Sebuah kereta kuda yang cukup megah berhenti di depan kastil kediaman Duke Strongfort. Ketika pintunya terbuka, seorang gadis muda melangkahkan kakinya keluar. Rambut hitam dengan ikatan kuncir dua dan mata birunya yang tampak tak asing, menandakan kalau ia adalah salah satu penerus keluarga Strongfort.
Beberapa pelayan menyambut kedatangannya. "Selamat datang kembali nona." Ucap Hilda si kepala pelayan wanita.
"Ya" Balasnya singkat lalau ia menyerahkan blazernya pada salah satu pelayan di dekatnya.
Reaksi para pelayan memang berbeda. Iris begitu dihormati karena kemampuannya. Banyak orang yang berkata kalau dia akan menjadi penerus keluarga Strongfort.
Selain genius dalam sihir. Nilai akademis dan kepandaiannya dalam mengurus beberapa masalah keluarga patut diacungi jempol.
Iris dan Hilda diikuti beberapa pelayan lainnya berjalan masuk. "Oh iya, dimana ayahku?"
"Tuan sedang di ruang belajarnya."
"Apa ada kabar lain tentang yang terjadi di kediaman ini?"
Selain dari upaya pembunuhan nona Alicia maka tidak ada hal lain lagi. Mereka mulai saling lirik, menunggu untuk siapa saja yang ingin menjawab pertanyaan itu.
Hilda menghela nafasnya. "Selain dari kejadian tentang nona Alicia tidak ada hal lain lagi."
Wajahnya tiba-tiba tampak kesal. "Si bodoh itu? Hmph, selalu saja bikin repot keluarga?" Benak Iris. "Apalagi kali ini?" Tanya iris tegas.
"Sekitar dua minggu yang lalu beberapa pembunuh bayaran mencoba membunuh nona Alicia. Saat itu nona Alicia menghilang selama tiga hari. Untungnya kami berhasil menemukan nona. Namun karena kejadian itu. Nona Alicia mengalami luka berat dan tak sadarkan diri selama seminggu."
Pembunuhan? Iris mengerutkan dahinya. Sepertinya beberapa orang mulai menargetkan keluarganya. Tapi kenapa mesti dia?
"Kalau begitu dimana kakakku sekarang?"
"Saat ini nona Alicia sedang ada di kamarnya."
"Begitukah?" Iris melihat kebelakang dan memberi isyarat pada Jane pelayan pribadinya. "Kalian boleh pergi. Jangan lupa untuk memanggil ku saat jam makan malam nanti.
"Baik nona." Hilda membungkuk dan pergi bersama pelayan lainnya.
Iris berjalan menyusuri koridor kastil menuju kamar Alice. Melintasi para pelayan yang sedang bekerja, Iris tanpa sengaja mendengar beberapa dari mereka berbicara tentang Alice.
"Bagaiman denganmu?"
"Aku? Aku hampir saja luluh karena nona Alicia?"
"Kenapa?"
"Waktu itu aku sedang merapikan buku di perpustakaan, ketika tangga yang ku pakai bergoyang, ku kira aku akan terjatuh ke lantai, tapi kalian tahu tidak? Nona Alicia datang dan tiba-tiba menangkap ku."
"Terus bagaimana selanjutnya?"
"Seperti seorang putri dalam gendongan pangeran. 'Apa kau baik-baik saja?' Ucap nona waktu itu." Pelayan itu melompat-lompat kecil karena kegirangan. "Haaah...jantungku seperti ingin melompat keluar saat melihat wajah nona dari dekat." Sambungnya lalu ia menutup wajahnya karena malu.
"Awww..."
Hah? Aku tidak salah dengar kan?
Iris menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia lanjut berjalan dan menghiraukan mereka. Namun ketika ia melihat beberapa pelayan yang berkumpul lagi, Iris berhenti dan mendengarkan mereka.
"Benar kok. Aku lihat sendiri." Ucap Yakin seorang pelayan wanita pada temannya. "Waktu itu aku hanya mengantarkan beberapa cemilan tapi aku yakin aku melihat Baroness Linslett tersenyum."
"Baroness Linslett tersenyum?
"Iya. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya tapi suasana mereka terasa begitu akrab. Aku bahkan merasa kalau mereka seperti seorang teman yang sebaya."
Iris semakin heran. Ia hampir saja tidak bisa menahan mulutnya karena kaget. Bagaimana mungkin Baroness Linslett yang terkenal dengan sikap yang dingin dan keras pada muridnya tersenyum pada Alice yang notabenenya etika ia tidaklah di atas rata-rata. Bahkan aku harus bersusah payah agar bisa lulus dari bimbingannya.
"Haruskah saya ke sana dan menanyai mereka nona?"
"Tidak perlu. Kita juga akan tahu setelah melihat kakakku"
Setelah hampir sampai di kamar Alice, Iris dan Jane berhenti. Dari balik jendela, mereka melihat seorang gadis tengah berdiri di bawah pohon bersama seorang pelayan yang menemaninya.
Gadis itu tampak memegang sesuatu yang di letakkan di depan mulutnya. Karena penasaran Iris berjalan sedikit lebih dekat. "Dia....Siapa..?" Benaknya
Diterpa angin yang berhembus sepoi-sepoi. Rambut kuning keemasan yang tergerai lembut itu melambai begitu indah seiring angin membelainya. Lantunan suara merdu yang sepertinya muncul dari tabung kecil yang ditiup gadis itu membuat Iris tak bisa memalingkan pandangannya.
Gadis itu hanya berdiri dan memainkan sebuah musik namun ia bak seorang dewi yang keluar dari lukisan. Nada dari alat musiknya begitu merdu dan menenangkan hati. Entah kenapa Iris tanpa sadar memegang dadanya.
perasaan nostalgia apa ini? Aku... seperti merindukan sesuatu.
Ketika gadis itu selesai meniup alat musiknya. Ia pun kembali duduk dan disaat itulah Iris tersadar.
"Jane...Apa kau tahu siapa dia?"
" Dilihat dari segi fisiknya tidak ada orang di kastil ini yang memiliki ciri khas seperti itu selain Nyonya dan Nona Alicia." Jelas Jean.
Iris sekali lagi menatapnya dengan serius. Dia...Alice? Kakakku? Meyakinkan dirinya dengan menoleh pada Jane sambil memasang wajah penuh tanya. Jane pun mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
Iris pun segera menghampiri Alice meski ia sebenarnya masih kurang yakin. "Kau...Apa sedang kau lakukan disini?"
Alice menoleh dan tersenyum melihat Iris "Seperti yang kau lihat. Kami sedang piknik disini." Balasnya. Alice sebenarnya telah menyadari kehadiran orang yang menatap mereka dari jauh, namun bagaimana ia tak menyangka kalau ternyata keberadaan itu adalah adik dan pelayan pribadi miliknya.
" Apa kau...ingin bergabung?"
"Hah? Tidak perlu." Iris menatap Mary dan kembali ke Alice. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aura di sekitarnya terasa berbeda dari kakakku yang bodoh dan sembrono itu.
"Ku dengar kau hampir saja dibunuh?"
"Ya. Untung saja aku masih bisa selamat dari mereka."
Dengan wajah santai dan masih bisa tersenyum, Iris dibuat kesal olehnya.
"Setidaknya kau tidak merusak reputasi keluarga lagi di luar sana." Sindirnya.
Alice sendiri tak bisa melepaskan pandangannya dari Iris. Ia ingin sekali melompat dari tempatnya dan memeluk Iris.
Melihat Wajah yang lucu dengan kuncir dua itu, Alice hampir-hampir tak bisa menahan tangannya.
Wajah kecil yang sedang marah itu tampak imut dan menggemaskan bagi Alice.
"Apa yang sedang kau lihat?"
"Tidak, tidak ada."
Aneh? Aku merasa kalau dia sangatlah berbeda dari saudari ku yang dulu. Mungkin aku harus mencoba sesuatu.
Iris makin mendekat dan menyamakan tingginya dengan Alice yang sedang duduk. Sejumlah kecil Mana berkumpul pada jemari Iris. Kemudian ia membuat gelombang listrik ringan pada tangannya.
Alice tersenyum melihat gelagat Iris. Ia bisa merasakan fluktuasi Mana yang sedang berkumpul padanya. "Ku rasa ia akan melakukan trik yang sama lagi. Haruskah aku berpura-pura atau tidak?" Pikirnya.
Iris mengambil pergelangan tangan Alice lalu mulai melepaskan sedikit gelombang listrik tersebut.
Alice mengeratkan giginya menahan rasa kejut yang sihir itu berikan.
"Aku harap kau tidak lagi terus-menerus merusak reputasi keluarga kita." Tegasnya.
Mary khawatir melihat kedua nona nya. Suasana mereka tidak terlihat begitu baik.
"Kau tidak perlu khawatir akan hal itu." Alice melingkupi tangan Iris yang menggenggam salah satu tangannya dengan tangan lainnya "Aku tahu aku memang salah. Jadi, mulai dari sekarang aku akan memperbaiki kesalahan ku itu." Lanjutnya.
"K-kau..." Iris segera menarik tangannya.
"Aneh...dia tak seperti ini sebelumnya. Apa sewaktu ia ingin dibunuh ia tak sengaja membenturkan kepalanya?" Benak Iris.
Iris kembali berdiri. Dengan tatapan tajam iris bertanya "Siapa kau sebenarnya?"
Sontak Mary dan Jane kaget mendengar pertanyaan itu. Bukankah dia adalah Alice? Bagaimanapun dilihatnya dia adalah nona Alicia putri pertama keluarga Strongfort.
"Jawab aku!" Bentak Iris.
Melihat Alice tetap diam. Iris memerintahkan Jane dan Mary untuk menjauh dari mereka.
"Karena kau diam saja. Jangan salahkan aku kalau bertindak kasar."
Iris dengan cepat menyerang Alice dengan sebuah bola listrik yang ditembakkannya.
Alice tidak diam saja. Dengan sigap ia melompat mundur dan menghindari serangan tersebut.
"Katakan padaku, dimana Alice sebenarnya?"
Setelah ia melihat Alice menghindari serangannya dari jarak sedekat itu dengan mudah. Ia makin yakin kalau yang ada di depannya itu bukanlah kakaknya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Iris. Ini aku, Alice. Kakakmu."
"Kau! Kalau begitu aku akan memaksa mu mengatakannya."
[ Lighting Bolt ] [ Lighting Arrow]
Iris melancarkan sejumlah serangan sihir dengan cepat. Meski begitu. Alice tetap saja dengan lihai menghindari mereka. Iris makin kesal. Entah kesal karena seseorang menyamar sebagai kakaknya atau karena ia tak tahu dimana dan apa yang terjadi pada kakaknya saat ini.
"Dimana Dia!?" Teriak Iris
Mary dan Jane sangat khawatir melihat mereka. Keduanya saling memandang dan sepakat untuk memanggil Ernard agar menghentikan mereka.
Alice melihat raut wajah Iris tampak tidak begitu baik. Ia merasa bahwa ada kesedihan yang bisa terpancarkan dari matanya. Apa sebenarnya ia mengkhawatirkan ku?
Alice lalu merilekskan dirinya. "Kali ini aku akan memberimu sedikit pelajaran adik kecil ku." Gumamnya pelan.
Alice mengambil ancang-ancang dan menyiapkan posisinya.
[ Lighting Arrow ] Iris dengan sihir yang sama menembakkan panah listrik bertubi-tubi ke arah Alice.
Dengan sikap tenang, Alice menghindari serangan tersebut sambil bergerak cepat memperpendek jarak mereka.
Sementara itu, Iris makin kehilangan ketenangannya karena serangannya tak kunjung mengenai Alice, ia mulai tidak memperhatikan sekelilingnya.
[ Lighting Storm ]
Tiba-tiba fluktuasi Mana besar-besaran melingkupi area di sekitar mereka. Alice bisa merasakan kalau kali ini serangannya akan menimbulkan daya ledak yang kuat. Alice yang tadinya mendekat akhirnya kembali menjauh dari Iris.
Udara dingin layaknya badai mulai berkumpul diantar mereka, berputar perlahan dan menarik benda-benda yang ada di sekitarnya, tidak terkecuali Alice yang hampir kehilangan kuda-kuda nya. Pusaran topan itu dipenuhi dengan aliran listrik, apapun yang terhisap masuk akan tercabik-cabik.
Karena pergerakan Alice terhenti akibat pusaran topan itu. Iris pun memadatkan Mana di sekitarnya dan membentuk sebuah tombak.
Ernard yang panik setelah melihat dari kejauhan, ia bergegas berlari ke arah mereka, namun ia terlambat setelah Iris melepaskan sihirnya. "Iris! Hentikan!"
[ Thunder Lance ]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments