Pukul sembilan pagi Lara berangkat mengunjungi kantor Appletree diantar oleh Van. Sejak awal masuk ke dalam mobil, Van tidak henti-hentinya mencuri-curi pandang melirik Lara yang duduk disebelahnya. Van merasa entah kenapa penampilan Lara hari ini lebih cantik dari biasanya. Ditambah lipstik merahnya membuat Lara terlihat lebih dewasa dan seksi. Apa yang aku pikirkan? Pria itu berusaha tetap fokus, tapi bau parfum Lara yang beraroma manis dan segar membuat Van benar-benar tidak tahan. Beberapa kali jari Lara menyelipkan rambutnya yang indah ke telinga. Van bisa melihat jelas tengkuk indah milik gadis itu hingga membuatnya menelan ludah beberapa kali.
"Kau haus ya?" Tanya Lara-tiba.
"Ti- tidak Nona aku tidak haus."
"Tapi aku lihat tadi kau beberapa kali menelan ludah, aku pikir tenggorokanmu kering?"
"Tidak Nona aku tidak haus,"
Sial aku ketahuan, ayolah yolah tahan dirimu Van! Maki Van di dalam pikirannya.
Ya mau bagaimanapun Van adalah pria dewasa yang normal, jadi wajar sekali bereaksi seperti itu melihat seorang wanita yang sangat menarik berada di dekatnya.
**
Lara akhirnya tiba di kantor Appletree, ia diantar oleh Van sampai masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke ruangan pimpinan Appletree.
Di dalam lift Van bertanya. "Nona, apa tidak apa-apa kau sendirian saja?"
"Tidak apa-apa, lagipula ini pertemuan pentingku dengan pimpinan Appletree, jadi aku harus bertemu dengannya sendiri."
"Yasudah kalau begitu aku akan tunggu Nona di lobby utama, tapi jika ada hal aneh sedikit saja tolong segera hubungi aku."
Lara mengangguk paham. Tak terasa lift sudah hampir menujukan lantai 9, dimana itu adalah lantai tempat pimpinan perusahaan Appletree berada.
"Oh iya Van sebelum liftnya terbuka aku mau tanya."
"Tanya apa Nona?"
Lara merapikan rambut dan pakaiannya. Ia menghadap Van lalu bertanya, "Menurutmu apa hari ini aku cantik?"
"Apa?" Van agak tercengang mendengar pertanyaan Lara.
"Kenapa seperti kaget begitu? Aku jelek ya?"
Van terkekeh kecil lalu mendekatakan bibirnya di telinga Lara dan berbisik, "Nona Lara, satu fakta yang harus kau tau yaitu, Nona akan selalu jadi yang paling cantik dimanapun berada."
Lara tertegun, wajahnya langsung merah merona dibuatnya dengan ucapan Van barusan.
Tak lama pintu lift pun terbuka, "Nona sudah terbuka pintunya."
Lara pun tersadar dan segera keluar dari lift.
"Semoga berjalan lancar Nona," ucap Van.
Dari selah-selah pintu lift yang tertutup Lara bisa melihat Van tersenyum kecil menatapnya. Suasana hati Lara jadi semakin baik. Seketika ia pun optimis bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengan Appletree.
**
Lara berjalan menuju ruang pimpinan. Di dekat ruangan itu ada meja sekretaris, dimana Lara langsung disambut oleh nona sekretaris itu. "Nona Lara Hazel, silakan masuk Nona Karina Foster sudah menunggu di dalam," ucap sekretaris itu.
Karina Foster? Lara sepertinya merasa tidak asing dengan nama itu.
"Baik terima kasih." Lara pun memasuki ruangan pimpinan Appletree. Setibanya di dalam ruangan Lara langsung disambut oleh suara seorang wanita. "Selamat datang di ruanganku Nona Lara Hazel, senang bisa bertemu denganmu lagi."
Mata Lara langsung tertuju kepada sosok wanita cantik dengan tinggi badan 170 sentimeter yang menyambutnya itu. "Ka- Karina?"
"Ya, ini aku Karina Foster, seniormu dulu di sekolah menengah. Kau masih ingat aku kan?"
Lara tersenyum miring. "Mana mungkin aku lupa dengan Kakak seniorku yang paling populer, dan sekarang dia adalah pimpinan dari salah satu perusahaan brand pakaian paling laris dinegeri ini. Wow!"
"Terima kasih sanjungannya, sungguh kehormatan dipuji oleh seorang Lara Hazel siswi paling terkenal sejak pertama masuk sekolah."
Melihat dari cara mereka bicara, sepertinya hubungan Lara dengan Karina dulu tidak terlalu bagus.
Wanita yang ada di hadapan Lara saat ini adalah kakak kelas Lara sekaligus pimpinan Appletree, salah satu perusahaan brand mewah lokal yang kini tengah naik daun. Lara juga cukup mengagumi brand pakaian itu.
"Apa kabar Nona Lara Hazel?'
"Baik,"
"Silakan duduk," Karina mempersilakan Lara duduk lalu membawakannya minuman.
"Jadi maksudmu mengundangku langsung adalah, ingin melihatku seolah merasa membutuhkan dirimu begitu?" Tanya Lara to the point.
Karina tertawa kecil seolah mengiyakan pertanyaan Lara. "Tidak juga tapi itu salah satunya. Aku memang ingin melihatmu seolah memohon padaku."
Lara tersenyum kecut, "Kau masih tidak suka padaku ya senior?"
"Memang semua orang harus suka padamu seperti di sekolah kita dulu?" Ujar Karina sinis.
"Tidak sih, tapi kita kan sekarang sudah dewasa. Jadi aku rasa hal-hal seperti persaingan di sekolah dulu sebaiknya tidak perlu diingat-ingat lagi."
Karina menatap Lara sinis. Ia teringat akan dimana dirinya dulu pernah dianggap ratu sekolah paling populer, namun ditahun ketiganya tiba-tiba saja kepopulerannya tergeser akibat Lara yang saat itu siswi baru langsung jadi idola disekolah. Hal itu membuat Karina merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Lara yang notabennya adalah juniornya disekolah. Dan sejak saat itulah Karina menjadi tidak suka dengan Lara sampai sekarang.
Lara menghela nafas, "Begini saja, Nona Karina aku minta maaf kalau kau tidak suka padaku. Tapi kali ini aku harap kita bisa sama-sama profesional dengan tidak melibatakan permasalahan pribadi ke dalam bisnis. Karena jujur, aku datang kemari dengan membawa nama perusahaanku untuk melakukan penawaran kerjasama dengan perusahaanmu."
Sial! Apa dia secara tidak langsung mengejekku tidak profesional? Tapi yang dia katakan benar juga, sebagai pimpinan aku tidak boleh kehilanga profesionalitasku.
"Oleh karena itu aku bawakan proposal kerjasama yang bisa kau pelajari dulu." Lara menyerahkan proposal yang sudah ia bawa untuk dibaca Karina.
**
Di kantor Miracle Jaden tampak berjalan menuju ke ruangan Lara. Mira yang kebetulan lewat depan ruangan Lara pun bertanya, "Tuan Jeden, apa kau ingin bertemu Nona Lara?"
"Iya."
"Aku sarankan kau kembali saja nanti, karena saat ini Nona Lara sedang pergi ke pertemuan bisnis dengan pimpinan perusahaan Appletree."
"Begitu ya? Oh iya Miranda, sepertinya kau itu dekat sekali ya dengan Nona Lara? Aku jadi teringat dengan kisah suatu perusahaan yang sudah lama bangkrut. Disana banyak pegawai yang kerja hanya karna punya hubungan dekat dengan petinggi perusahaan. Hal itupun menyebabkan budaya nepotisme besar-besaran, akibatnya terjadi kekacauan dalam perekrutan SDM dan akhirnya perusahaan itu pun bankrut."
Sontak mata Mira pun menajam menatap Jeden. Wanita itu tau persis kalau Jeden Lee kini sedang mencoba menyindirnya.
"Hei kenapa menatapku begitu?"
"Tidak apa-apa Tuan Jeden, aku hanya sedang melihat anda sepertinya sedang menyindir diri sendiri."
"Apa maksudmu!?"
"Ah bukan apa-apa. Permisi"
"Tunggu dulu!" Jeden menghalangi Mira yang mau pergi. "Dengar Miranda, sedekat apapun kau dan keluargamu dengan Lara, kau tetap saja hanya bawahan disini, jadi kau harus tau diri!"
"Terima kasih sudah mengingatkan Tuan, tapi aku juga ingin kau tau, walaupun kau juga pemegang saham Miracle, tetap saja Nona Lara adalah CEOnya," balas Lara lalu pergi.
"Cih! Asisten sialan! Lihat saja, aku juga akan memberimu pelajaran karena sudah berani menentangku." Sepertinya Jeden semakin serius melakukan rencana liciknya pada Lara dan orang-orangnya.
**
Karina baru saja selesai membaca proposal kerjasama yang ditawarkan oleh Lara.
"Jadi bagaimana Nona Karina, anda tertarik untuk menjadi salah satu partner Miracle?"
Miranda menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Um, sejujurnya proposalmu menarik, tapi jujur saja aku masih butuh pertimbangan untuk bekerjasama. Oleh karena itu beri aku waktu tiga hari untuk memutuskan."
"Begitu ya? Tapi kau begini bukan karena rasa tidak sukamu padaku kan Nona Karina?"
"Tentu saja tidak, walau aku tidak suka padamu tapi aku ini profesional kalau urusan bisnis." Walau sebenarnya juga karena rasa tidak suka.
"Syukurlah kalau begitu." Lara tersenyum palsu sambil menggerutu di dalam hati. Wanita ini menyebalkan sekali sih! Sejujurnya Lara kesal dengan kesombongan Karina, tapi bagaimana pun ini bisnis jadi harus dihadapi dengan pikiran dingin dan rasional.
*
Van yang merasa bosan pun memilih berkeliling kantor Appletree sebentar, namun saat ia berkeliling tiba-tiba saja Lara meneleponnya.
Van : Iya Nona
Lara : Aku sudah selesai dan kini sedang ke toilet sebentar, kau tunggu aku segera di lobby ya...
Van : Baik Nona aku akan menunggumu disana.
Van menutup teleponnya dan bergegas menuju lobby sebelum Lara keluar dari toilet.
Karina yang baru saja kembali dari toilet tiba-tiba dibuat tercengang saat dirinya berpapasan dengan seorang pria yang sepertinya tidak asing lagi baginya. "Pria itu kan?" Karina segera menoleh kebelakang dan memanggil pria itu "Hei Tuan tunggu!"
Merasa tak ada pria lain selain dia, pria yang tak lain adalah Van itupun menoleh. "Kau memanggilku Nona?"
"Iya aku menggilmu," ucap Karina menghampiri.
"Ada apa Nona?"
"Kau masih ingat denganku kan?"
Van memicingkan matanya, meingingat-ngingat sosok wanita dihadapannya itu. "Oh iya aku ingat, kau kan—" Akhirnya Van ingat juga.
"Iya kau benar, aku adalah pemilik tas yang dicopet yang sudah kau tolong waktu itu. Ngomong-ngomong kau sedang apa disini?"
"Aku hanya sedang menemani seseorang. Nona, maaf tapi aku harus segera pergi!"
"Tunggu sebentar!" Karina menarik tangan Van.
"Nona tolong lepaskan aku!"
"Aku akan lepaskan tapi setidaknya beritahu dulu namamu."
"Namaku Van, permisi!" Ujar Van sambil melepaskan tangannya dari Karina lalu pergi.
"Jadi namanya Van," ucap Karina sambil senyum-senyum.
Bersambung...
Jangan lupa vote, like, comment ya~💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 223 Episodes
Comments
Selvanus Sengiang
lanjut Thor 👍
2023-08-22
1
Berdo'a saja
yah kenapa
2023-07-17
0
Muhammad Pratama
mbak Karina naksir ya
2022-09-03
0