Malam harinya Lara tidak bisa tidur, padahal ia sudah sejak tadi mencoba memejamkan matanya. Jarum jam di dinding pun sudah menunjukan pukul dua pagi, itu tandanya sudah dua jam lebih Lara mencoba tidur namun tak bisa. Lara memasukan kepalanya kebawah batal berteriak untuk meluapkan stresnya. "Argghh... kenapa sulit sekali rasanya aku tidur, ini semua gara-gara dia!"
Lara duduk terkapar diatas ranjanganya, dengan tubuh dililit selimut ia termenung frustasi karena sejak tadi otaknya tidak bisa berhenti memikirkan Van. Bentuk tubuhnya yang kokoh dan berotot, bahkan aroma tubuh Van seperti masih bisa ia rasakan saat ini.
"Kenapa sih aku ini sebenarnya? Seumur hidup aku tidak pernah seperti ini kepikiran tentang laki-laki?"
Lara sungguh tidak paham perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini, apa benar kalau ini perasaan orang jatuh cinta? Bahkan dengan hanya mengingat wajah Van saja membuat Lara seperti ingin terus melihatnya, ingin dengar suaranya dan ingin sekali berada di dekatnya. "Van sedang apa ya? Apa dia sudah tidur?" Lara sangat ingin tau Van sedang apa, tapi ia malu jika harus menghubunginya duluan, terlebih ia tidak punya alasan jelas untuk menelepon pria itu.
Lara meletakan kedua telapak tangannya di dada, merasakan degup jantungnya terpacu setiap kali ingat dan membayangkan wajah Van, ditambah suara huskynya yg seksi seolah membisikinya. Tanpa sadar wajah Lara langsung merah dibuatnya. "Astaga aku ini kenapa sih?" Lara makin merasa aneh pada dirinya sendiri.
"Tunggu dulu!"
Tiba-tiba Lara teringat novel yang pernah ia baca saat sekolah dulu, tentang seorang gadis yang diam-diam suka pada kakak kelasnya, penggambaran suasana hati tokoh perempuan di novel itu kurang lebih mirip seperti yang dirasakan Lara saat ini. "Apa jangan-jangan aku sungguhan suka pada Van? Aku sungguh sudah jatuh cinta kah?Lara tertegun ia langsung menepuk kedua pipinya. "Tidak, tidak! Mana mungkin aku jatuh hati pada pria itu. Ini pasti efek aku belum pernah pacaran saja makanya seperti ini. "Tapi kalau iya bagaimana...?" Lara semakin bingung dengan perasaannya. Apa benar perasaannya saat ini karena rasa suka sungguhan atau hanya sekedar tertarik saja pada Van?
"Apa aku coba tanya Mira saja." Lara meraih ponselnya yang ada diatas nakas dan menelepon asistennya itu.
**
Sementara itu Miranda ternyata sudah tertidur lelap sejak tadi. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, wanita itu pun terbangun meraba-raba dengan mata setengah terbuka mencari ponselnya.
"Iya, halo?"
...
"Nona ada apa, ini masih pagi buta, kenapa menelponku hoam..." Mira sepertinya ngatuk berat sampai menerima telepon saja ia setengah sadar.
...
"Mau tanya apa Nona?"
...
Baiklah coba tanyakan aku akan dengarkan.
...
Miranda mencoba mendengarkan Lara, namun sepertinya kali ini Mira kalah dengan rasa kantuknya, alhasil Mira malah tertidur lagi dengan pulas dan tidak jadi mendengarkan apa yang dikatakan Lara.
**
"Halo, halo! Mira kau masih disana kan?" Mira tak menjawab lagi. "Hais, sepertinya Mira malah tertiduran saat mendengarkanku." Lara langsung mematikan panggilannya. "Aku jadi tidak enak pada Mira karena sudah mengganggu istirahatnya.
