Setibanya di Miracle Lara masuk duluan ke dalam kantor karena ia harus segera mengecek email yang masuk, sedangkan Van pergi dulu untuk memarkirkan mobil.
Saat Lara hendak menunggu lift terbuka, tiba-tiba saja dari arah samping muncul Jeden yang berteriak, "Lara Hazel!"
Lara pun menoleh ke arah datangnya Jeden, dari raut wajahnya pria itu sepertinya sedang emosi. "Ada apa dia memanggilku begitu?"
Jeden menghampiri Lara dan langsung menarik tangan gadis itu untuk ikut dengannya. "Ayo ikut aku!"
Lara kaget dan langsung marah, "Apa-apaan kau ini, lepaskan tanganku!"
"Tidak! Kau harus ikut aku sekarang juga, ada yang perlu kita bicarakan!"
"Bicarakan apa? Tidak bisakah kau lebih sopan tuan Jeden Lee!" Ujar Lara sambil terus mencoba melepaskan cengkeraman tangan Jeden. Sayangnya Jeden sama sekali tak peduli dan terus mencengkeram dengan kuat pergelangan tangan Lara.
"Jeden aku bilang lepaskan, tanganku sakit!" Seru gadis itu kesakitan sambil terus mencoba melepaskan tangannya.
"Heh! Sakit? Bagaimana kalau begini?" Jeden malah semakin pemperkuat cengkramannya hingga membuat Lara berteriak.
"Aw sakit Jeden!" Lara menggunakan satu tangannya yang lain untuk melepaskan cengkraman Jeden dari pergelangan tangannya. "Jeden kau gila! Cepat lepaskan tanganku sakit—"
"Berisik!" Jeden membentak Lara dengan keras. Lara pun syok sekaligus malu. Ini pertama kalinya seumur hidup Lara dibentak di depan umum. Bahkan Lara bisa merasakan kalau semua pegawai di tempat itu kini sedang melihat ke arahnya sambil berbisik satu sama lain. Konyolnya meskipun disana ada penjaga, namun tak ada yang berani ikut campur karena baik Jeden ataupun Lara keduanya punya saham dan jabatan tinggi di Miracle.
"Lepaskan aku sekarang atau—"
"Atau apa Lara Hazel!"
"Atau kau berurusan dengaku!" Seru Van yang muncul tiba-tiba. Van dengan tatapan buasnya menatap Jeden seolah mangsa yang akan ia terkam. Jeden pun sempat dibuat bergidik dengan tatapan Van.
"Lepaskan Nona Lara!" Teriak Van, namun Jeden masih tak mau melepaskannya juga. Hingga akhirnya Van mendatangi Jeden dan langsung memelintir satu tangan Jeden hingga membuatnya mengrang kesakitan. "Argh!"
"Lepaskan Nona Lara atau dalam hitungan detik aku hancurkan tanganmu!" Ancam Van serius.
Jeden akhirnya melepaskan cengkramannya dari tangan Lara. Van yang masih tidak terima dengan perlakuan Jeden pada Lara pun semakin keras memelintir tangan Jeden bahkan hampir saja mematahkan tulangnya. Untungnya Lara masih berbaik hati dan meminta Van agar melepaskannya. Pada akhirnya Van menuruti Lara dan melepaskan Jeden lalu mendorongnya hingga terjatuh.
Jeden kesakitan, ia tidak terima lalu marah pada Van dan memakinya. "Kau pria tengik busuk, siapa kau beraninya kau ikut campur urusanku!?
Van lagi-lagi menatap Jeden dengan tatapan tajam penuh amarah. "Aku adalah pengawal pribadi Nona Lara. Tugasku adalah melindunginya, jadi siapapun yang berani menyakiti Nona Lara seujung kuku saja, maka dia tidak akan hidup tenang!" Tegas Van saat itu dihadapan pegawai lain yang mungkin juga, banyak yang baru tau kalau dirinya adalah pengawal pribadi Lara.
Sialan, jadi dia ini pengawal pribadi Lara?
"Van ayo kita pergi dari sini, dan untuk kalian semua bubar, kembali bekerja!" Titah Lara yang kemudian pergi dikawal Van memasuki lift.
"Baik Nona," ucap para pegawai yang kemudian kembali ke tempat kerja masing-masing.
Begitu pun Jeden, sambil memegangi tangannya yang kesakitan pria itu pergi dengan perasaan dendam. Merasa telah dipermalukan oleh Van yang statusnya tidak jauh beda dengan bawahan, Jeden pun bersumpah akan membalasnya. "Aku akan membalasmu pria tengik, tunggu saja!"
**
Di kamar mandi kantor terlihat Dona si biang gosip dari divisi marketing tengah membicarakan kejadian di lobby tadi. "Hai Tara, kau lihatkan tadi suasanannya benar-benar tegang," ucap Dona sambil merapikan lipstiknya.
"Iya, tapi berkat kejadian tadi aku jadi tau kalau pria tampan yang kita goda waktu itu ternyata pengawalnya Nona Lara."
"Ya, kau benar! Tapi sayang sekali dengan wajah dan badan sebagaus itu dia hanya jadi pengawal Bos kita yang masih bau kencur itu," ungkap Dona seraya mengejek Lara yang ia anggap hanya gadis kemarin sore yang terpaksa jadi CEO hanya karena anak mendiang Yuka Hazel (Ayah Lara)"
"Wah Dona berani sekali kau bicara begitu tentang Nona Lara kita yang tidak bisa apa-apa itu," balas Tara ikut mengejek.
"Memang benar kan, bayangkan saja usianya jauh dibawah kita tapi dia bisa langsung jadi CEO, memang kelebihan Nona manja itu selain wajah dan tubuhnya yang bagus apa lagi? Perusahaan ini juga sejak dibawah kepemimpinannya jadi sering tidak stabil."
"Benar juga ya hahaha..."
"Tapi setidaknya bos yang kalian gosipkan itu tidak bermulut sampah seperti kalian!" Tegas Miranda.
Tara dan Dona kaget, wajah mereka pun langsung pucat pasi melihat Miranda yang tiba-tiba muncul. "No- Nona Miranda sejak kapan anda—"
"Padahal kalian berdua masih mengais uang dari perusahaan ini, tapi beraninya kalian menghina bos yang bahkan kalian tidak kenal dekat, apa kalian ini waras!" Tegur Mira.
"Ma- maafkan kami Nona Mira tolong jangan adukan kami pada Nona Lara, kami mengaku salah," ucap Dona memohon.
Mira memandang remeh dan tersenyum kecut pada kedua pegawai tukang gosip itu. "Kalian beruntung karena punya atasan seperti Nona Lara, jika aku jadi Nona Lara mungkin benalu seperti kalian sudah kutendang jauh-jauh sejak lama! Sekarang enyahlah, ingat jika kudengar kalian berani mengatakan hal buruk tentang Nona Lara lagi, aku pastikan saat itu juga kalian keluar dari Miracle, paham?!"
"Pa- paham Nona Miranda, kalau begitu kami permisi duluan."
Miranda menghela nafas membuang emosi marahnya. "Dasar pegawai tidak tahu diri! Kalian tidak tahu betapa bekerja keras dan berusahannya gadis kecil yang kalian ejek itu. Ia bahkan rela mengubur cita-citanya dan malah memilih menjadi CEO disini." Mira tau persis bagaimana beratnya Lara menjalani tugasnya sebagai CEO, itulah mengapa Mira sangat marah jika ada yang berani menghina gadis yang dianggap adiknya itu.
**
Lara masuk ke ruangannya ditemani Van, sejak di lift Lara terus saja mengusap-usap pergelangan tangannya yang bekas dicengkram oleh Jeden tadi.
Pasti tangannya sakit dan panas rasanya.
Van secara inisiatif langsung mengambil alat kompres dari dalam lemari es diruangan Lara dan meminta gadis itu agar duduk. Lara yang tangannya sakit pun menurut.
"Nona tolong kemarikan tanganmu."
Lara lansung mengulurkan tangannya yang memerah akibat cengkraman Jeden untuk di kompres. Dengan lembut dan hati-hati Van mengompres pergelangan tangan Lara yang ramping itu. Bekas cengkraman itu sangat terlihat jelas di kulit Lara yang putih mulus. Van sangat marah melihat bekas tangan itu ada dikulit Lara. Jika saja Nona Lara tak melarangku, sudah ku patahkan kedua tangan baj*ngan itu!
Sementara itu, dibanding merasakan sakit di pergelangan tangannya Lara malah lebih fokus memandangi Van yang terlihat begitu hati-hati mengompres tangannya, seolah sedikit saja ia takut akan menyakiti Lara. Mata Lara mendadak sendu, hatinya berdesir namun juga terasa sesak disaat bersamaan.
Kemerahan dikulit Lara mulai memudar "Nona, apa tanganmu masih sakit?"
Lara menggeleng, "Sudah lebih baik kok," ucap Lara lembut.
"Nona, aku minta maaf lagi-lagi aku tidak menjagamu dengan baik, aku benar-benar payah," ungkap Van dengan penuh sesal. "Kau tau Nona, tadi saat aku melihat pria itu menyakitimu jiwaku seperti dibakar, aku seperti tidak tau lagi harus apa saat itu, yang aku tau aku ingin menjauhkanmu dari pria itu. Lalu aku ingin mencabik dan mengoyak pria itu tanpa ampun."
"Van..." Lara tiba-tiba memegang kedua pipi Van dan memandanginya dengan tatapan lembut dihiasi senyum tipisnya yang manis. "Terima kasih karena selalu ingin melindungiku," ucap Lara diikuti senyuman manisnya. Seketika wajah Van memerah, dan suhu tubuhnya memanas.
Gawat!
Van tidak bisa jika berlama-lama begini disentuh Lara, bisa-bisa dirinya lepas kontrol, apalagi emosi Van saat ini sedang memuncak. Van akhirnya menarik dirinya dari sentuhan tangan halus Lara lalu berkata, "Nona aku minta maaf tapi sepertinya aku harus permisi sekarang." Van pun dengan secepat mungkin meninggalkan ruangan Lara.
Di sisi Lain, Lara justru terlihat sedih melihat Van yang malah pergi. "Dia kenapa sering kali menghindariku saat aku mendekat padanya?"
**
Van ke toilet dan membasuh wajahnya, desah nafasnya masih tak beraturan. Ia memandangi cermin di depannya sambil menyentuh pipinya. "Bahkan sentuhannya masih terasa meski sudah dibasuh. Argh! Ini sungguh menyiksaku!"
Bagi Van, aroma tubuh Lara, wajahnya, dan sentuhannya, semua yang ada di gadis itu bagai zat candu yang mampu membuatnya mabuk kepayang hingga lupa diri hanya dalam waktu hitungan detik saja. Hal ini sulit bagi Van karena semakin dia menahannya semakin menyiksa pula rasanya. Tapi jika tak dilawan maka ia tidak akan pernah bisa lepas lagi.
Bersambung...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
kalian sama sama kecanduan
2023-07-17
1
Deliani Deliani
van kstskan sejujurnya
2022-11-24
0
hera wati
knp klian gk jjur sja pd prasaan klian msing²..ayo ahtoor bkin mrk mngakui nya...dn tuk ahtoor smngatt trs ya nie ta ksih kopi hehe☕
2022-11-12
1