"Apa kamu benar-benar mau menunggu ku?"
"Tentu. Lagipula aku juga tidak ada keperluan saat ini."
"Baiklah. Aku pergi dulu ya."
Tina berlari dengan berkas yang ia dekap di dadanya menuju ruang guru. Sementara itu Alice menunggu sambil melihat pemandangan akademi yang sudah lama ia tinggalkan dan juga para murid yang berlalu-lalang.
Banyak pasang mata yang tidak percaya dengan sosok gadis jelita di hadapan mereka. Bagi mereka yang belum mengenalnya, sama sekali tak ada keraguan untuk mendekatinya dan mengajaknya makan malam, kencan dan hal-hal lainnya.
Alice beberapa kali menghela nafasnya melihat tingkah para pria muda itu. Meski ia berusia 15 tahun saat ini tapi mentalnya telah berusia ratusan tahun dan jika harus diibaratkan kan maka ia bahkan lebih tua dari siapapun yang ada di akademi itu.
Waktu terus berlalu dan Alice merasa kalau Kepergian Tina sudah begitu lama hanya hanya untuk ke ruang guru. Ketika Alice beranjak dari tempatnya dan ingin pergi menyusul Tina sebuah suara percakapan menghentikan langkah kakinya.
"Kalian Lihat tidak anak busuk tadi itu?" Ucap salah seorang pria dari ketiganya lalu di susul oleh tawa kedua temannya yang lain.
"Aku tidak tahu siapa yang melakukan itu padanya tapi dia pantas mendapatkannya. Heh, jangan kira bergaul dengan kita berarti dia setingkat dengan kita. Dasar rakyat jelata tak berguna."
Seketika percikan amarah timbul dalam dadanya. Alice menahan dirinya dan tetap bersikap tenang sambil ia mendengarkan percakapan mereka. Ia baru saja bertemu dan berteman dengan Tina di hari yang sama. Jika dia juga harus memberikan pelajaran pada pelaku yang menyiksa Tina bukankah itu sama seperti dia membuat dirinya berada di tepi jurang?
"Jebakan? Atau hanya berita belaka?" Alice kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang guru setelah ia mendengarkan obrolan singkat ketiga orang tadi. Setibanya disana ia tak menemukan Tina dan mulai mencari di area sekitar ruang guru.
Alice berjalan menuju tempat yang cukup sepi, tempat yang cukup jauh dari ruang guru dan keramaian. "Sudut ini memang bagus untuk melakukan tindak penganiyaan tanpa diketahui."
Alice kemudian melihat Tina yang sedang melingkupi lututnya duduk di atas rumput dengan pakaian yang basah dan bau yang menyengat. Melihat keadaan Tina, Kepalan tangan Alice mengeras seketika.
"Tina..." Panggil Alice pelan.
Tina menoleh dan menatap Alice. Sorot matanya bukanlah kesedihan tapi ketakutan. Dengan menggelengkan kepalanya perlahan, Alice tahu kalau seseorang sedang memanfaatkan Tina untuk menjebak dirinya. Alice berhenti sejenak dan menggunakan kesadarannya untuk merasakan kehadiran yang ada di sekitarnya.
"Satu orang di atap untuk mengawasi dan tiga lainnya sedang berjalan kemari. Bagus juga tapi sayangnya kalian terlalu memandang rendah diriku." Gumamnya.
Alice terus berjalan mendekati Tina, Ia lalu mengeluarkan sehelai kain untuk mengelap wajah dan beberapa bagian yang basah pada pakaian Tina. "Apa yang sudah terjadi?" Tanya Alice lembut saat ia meraih kedua tangan Tina.
Bibir Tina kaku dan seolah tertutup rapat. Ia hanya mengeluarkan Air mata. Alice tidak tahu skema siapa yang begitu licik untuk melihatnya dikeluarkan dari akademi. "Apakah aku hidup di Istana kekaisaran atau sekolah?" Tanya Ironis dalam batinnya.
Kemampuan drama dan berpura-pura sudah ia lihat ratusan hingga ribuan kali di Istana kekaisaran para raja dan pangeran. Para selir saling menikam satu sama lain. Topeng palsu dan persahabatan yang bagaikan ular yang kelaparan itu bukanlah sebuah permainan anak-anak. Alice menggelengkan kepalanya lalu ia meraih lengan Tina dan membantunya berdiri.
"Ti-tidak. Alice..lebih baik kamu pergi...mereka..." Ucap suara pelan dan terbata-bata milik Tina.
"Tidak apa-apa. Aku tahu. Kau tidak perlu khawatir."
Ketika keduanya berdiri saling berhadapan. Suara langkah kaki terdengar dari salah satu lorong gedung. Perlahan sosok pria dengan rambut hijau bergaya ikatan ekor kuda dengan mata coklat dan seragam rapi mulai terlihat bersama dengan dua orang gadis remaja di sisinya.
Pria itu mengenakan sebuah lencana di dadanya yang melambangkan bahwa dirinya adalah pelaksana kedisiplinan dan ketertiban di akademi itu.
"Lihat bukan! Aku tidak bohong! Dia benar-benar melakukannya lagi." Tegas salah satu gadis sambil menunjuk ke arah Alice.
"Iya benar. Kami sendiri melihatnya tadi, makanya kami memanggilmu kesini." Lanjut gadis yang satunya.
Pria itu diam sejenak dan menyipitkan matanya saat ia memandang Alice. "Nona Alicia Lein Strongfort, apa ada sesuatu yang ingin anda jelaskan?" Tanya ia menggunakan bahasa formal dan sopan.
Pria itu berjalan mendekat diiringi dengan kedua gadis yang bersamanya.
"Tidak ada. Apa yang kau lihat maka seperti itulah kenyataannya." Balas Alice dengan tenang.
"Jadi...Apa anda mengatakan kalau-"
"Tetapi mata dan telinga itu, tidaklah di tempatkan di tempat yang sama." Lanjutnya memotong kalimat pria itu.
Apa yang Alice Isyaratkan adalah mata dan telinga tidak selamanya mendengar dan melihat sesuatu yang sama.
Pria itu kembali terdiam. Ia tahu orang seperti apa Alice jika dihadapkan pada situasi yang seperti ini. Berdasarkan sepengatahuannya, memberontak atau membawa-bawa nama keluarganya bahkan mengancam korban dan saksi mata adalah hal yang seharusnya ia lakukan. Tapi Alice yang di depannya terlihat begitu tenang dan santai.
"Apa lagi yang kau tunggu. Sebaiknya bawa saja dia dan laporkan pada guru." Desak salah gadis di sampingnya.
"Iya. Bukankah buktinya sudah jelas di depan mata. Lihat gadis itu!" Lanjut gadis yang lainnya menunjuk Tina berusaha menguatkan tuduhannya.
Alice tersenyum sinis melihat tingkah kedua gadis itu dan begitupun pria itu yang merasa risih dengan keduanya. "Ck, berisik!" Benaknya.
"Satu lagi, hmm..."
"Andrew. Andrew Gilbert."
"Satu lagi Tuan Gilbert. Aku ingin bertanya, Apakah anda begitu luangnya sampai bisa di seret oleh kedua gadis itu kemari?" Sindirnya.
Andrew melirik kedua gadis di belakangnya dan melihat Tina yang basah dan gemetaran.
"Berdasarkan laporan mereka kalau anda telah melakukan tindak penganiyaan pada murid yang ada di samping anda." Lalu kemudian Andrew berjalan makin mendekat. "Melihat korban tampak syok. Sepertinya saya akan sulit untuk meminta keterangan padanya. Karena itu, mungkin lain kali kami akan meminta waktu anda."
"Tentu. Kalau begitu aku permisi."
Ketika Alice berjalan melewatinya. Andrew sedikit mendekatkan kepalanya. "Danau di belakang akademi setelah lonceng malam. Demi kebaikan anda." Bisiknya membuat Alice tersenyum sambil menolehkan kepalanya pada Andrew.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments