Setiap pasang mata yang menyaksikan Hal yang dilakukan Alice merasa takjub.
Tanpa pikir panjang, Alice menguatkan kakinya dan melompat menembus badai topan tersebut. Dengan cepat Alice menerjang ke arah Iris. Meski bisa melindungi tubuhnya dengan Qi tapi tetap kekuatannya saat ini masih kurang untuk menahan serangan penyihir tingkat 5.
Sebelum Iris melepaskan sihirnya, Alice telah sampai di hadapannya.
[ Thunder Lance ]
Dengan tangkas Alice membelokkan serangan tersebut. Alice mendorong tangan Iris ke atas. Serangan yang mengkonsumsi sejumlah besar Mana itu kemudian dilepaskan ke langit. Ernard, Mary dan Jane tercengang dengan hal yang baru saja dilakukan Alice. Terutama Iris yang tak menyangka akan hal tersebut.
Iris terbelalak saat melihat Alice tiba-tiba muncul di hadapannya. Saat ia akan melepaskan sihirnya. Alice meraih tangannya yang memegang tombak petir tersebut dan mendorongnya ke atas.
Alice kemudian mendekatkan kepalanya dan berbisik di telinga Iris "Meskipun kau sudah tidak takut untuk tidur sendirian di malam hari, tapi aku masih khawatir kalau kau membasahi selimutmu lagi saat pagi hari."
Iris yang kaget tiba-tiba memerah karena malu. Warna merah di wajahnya bisa terlihat dari pipi hingga ke telinganya "K-k-kau!"
Sebelum Iris menyelesaikan ucapannya. Sentilan Alice pada dahinya membuat iris merintih sakit. "Lain kali, kau harus memperhatikan sekelilingmu juga." Ucap Alice penuh senyum lalu ia tertawa kecil.
Alice menoleh ke Ernard dan kemudian berjalan menghampirinya. "Maaf Ayah, kami sedikit berlebihan." Ucap Alice kemudian ia berlalu meninggalkan mereka disusul oleh Mary.
Saat menuju kamarnya. Wajah Alice terlihat tidak begitu baik."Apa nona baik-baik saja?" Tanya Mary cemas.
Alice mengangguk pelan "Aku baik-baik saja."
Luka gores dan pakaiannya yang sobek di beberapa tempat membuat Mary begitu khawatir. Mary kemudian berlari untuk mengambil alat kesehatan setelah mengantarkan Alice ke kamarnya.
Tidak butuh waktu lama, Mary yang terengah-engah kembali dengan membawa perban dan obat luka. Mary lalu membantu Alice untuk mengobati lukanya.
"Nona...apa anda benar baik-baik saja?" Tanya Mary sekali lagi karena cemas saat melihat wajah Alice terlihat agak pucat.
"Aku terlalu memaksakan tubuhku saat menggunakan [ Shadow step ] tadi. Aku tak menyangka efeknya akan seperti itu. Aku harus lebih banyak latihan lagi. " Benak Alice. "Aku baik-baik saja. Kau boleh kembali untuk istirahat."
"Tidak, saya ingin tetap menemani nona disini."
"Baiklah, kalau begitu tolong ambilkan aku segelas air."
~
Liana melihat Ernard dengan ekspresi kusutnya lagi. "Ada apa sayang?" Tanya ia lembut.
Ernard menyandarkan dahinya pada kedua kepalan tangannya. "Aku sedang memikirkan Alice."
"Alice? Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Aku hanya merasa ada sesuatu yang lain darinya?"
Liana bangkit dari sofa dan menyodorkan secangkir teh yang tak jauh dari meja Ernard."Apa dia melakukan sesuatu yang buruk lagi?"
"Tidak, tapi..." Ernard meraih secangkir teh dan meminumnya sebelum menyelesaikan kalimatnya. " Aku hanya merasa dia sangatlah berbeda." Jelas baginya setelah melihat kemampuan Alice. Bagi seseorang yang kehilangan Mana Heart nya, bagaimana mungkin bisa bergerak secepat itu?
"Apapun itu aku bersyukur karena Alice masih tetap bersama kita. Bahkan kepribadiannya yang sekarang pun menjadi lebih baik." Liana menyangkal dan meyakinkan Ernard. Ia menggenggam tangan Ernard dan menatapnya dengan mata penuh keyakinan. "Aku tidak mungkin salah mengenali putri ku."
"Kalau kau bilang seperti itu...kurasa mungkin aku yang terlalu khawatir."
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka. "Tuan, Nyonya. Sudah waktunya makan malam." Ucap Hubert setelah memasuki ruangan.
Melihat sekeluarga berkumpul, Alice merasa senang. Ia hampir tak bisa menahan bibirnya untuk terus tersenyum.
"Ada apa Alice, tampaknya kau sangat senang sekali?"
Alice menatap Iris yang duduk di depannya. Melihat tatap Alice, Iris kesal dan membuang mukanya.
Liana heran melihat mereka "Apa yang sudah terjadi?" Benaknya. Tapi ia tak membenci suasana hangat yang bisa ia rasakan dari kedua putrinya.
Belum lama masalah Alice selesai, tentu Ernard harus merahasiakan kejadian tadi siang. Istrinya baru saja membaik, ia tak ingin membuatnya cemas berlebihan untuk kedua kalinya
Alice yang sesekali mengangkat kedua sudut bibirnya saat menatap iris menyantap makan malamnya dengan riang. Dia tidak mengira kalau adiknya akan seimut itu saat sedang marah. Namun, disisi yang lain ada sesuatu yang membuat ia mengingat dirinya yang dahulu saat melihat wajah serius Iris. Beban dan tanggung jawab yang ia harus pikul dan tidak bisa melepasnya, mereka sama seperti apa yang ia pernah rasakan.
Tanpa ada pilihan, kau harus terpaksa untuk membawa semuanya. Tetap tegar meski kau sudah lelah. Kau memaksakan dirimu untuk memenuhi harapan semua orang. Karena kesalahanku, kau harus melalui hari-harimu dengan berat.
Alice menatap rembulan dari beranda kamarnya. Melihat langit yang indah, Alice memikirkan tentang banyaknya hal yang pernah ia lalui.
"Jenderal! Pergilah!!Kami akan menahan mereka."
"Benar! Jenderal tak perlu mencemaskan kami."
"Guru, Anda adalah penyelamat hidupku."
"Seorang kaisar bukan hanya pemimpin sebuah negeri tetapi juga kepala keluarga."
"Min-Ah! Min-Ah! sudah pagi, apa kau ingin telat lagi ke kampus? Sebaiknya kau jangan bawa-bawa aku ya."
Ingatan-ingatan masa lalu itu penuh dengan begitu banyak emosi. Duka, suka, pahit dan derita karena kehilangan rekan seperjuangannya. Alice menggenggam erat tangannya."Demi melindungi keluarga ku, aku harus segera memulihkan kekuatanku." Tekadnya.
Dengan mengenakan gaun sederhana berwarna biru, Alice di bawah langit malam berjalan sendirian menuju gudang tempat para ksatria mereka menyimpan alat latihan.
Sesekali Alice bertemu dengan penjaga yang berkeliling sambil membawa sebuah lentera. Ia menyapanya dan berlalu begitu saja. Sesampainya di depan gudang peralatan, seorang ksatria yang bertugas menjaga tempat itu, menghampirinya.
"Nona Alicia? Apa yang membuat anda datang kemari? Apakah anda butuh sesuatu?"
"Iya, bisakah kau membukanya? Aku ingin mencari sesuatu di dalam sana."
Penjaga itu bingung dan berpikir "Sesuatu? Apakah Nona pernah meninggalkan barang miliknya di dalam sana?" Penjaga itu menggaruk pipinya dan menatap Alice penuh tanya.
"Apa aku tidak boleh masuk?"
"Ti-tidak. bukan begitu" Penjaga itu kemudian membuka pintu gudang.
"Terima kasih." Ucap Alice lalu ia masuk ke dalam.
"Hmm...kurasa aku membutuhkan sesuatu yang lebih ramping dan ideal untuk diriku saat ini." Gumamnya. Melihat begitu banyak pedang dan perisai serta beberapa boneka latihan dan alat lainnya. Alice merasa kalau gudang penyimpanan alat ini cukup luas. Alice memilah mereka dengan matanya. Mengangkat pedang satu demi satu dan mengayunkannya, Alice belum menemukan sesuatu yang cocok untuknya.
"Apakah tidak ada sesuatu yang memang cocok untuk wanita?" Saat ia memutuskan kan untuk kembali. Alice melihat beberapa pasang pedang panjang yang ia rasa bisa untuk dipakainya. Alice pun mengambil pedang tersebut dan mengayunkannya. "Tidak buruk. Kurasa aku akan mengambil yang ini saja." Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Alice memutuskan untuk kembali. Namun langkah tiba-tiba berhenti "Ambil dua saja lah. Jaga-jaga jika yang satu ini rusak."
"Terima kasih ya." Ucap setelah Alice setelah keluar dari gudang.
Ksatria penjaga itu bingung melihat Alice membawa dua buah pedang ditangannya. Untuk apa itu? Apa jangan-jangan nona ingin melakukan sesuatu dengan mereka? Benak penjaga tersebut.
Di sekitar gazebo kecil di taman bunga miliknya. Alice berdiri tegak dengan membawa sebilah pedang di tangannya. Ia menutup matanya cukup lama. Saat ini Alice sedang memikirkan teknik apa yang harus ia latih yang sesuai dengan kondisinya saat ini.
Menyamakan pedang dan juga fisiknya, Alice memilihnya teknik pedang bunga plum.
"Gerakannya mungkin sulit namun tenaga yang harus ku gunakan dengan teknik berpedang ini tidaklah banyak. Teknik pedang ini, menebas dengan tajam dan cepat pada titik lemah lawan. Anggun namun mematikan. Aku suka itu."
Alice melepaskan pedang tersebut dari sarungnya. Menggeser kakinya perlahan lalu disertai dengan ayunan pedang yang lembut. Alice malah terlihat lebih seperti sedang menari.
Semakin lama gerakan Alice semakin lincah. Yang tadinya lembut kini begitu tajam dan sulit untuk diikuti mata. Menusuk dan menebas. Alice terlihat indah di bawah naungan rembulan dengan ayunan pedang panjangnya.
Gaunnya tak menghalangi pergerakannya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, teknik pedang bunga plum yang ia pilih memang cocok untuk melatih tubuh dan pikirannya.
"Sebuah kelopak bunga plum yang bermekaran dan bertebaran di negeri barat" Alice tersenyum dan mengakhiri gerakannya setelah ia kembali memasukkan pedang tersebut ke dalam sarungnya.
"Untuk malam ini kurasa hanya ini yang bisa ku lakukan. Selanjutnya adalah beberapa ramuan herbal atau mungkin minuman obat untuk memulihkan dan meningkatkan kemampuanku dari dalam."
Dengan gaunnya yang cukup basah karena keringat. Alice kembali ke kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments