Setelah kedatangan dua priest dari kuil, kondisi Alice mulai lebih baik. Luka-luka pada tubuhnya sudah tidak terlihat lagi begitupun perban di kepalanya sudah terlepas.
Meski begitu, dengan sihir penyembuhan mereka pun yang dilakukan selama dua hari tak membuat Alice membuka matanya.
Suasana di kediaman Strongfort tetap berjalan seperti biasanya.
" Bagaimana keadaan nona Alicia? "
Tanya Hilda kepala pelayan wanita saat melihat seorang gadis pelayan keluar dari kamar Alice
" Maaf nyoya Hilda sepertinya kondisi nona masih belum membaik. Dia...masih belum menunjukkan tanda kapan akan bangun. "
Setelah mendengar jawaban gadis pelayan tersebut, Hilda menghela nafasnya. " Kalau begitu, setelah mengurus nona Alicia, datanglah ke dapur. "
" Baik nyonya. "
Gadis muda dengan wajah cerah dan ceria itu bernama Mary. Dia adalah pelayan baru yang ditunjuk sebagai pelayan pribadi Alice. Meski terbilang muda tapi kecakapannya dalam bekerja sangatlah bagus.
Melihat kondisi nona nya mary turut prihatin. Mary awalnya di terima sebagai pelayan biasa yang bertugas mengurus kebersihan terutama bagian dapur. Selagi ia bekerja, Rumor tentang Alice telah banyak ia dengar.
Ketika para pegawai di kediaman itu beristirahat, mereka kerap kali membicarakan berbagai macam topik dan yang lebih panas adalah tentang Alicia. Nona muda yang akan Mary layani kedepannya.
" Nona, saya harap nona segera bangun. Tuan dan Nyonya sangat sedih melihat nona seperti ini. " Gumamnya menatap dalam wajah Alice.
Setelah membersihkan tubuh Alice dengan kain dan sebaskom air. Mary segera menuju dapur sesuai dengan arahan Hilda.
~
" Dimana...ini?"
" Gelap. Apakah...Tempat apa ini? "
"Haaah... Apakah aku sudah mati?"
Gadis yang bergumam itu tak lain adalah Alicia Lein Strongfort sendiri.
Dalam gelapnya ruangan yang entah dimana. Alice begitu tenang mengetahui kenyataan yang ia hadapi. Bukankah ia takut dengan kematian?
" Kau jauh lebih tenang dari yang ku kira nona muda"
Sebuah suara tiba-tiba menggema di dalam ruangan tersebut.
" Siapa disana? Siapa itu? "
" Tenanglah, tak perlu panik "
Suara itu terdengar begitu lembut nan indah di telinga Alice, tapi siapa? Alice sendiri tak mengetahuinya.
" Kalau begitu tunjukkan dirimu. "
Hentakan langkah kaki perlahan mengisi sunyi ruangan tersebut.
Seorang wanita berambut hitam panjang hingga pinggulnya muncul dari balik gelapnya ruangan tersebut. Kulitnya yang putih mulus dan lembut seperti susu tampak seolah bersinar dalam kegelapan. Wanita itu sedikit lebih pendek dari Alice . Wajahnya tampak muda namun aura yang ia keluarkan tidak terasa seperti itu. Rambut panjang hitamnya yang tergerai lurus ke bawah memberikan kesan elegan padanya.
Sejenak Alice seperti terhipnotis dengan sosok dihadapannya. Baru kali ini ia melihat wanita seperti dirinya.
Ia tidak tampak berasal dari negeri ini?
" Hai "
Wanita itu menyapa lembut Alice sambil melambaikan tangannya.
Hah~ Suara seperti lantunan melodi yang merdu..
Alice segera menggelengkan kepalanya membuat ia tersadar dari lamunannya.
" Siapa kau? "
" Aku...Itu sedikit rumit untuk dijelaskan. Singkatnya, aku adalah dirimu dan kau adalah diriku. "
Hah?!
Hampir saja Alice menjatuhkan mulutnya mendengar jawaban wanita itu.
'Apakah dia sedikit kurang waras'
"Lihat. Sudah kubilang kau takkan mengerti. Lebih baik kalau kau melihatnya sendiri."
Wanita tersebut berjalan lebih dekat menghampiri Alice. Ia mengangkat tangannya dan mengarahkan jari telunjuknya tepat ke dahi Alice.
" Aghh! "
Serpihan ingatan perlahan membanjiri kepalanya.
" Apa...ini? " Gumamnya heran sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba saja ia merasakan kalau ia telah melalui banyak hal. Bukan hanya sekedar ingatan tapi benar-benar merasakan seolah tubuhnya dan jiwanya tahu kalau dia pernah mengalami hal itu.
Pemandang gunung-gunung yang indah. Kuda perang dan orang-orang saling bertarung. Pemandangan alam yang indah bercampur dengan ingatan pertumpahan darah. Istana dengan ukiran naga, ratusan hingga ribuan prajurit. Alice melihat hal-hal asing tersebut seolah ia berdiri di depan mereka.
Tubuhnya gemetaran, apa yang terjadi?
" You Nian, Aku...mencintaimu.. "
Ia melihat laki-laki tampan berambut hitam panjang.
Siapa...dia?
Laki-laki itu mendekapnya dalam pelukannya. Perasaan hangat mengalir ke dalam hatinya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Namun...Rasa sakit tiada tara menggantikan perasaan hangat tersebut.
Emosinya terguncang. Melihat seorang wanita lain tiba-tiba berdiri berdampingan dengan pria itu sementara ia terkapar berlumuran darah di lantai.
" Lin... Zhou, Kau... " Suaranya, ya itu adalah suaranya ketika memanggil nama pria itu. Ia kesal, marah, dendam. Perasaan pahit dan sakit memenuhi dadanya.
" Maaf You Nian. Tapi dia adalah milikku. Sejak awal kami hanya mempermainkan mu. " Ucap wanita yang berdiri di samping pria itu dengan seringai di wajahnya.
Alice berlutut gemetaran tak sanggup menahan emosinya. Ia memegang erat kedua sisi kepalanya.
" Aku... Aku tahu, aku tahu siapa mereka. "
" Ya. Kita tahu itu. Murid dan pria yang telah ku selamatkan hidupnya dan satu-satunya orang yang membuatku mengenal namanya cinta. "
" Cinta? "
" Tapi itu hanyalah kepalsuan belaka "
Setelah ingatan itu berlalu. Sebuah ingatan lainnya pun tergambar dibenaknya. Gedung-gedung tinggi hingga ke langit. Rumah-rumah yang berwarna warni. Kereta besi yang berjalan tanpa ada kuda dan burung raksasa di langit.
Ini...?
" Ya... Ini juga adalah masa laluku juga. Seo Min Ah itulah namaku." Wanita itu bergerak meraih tangan Alice dan membantunya berdiri.
"Aku adalah seorang dokter. Hidup yatim piatu dan meninggal karena kecelakaan. Ku kira hidupku saat itu begitu baik namun entah kenapa takdir membuatku terlempar ke dunia yang berbeda." Wanita itu terdiam dan menghela nafasnya. " Tapi untuk kali kedua, aku tetap hidup yatim piatu. Tanpa orang tua, saudara atau bibi dan paman. Aku hidup sebagai gelandangan miskin bersama seorang kakek angkat yang begitu peduli padaku. "
Alice menatap kasihan wanita itu. Ia tahu, ia baru saja merasakan nya.
" Sepertinya takdir mempermainkan ku hingga akhir hayatku. Aku berjuang mengandalkan pengetahuanku di kehidupan sebelumnya. Merangkak dari bawah hingga akhirnya aku berdiri di atas. Darah dan keringat ku korbankan. Aku melalui hinaan dan pertarungan yang tiada hentinya. Bahkan ketika aku hidup hingga sekitar 500 tahun lamanya. Aku masih tetap terjebak dalam takdir pertarungan yang sia-sia. "
Dalam ruangan Gelap itu wanita itu menatap Alice dan kemudian tersenyum lembut.
" Hingga pada akhirnya aku merasakan pengkhianatan dari orang yang kucintai. Namun...sungguh untuk kehidupan ini aku bersyukur. Memiliki keluarga, Ayah, ibu dan orang-orang yang benar-benar peduli padaku. "
Wanita itu meletakkan tangannya di salah satu pundak Alice.
