Pria itu berbalik badan dan mendekati Lara, "Kau mau membayarku untuk jadi pengawalmu?"
"Iya, aku butuh pengawal pribadi. Dan aku ingin kau yang jadi pengawal pribadiku."
Gelandangan itu mendengus seolah ada yang lucu, "Kau sungguh aneh, kau tau aku hanya gelandangan lusuh tak punya rumah. Bagaimana bisa kau yakin untuk memperkerjakanku sebagai pengawal pribadi, kenapa kau tidak cari saja orang lulusan militer untuk jadi pengawalmu?"
Sejujurnya Lara juga tidak tahu pasti alasan kenapa kepikiran untuk memperkerjakan gelandangan seperti dia, tapi yang pasti Lara merasa kalau gelandangan ini bukan orang sembarangan. "Jadi bagaimana? Kau mau atau tidak?"
Gelandangan itu tampaknya tengah mempertimbangkan penawaran Lara. "Jika aku jadi pengawalmu, kau berani membayarku berapa?"
"Berapa yang kau minta?"
"Ini kota ZR, salah satu kota yang biaya hidupnya mahal di negeri ini, jadi aku minta saham milikmu saja bagaimana?"
"Apa kau gila?"
"Kalau tidak mau yasudah."
Lara terlihat bimbang, sebaliknya gelandangan itu malah tiba-tiba tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Lucu melihat wajahmu yang tampak bodoh itu. Lagi pula aku hanya bergurau, baiklah aku minta gaji seratus ribu dolar sebulan, ditambah beri aku tempat tinggal bagaimana?"
Tanpa ragu Lara pun langsung setuju, "Baik aku setuju!" Keduanya pun akhirnya sepakat.
"Kalau begitu, Van!"
"Van?"
"Iya namaku Van."
Jadi namanya Van? "Baiklah Van, kalau begitu ayo kita pergi ke rumah sakit!"
"Okey!"
**
Di rumah sakit Miranda dan Pak Jah telah sadarkan diri. Mereka kelimpungan mencari dimana Lara.
"Apa Nona Lara sudah ketemu?" Tanya Pak Jah.
"Belum, ini aku masih terus mencoba menghubunginya. Aku sudah tanya dokter dan perawat yang membawa kita kemari, tapi mereka bilang tidak ada orang lain lagi selain kita dan dua orang pria jahat yang meninggal tadi."
Setelah mencoba berkali-kali akhirnya Mira tersambung juga dengan Lara.
M : Ah Nona akhirnya aku bisa menghubungimu, kau baik-baik saja kan? (Bertanya dengan nada khawatir)
L : Iya aku baik-baik saja, sekarang aku akan menemuimu dan pak Jah di rumah sakit.
M : Nona anda tidak per–
Tut tut... Belum selesai bicara Lara sudah keburu menutup teleponnya.
"Ada apa? Nona baik-baik saja kan?" Tanya Pak Jah
Miranda mengangguk lalu memberitahukan pak Jah kalau Lara tengah dalam perjalanan kemari menjemput mereka.
"Syukurlah kalau Nona Lara baik-baik saja," ucap Pak Jah merasa cukup lega mendengarnya.
Selang beberapa menit Miranda dan Pak Jah yang tengah menunggu di koridor rumah sakit mendengar suara Lara memanggil nama mereka.
"Nona Lara!" Seru pak Jah dan Mira yang tampak sumringah melihat Nona kesayangan mereka datang menghampiri dengan keadaan baik-baik saja. Mira langsung mendekat dan memeluk Lara. Mira berkata kalau ia sangat khawatir dan takut saat tau kalau Lara tak bersamanya tadi setelah ia siuman.
"Oh ayolah Mira aku baik-baik saja kok, aku yang justru khawatir denganmu dan Pak Jah, tapi setelah melihat kalian aku jadi lega."
Seketika pandangan Mira tertuju pada pria lusuh yang berdiri santai sambil menggigit tusuk gigi berada di dekat Lara. Mira dengan tatapan penuh kewaspadaan langsung menarik Lara kedekatnya lalu berbisik, "Nona, maaf tapi apa kau kenal pria lusuh itu?"
"Iya aku mengenalnya."
"Apa?" Miranda kaget mendengarnya, bagaimana bisa Lara kenal dengan pria gelandangan seperti dia?
Lara pun tanpa basa basi langsung mengenalkan Van pada Miranda dan Pak Jah. "Jadi Pak Jah, Miranda, ini Van, mulai hari ini dia adalah pengawal pribadiku."
"Apa?!" Pak Jah dan Mira sama-sama kaget.
"Hai pak Tua, hai Nona asistennya Nona Lara," sapa Van sambil melambaikan tangannya dengan wajah datar.
Mira lagi-lagi menarik Lara dan berbisik, "Nona kau sedang tidak bercanda kan?"
"Tidak."
"Ta- tapi kenapa—?"
"Sudahlah Mira nanti akan aku jelaskan padamu semuanya."
Setelah berkenalan Lara berharap baik Mira, Pak Jah dan Van bisa berkerjasama mulai sekarang dan membantunya untuk menjalankan tugasnya sebagai CEO di Miracle. Sebelum ia kembali ke kantornya, Lara meminta Pak Jah untuk membawa Van ke salon untuk merapikan penampilannya.
"Baik Nona aku akan melaksanakan apa yang kau minta."
"Oke kalau begitu Van kau ikut bersama Pak Jah, sedangkan aku dan Miranda akan kembali ke kantor."
"Aku ikut denganmu, sekarang kau bosku dan tugasku adalah melindungimu," ujar Van.
Lara menyeringai kecil, "Ternyata kau sungguhan dalam bekerja, tapi kali ini saja tidak masalah, lagipula gendung Miracle tak jauh dari rumah sakit ini. Aku juga sudah menyuruh supir kantor menjemputku dan Mira kok."
"Kau yakin?" Van memastikan.
"Iya aku yakin."
"Baiklah kalau begitu maumu." akhirnya Van pergi bersama Pak Jah, sedangkan Lara dan Mira menunggu jemputan kantor datang.
**
Diperjalanan menuju ke salon pak Jah menyetir dan Van duduk disebelahnya. Merasa bosan, Van pun menyalakan radio untuk mencairkan suasana. Sayangnya sudah mendengarkan radio tetap saja ia merasa bosan hanya mendengar berita dan lagu-lagu yang diputar, akhirnya Van pun mematikan radionya.
"Kau bosan Tuan?" Tanya Pak Jah dengan sopan dan formal.
"Ah akhirnya kau bicara juga pak Tua, ya aku bosan!"
"Kalau begitu kau tidur saja."
Van berkelakar kecil. "Aku sudah kebanyakan tidur, lagipula pak Tua apakah kau tidak bisa menambah kecepatan mobilnya?"
"Aku menggunakan kecepatan sesuai standar ketentuan keselamatan berkendara Tuan."
"Baiklah baiklah..."
"Oh iya Tuan, kau sungguh akan melindungi Nona Lara kan?"
Van penasaran kenapa tiba-tiba pak Tua itu bertanya begitu. "Kenapa memangnya?"
"Aku hanya ingin memastikan saja, karena bagiku Nona Lara sudah seperti putriku sendiri, jadi aku tidak ingin siapapun menyakitinya."
"Memangnya kemana orang tua Lara?"
"Sudah meninggal delapan tahun lalu saat Nona masih berusia empat belas tahun."
"Oh jadi begitu." Mendengar cerita Pak Jah Van jadi merasa kasihan dengan Lara.
"Jadi tuan Van, aku mohon jaga Nona dengan baik, karna dia gadis yang sangat baik."
Van tak menjawab dan hanya tersenyum kecil.
**
Di ruangannya Lara menceritakan semua kronologi kejadian kepada Miranda, hingga alasan kenapa dia yakin untuk memperkerjakan Van sebagai pengawal pribadinya.
"Jadi hanya karena merasa berhutang nyawa kau langsung memutuskan hal itu?"
"Kenapa tidak? Lagipula dia yang sudah menolong kita kan, dan dia juga sepertinya sangat ahli dalam bertarung."
Miranda menghela nafas, "Ya memang, tapikan dia itu kau tahu, dia hanya–"
"Hanya seorang gelandangan?" Lara mencoba meyakinkan Mira, "Mira, aku tahu dia bukan orang dari militer yang terlatih tapi entah kenapa aku yakin kalau dia bisa melindungiku."
"Entahlah Nona, aku hanya berharap semoga pilihanmu benar."
Lara tersenyum dan memeluk Mira, "Terima kasih kau sudah percaya padaku, lagipula aku yakin setelah dia di make over penampilannya pasti akan jauh lebih baik."
Tak lama terdengar bel pintu ruangan Lara berbunyi.
"Masuklah," titah Lara.
"Permisi Nona ini aku."
"Oh Pak Jah, silakan masuk."
"Permisi Nona."
"Pak Jah sendirian, lalu dimana Van?"
"Tuan Van ada di lobby dia bilang ingin melihat sekeliling kantor dulu."
"Begitu ya, yasudah kalau begitu tolong nanti kau suruh dia temui aku disini."
"Baik Nona."
Bersambung...
Hai teman-teman jangan lupa di vote karya aku ya biar semangat nulisnya, makasih 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
yakin deh kalau Van orang nya tampan
2023-07-17
0
Hartawan1234 Randika
sedih cerita nya kka
2023-05-16
0
Mohd Taufi
semoga lara jatuh hati 🤲🤲🥰
2022-09-15
2