**
Karena Lara tetap saja tak kunjung bisa tidur, ia pun akhirnya turun ke dapur dan membuat segelas susu, diketahui susu cukup efektif membantu orang yang susah tidur. Biasanya Lara minta tolong buatkan pelayan, tapi karena ini sudah larut dan semua pelayan sudah istirahat jadi ia membuatnya sendiri. Setelah membuat susu Lara membawa susu itu ke kamarnya
Namun, Lara bukannya langsung meminum susunya, ia malah tiba-tiba mengambil ponselnya dan membuka layarnya dengan harapan mungkin Van mengiriminya pesan sayangnya tidak ada pesan sama sekali dari Van. "Ini gila, kenapa aku sampai berharap sekali dia mengirimiku pesan?" Wajah Lara seketika berbalut kecewa dan sedih. "Ini tidak adil, aku terus memikirkannya, sedangkan dia disana bisa saja sedang tidur atau memikirkan wanita lain, huh menyebalkan!" Lara yang lelah dengan sendirinya, akhirnya meminum susunya lalu kembali mencoba tidur.
*
Sudah pukul sembilan pagi, Van sudah sejak pukul 7. 30 menunggu Lara di kediamannya, namun gadis itu tak kunjung keluar. "Sebenarnya Nona Lara sedang apa? Kenapa lama sekali, aku tanya pada pelayan mereka bilang Nona bangun kesiangan. Tapi tidak biasanya dia kesiangan." Tak berselang lama akhirnya Lara muncul. Seperti biasa ia tampak cantik dan berkelas dengan style kantornya, tapi kali ini ia mengenakan kacamata hitam. Lara masuk ke mobil dan menyuruh Van segera jalan. Di jalan Van terus melihat Lara dari kaca spion, ia penasaran kenapa Lara tak kunjung melepas kacamatanya itu. Hari ini Nona juga terlihat lebih pendiam dan kalem. "Um, Nona maaf tapi kenapa kau terus pakai kacamata itu?"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak aku hanya ingin tahu saja."
Lara akhirnya melepas kacamata itu.
Ada sedikit lingkaran hitam dimata Lara. Jadi itu alasan pakai kacamata. "Sudah tau kan alasanku pakai ini?"
"Nona apa kau kurang tidur?"
"Ya!"
"Kau harusnya tidak begadang Nona, itu tidak baik untuk kesehatan."
Enak saja bicara begitu, asal kau tau aku itu semalam susah bisa tidur kan karena dirimu! Gerutu Lara dalam hati.
"Van, kita beli bunga dulu ya?" Pinta Lara.
"Bunga untuk apa?"
"Aku ingin berziarah ke makam orang tuaku, tiba-tiba saja aku rindu mereka." Dari pantulan kaca spion Van bisa melihat jelas tatapan mata Lara yang terlihat sendu saat membicarakan orang tuanya.
"Baiklah Nona."
***
Miranda yang sudah datang ke kantor mendatangi ruangan Lara. Namun sekretarisnya mengatakan kalau Lara belum datang. "Kenapa Nona Lara belum datang?" Miranda akhirnya menelepon bosnya itu.
Miranda : Halo Nona anda baik-baik saja kan?
Lara : Iya Mira aku baik-baik saja, ada apa?
Mira : sekretarismu bilang kau belum datang aku kira Nona sakit?
Lara : Tidak kok, aku memang sengaja datang terlambat karena aku mampir ke makam papa dan mama dulu.
Mira : Begitu ya? Yasudah kalau begitu.
Lara : memangnya ada apa kau ada perlu denganku kah?
Mira : Tadinya aku ingin bicarakan soal jadwal pertemuan Nona dan petinggi Appletree, mereka minta pertemuannya dimajukan jadi lusa. Apa nona bisa?
Lara : Soal itu coba kau tanyakan pada sekretarisku apa aku ada jadwal kosong besok lusa atau tidak.
Mira : Baik kalau begitu aku tutup teleponnya Nona.
***
"Bye!" Lara mengakhiri obrolannya dengan Mira. Saat ini Lara berada di kawasan pemakaman elit tempat kedua orang tuanya dimakamkan. Sambil membawa buket bunga dafodil kesukaan sang ibu, Lara akhirnya tiba di depan makam kedua orang tuanya. Makam kedua orang tua Lara saling bersebelahan, dan makamnya terlihat terurus serta bersih. Lara meletekan masing-masing buket itu diatas nisan kedua orang tuanya. Lara terlihat mengusap kedua nisan itu lalu berdoa.
