Van kini berada diantar pria-pria yang tubuhnya tidak beda jauh denganya. Matanya berkeliling memperhatikan satu persatu lawannya. "Jadi mau basa-basi dulu atau langsung ke intinya saja?" Ujar Van dengan mimik wajah santai.
"Berlagak kau bocah!" Ujar salah satu dari empat orang itu yang kemudian langsung menyerang Van. Dengan refleknya yang bagus, Van dengan mudah menangkis pukulan pria itu dan membalikanya menjadi serangan balik. Van memutar tangan pria itu kebelakang dan menendang bagian belakang lutut pria itu hingga membuatnya jatuh lalu menendang kepalanya hingga berdarah dan pingsan.
"Siapa selanjutnya?" Ucap Van menatap ketiga pria yang tersisa.
Melihat tatapan Van saat ini seolah seperti melihat tatapan srigala yang tengah lapar. Ketiga pria itu sedikit dibuat bergidik dengan tatapan Van, ditambah melihat rekan mereka yang dengan mudahnya dibuat tumbang olehnya.
"Sialan kau pria busuk! Cepat kita hajar dia!" Perintah salah seorang diantara mereka bertiga. Perlawanan kali ini Van harus melawan tiga orang sekaligus. Bagi Van sendiri tentunya tidak masalah jika ia harus melawan lebih dari satu orang, bahkan dirinya dulu pernah melawan lebih dari sepuluh orang seorang diri. Tapi kali sepertinya jadi agak merepotkan saat Van sadar, kalau dua orang diantara mereka ternyata bawa pistol sedangkan Van melawan dengan tanpa senjata sama sekali.
Van melawan ketiganya dengan hati-hati, matanya tidak boleh sampai lengah sedikitpun karena ia diserang dari arah berbeda. Aku harus merebut pistol-pistol itu terlebih dahulu baru aku habisi mereka sekaligus! Van menyerang pria yang membawa pistol di sakunya, ia tau pria itu ingin menembaknya, dengan cepat Van menarik jas pria itu mengunci gerak tangannya dan merebut pistol itu dari belakang lalu menendang punggungnya hingga tersungkur kesakitan. Van kemudian mendekati pria lain yang tak memegang pistol, pria itu tampak ingin menghindar namun Van bergerak lebih cepat darinya dan langsung menghantam wajah pria itu dengan pistol ditangannya dan melumpuhkan bagian pundaknya dengan hantaman siku. Ketiga pria itu kini terkapar dan hanya tersisa satu yang membawa pistol lain.
Van bermaksud melenyapkannya segera tanpa banyak darah bercucuran. Namun keadaan berkata lain, pria satunya malah bukan menyerangnya melainkan medekati mobil yang dimana ada Lara di dalamnya.
Lara kini sangat ketakutan di dalam mobil, tapi Van telah menyuruhnya untuk tidak membuka kunci pintu apapun yang terjadi. Namun Pria itu terus saja menggedor kaca mobilnya dan mengcungkan pistol ke arahnya dibalik kaca mobil, mengancam akan menembaknya dari luar jika Lara tidak segera keluar.
"Bagaimana ini? Aku takut sekali..." Lirih Lara yang seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. "Van tolong aku, aku takut..." Lara mulai meneteskan air matanya yang tak terbedung lagi. Pria itupun megarahkan ujung laras pendek itu di kaca mobil dan bersiap menembak namun tiba-tiba saja terdengar suara "Dorr!" Lara dibuat terbelalak, ia melihat langsung pria yang mau menembaknya itu tiba-tiba saja dari kepalanya mengalir darah begitu banyak, dan hilang kesadaran lalu pingsan.
"Van?" Lara bisa melihat sosok Van yang berdiri memegang pistol setelah pria itu tumbang. Van ternyata yang menembak kepala pria itu. Tak lama Van menghampiri mobil Lara dan minta Lara buka kunci pintu mobilnya, dan ia pun masuk dengan membawa pistol ditangannya. Lara terlihat menjauhkan diri dari Van layaknya orang menghindar ketakutan. Van menyadari hal itu, tentu saja berbeda dengannya yang terbiasa hidup di jalanan yang sering kali menyaksikan aksi kebrutalan manusia. Sedangkan bagi Lara tentu tidak mudah baginya melihat pemandangan seperti ini. "Nona, jika kau takut aku akan meninggalkanmu dulu sampai kau tenang."
"Van!" Panggil Lara memintanya agar tidak meninggalkannya sendiri.
"A- aku memang takut melihatmu tadi, tapi aku lebih takut lagi kalau kau meninggalkanku." Van meletakan pistol itu di dalam laci dashboard. Pria itu menatap Lara dengan lembut lalu menyentuh pipinya yang agak basah karena tetesan air mata. "Aku tidak akan meninggalkanmu, karna aku akan selalu jadi perisaimu Nona."
Lara melihat sorot mata Van berbeda dari yang tadi. Matanya saat ini memancarkan kehangatan, berbeda dengan sorot mata Van beberapa waktu lalu, sorot matanya dingin seperti manusia haus darah. Aku tidak suka tatapannya yang seperti itu. Lara tersenyum kecil pada Van dan tak lama malah jatuh pingsan.
Van menghela nafas. "Lain kali aku akan suruh dia tutup mata saja sekalian agar tidak ketakutan melihat sosok diriku yang kejam dan buas seperti tadi."
**
Van membawa Lara pulang ke apartemennya. Kini Lara ada di kamara Van dan sedang diperiksa oleh dokter Yose, dokter pribadi keluaraga Hazel yang sudah dihubungi oleh Miranda tadi.
"Bagaimana keadaannya dokter? "Tanya Van yang sejak tadi cemas dengan keadaan Nonanya itu.
"Dia tidak apa-apa," dokter yose menjelaskan kalau Lara hanya syok dan tubuhnya terlalu tegang sehingga membuatnya lemah dan pingsan.
"Anak muda, aku sarankan tolong jangan bangunkan Nona Lara, biarkan dia istirahat dan bangun sendiri nanti saat tubuhnya sudah kembali fit," pesan dokter Yose.
"Baik dokter."
"Kalau begitu aku permisi Nak, tolong jaga Nona baik-baik ya..." Ucap dokter Yose dengan ramah lalu pergi.
Van melihat Lara yang kini tengah tertidur di kamarnya. Ia menyelimuti Nonanya itu dan memandangi wajahnya yang cantik. Memandangi Lara terus menerus membuat pria itu senang dan.... "Tidak! Aku harus segera pergi dari sini, kalau tidak bisa bahaya memandanginya lama-lama begini." Van akhirnya keluar dari kamar tempat Lara tidur, ia memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu saja demi meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan, karena bagaimanapun Van pria dewasa yang sudah pasti punya nafsu layaknya pria normal lain.
***
Pagi menjelang, pukul enam pagi Lara akhirnya tersadar dan membuka matanya perlahan Mata Lara langsung melihat sekeliling langit-langit kamar. "Dimana ini?" Lara gelagapan segera ia pun memeriksa dirinya dibalik selimut yang menutupinya. "Pakaianku masih sama seperti kemarin, tapi ini dimana? Oh iya Van?" Lara baru ingat kemarin terakhir ia bersama Van di dalam mobil setelah insiden perkelahian yang berakhir seorang pria itu ditembak kepalanya oleh Van. Mengingat kejadian itu Lara langsung bergidik ngeri, karena itu pertama kalinya bagi Lara melihat langsung seseorang tertembak. "Oh aku mohon jangan ingat lagi!" Keluh Lara yang merinding tiap kali ingat darah mengucur dari kepala pria yang menyerangnya kemarin. Lara kembali memperhatikan sekeliling ruangan tempat ia berada saat ini. "Tapi dari interiornya seperti tidak asing?" Lara menghidu wangi udara di ruangan tersebut. Baunya seperti parfum Van, "Oh berarti benar ini apartemen yang aku berikan pada Van untuk ia tinggali. Tapi dimana Van berada saat ini?" Lara pun bangkit dari ranjangnya lalu membuka pintu dan keluar dari kamar.
Bersambung...
Tolong diberi like, vote, comment ya biar authornya makin rajin nulis, makasehh... 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
Van sangat bisa diandalkan
2023-07-17
1
Nur Suci Aeni
cerita nya keren banget Thor the best 👍👍👍👍
2022-10-26
2