" Haaah... Haaahh..."
Suara nafas mereka mulai terengah-engah, terutama Alice yang bahkan tidak pernah berlari sejauh ini dalam hidupnya.
'Apakah sudah cukup jauh?' Alice yang tak sanggup lagi berlari tiba-tiba berhenti dengan nafas yang tak beraturan. "Aku... Aku tidak ingin lari lagi." Ucapnya
" Tapi nona..."
" Cukup. " Alicia kemudian menarik nafas panjang dan memperbaiki posisi berdirinya. " Kurasa...mereka tak...mengejar kita lagi. Kedua ksatria itu mungkin berhasil."
Begitulah harapnya, tapi..satu hal yang mereka lupa adalah pembunuh itu berjumlah 3 orang sedangkan ksatria yang menghadang mereka cuma dua.
Ketika kedua kstaria itu lelah bertarung melawan dua pembunuh. Salah seorang di antara mereka kemudian segera melompat menjauh dan mengejar Alice.
"Sialan!" Kesal seorang ksatria.
" Haha... Sepertinya mau tidak mau gadis itu harus mati malam ini. " Ucap senang salah seorang pembunuh.
Pembunuh yang lepas dari kedua ksatria itu terus berlari dengan sangat kencang. Hingga akhirnya ia melihat sosok ketiganya. Alice, Ronald dan pelayan wanita itu terlihat berhenti dan sedang beristirahat.
Sontak pembunuh itu dengan segera melemparkan pisau belati ke arah Alice.
Ronald yang bersandar di sebuah pohon, tiba-tiba melihat sosok orang yang sedang bersembunyi di balik salah satu pohon. Dalam sekejap orang itu, mengambil sesuatu dari saku celananya dan melemparnya ke arah Alice. "Nona Alicia!" Melihat belati itu terbang ke arah Alice, dengan sigap Ronald langsung bergerak menggunakan tubuhnya untuk melindungi Alice. Alhasil Ronald terluka pada salah satu bahunya dibagian bekakang.
Alice menjerit ketakutan dan tersungkur ke tanah. Jantungnya berdetak tak karuan. Hampir, ya, hampir saja belati itu mengenai kepalanya.
"Bawa pergi nona dari sini! Lindungi ia." Tegas Ronald pada pelayan wanita itu sambil memegang bahunya yang terluka.
" B-Baik! " Pelayan itu pun segera menarik Alice lalu pergi meninggalkan Ronald.
Melihat target buruannya menjauh lagi pembunuh itu tampak makin kesal. " Cih! Lagi-lagi dia lepas "
" Tak akan ku biarkan kau lewat "
Pembunuh itu berhenti dan melihat seorang pria tua di depannya. Ia tertawa pelan " Kau? Menghentikanku? Apa tidak salah?" Sindirinya lalu ia tertawa terbahak-bahak. "Yah... Setidaknya aku akan melampiaskan kekesalanku ini padamu karena menghalangiku."
Ronald menoleh ke belakang dan melihat Alice sudah hilang di balik pepohonan. Lalu ia pun mengeluarkan pisau kecil dari balik saku celananya.
" Apa itu? Pisau dapur? " Pembunuh itu kembali tertawa melihat senjata Ronald .
Ronald tahu ia tidak akan menang melawannya. Sekalipun itu pedang yang ia bawa. Ia tahu kalau dirinya tak memiliki kesempatan sama sekali untuk menang. Seorang kusir melawan pembunuh yang berpengalaman. Sungguh lelucon jika ia menang yang seorang laki-laki tua berusia 40-an.
Sebenarnya ia hanya ingin mengulur waktu sedikit lebih lama agar Alice bisa menjauh dari pembunuh itu.
" Majulah!" Ronald mengacungkan pisau kecil itu ke arah pembunuh tersebut.
" Serius? Baiklah kalau kau memang sebegitu niatnya. " Ucap pembunuh itu santai lalu ia menerjang cepat ke arah Ronald.
