"Jadi bagaimana menurutmu?"
"Saya merasa kalau memang ada yang berbeda dengannya."
"Apa kau yakin?"
"Ya master. Meski mereka terlihat sama tapi ada sesuatu yang membuat mereka berbeda."
"Terus selidiki."
"Baik."
~
Di bawah naungan rembulan dan gelapnya malam. Alice seorang diri berjalan menuju danau yang terletak di belakang akademi. "Danau yang indah." Gumam Alice saat ia tiba disana.
Kunang-kunang malam dan suara jangkrik menghiasi tempat itu. Selagi ia menunggu kedatangan Andrew, Alice duduk di atas bangku yang terbuat dari batu di tepi danau. "Akan lebih bagus jika aku memainkan suling ku disini." Alice kemudian mengambil suling dari Cincin ruang yang ia kenakan.
Cincin ruang tersebut adalah benda yang pernah ia beli sewaktu di kota Vulture saat bersama Mary di toko Alkemis. Barang yang dianggap tidak berguna itu ternyata adalah sebuah benda yang mengandung prinsip ruang dan waktu. Dengan sedikit modifikasi dan pemurnian menggunakan Qi. Alice mendapatkan harta yang teramat langka untuk dirinya.
Alice mendekatkan suling bambu itu dengan bibirnya. Menarik nafas dalam dan mulai melantunkan melodinya. Awal yang panjang nan lembut terasa seperti perasaan rindu yang tiba-tiba muncul di dada. Alice tenggelam dalam kenangan duka lara nya untuk yang kedua kali.
"Aku pernah berpikir bahwa ketika aku melupakannya maka luka itu akan sembuh tapi... semakin aku menimbunnya, hanya akan membuat luka itu makin membekas lebih lama dalam dadaku."
Membayangkan dirinya sebagai seorang wanita. Lan You Nian bukan sebagai Kaisar, Alice mengukir senyuman di wajahnya, saat ini ia berandai-andai melihat dirinya dan juga kawan seperjuangannya bersamanya, menghabiskan waktu bertualang dan sesekali bertarung saling bertukar pikiran. Masa-masa indah tanpa peduli akan dunia yang mulai menjejalnya masa demi masa dan merenggut kebebasan mereka.
Seiring bertambah kuat dirinya dan kekuasaannya. Para kultivator lainnya mulai iri dan merasa bahwa ia dan rekan-rekannya merupakan sebuah ancaman. Satu persatu mulai direnggut dan perlahan mereka semakin tercerai berai hingga akhirnya Lan You Nian tahu kalau semua rekannya telah mati melawan ketidakadilan adilan dunia.
"Aku telah mengitari roda kehidupan berkali-kali. Adakah aku masih bisa bertemu dengan kalian?"
Alice memandang teduh danau di hadapannya. Matanya melihat begitu jauh seakan ia tidak menyadari apa yang ada di depannya. Sedih namun tak bisa berbuat apa-apa. Alice hanya bisa memainkan sulingnya sambil berharap agar hatinya bisa melepaskan kepergian mereka.
Alice masih mengingat Telaga kecil yang ada di istananya. Tempat ia menghabiskan waktu merindu atau melenyapkan penatnya. Lan You Nian berdiri menatap kosong ke depan sembari dedaunan berguguran di sekitarnya.
* Copyright from pinterest
Lan You Nina sekali lagi dihadapkan pada seseorang yang pernah ia cintai yaitu Lin Zhou. Tidak hanya menemaninya bermain musik terkadang mereka juga sesekali memancing dan membakar ikan hasi tangkapan mereka dari telaga itu. Lan You Nian tersenyum lebar melihat wajah kaget Lin Zhou saat ia tahu kalau ikan yang di makannya waktu itu adalah hadiah yang pernah ia berikan padanya.
"Aku harap ini terakhir kalinya aku mengenangmu...
Serpihan kenangan itu masih saja berputar di kepalanya.
Danau yang sepi hanya berhiaskan kunang-kunang dan suara jangkrik serta alunan merdu dari suling Alice begitu menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Alice tidak menyadari bahwa selain dirinya. Leon, Andrew dan Tina telah hadir tidak begitu jauh bersembunyi darinya. Mereka berpikir tentang apa yang telah ia lalui? Kenapa iramanya begitu sedih namun penuh harapan?
Leon melihat punggung kecil itu seolah ingin memeluk dan menenangkannya. Sedangkan Tina yang matanya berkaca-kaca tak bisa memalingkan perhatiannya pada Alice yang masih duduk di atas batu itu. "A..Alice..." Gumam Tina menyebut nama Alice setelah ia menyeka air mata yang keluar dari sisi matanya.
Kesedihan irama suling itu kemudian berubah membawa ketenangan yang dalam.
Andrew sendiri berusaha menahan dirinya agar tidak terbawa oleh perasaan emosionalnya. Ia menguatkan tekadnya lalu segera melompat dari balik pohon dan melancarkan sebuah serangan tepat ke arah Alice.
[ Wind blade ]
Merasakan adanya bahaya yang mendekat Alice menghindar bergerak mundur dari tempatnya.
