Pak Jah dan Miranda tampak keluar dari lift dan berjalan keluar menuju lobby utama. Disana Mira melihat banyak pegawai wanita yang tampak tengah bergerombol dan saling menggosipkan sesuatu. "Ada apa ini? Kenapa para karyawan perempuan itu berkerumun di ujung lobby sana?" Ucap Mira melihat kerumunan yang terjadi di salah satu sudut lobby utama.
"Sepertinya penampilan barunya membuat heboh para wanita disini," ujar Pak Jah sambil tersenyum kecil.
"Hah? Siapa yang kau maksud?"
Pak Jah mengajak Mira berjalan mendekat ke area dimana para wanita itu berkerumun heboh. Samar-samar Mira bisa mendengar beberapa wanita berceloteh kagum membicarakan ketampanan seseorang.
"Aneh, ada apa sebenarnya? Siapa si tampan yang mereka maksud sebenarnya?" Mira semakin penasaran dibuatnya.
Setibanya di tempat para wanita yang bergerombol itu Mira langsung buka suara, "Ehem! Kalian semua sedang apa disini?"
Hanya dengan satu kalimatnya saja, Mira bisa langsung membuat para pegawai yang di dominasi oleh pegawai wanita itu menoleh menyadari kedatangannya.
"Eh Nona Miranda," Ucap para pegawai perempuan itu dengan dengan wajah panik.
Mira melihat jam tangannya, "Kalian tau ini masih jam kerja, lalu kenapa kalian bergerombol disini?" Tegurnya.
"Um— soal itu karena..." Para pegawai kebingungan menjawab Mira.
"Nona Miranda jangan marah, itu semua karena diriku, nona-nona ini tidak salah—" ucap seorang pria yang suaranya berasal diantara kerumunan tersebut. Pegawai perempuan pun langsung menepi kepinggir guna memperlihatkan sosok yang barusan bicara itu.
Melihat sosok dibalik kerumunan itu Mira pun langsung memicingkan matanya yang menggunakan kacamata dan langsung menginspeksi sosok pria itu. Dia berpakaian rapi, menggunakan setelan jas semi formal, tubuhnya juga tegap dengan tinggi badan sekitar 185 sentimeter dan dia sangat tampan. "Kau ini sebenarnya siapa, bisa-bisanya membuat kerumunan ini terjadi?"
Pria itu berjalan mendekat ke arah Miranda, melihat para karyawan perempuan masih saja berkumpul dan berceloteh soal pria itu, Miranda akhirnya dengan tegas menyuruh mereka semua bubar dan kembali bekerja.
"Nona asisten apa kau ini memang segalak itu ya?" Ungkap si pria dengan nada santai.
Miranda lagi-lagi menajamkan matanya melihat ke arah pria itu. "Kau itu sebenarnya siapa huh? Berani sekali membuat kekacauan di dalam kantor Miracle!"
"Kekacauan apa? Aku hanya berjalan biasa dan entah kenapa para perempuan itu tiba-tiba dengan sendirinya menghampiriku."
"Jawab saja, kau ini sebenarnya siapa sih!?
Mira yang sepertinya sudah mulai hilang kesabaran pada pria tampan itu membuat Pak Jah pun akhirnya harus buka suara. "No- Nona Miranda tolong kau tenangkan dirimu."
"Apa maksudmu Pak Jah? Orang seperti dia memang harus kita beritahu dengan tegas agar tau diri!"
Pak Jah menggaruk kecil kepalanya lalu menjelaskan semuanya pada Miranda. "Sebenarnya pria ini adalah..."
"Apa?!" Mata Miranda terbelalak kaget tak percaya sama sekali. Ia kembali memandangi dengan seksama pria tampan yang ada di hadapannya saat ini. "Jadi ka- kau itu Van, pria gelandangan yang dibawa oleh Nona Lara itu. Tapi bagaimana bisa?" Miranda benar-benar kaget melihat perubahan drastis yang terjadi pada penampilan Van. Bagaimana bisa gelandang lusuh bau dan urakan tadi jadi berubah setampan ini? Mira sampai tak habis pikir.
"Nona asisten apa kau terkejut? Apa kau kagum juga melihatku yang sekarang?" Goda Van.
"Omong kosong! Sudah segera kau menghadap Nona Lara diruangannya, dia memintamu menemuinya sekarang!" Titah Mira yang kemudian berjalan pergi duluan.
"Tuan Van, ruangan Nona ada di lantai delapan," kata Pak Jah memberi tahu.
"Oh Pak Tua kau tidak ikut denganku?"
"Tugasku bukan di dalam kantor, dan sekarang aku harus mengantar Nona asisten bertemu klien jadi pergilah sendiri temui Nona."
"Begitu ya, baiklah Pak Tua," Van pun pergi melewati Pak Jah. Pak tua itu menoleh memandangi Van yang berjalan memunggunginya. "Aku harap pemuda itu sungguh-sungguh menjaga Nona Lara."
**
Diruangannya Lara terlihat sedang serius membaca dokumen penting.
Ding dong! Bel di ruangan Lara berbunyi.
"Masuklah," ujar Lara sambil terus membaca dokumen.
Pintu ruangan terbuka, suara langkah kaki itu berjalan mendekat ke meja yang kini tengah ia gunakan Lara untuk membaca. Kali ini Lara tak bisa abai, langkah kaki itu seolah menarik dirinya agar segera berhenti membaca dan melihat siapa yang datang.
"Nona memanggilku?"
Lara langsung terkesiap dibuatnya saat melihat sosok pria yang saat ini menghadap di depan meja kerjanya. "Ka- kau siapa?"
Pria itu tersenyum tipis lalu menjawab, "Apakah kau tidak bisa ingat suara pengawal pribadimu sendiri?"
"Apa! Jadi kau?" Lara memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut pria itu dengan seksama. "Van ini sungguh dirimu?" Ujar Lara masih tak percaya kalau pria dihadapannya itu Van pengawalnya.
"Memangnya siapa lagi? Kau kan yang meminta Pak Jah agar merapikan penampilanku."
Astaga? Jadi orang dibalik penampilan gelandangan lusuh urakan tadi sebenarnya pria ini, bagaimana bisa dia ternyata setampan ini? Wajah Lara tiba-tiba memerah.
"Nona apa kau kepanasan? Wajahmu memerah."
Lara auto salah tingkah, "Oh ti- tidak bukan begitu, a- aku hanya sedikit gerah saja sepertinya pendinginnya agak kurang dingin."
"Bagitukah, lalu apa tujuan Nona memanggilku kemari?"
Lara hampir saja lupa dengan tujuan sebenarnya ia memanggil Van keruangannya. (Bahkan secantik Lara pun terpesona dengan penampilan baru Van hehehe)
**
Di perjalanan menemui klien, Miranda yang diantar oleh Pak Jah pun bertanya, "Pak Jah tentang Van dia–"
"Dia sangat tampan bukan begitu?" Guraunya.
"Ah bukan itu yang mau aku bicarakan."
"Lalu?"
"Sebagai orang yang sudah lama sekali berada di dekat Nona Lara, bagaimana menurutmu? Apa kita bisa percaya pada Van untuk jadi pelindung pribadi Nona Lara?"
Sepertinya hal yang di khawatirkan Pak Jah dan Miranda sama yakni tentang rasa percaya terhadap Van.
"Aku juga sejujurnya masih belum sepenuhnya percaya pada pemuda itu, tapi aku melihat Nona Lara sepertinya sangat yakin jadi kali ini aku rasa kita cukup memantaunya saja."
"Menurutmu begitu ya?" Miranda sepertinya masih ragu.
"Kenapa Nona asisten tampak sangat tidak yakin pada Tuan Van?"
"Sejujurnya aku tidak percaya padanya karena aku belum lihat sendiri dia menjaga Nona Lara. Aku takut kalau ternyata dia hanya memanfaatkan Nona agar bisa hidup enak. Kau tau kan jaman sekarang ini, bahkan orang miskin pun akan berubah jahat dan tidak tau diri jika menyangkut masalah uang."
"Kurasa kau tidak perlu sekhawatir itu Nak. Bukankah kita juga harus memberikan kepercayaan kepada Nona Lara?"
Yang dikatakan Pak Jah memang benar, Mira harus setidaknya menghargai dan percaya kepada keputusan Lara sebagai seorang pemimpin Miracle saat ini.
***
Lara dan Van duduk saling berhadapan di sofa yang ada diruangan. Tak Lama Lara mengeluarkan lembaran kertas dan pulpen lalu meletakannya diatas meja.
"Apa ini?" Tanya Van.
"Kontrak kerja."
Van menaikan satu alisnya sambil menatap lembaran kontrak tersebut. "Lalu kau ingin aku menandatanganinya kah?"
"Iya benar sekali."
Van membaca kontrak itu dengan cepat lalu tanpa berlama-lama ia pun langsung menandatanganinya. Lara sedikit terkejut melihat Van yang tidak terlebih dulu membaca kontrak itu. "Kau bisa membaca bukan?"
"Ya aku bisa."
"Lalu kenapa kau tidak membaca kontraknya dengan benar dan malah langsung menandatanganinya?"
Van menatap Lara dengan tatapan matanya yang tajam. "Tidak perlu, karna aku sudah setuju menjadi pelindungmu maka tugasku pun sudah jelas, yakni melindungimu kapanpun dan dimanapun."
Bersambung...
Teman-teman jangan lupa Like, comment, vote biar author nulisnya semangat 💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Ndo Ndoe lumut
bahasanya kaku
2024-06-22
0
Berdo'a saja
iyaa semoga Van setia
2023-07-17
0
May Tanty
cerita nya bagus semoga di bab2 selanjut nya tidak membosan kan seperti cerita novel2 lain
2023-05-29
0