Setelah menyantap riang sarapan pagi bersama ibunya. Alice yang tengah sendirian di kamarnya mulai memeriksa kondisi tubuhnya. Dia adalah seorang dokter sekaligus kultivator ternama di kehidupan sebelumnya. Alice menutup matanya dan memeriksa setiap inci organ dalamnya. Urat nadi, tulang, persendian dan beberapa lainnya dicek satu persatu.
"Luka-luka ku memang sudah pulih tapi peredaran darahku belum normal ditambah masih ada sedikit gumpalan darah pada bagian kepala. Inilah yang membuat kepalaku sedikit sakit saat bergerak." Batinnya. "Kurasa aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua hal itu. " Alice kemudian duduk dan menarik kakinya kedalam untuk duduk bersila. Perlahan menarik nafas dan menghembuskannya.
" Tubuhku tak memiliki pondasi yang kuat, bahkan stamina ku dalam keadaan terkikis hampir seluruhnya. Setelah melewati tahap kritis. Kurasa aku hanya bisa memulihkan diriku hingga tahap ini saja."
Setelah bermeditasi cukup lama. Alice mengganti gaunnya yang tampak basah kuyup karena keringat.
"Setidaknya kepalaku sudah terasa ringan dan tenagaku sudah ada untuk berjalan-jalan sebentar. Yah meski begitu aku merasa ada sesuatu yang hilang."
Di pagi hari yang cerah dengan udara yang masih cukup sejuk. Untuk pertama kalinya Alice melangkah keluar dari kamarnya dalam keadaan yang sangat sempurna. Alice yang begitu bahagia berjalan seorang diri menyusuri koridor rumahnya.
" Aku tidak pernah tahu kalau rumah ini terasa begitu luas dan nyaman. " Gumamnya.
Alice kemudian berhenti pada sebuah taman bunga yang indah.
Berjalan menuju gazebo kecil. Alice melihat-lihat keadaan sekitarnya. " Bunga-bunga ini...bahkan tak sekalipun aku melirik mereka setelah aku berumur 12 tahun. "
Ia duduk menikmati terpaan angin dan semerbak harumnya bunga-bunga yang mengelilinginya. Perlahan Alice mulai memejamkan matanya, menikmati suasana dan tanpa sadar ia pun tertidur.
~
" Dimana Liana? " Tanya Ernard pada Hilda si kepala pelayan wanita.
" Nyonya sedang tidur di kamarnya Tuan." Sahutnya
" Benarkah? Ahh..syukurlah. " Lega Ernard.
Selama ini Liana kesulitan untuk tidur. Sesekali ia bermimpi dan memanggil nama Alice. Ia begitu terpuruk ketika hal itu berlangsung hingga berhari-hari yang pada akhirnya membuat Liana menjadi kelelahan dan hampir jatuh sakit.
Ernard menatap kosong tiap kursi yang ada di ruang makan tersebut. Sepi. Begitulah perasaannya tergambarkan.
Setelah menyelesaikan sarapannya seorang diri. Hubert seorang kepala pelayan pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Ronald datang mendekat. " Tuan. Sepertinya nona Alice telah sadar. "
Ernard terkejut mendengar hal itu. " Sungguh? "
" Ya tuan. Mary pelayan pribadi nona Alice yang menyampaikannya pada saya. "
Ernard berdiri dari kursinya dan segera berjalan menuju pintu "Aku akan menjenguknya. "
Perasaan sedih yang tertanam dalam hatinya mulai terangkat. Ernard yang mengangkat kedua sisi bibirnya merasa bahagia dengan sadarnya Alice. Bersama Hubert. Ia berjalan menuju kamar Alice.
" Dimana Alice? " Tanya Ernard pada Mary saat ia menjumpai kamar Alice kosong.
Mary menundukkan sedikit kepalanya " Maaf Tuan, nona Alicia sedang keluar untuk berjalan-jalan. "Jawabnya sesuai dengan selembar kertas yang ia temukan di meja Alice.
Aku hanya berkeliling di sekitar rumah saja. Tak perlu cemas.
Ernard mengkerut kan alisnya. Berjalan-jalan? Bukannya ia baru saja sadar setelah tertidur cukup lama. apakah ia baik-baik saja? Ernard menghela nafas panjangnya. " Baiklah. Katakan padanya untuk banyak beristirahat saat ia sudah kembali. "
" Baik, Tuan."
Ernard pun berlalu meninggalkan Mary.
Sementara itu, di bawah teduh atap gazebo dan semilir angin sepoi-sepoi. Alice masih saja menikmati tidurnya. Rambutnya yang tergerai lurus dan bergerak bersama hembusan angin membuat orang yang memandanginya tidak bosan.
Dari kejauhan Ernard yang berjalan dari arah kamar Alice melihat seorang gadis yang tertidur pulas dalam keadaan duduk. Ernard perlahan mendekatinya.
Wajahnya tampak begitu damai dan pulas. Bagaimana bisa dia tertidur seperti itu? Benaknya
Ernard mengangkat salah satu tangannya dan mengisyaratkan Hubert untuk meninggalkan mereka.
" Ternyata kau disini rupanya. " Gumamnya pelan.
Ernard pun mendekat dan duduk di samping Alice.
" Apa kau tahu seberapa merepotkannya dirimu saat itu? Terutama ibumu yang setiap harinya penuh gelisah dan kesedihan. Bahkan tiada hari tanpa air mata saat ia mengunjungi kamarmu. "
Ernard mulai bergumam seorang diri.
" Kami semua menyayangimu. Begitupun denganku. Kau adalah salah satu darah dagingku. Bagaimana mungkin aku rela kehilanganmu. Iris ataupun dirimu tidak peduli kalian berbakat atau tidak. Kalian tetaplah anak kami. "Ernard berhenti sejenak lalu ia melirik ke arah Alice. "Aku ingin kau mengerti itu. Kelak jika kami telah tiada, aku ingin kau bisa berjalan mengemban kewajibanmu sebagai seorang Strongfort."
Tubuh yang tegap dan gagah itu terlihat begitu berat dan rapuh. Meski yang dulunya ia adalah seorang jenderal yang gagah berani di medan perang, Namun kini dia juga adalah seorang ayah dengan dua putri.
Ernard Menatap langit sejenak lalu bangkit dari duduknya. Namun ketika ia mulai mengambil satu langkah.
" Maafkan aku Ayah. "
Suara yang terdengar pelan dan lembut itu... terutama kalimatnya membuat Ernard seketika terdiam dan berbalik.
Ia melihat tepat mata putrinya. Mata yang penuh arogansi dan selalu memandang rendah orang lain tak lagi tergambar dari pantulan mata itu. Keduanya terlihat begitu lembut dan indah saat ini.
Karena merasakan adanya kehadiran seseorang di sampingnya. Alice mulai terbangun namun, ia tidak langsung membuka matanya. Mendengar dari suara dan kalimatnya, ia tahu kalau yang disampingnya adalah Ayahnya. Alice tetap diam dan mendengarkan Ernard.
Kalimat yang berisi harapan itu dan juga kesedihan mereka, seperti menusuk dadanya. Alice menyesal. Sesaat ketika ia tahu Ernard akan pergi. Ia pun bersuara.
Alice berdiri dari tempat duduknya. Menghadap wajah ayahnya, Alice perlahan membungkuk dan meminta maaf.
" Aku...salah." Matanya mulai berkunang-kunang.
Sekeras apapun ia melatih tubuhnya saat di kehidupan sebelumnya. Ia tetap tak bisa menahan hatinya untuk luluh dari hal seperti ini.
Air mata berlinang dan mulai menetes. "Maaf...maaf kan aku." Alice masih terbayang wajah ibunya yang ia lihat pagi tadi. Mata yang membengkak, disertai kantung mata yang cukup hitam. Wajah yang tampak pucat dan kelelahan. Alice menggenggam erat gaunnya.
Melihat tingkah putrinya yang tidak biasa ini. Ernard merasa tersentuh. Ia meletakkan salah satu tangannya pada kepala Alice yang menunduk. Membelainya perlahan.
" Um. Jangan menangis lagi. Ayah senang kau menyadari kesalahanmu. "
Ernard mendekap putrinya dalam pelukannya, membelai rambutnya dan sesekali menepuk punggungnya perlahan.
~
Selama seminggu Alice seperti mengurung diri di kamarnya. Ia hanya akan keluar ketika waktu makan tiba.
Alice tenggelam bersama dengan kumpulan buku yang dibawa Mary dari perpustakaan pribadi milik kediaman Strongfort. Sedikit demi sedikit ia mempelajari budaya dan dunia tempatnya saat ini lebih dalam lagi.
Jika seandainya aku lebih memperhatikan saat proses pembelajaran, mungkin aku tak perlu melakukan hal ini begitu lama. Keluh batinnya.
Berkat kemampuan dan pengetahuannya dari dua kehidupan sebelumnya. Alice bersyukur karena tidak harus kerepotan dalam hal menghafal dan akademis. Tentu, dengan perasaan bangga Alice merasa setidaknya apa yang ia pelajari di kehidupan pertamanya jauh lebih rumit. Perhitungan, pengetahuan alam dan lainnya adalah hal yang tidak perlu ia permasalahkan saat ini.
Namun ketika ia sampai pada buku-buku tentang 'Mana dan Sihir'. Alice menyingkirkan semua pikiran yang mengganggu dan fokus pada beberapa buku tersebut.
Dijelaskan bahwa Mana merupakan bagian dari alam. Umumnya manusia bisa menyerap Mana menuju jantung sebagai media untuk menyimpan sejumlah besar Mana. Kemudian, Mana di gunakan sebagai energi untuk menciptakan sihir.
Mana sendiri adalah energi yang di produksi dunia yang sampai sekarang masih belum diketahui proses pembentukannya secara pasti. Namun dikatakan bahwa Mana tidak bisa dipisahkan dengan udara yang mereka hirup untuk bernafas.
Ketika seseorang lahir, Mana Heart akan tercipta dalam jantung mereka. Yah, mungkin itu yang membuat orang-orang di dunia ini secara alamiah dapat menyerap mana.
" Kalau begitu...bukankah sesuatu yang kurang itu.." Alice memejamkan matanya dan memeriksa tubuhnya. " Ternyata sesuatu itu adalah Mana Heart ku yang lenyap."
Sama seperti di kehidupan sebelumnya. Seseorang yang tanpa Akar beladiri maka takkan bisa berlatih tenaga dalam dan beberapa teknik lainnya. Begitu pula di dunia ini.
Umumnya seseorang tanpa Mana Heart akan dianggap sebagai orang yang tak berguna dan kebanyakan dari mereka adalah para rakyat biasa. Mana Heart bisa juga di pengaruhi oleh garis keturunan. Seseorang yang bertalenta dengan jumlah Mana yang besar akan menemui masa depan yang cerah.
"Pada akhirnya yang kuatlah yang menang. Konsep itu tak juga luput dari dunia ini ya" Gumamnya.
Selain itu, beberapa sumber mana ada banyak. Entah itu artifak, batu permata atau garis Ley itu sendiri yang mana jumlah Mana mengalir layaknya sungai berdasarkan lintasannya.
Setelah membuka buku tentang Mana. Alice pun beralih ke sihir.
Sihir terbagi menjadi beberapa elemen atau unsur. Manusia normal biasanya hanya ahli dalam satu elemen dalam diri mereka. Adapula yang di kenal sebagai Jenius dengan dua elemen. Sejarah mencatat kalau Sage pertama pendamping raja pendiri kerajaan Solus adalah seseorang dengan tiga elemen. Namun hal itu sangat amatlah langkah.
Untuk menggunakan sihir secara signifikan dan efisien, seseorang harus mengakumulasikan mana yang di serapnya ke media yang ia miliki. Entah tongkat, sarung tangan khusus atau tanpa alat bantu jika sudah termasuk ahli.
Para pemula biasanya merapalkan mantra atau kalimat tertentu untuk membuat mereka lebih baik dalam mengimajinasikan sihir yang akan mereka keluarkan.
" Hmm...seperti itu ya. " Gumamnya lagi.
Alice menyipitkan matanya seolah ia memiliki sebuah ide yang cemerlang di kepalanya.
" Bagiku yang seorang kultivator. Mana dan Qi ini tidak jauh berbeda. Kalau menurut kesimpulanku, kami hanya memiliki perbedaan dalam mengontrol nya saja." Alice memejamkan matanya dan mulai fokus pada dalam dirinya.
" Mungkin karena Jiwa dan ingatanku yang telah menyatu membuat Mana Heart ku tidak stabil dan akhirnya hilang. Terakhir kali aku ingat, aku sedikit ahli dalam menggunakan sihir tipe api." Benaknya.
Alice mulai memfokuskan dirinya pada udara dan energi yang ia rasakan di sekitarnya. Memulai menyerap dan memusatkan energi tersebut secara perlahan ke dalam tubuhnya tepatnya pada bagian daerah perutnya. Lalu energi itu mulai menyebar dan ia salukan ke seluruh tubuhnya.
Alice kembali menarik energi itu dan memusatkannya pada bagian telapak tangannya.
" Jumlah tenaga dalamku belumlah banyak tapi selama aku tahu bagaimana harus mengendalikannya. Kurasa hal seperti ini cukup mudah." Alice tersenyum melihat ia masih bisa melakukan hal yang sama meski di kehidupannya kali ini.
~
Melihat Liana yang senyum-senyum sendiri dan tampak bahagia, Ernand bertanya " Apa ada sesuatu yang menyenangkan terjadi? Akhir-akhir kau terlihat begitu ceria. " Jauh di dalam benaknya ia sebenarnya tahu apa penyebab dari kebahagiaan istrinya.
" Hmm~ Tidak ada. Aku hanya senang melihat Alice, itu saja. "
Ernard tersenyum kecil melihat istrinya.
" Selamat pagi Ibu, Ayah " Sapa Alice setelah memasuki ruangan makan.
Liana yang senang, bangun dari kursinya dan segera memeluk Alice.
" Ah...ibu. Kau selalu saja memelukku saat kita bertemu."
" Ibu hanya merindukanmu saja sayang. Karena kau mengunci dirimu selama seminggu dan hanya keluar saat jam makan. Jadi ibu merindukanmu. "
Sikap Alice yang penurut, lembut dan ramah membuat Ernard dan Liana bahagia. Para pelayan pun sudah berhenti untuk bergosip tentang keburukan Alice, malahan mereka yang sempat melihat atau berbicara dengan Alice, merasa seolah terpana oleh dirinya yang baru. Seminggu itu adalah waktu yang cukup untuk merubah pandangan orang-orang terhadapnya.
" Oh iya Ayah, bagaimana kabar Elli dan Ronald?" Tanya Alice setelah mengunyah makanannya.
"Elli baik-baik saja, dia hanya menerima luka gores. Sedangkan Ronald masih dalam memulihkan kesehatannya." Balas Ernard. "Alice, karena waktu yang kau minta untuk belajar sudah berakhir. Selanjutnya apa yang ingin kau lakukan?"
" Aku belum memikirkan apapun."
"Kalau begitu, jadwal belajarmu aku kembalikan. Mulai besok para pembimbing akan kembali untuk memulai pembelajarannya."
"Baik Ayah."
"Haaah...Lihatlah kalian, dalam situasi seperti ini masih sempat membahas sesuatu yang seserius itu? Aku tidak tahu, mungkin selanjutnya kalian berdua akan membahas masalah politik atau militer kerajaan ini." Tegur Liana dengan nada bercanda. " Ayah dan anak memang mirip." Lanjutnya menggoda.
" Hmm....bukannya aku lebih mirip ibu ya?" Tanya Alice polos dan spontan.
Liana tersenyum lebar mendengar respon Alice yang tiba-tiba itu.
Saat hari telah menjelang siang Alice menyempatkan waktunya untuk melihat lapangan latihan para ksatria milik keluarga Strongfort.
Bau keringat yang asam dan bercampur debu, tentu dahulu Alice tidak menyukainya ketika harus melintasi mereka. Tapi kini hal itu berbeda.
Dengan seksama, setelah duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari para ksatria yang sedang berlatih. Alice melihat tiap gerakan yang mereka lakukan.
Ayunan pedang mereka terlihat sederhana namun bertenaga, tidak membuat gerakan yang percuma dan menciptakan sedikit ruang agar musuh kesulitan menyerang balik. Ketika di hadapkan pada pertarungan. Mungkin lawan akan sulit untuk menemukan celah dengan dengan gaya bertarung itu. Begitulah menurutnya. Mengingat kembali kejadian waktu ia ingin di bunuh, sepertinya mereka bukanlah pembunuh bayaran biasa. Mungkin... seseorang dengan kekuatan besar dibaliknya. Pikir Alice.
Gema suara bilah pedang yang saling bertubrukan dan teriakan para kesatria muda itu membuatnya serasa nostalgia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments
kayla
anyiiing
2024-05-28
0