Tina panik melihat tanah membekas layaknya sabetan pedang besar itu dan hampir saja berlari ke arah Alice sebelum Leon menahannya.
"Tenanglah. Aku adalah pengawal nona Alice." Jelasnya sambil menahan mulut Tina. Tina menatap Leon sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu keduanya kembali melihat Alice dan seorang pria berambut hijau itu.
"Saya tidak menyangka bahwa nona Alicia bisa menghindari serangan itu." Ucap Andrew dengan nada menyindir.
"Dan aku juga tidak tahu ternyata masih ada pria pengecut seperti dirimu." Sindirnya kembali.
Andrew tertawa dan sekali lagi melakukan serangan selanjutnya.
"Kalau begitu bagaimana dengan ini. [ Whirlwind ] "
Andrew melompat dan melayangkan serangan yang menghasilkan beberapa topan kecil yang menerjang Alice. "Serangannya tidak begitu kuat dibandingkan adikku tapi...untuk mengekspose diriku, kurasa aku masih harus menahannya." Benak Alice sebelum ia melompat dua kali ke samping.
Berpura-pura lemah dan menjadi gadis tak berdaya sebagaimana dirinya yang dulu dengan kapasitas mana dan daya sihir yang kecil. Alice meyakinkan orang-orang disekitarnya kalau dirinya memang tidak memiliki kemampuan yang istimewa.
Melihat perlawanan Alice yang tak berarti Andrew memprovokasinya. "Apakah Nona Alicia hanya bisa menghindar saja. Bukankah sia-sia keluarga Strongfort memiliki dirimu sebagai pewaris." Ucapnya dengan tatapan merendahkan lalu ia menyerang Alice sekali lagi.
[ Wind Slash ]
Kali ini Alice menggunakan Qi untuk melindungi tubuhnya dan menerima serangan Andrew. Tubuh Alice lalu terlempar dan terguling di tanah.
Andrew heran seketika. "Hmm...Apa yang terjadi? Bukankah ia baru saja bisa menghindari serangan yang lebih kuat dari itu?"
Alice menatap tajam Andrew. "Oh maafkan saya nona. Saya tidak menyangka itu tapi..." Tanpa belas kasih Andrew melepaskan Mana dalam jumlah banyak
[ Javelin ] Sebuah tombak panjang dan besar tiba-tiba muncul di langit dan ingin menghantam tubuh Alice yang masih tersungkur.
Alice tidak tahu seberapa besar daya yang dihasilkan serangan Andrew kali ini. Namun, demi membuat pihak yang mengincarnya tidak waspada dan tetap merendah. Alice tetap berpura-pura, ia berteriak dan menerima serangan itu.
Andrew terbelalak kaget saat ia sadar kalau Alice tidak bergerak dari tempatnya dan tidak merasakan adanya fluktuasi mana pada dirinya. "Sial. Ku harap aku tidak membunuhnya."
Setelah Debu yang berhamburan lenyap sedikit demi sedikit.Terlihatlah bayangan tubuh Alice yang tergeletak tak berdaya.
"Alice!!!" "Nona!!!" Leon dan Tina pucat melihat keadaan Alice. Mereka dengan cepat berlari menghampirinya.
Tina gemetar ketakutan ketika ia melihat Alice pingsan dan merasakan tubuhnya kaku ketika ia menyentuhnya. Ia lalu menyandarkan Alice di pangkuannya dan memeluknya sambil ia menangis.
"Alice...Alice..." Tina terisak memanggil Alice berharap ia membuka matanya. Tina merasa bersalah pada dirinya. Ya, jika saja hari itu mereka tidak pulang bersama, jika saja hari itu mereka tidak berteman dan tidak saling bertemu.
Leon dan Andrew hanya bisa diam tanpa kata.
"A..Aku..gagal. Aku...terlalu bodoh. Kenapa aku tidak melompat saja dan segera menolong nona? Tuan...Aku, aku tidak bisa memenuhi tugasku." Benak Leon penuh penyesalan. Leon berbalik karena tak sanggup menatap wajah Alice.
Sementara itu Andrew sendiri gelisah. Berharap kejadian ini hanya di ketahui oleh mereka berdua tapi ternyata ada dua orang lainnya yang melihat aksinya. "Bagaimana ini..? Sial! Tidak seharusnya aku menggunakan sihir tingkat tinggi." Umpatnya kesal pada kecerobohannya.
[Heal] [Heal] [Heal] Tina terus menggunakan sihir penyembuh sambil ia meneteskan air matanya.
Leon segera menghunus pedangnya. Dengan tatapan tajam dan dingin ia mengarahkan pedang itu pada Andrew.
Secepat mungkin Leon telah berada di hadapan Andrew dan siap menebasnya dengan pedang yang telah berada beberapa senti dari kepalanya.
Sayang sekali serangannya di gagalkan oleh kemunculan dua orang misterius berjubah hitam. Dua buah pedang dari kedua sisi menahan pedang Leon.
"Kita mundur." Ucap salah di antara mereka. Dengan dua kata singkat itu mereka melemparkan bom asap dan menjauh secepat mungkin dari jarak pandang Leon.
"Sial! Sial!" Leon yang kesal hanya bisa memukul-mukul tanah dengan pedangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments