Jeden baru saja kembali dari toilet. "Maaf ya membuat kalian berdua menunggu," tukasnya dan kembali duduk bergabung dengan Lara dan Mira.
"Tidak masalah," balas Lara santai sambil menikmati makanannya yang sudah mau habis.
Suasana jadi terasa agak kaku melihat Jeden yang jadi tampak berhati-hati saat bicara karena ia tidak mau lagi dipojokan oleh Lara ataupun Mira. Pria itu terlihat hanya memainkan makanannya sambil bengong memikirkan sesuatu.
Apakah ia sedang memikirkan rencana licik?
"Ehem!" Deham Lara memecah keheningan. "Tuan Jeden, kalau kau tidak suka makanannya, lebih baik kau bungkus saja bawa pulang dan berikan kepada hewan peliharaanmu."
Jeden langsung sadar kalau yang dilakukan dirinya dari tadi ternyata hanya memotong-motong daging tanpa menyuapnya ke mulut. "Oh- ini karena— tiba-tiba saja aku merasa sudah kenyang, jadi aku tidak sanggup lagi makan."
"Yasudah kalau begitu kau bawa pulang saja, tidak baik kalau harus membuang sisa makanan sebanyak itu. Ingat diluar sana masih banyak orang yang kelaparan, tidak sepertimu yang bisa kapan saja membuang uang," tukas Lara dengan nada menyindir.
Jeden memicingkan matanya. Apa maksudnya dia bicara begitu? Gadis ini sepertinya semakin tajam saja lidahnya.
Jeden melihat ke jam arloji mahal miliknya. "Oh iya Nona-nona, maaf tapi sepertinya aku harus pergi duluan karena ada urusan pribadi yang harus aku lakukan."
"Terburu-buru sekali?" Tanya Lara.
"I -iya karena ini mendadak." Padahal jelas sekali kalau motifnya sengaja ingin meninggalkan pertemuan saat ini. "Kalau begitu aku duluan ya."
"Tunggu, kau kembali naik apa?" Tanya Mira. Pasalnya tadi Jeden juga datang dengan dijemput Mira.
"Soal itu bisakah aku meminjam mobilmu Mira? Lagipula kunci mobilnya masih ada padaku."
Mira yang mau menjawab malah Lara yang duluan menjawabnya. "Yasudah kau pakai saja lagipula itu mobil kantor, biar Mira pulang bersama denganku."
"Baiklah kalau begitu aku duluan, sampai ketemu besok di kantor." Jeden pun akhirnya pergi.
"Kau lihat kan Mira? Pria itu sengaja pergi karena takut aku tanya lebih jauh soal perjalanannya ke tokyo!" Gerutu Lara.
"Kau benar Nona, tapi tenang saja. Cepat atau lambat kau akan membuatnya tak bisa berkilah lagi."
"Ya, semoga saja. Soalnya aku sudah muak dengan orang-orang yang hanya jadi benalu di perusahaan Papa." Lara ingin membersihkan perusahaan dari orang-orang kotor yang suka berlaku seenaknya hanya karena memiliki jabatan. Tapi mengusir Jeden tak semudah itu, pasalnya pria itu punya 20% saham Miracle.
"Nona kau melamun?"
"Eh, tidak kok! Ada apa?"
Mira bertanya apa mereka akan balik sekarang atau tidak. "Soal itu..." Lara jadi ingat Van yang sedari tadi masih belum juga kembali.
"Maaf mambuat Nona jadi menungguku," Ujar seseorang yang baru datang.
"Van, kau darimana saja?" Tanya Lara penasaran.
"Aku pergi mencari udara segar, aku tidak mau merusak acara makan siang Nona dengan Nona Mira dan—?" Van melihat ada 3 sisa bekas makanan. Seharusnya ada satu lagi orang bersama mereka saat ini. Tapi dimana orang itu?
"Tuan Jeden Lee sudah pergi duluan," pungkas Mira melihat Van sepertinya ingin tanya soal itu.
"Iya dia sudah pergi, jadi Mira akan pulang bersama kita," imbuh Lara.
**
Setelah keluar restoran ketiganya pun ke mobil. Tadinya Lara diminta duduk dibelakang bersama Mira, tapi dirinya malah memaksa ingin duduk disamping Van yang menyetir.
Mau bagaimana lagi, baik Mira dan Van tentu saja tidak bisa memaksa nona kecil mereka itu duduk dimana.
**
Di perjalanan pulang dari restoran, tampaknya Lara tak banyak bicara, bahkan ia terlihat tenang sekali. Mira yang memperhatikannya jadi merasa aneh, pasalnya Mira kenal betul dengan karakter Lara yang agak cerewet dan suka sekali berbicara dimanapun dan kapanpun. Tapi kenapa kali ini dia diam sekali? Apa karena...? Mira yang duduk di kursi belakang tiba-tiba memperhatikan Van yang tengah fokus menyetir. Mira berpikir apa karena tidak terlalu akrab dengan Van, membuat Lara jadi tak banyak bicara seperti biasanya. Aku jadi penasaran dengan komunikasi antara Lara dan Van kalau sedang hanya berdua saja, apa sama seperti saat ini?
"Nona Miranda, apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?" Ujar Van tiba-tiba.
