalu tiba-tiba pergi meninggalkanku," ungkap Van yang hanya bisa keheranan melihat sikap bosnya yang sering membuatnya bingung itu.
**
Di ruangannya Lara lansung mengambil air mineral dan meminumnya untuk menenangkan diri. Ia duduk diatas kursi kerjanya lalu merebahkan kepala serta tangannya diatas meja. "Astaga aku sepertinya benar-benar sudah gila, ada apa denganku? Kenapa jantungku sering sekali berdegup kencang ketika Van berada dekat sekali denganku, kenapa aku juga sering tiba-tiba gugup, dan kenapa juga aku suka merasa gerogi dan malu kalau dia menatapku. Ya Tuhan aku tidak pernah seperti ini sebelumnya!" Lara benar-benar merasa aneh dengan perasaannya sendiri, ditambah dia menyadari kalau ia sering tiba-tiba kesal kalau melihat Van dekat atau perhatian dengan wanita lain.
"Apa itu yang namanya cemburu?" Mata Lara membulat. "Tapi mana mungkin! Mana mungkin aku merasa cemburu pada pengawal pribadiku?" Lara sepertinya masih mencoba mengelak perasaannya. "Tapi kalau benar aku cemburu apa itu tandanya...?" Lara terdiam dengan raut wajah yang tak terbaca, ia seolah tengah mencari jawaban tentang perasaan dirinya terhadap Van.
"Apa mungkin— aku jatuh cinta pada Van?" Akhirnya kata itu terucap juga dari bibir Lara. "Tapi— "
Tiba-tiba ponsel Lara berdering, saat ia lihat layarnya ternyata panggilan dari pria yang kini tengah dipikirkan oleh Lara. "Apa dia itu dukun yang bisa baca pikiran orang? Bisa-bisanya dia meneleponku saat aku kepikiran dirinya!" Lara tampak ragu ingin mengangkatnya, "Angkat tidak ya?" Lara ingin dengar suara Van tapi disisi lain ia tiba-tiba jadi merasa canggung dan malu "Tapi aku ingin dengar suaranya!" Akhirnya Lara pun memutuskan untuk mengangkatnya. Namun saat baru akan dijawab malah sudah mati duluan, alhasil Lara menyesal dan kesal. "Huh menyebalkan!"
Lara tidak mau menghubungi balik karena ia merasa gengsi kalau menghubungi balik takut pengawalnya itu besar kepala. Dan tak lama Van pun akhirnya malah mengiriminya pesan, tanpa berpikir Lara langsung saja membuka pesan itu.
Pesan dari Van :
Nona maaf aku bilang lewat pesan, karena kau tak angkat teleponku tadi. Aku ingin izin keluar membeli kopi dan rokok. Tolong hubungi aku segera jika ada apa-apa.
"Hais! Ternyata cuma mau izin keluar beli kopi dan rokok." Entah kenapa Lara merasa kecewa, karena isi pesan dari Van tidak seperti yang ia harapkan.
Bersambung...
Jangan lupa, vote, like, comment biar author semangat nulis 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
cemburu kamu sudah terpesona sama Van lara
2023-07-17
1
hera wati
aduh lara² km itu kebca bgt dong klu km itu cemburu dn udh jatuh cinta hehehe...
2022-10-13
0
Muhammad Pratama
lanjut thor
2022-09-02
0