Dari jarak sekitar lima meter Van memperhatikan Lara yang tengah berdoa dengan tenang dan penuh khidmat di depan makam kedua orang tuanya. "Sepertinya dia sangat rindu pada ayah dan ibunya, Nona Lara kan anak tunggal, apa dia merasa kesepian setelah ditinggal selamanya oleh kedua orang tuannya?" Van menatap penuh iba, ia melihat ke atas langit dengan mata terpejam dan membayangkan bagaimana persaan Lara waktu pertama kali tau ayah dan ibunya meninggal secara bersamaan, pasti hatinya benar-benar hancur saat itu. "Bagaimana dia mengahadapinya di usia yang masih belia?"
"Van..." Bisik Lara.
"Oh Nona aku sudah selesai? Maaf aku tidak melihatmu datang."
"Kau sedang apa? Kenapa kau menengadah keatas dengan mata tetutup?"
"Tidak aku hanya sedang merasakan angin sejuk di musim gugur."
Lara tertawa kecil.
"Ada apa? Apa aku bertingkah konyol?"
Lara menggeleng. "Aku hanya sedikit tidak menyangka, ternyata kau cukup melankolis dalam menikmati keindahan alam."
"Iya sedikit, aku jadi malu," ucap Van
Lara kembali tertawa kecil. Melihat Lara tersenyum dan tertawa begitu membuat hati Van terasa hangat.
"Nona kalau aku boleh tau kapan orang tuamu meninggal?"
"Delapan tahun lalu dalam kecelakaan mobil yang cukup tragis," jelas Lara dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya Lara masih trauma jika ingat hal itu.
"Nona aku minta maaf membuatmu jadi–"
"Tidak kok! Aku memang sedih jika ingat itu, tapi aku tidak mau larut dalam kesedihan." Lara langsung tersenyum seolah ingin memberitahu kalau ia tidak lagi larut dalam kesedihan karena kehilangan orang tuanya. Van jadi merasa cukup lega karena Lara tidak tenggelam dalam kesedihan terlalu lama.
"Sudahlah, lebih baik kita kembali ke kantor. Tidak baik juga bos datangnya terlalu siang."
"Nona tunggu sebentar!" Van tiba-tiba meletakan tangannya di rambut Lara seolah mengusapnya. "Eh kenapa?" Tanya gadis itu terksiap dibuatnya.
"Aku baru saja menyingkirkan kelopak bunga di rambut Nona," jelas Van diikuti senyum tipisnya.
"Oh cuma kelopak bunga, terima kasih ya aku kira apa," ucap Lara sedikit tersipu malu.
"Tidak boleh sampai ada satu kelopak bunga pun di rambut Nona."
"Ah kalau hanya sedikit tidak masalah kok!"
"Tentu saja itu masalah," sanggah Van.
"Kenapa masalah? Kan cuma kelopak bunga."
"Masalah, karena kasihan para kelopak bunga itu mereka jadi kalah cantik kalau disandingkan dengan Nona Lara."
DEGH!
Lagi-lagi jantung Lara mulai berdegup tak beraturan, wajahnya pun jadi merona. Aduh kenapa dia Tiba-tiba bicara begitu sih?
"Nona kepanasan ya? Wajah Nona kok tiba-tiba merah begitu?"
"A- aku tidak kepanasan kok, sudahlah ayo kita kembali ke kantor!" Lara dengan perasaan malu beranjak pergi duluan.
Van hanya bisa tersenyum kecil lalu berkata, "Dia benar-benar manis semanis cherry kalau sedang tersipu malu begitu."
**
Miranda sudah tiba di bandara untuk menjemput Jaden Lee, ia melihat jam tangannya. "Harusnya ia keluar dari pintu ini." Tak lama suara pria yang terdengar agak berat memanggilnya dari belakang.
"Miranda!"
Bersambung...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
kupu-kupu 🦋🦋🦋🦋 pada beterbangan
2023-07-17
1
anisa fadilah
aku kira semanis cerry itu ungkapan ciuman terntanya enggak
2023-01-20
0
hera wati
orang tua nya lara meninggal psti ada sesuaktu di dlm kjdian kcelakaan itu hehe....lanjut ahtoor smngat 45 💪💪
2022-11-09
1