Eh pria ini padahal sepertinya sejak tadi pandangannya lurus, kenapa dia bisa tau kalau aku tengah memperhatikannya? Orang ini mengerikan. "Oh tidak kok, mungkin Nona Lara yang mau bicara?" Miranda memancing Lara agar tidak diam saja.
"Eh? Ti- tidak kok, tidak ada yang mau aku katakan saat ini," ungkap Lara agak canggung. Sejak Lara berpikir ia suka dengan Van dirinya jadi suka merasa agak canggung kalau di dekat pengawalnya itu.
"Oh iya, kalau aku boleh tau Tuan Jeden itu siapa?" Tanya Van tiba-tiba.
"Jadi kau belum tau ya?" Sahut Mira. Oh iya tadi Van belum sempat lihat Jeden kan saat di restoran?
"Dia direktur marketing di Miracle, dia itu dulu teman seangkatan Miranda saat SMA dan dia juga seniorku dulu saat kuliah," jelas Lara.
"Oh, pasti dia pria yang hebat ya?"
"Huh?" Lara dan Mira dibuat tercengang mendengar perkataan itu dari bibir Van.
"Kau kan belum pernah lihat, bagaimana bisa menilai begitu?" Ujar Lara.
"Hanya menebak."
"Hem, aku sih tidak yakin dengan tebakanmu," balas Lara.
"Begitu ya? Tapi pasti dia tampan kan?" Tanya Van sambil melirik Lara seolah menggodanya.
"Entahlah..."
"Jadi apa Nona suka pada Tuan Jeden Lee itu?"
"Kau itu bicara apa sih, sudah diam!"
"Baiklah Nona."
Dikursi belakang Mira yang melihat Lara dan Van malah jadi bingung sendiri. Tadi mereka diam-diaman dan sekarang tampak akrab. Mira juga melihat Van seperti sesekali menggoda Lara dengan ucapannya meski tak terang-terangan. Mereka ini sebenarnya hubungannya dalam berkomunikasi bagaimana sih? Mira jadi semakin terheran-heran dibuatnya.
Oh iya, Mira baru ingat kalau tadi pagi Lara sempat meneleponnya kan. "Ngomong-ngomong Nona Lara, tadi pagi sekitar jam dua pagi kau meneleponku kan, memangnya ada apa? Maaf ya aku malah ketiduran saat mengangkatnya."
Lara setika dibuat kaget. Astaga kenapa Mira ingat itu? Bagaimana aku menjawabnya? Karena tidak mungkin Lara bilang di depan Van kalau sebenarnya tujuan Lara telepon Mira pagi-pagi buta adalah tidak bisa tidur karena kepikiran terus pada pengawal pribadinya itu. "Oh itu— um, soal itu aku cuma iseng saja kok! Soalnya aku semalam agak susah tidur," jelas Lara.
"Begitu ya?"
"Iya begitu."
Mira merasa jawaban Lara sepertinya tidak sepenuhnya jujur. Terlebih akhir-akhir ini Lara juga jadi suka agak aneh. Ada apa dengannya ya?
Kali ini Van hanya diam saja karena tidak paham bahasan Lara dan Mira. Tapi Van juga jadi penasaran kenapa Nonanya itu semalam sampai tidak bisa tidur? Apa karena kepulangan Jeden Lee? Kalau iya begitu, kenapa hati ini tidak senang rasanya.
**
Di apartemennya Jeden melepas bajunya yang basah tadi, sambil terus mulutnya mengoceh dan memaki karena kesal mengingat kejadian tadi di restoran. "Bisa-bisanya kau menekanku begitu Lara Hazel! Kau pikir kau itu berhadapan dengan siapa?"
Meskipun Jeden menyukai Lara, namun keinginannya untuk menguasai Miracle sepertinya lebih dari rasa sukanya pada gadis itu. "Kau tunggu saja, aku akan beri kau pelajaran karena sudah berani padaku tadi!" Jeden sepertinya punya rencana tidak baik pada Lara.
"Ugh!" Tiba-tiba Jeden memegangi bahunya. "Kenapa sakitnya belum hilang, padahal hanya tabrakan biasa, tapi... orang yang menabrakku tadi bahunya benar-benar keras. Apa dia seorang atlet atau petarung?"
Bicara soal bertarung, Jeden jadi ingat kata Mira kalau sekarang ini Lara punya pengawal pribadi. "Aku jadi penasaran, seperti apa pengawal pribadi Lara itu?"
**
Di kantor tiba-tiba Lara dapat telepon dari pimpinan brand Appletree, dia bilang akan menunggu Lara besok dikantornya.
"Anda tenang saja, besok pagi aku akan datang sendiri sesuai dengan yang kita sudah janjikan," tukas Lara di telepon.
...
"Baik Nona, sampai jumpa besok."Lara mengakhiri percakapannya ditelepon.
"Besok, aku harus bisa membuat pimpinan Appletree itu yakin untuk menjalin kerjasama dengan Miracle!" Lara sepertinya cukup percaya diri untuk besok.
Bersambung....
Jangan lupa di vote, like, di komentarin ya...💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Berdo'a saja
jeden jahat ternyata
2023-07-17
2
Muhammad Pratama
semakin seru kayaknya
2022-09-03
0