" Jadi... Hargailah mereka. Jalani lah hidup lebih baik. Karena kedamaian yang ku dambakan akhirnya telah tiba. "
Setelah mengucapkan kalimat itu. Wanita itu perlahan memudar dan menghilang menjadi setitik cahaya kecil.
Cahaya kecil itu melayang tepat di wajah Alice lalu bergerak menembus ke dalam dadanya.
" Jadi...seperti itu ya. Kau...maksudku Aku telah melalui tiga perputaran roda kehidupan. Karena kecelakaan ini membuatku mengingatnya... Kurasa selama ini aku benar-benar menyia-nyiakan hidupku." Alice menunduk ia hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Ayah... Ibu... Semuanya...
~
Mary dengan sebaskom air dan beberapa lembar kain berjalan menuju kamar Alice. Sesampainya disana mary berhenti sejenak kemudian menarik nafas panjang, menandakan ia sudah siap untuk bekerja.
" Permisi " Ucapnya setelah ia mengetuk pintu.
Sekali lagi ia harus berhadapan dengan tubuh nona nya yang tak sadarkan diri. Hari ini adalah hari ke delapan Namun...berdasarkan apa yang ia dengar dari priest sebelumnya, Mary hanya bisa berharap untuk Alice segera bangun.
Tepat setelah ia masuk. Dalam ruangan kamar yang gelap tanpa ada suara dan hanya tubuh Alice yang terbaring tak sadarkan diri, begitulah pikirnya. Tapi ia terkejut melihat Alice duduk menyandar di tempat tidurnya.
Mary hampir saja menjatuhkan baskom airnya.
"No-"
Alice meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya mengisyaratkan untuk diam. Mary baru sadar kalau ternyata di sisi tempat tidur, Liana sedang tertidur sambil bersandar pada ranjang Alice.
Alice beranjak dari kasurnya perlahan agar tidak membangunkan ibunya.
Ia berjalan menuju Mary
" Tolong siapkan kami sarapan. Jangan lupa beberapa buah segar untuk ibuku. " Pintanya lembut pada Mary.
Mary terdiam, ia mengangguk dan meletakkan baskom dan kain yang ia bawa pada sebuah meja lalu keluar.
' Eh?!'
Kepalanya seolah kehilangan seutas kabel. Apa yang terjadi?
" Apakah aku sedang bermimpi? " Gumamnya lalu ia mencubit pipinya " Sakit. Ini... Bukan mimpi, tapi...tadi itu apa? "
Mary mengingat-ingat kembali apa yang baru saja terjadi dan yang ia lihat.
'Bidadari? Apa itu seorang Bidadari? '
Senyum menawan Alice dan suaranya yang lembut membuat Mary terhipnotis begitu saja.
Tidak mungkin bagi Alice untuk mengucapkan kata tolong saat menyuruh pelayannya apalagi tersenyum dengan penuh kelembutan. Menurut yang ia dengar-dengar selama ini bukankah kalau Alice itu adalah gadis egois yang kejam dan angkuh...Tidak mungkin! Lalu.. siapa dia?
Mary penasaran ingin masuk kembali dan memastikan apa yang baru saja ia saksikan, tapi...ia berpikir dua kali untuk itu. Lebih baik baginya untuk segera mengantarkan sarapan berhubung nona nya sudah bangun.
Sementara itu di dalam kamar, Alice diam-diam memperhatikan ibunya dari samping.
Wajahnya tampak muda, tidak mencerminkan wajah seorang ibu dengan dua putri remaja. malahan lebih cocok jika dipanggil kakak. Tapi kantung mata dan warna wajah itu sedikit pucat karena mengkhawatirkan dirinya.
Semenjak Alice tak sadarkan diri. Liana mulai tidak memperhatikan makan dan tidurnya. Hatinya yang berat membuatnya kesulitan untuk menelan makanan dan tidur nyenyak.
" Ibu... Sungguh aku telah menghabiskan banyak waktu dengan sia-sia " Alice menatap sedih ibunya.
Alice mengambil baskom air yang dibawa Mary lalu ia mulai membersihkan wajahnya. Melihat bayangan dirinya dari air itu dia benar-benar bahagia.
" Setelah sekian lama... Akhirnya aku memilikinya. Sebuah keluarga. " Alice tersenyum dan mulai merapikan sedikit kamarnya.
Alicia Lein Strongfort yang biasanya mungkin tak akan melakukan ini, kini telah berubah. Namun, sembari menunggu Mary ia berpikir untuk merentangkan sedikit tubuhnya yang kaku karena tidur cukup lama. Bahkan kakinya sedikit sulit bergerak. Entah sudah berapa lama aku tertidur?
Liana yang menyandarkan kepalanya pada sisi tempat tidur mulai terbangun. Merasakan sejuknya udara pagi dari jendela, Liana membuka matanya perlahan.
Ketika melihat Alice tidak ada di kasurnya. Liana panik.
" Alice? Alice?! "
" Ibu, tenanglah. Aku disini " Ucap Alice setelah menghampiri ibunya.
Liana berbalik dan meletakkan kedua tangannya di wajah Alice "Alice? Kau kah itu sayang? Kau... Sudah bangun. "
Mata Liana mulai berkaca-kaca " Iya ibu. Aku...kembali " Sahut Alice.
Liana dengan segera memeluk erat putrinya itu. Ia benar-benar bahagia. Ia memeluknya sangat erat seolah ia takut putrinya akan pergi meninggalkannya lagi.
Melihat Liana yang berderai air mata bahagia. Alice pun turut senang "Jadi... Seperti ini pelukan seorang ibu. Hangat. " Batinnya. Lalu ia menyandarkan kepalanya pada lengan Liana.
Bukan hanya ingatan. Seo Min ah, Lan You nian dan sekarang Alicia Lein Strongfort. Semua perasaan itu menjadi satu. Rasa rindu dan harapan untuk mendapatkan sebuah keluarga yang sesungguhnya akhirnya terpenuhi.
' Aku baru sadar. Kalau selama ini aku benar-benar telah menyia-nyiakan mereka. '
" Ibu... sudah makan? " Tanya Alice yang masih dalam pelukan ibunya.
Setelah menenangkan dirinya. Liana baru tersadar kalau tingkah putrinya ini berbeda dari biasanya. Ekspresi dan nada bicaranya tidaklah sama terlebih saat ia bertanya tentang dirinya yang sudah makan atau belum. Tapi lebih daripada itu. Liana bahagia karena Alice sudah sadar.
"Kalau belum, kita makan dulu. Ibu temani aku sarapan disini. Aku sudah meminta Mary untuk mengantarkan kita sarapan. "
" Iya sayang, kita makan bersama ya." Balas Liana.
Dengan sebuah troli, Mary menuju kamar Alice setelah ia mendapat kan makanan dari dapur.
Mary turut bahagia. Ia berjalan penuh ceria.
Ketika ia sampai " Permisi nona. " Ucapnya setelah mengetuk pintu.
" Masuklah " Sahut Alice.
Mary terkejut dengan ruangan itu. 'Apa memang tadi seperti ini ya?' Ia heran. Padahal ia belum merapikan kamar Alice tapi gorden sudah terbuka dan meja-meja terlihat sedikit bersih.
' Jangan bilang nona...'
" Oh, kau boleh meletakkannya disana mary. " Ucap Alice menunjuk salah satu meja.
" Baik nona. "
Setelah meletakkan hidangan tersebut. Alice dengan menggenggam tangan ibunya berjalan mengambil tempat duduk mereka.
Melihat mereka telah duduk mary mulai menyiapkan peralatan mereka.
" Mary, tidak perlu. Biar aku saja. Kau boleh ke dapur untuk sarapan atau melakukan hal lainnya. " Ucap Alice dengan ramah.
" Ta-tapi nona... "
Tanpa menunggu jawaban, Alice sudah memegang teko dan mulai menuang teh ke dalam gelas. Ia kemudian menyajikan teh itu di meja.
Mary dan Liana yang melihatnya, hanya bisa diam terheran-heran.
"Ka-kalau begitu saya permisi. Nona boleh memanggil saya jika butuh sesuatu. " Pamit Mary.
"Um, Terima kasih mary."
Ucapan itu membuat langkahnya terhenti sesaat sebelum ia menarik pintu.
Mary tersenyum bahagia. Dia benar-benar yakin kalau apa yang ia saksikan tadi pagi bukanlah mimpi atau halusinasi. Alice, nona nya sepertinya tidaklah seperti yang ia dengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments
Dede Mila
masih nyimak
2024-08-29
0