"Ugh! Lepaskan aku!"
Tak lama orang yang memeluk Lara dari belakang itu langsung melepaskan pelukannya.
"Van?" Ternyata orang yang memeluk Lara tiba-tiba itu adalah pengawal pribadinya sendiri. Lara yang tadinya ingin marah-marah, melihat Van memegangi kepalanya dengan raut wajah kesakitan membuat rasa marah Lara berubah jadi khawatir.
"Van, Ke- kepalamu jangan-jangan?"
Lara baru ingat tadi ia mendengar suara kepala yang terbentur benda keras. Apa mungkin dia? Lara melihat di sekelilingnya, dan benar saja ada sebuah batu berukuran sedang tergeletak di dekat mereka. Lara pun langsung mendekati Van untuk memastikan keadaannya. "Kepalamu kena batu, apa kau baik-baik saja?"
Lara seketika dibuat syok saat Van membentangkan satu telapak tangannya yang terdapat noda darah. "Ka- kau terluka karena lemparan batu tadi. Kita harus segera kerumah sakit!" Lara yang panik refleks menarik lengan Van, namun Van malah menahan lengannya agar tidak bisa ditarik.
"Kenapa kau malah menahanku? Kau itu terluka tau!"
"Aku baik-baik saja Nona, lukanya tidak dalam jadi hanya butuh balutan kecil saja sudah cukup."
"Dasar sok jagoan!" Dengan rasa kesal berbalut khawatir Lara mengeluarkan kotak obat mini dari dalam tasnya. Ia menyuruh Van duduk menepi agar dirinya bisa mengobati lukanya.
"Nona kau tidak perlu khawatir aku hanya— terluka kecil."
"Yang bosnya itu aku bukan kau, jadi kau diam saja dan turuti apa yang aku bilang, cepat duduk!" ujar Lara dengan nada kesal.
Kali ini Van hanya bisa menuruti apa yang diucapkan Lara.
"Selesai!" Setelah Lara selesai menutup luka dikepala Van, ia pun segera minta diantar pulang. "Kenapa masih diam saja ayo kita pulang!" Ujar Lara pada Van yang masih tertinggal dibelakangnya.
**
Setibanya di tempat parkir Lara bilang kalau dia yang akan menyetir.
"Tidak!" Van langsung menahan tangan Lara yang ingin membuka pintu.
"Kau itu sedang terluka—"
"Lalu?"
Lara seketika terdiam tidak berani bicara lagi saat melihat tatapan tajam Van yang menatapnya seolah tengah mengintimidasinya.
"Huh! Terserahlah!" Lara akhirnya tak jadi duduk di kursi kemudi dan malah duduk dikursi depan disamping Van. Lara terlihat merengut disepanjang perjalanan, dirinya tidak berkata apa-apa, pandangannya juga selalu saja keluar kaca jendela.
"Nona apa kau marah padaku? Kalau iya apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah lagi?" Van akhirnya memecah keheningan.
"Kenapa kau lama sekali datangnya?"
"Maafkan aku Nona."
"Kalau cuma maaf aku tidak butuh!"
"Lalu Nona mau aku lakukan apa? Apa kau mau terus cuek padaku?"
Lara melirik Van dengan tatapan sinis. "Kau itu cuma pengawal, aku mau cuek itu kan hakku!"
Van pun terdiam. Benar juga yang dikatakan Lara, sebagai bos ia tak punya kewajiban untuk memberi perhatian lebih pada pengawalnya.
"Oh iya kita ke rumah sakit!" Titah Lara.
"Rumah sakit untuk—"
"Aku bilang ke rumah sakit!"
"Baik Nona." Van ingat, didalam perjanjian ia harus menuruti semua perintah Lara.
**
Setibanya di rumah sakit Lara menyuruh Van turun dari mobil, dan mengajaknya ikut masuk ke dalam rumah sakit untuk mengobati luka dikepalanya. Van awalnya menolak, namun lagi-lagi Lara memaksa hingga Van menyerah dan akhirnya mau diobati di rumah sakit.
Setelah diobati dan diperban dengan lebih baik, dokter mengatakan kalau luka dikepala Van tidaklah serius, hanya mungkin akan terasa pusing beberapa saat saja.
*
Mereka berdua kembali ke mobil setelah selesai berobat. Sebelum masuk ke mobil, Lara memberikan Van sebuah kertas bertuliskan alamat unit apartemen yang dibawahnya terdapat digit angka.
"Ini apa?"
"Itu alamat dan password apartemen yang akan jadi tempat tinggalmu mulai hari ini."
"Benarkah?" Van tidak percaya ia dapat apartemen mewah sebagai tempat tinggalnya.
"Sudah jangan lama-lama memandangi kertas itu, cepat antar aku pulang!"
"Baik," Van menurut.
**
Diperjalanan menuju kediaman Hazel, tiba-tiba Lara kembali bertanya apakah kepala Van masih sakit?
"Tidak sama sekali," pungkas pria itu.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya— terima kasih ya, karena kau sudah melindungiku dari lemparan batu tadi sampai membuat kepalamu terluka."
Van tersenyum tipis. "Itu kan memang sudah kewajibanku Nona, jadi kau tidak perlu berterima kasih," jawab Van lembut.
Tiba-tiba entah kenapa Lara jadi gugup melihat Van yang berbicara dengan nada selembut itu. Kenapa dia jadi lembut sekali padaku? Padahal pertama kali bertemu saat dia masih jadi gelandangan, dia mengatakan kalau aku ini cerewet, bahkan dia sempat mengancamku! Apa orang yang kasar begitu kalau sudah diberi uang langsung akan berubah jadi lembut?
**
Setelah mengantar Lara, Van pun pulang ke apartemen yang sudah diberikan Lara untuk ditempatinya. Pria itu langsung merebahkan dirinya diatas sofa panjang mewah yang tertata rapi diruang utama. Van merileksasikan tubuhnya diatas sofa yang empuk dan nyaman itu. "Hem sudah lama sekali aku tidak merasakan berbaring ditempat senyaman ini." Maklum saja, saat masih menjadi gelandangan Van seringkali tidur ditempat umum, mulai dari bangku taman, bahkan dipinggir terowongan kereta.
"Oh iya kertas itu!" Van tiba-tiba ingat sesuatu, ia pun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan secarik kertas lecek dan membacanya. "HIDUPMU TIDAK AKAN PERNAH TENANG NONA HAZEL!" Itu adalah kalimat yang tertulis di surat ancaman yang dilempar bersamaan dengan batu yang mengenai Van tadi.
"Sebenarnya siapa orang yang melempar surat ini? Apa orang dibalik ini juga sama dengan orang yang ada dibalik insiden penyerangan Lara tadi siang?"
Sepertinya Van harus benar-benar mengetahui latar belakang Lara dan perusahaannya, karena ia tidak akan bisa melindungi Lara dengan maksimal jika tidak tau siapa saja orang-orang yang kemungkinan adalah musuh Lara ataupun keluarganya dahulu. Tidak lama ponsel Van berbunyi. Ternyata ada pesan dari Lara;
Nona Lara : "Besok pagi jemput aku pukul 8 jangan sampai terlambat."
Van pun membalas :
"Baik Nona aku mengerti."
Sejujurnya ponsel yang diberi Lara tadi sudah diperbarui isinya oleh Van. Di dalam kontak Van kini bukan hanya ada sekedar nomor Lara atau orang-orang terdekatnya, melaikan banyak nomor orang-orang yang tidak Lara kenal, isi ponsel itu juga sudah dimasukan data milik Van dari ponselnya yang terdahulu.
Untuk mencari tahu soal Lara, Van mencoba mencari tahu lewat media sosial dan website pribadi milik Lara. Disana Van menelusuri semua postingan dan juga isi konten di web pribadi bosnya itu. Senyum kecil Van mengembang sesekali saat melihat isi feed dan konten unggahan Lara. "Isinya sepertinya hanya tentang semua kesukaannya saja." Isi feed Lara rata-rata hanya gambar sketsa dan pemandangan. Hampir tidak ada foto wajahnya terpampang di akunnya, mungkin Lara memang bukan tipe yang suka memposting dirinya sendiri.
"Padahal Nona punya wajah yang sangat cantik dan bentuk tubuh yang indah. Kalau gadis lain seperti dia mungkin sudah setiap hari memposting konten dirinya di media sosial," ujar Van.
Pria itu terus menggeser feed akun pribadi Lara.
"Tunggu dulu!" Van sadar ternyata ada satu foto Lara yang di posting yakni saat dirinya di wisuda tahun lalu. Lara yang menggunakan pakaian wisuda, berdiri di depan taman bunga sambil membawa buket dan tersenyum manis menghadap kamera. Hal itu membuat Van jadi ikut tersenyum melihatnya. Akan tetapi keterangan yang ditulis di postingan itu seketika membuat mata Van tampak sendu.
...Caption :...
..."Ayah dan Ibu lihat, aku sudah lulus! Pasti kalian lihat aku hari ini dari surga."...
Seketika Van langsung keluar dari akun media sosial Lara. Pandangan matanya menunjukan rasa iba yang mendalam, "Gadis ini pasti sangat sering merindukan orang tuanya."
Bersambung...
Jangan lupa diberi like, komentar dan vote biar author semangat 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
makanya lindungi dengan benar ya
2023-07-17
1
Deliani Deliani
van jadi pengawal yang siaga
2022-11-23
0
hera wati
lanjutt thoorr ttp smngatt...
2022-10-12
0