Saat pembunuh itu dekat di hadapannya. Ronald tiba-tiba melemparkan sebuah bola kecil ke tanah yang ternyata sebuah bom.
" uhuk - uhuk. " Asap yang cukup pedih muncul dan menghalangi pandangan si pembunuh. "Apa ini? Uhuk. Sial! Aku meremehkanmu kakek tua! " Kesalnya.
Kesempatan. Ronald yang mengendap-endap sambil menutup hidung dengan sehelai kain langsung menancapkan pisaunya ke paha pembunuh tersebut.
Pembunuh itu berteriak kesakitan. Reflesk ia pun menendang Ronald kebelakang " Kakek tua sialan! Uhuk " Pemburu itu makin kesal dan naik pitam.
Ronald tidak menyangka kalau bom asap pemberian Duke Strongfort akan sangat berguna saat ini. Ronald masih memiliki satu di sakunya. Tanpa tanggung ia melemparnya lagi ke arah pembunuh itu dan segera melarikan diri menyusul Alice.
~
Alice dan pelayan wanita itu sudah berlari cukup jauh meninggalkan Ronald , namun mereka tidak menyadari sama sekali bahwa mereka terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Jalan utama bahkan tak terlihat lagi dan pepohonan semakin lebat.
"No-nona tampaknya kita tersesat." Ucap pelayan wanita itu gemetar setelah ia menyadari sekelilingnya.
Setelah berhenti dan menarik nafas akhirnya Alice sadar kalau mereka benar-benar tersesat. "Tidak mungkin. Aku... Aku ingin pulang." Alice merasa sedih dan takut. " Kau! Ini salahmu! Ini salah kalian semua! Dasar tidak becus! Percuma keluargaku mempekerjakan dan membayar mahal kalian! " Umpatnya kesal.
Pelayan wanita itu hanya bisa tunduk sambil meminta maaf dengan suara pelan.
"Aaghh!.. Sudahlah aku lelah. Aku ingin istirahat."
Alice yang telah beristirahat dengan pakaiannya yang terlihat lusuh kembali berjalan bersama pelayan wanita itu.
" Hei! apakah kau tidak bisa memikirkan sesuatu?" Tanya Alice kesal.
" Maaf nona. Saya... benar-benar tidak tahu kita ada dimana. "
" Tidak berguna. "
Alice dan pelayan itu terus berjalan menyusuri semak dan pepohonan.
" Haahh... Gaunku jadi rusak begini "
Dalam keadaan seperti ini? Pelayan wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alice.
Ketika suara semak-semak disekitar mereka tiba-tiba berbunyi, Alice dan pelayan itu langsung kaget dan menoleh ke arahnya.
"A-apa itu? "
Jantung Alice berdebar tak karuan lagi. " Kau! Pergilah dan periksa " Perintahnya kasar.
Pelayan wanita itu tersentak sekejap dengan apa yang Alice katakan. Ia juga takut, bagaimana ini? Apakah itu adalah si pembunuh atau...
Pelayan wanita mau tidak mau perlahan berjalan ke arah semak-semak tersebut.
Saat ia semakin dekat, matanya terbelalak. Seekor babi hutan besar sedang mengunyah sesuatu tepat dihadapannya.
Pelayan itu menelan air ludahnya. Ia mencoba untuk menarik mundur kakinya yang tiba-tiba terasa begitu berat. Sialnya saat ia melangkahkan kakinya ke belakang, tanpa sengaja ia menginjak sebuah ranting dan berbunyi patah begitu saja.
Babi hutan itu spontan mengangkat kepalanya lalu menoleh, mata mereka saling bertemu. Pelayan wanita itu makin gemetar. Detak jantungnya seakan berhenti sesaat.
Karena sangking takutnya, ia segera berlari kebelakang. "No.. Nona! Kita harus pergi! " Ucapnya terengah-engah.
" Ap-apa? Ada apa? " Alice ikut panik melihat gelagat pelayannya.
Suara babi hutan yang menggelegar itu tiba-tiba terdengar di telinga mereka.
" He-hewan buas! "
Alicia dan pelayannya kembali berlari dengan sekencang mungkin.
Kali ini bukan lagi manusia atau pembunuh melainkan seekor babi hutan liar yang berbahaya. Bentuknya tidak tampak seperti binatang pada umumnya. Ukurannya yang dua kali lipat dari Alice membuat mereka benar-benar panik.
Bukan hewan liar biasa tapi babi hutan itu adalah hewan buas yang telah terkontaminasi miasma kegelapan dari suatu tempat.
Alice dan pelayan itu berlari bersama dengan tergesa-gesa. Tapi...ketika pohon-pohon semakin besar begitu pula dengan semak belukar yang makin lebat membuat keduanya terpisah beberapa meter. Babi hutan itu tidak pikir panjang, mana yang lebih menggugah menurutunya, itulah yang ia kejar. Ya. Seolah ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada Alicia.
" Ti-tidak! Jangan mengejarku!" Teriaknya sambil berlari. Jarak Alice dan pelayannya pun semakin jauh.
"Nona...! " Pelayan wanita itu berhenti, menoleh kearah Alice lalu ia berteriak cemas. Ia bersyukur dirinya tak lagi dikejar oleh hewan buas tersebut tapi nona nya sendiri belum selamat.
Alice yang berlari tanpa arah. Tersandung dan terjatuh. Ia berguling dan jatuh ke tebing yang curam.
"Nona!!!" Pelayan itu berteriak histeris melihat Alice terjatuh ke dalam jurang bersama dengan hewan buas itu.
~
Seorang pria gagah dengan postur tubuh tegap sedang berdiri berhadapan dengan Ernard. Rambut coklat dan mata hijau itu begitu mempesona dengan tampilan wajah tampan dan tampak maskulin.
" Saya tidak berharap Yang Mulia untuk melakukan hal tersebut" Ucap Ernard sopan pada pria itu.
Pria itu tidak lain adalah Kevin Ries Solus, putra mahkota yang akan mewarisi kerajaan kelak nantinya.
" Begitu rupanya... Maaf kalau aku sedikit merepotkan anda. "
Setelah bertukar kata dan mengucapkan perpisahan. Kevin pun meninggalkan kediaman Strongfort dan segera menuju kereta kudanya.
" Bagaimana? Apakah ada yang mencurigakan? "
Seorang pria berjubah hitam tiba-tiba muncul dari jendela kereta kudanya.
"Tidak Tuan. Sepertinya bukan disini." Lapor pria berjubah itu. " Maaf saya tidak bisa masuk terlalu jauh. Keamanan mereka terlalu ketat. " Lanjutnya.
" Seperti yang diduga dari keluarga Strongfort. Kalau mereka memang tidak melakukannya... itu lebih baik. Aku sendiri tidak ingin melawan mereka. " Ucapnya sambil meletakkan salah satu tangannya dibawah dagunya.
Beberapa saat setelah Kevin meninggalkan kediaman Strongfort. Ronald dan pelayan wanita tersebut menghampiri Ernard dengan keadaan berantakan. Dengan tergesa-gesa dan nafas yang tersengal-sengal, mereka mendekati Ernard.
"Tuan! " Panggil Ronald.
Ernard yang baru saja melangkah masuk melewati pintu tiba-tiba terkejut melihat penampilan mereka berdua, terutama Ronald yang lengannya berlumuran darah dan keadaan tubuhnya yang harus ditopang oleh pelayan wanita tersebut.
" Ronald, Elli. " Ernard bergegas menghampiri mereka. "Apa yang terjadi pada kalian?" Tanyanya panik.
Ernard dengan seksama memperhatikan kondisi Ronald . Luka di tubuhnya cukup parah bagi orang seusianya. Lalu... Bagaimana dengan Elli. Hanya pakaiannya yang compang-camping dan beberapa luka goresan kecil.
Ernard kemudian tersadar. Dimana putrinya, Alicia? Ia juga tidak melihat kedua ksatria pengawal Alicia.
" Alice? Dimana Alice? Apa dia baik-baik saja?!" Wajahnya tampak sangat cemas.
Ronald yang kebingungan tidak tahu harus menjawab apa. Jujur, berdasarkan apa yang Elli katakan padanya. Alice memiliki kemungkinan besar untuk tidak selamat.
Ronald hanya bisa diam dan tertunduk. Sementara itu Elli menggigit bibir bawahnya mencoba memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Ernard.
" Ma-maafkan kami Tuan. Nona Alicia... Dia..dia terjatuh ke dalam jurang "
~
Liana dan Ernard merasa sangat putus asa. Keduanya tidak tahu harus merespon apa lagi. Setelah mendengar cerita Ronald dan Elli. Liana sebagai ibunya menangis terisak karena kehilangan putrinya.
Air mata Liana terus saja membasahi pipinya, Ernard sebagai suami bahkan butuh waktu cukup lama untuk menenangkannya.
Pada malam itu, kediaman Strongfort sangatlah sibuk. Lentera, lilin dan semua penerangan di kediaman Strongfort tetap menyala. Dengan sumber daya yang ia miliki. Ernard mengerahkan begitu banyak ksatria untuk mencari Alice di tempat terakhir ia menghilang.
Hari pertama pencarian berlangsung panjang dan melelahkan. Para prajurit bahkan hampir dibilang tidak memiliki waktu untuk istirahat.
Ernard dengan tegas memerintahkan mereka untuk mencarinya ke setiap sisi hutan tanpa memberikan perintah istirahat sama sekali.
Para ksatria sudah lama tidak melihatnya seperti ini. Wajahnya mungkin sedih tapi tekad itu begitu jelas di mata mereka. Terakhir kali mereka melihatnya hanya ketika dalam perang.
Lanjut hari kedua, pencarian mulai dipersempit ke beberapa wilayah. Terutama bagian-bagian dalam hutan.
Semetara itu Liana dengan mata yang sedikit bengkak masih terpuruk dalam kesedihannya.
" Mungkin... Kita harus merelakannya. " Ucap Ernard pelan.
Liana menatap suaminya dengan terbelalak namun berkaca-kaca. " Merelakannya? Aku bahkan belum melihat tubuhnya. Aku yakin Alice pasti masih hidup. " Tegasnya penuh harap.
Melihat kondisi istrinya. Ernard kemudian mendekap erat Liana. "Baiklah. Aku akan mencarinya lagi." Dalam kamar itu mereka serasa tenggelam menahan sedih.
Dan begitulah hari ketiga pencarian kembali berlangsung. Setelah para ksatria mendapatkan istirahat yang cukup. Kali ini pencarian dimulai dari siang hari dan akan berakhir hingga malam.
Beberapa dari mereka meneriakkan nama Alice, beberapa dari mereka menelusuri semak dan pepohonan, beberapa dari mereka menggunakan kemampuan pelacak namun....nihil.
Hari sudah larut, matahari yang tenggelam menandakan bulan sudah waktunya menyinari malam.
" Tunggu! Apa itu? " Ucap seorang ksatria saat ia melihat sobekan kain dan beberapa noda darah pada sekitaran sisi sungai.
Ksatria tersebut memanggil beberapa orang lainnya. Dengan menggunakan obor di tangan, mereka berjalan menyusuri sisi sungai. Mengikuti jejak yang mereka temukan. Mereka akhirnya tiba pada sebuah danau kecil.
Bercak darah yang sedikit kering dan tampak mulai memudar terlihat di tanah di dekat danau saat mereka meneranginya dengan obor. Mereka kaget dengan apa yang ditemukannya.
Keesokan harinya, di kediaman Duke Strongfort. Beberapa dokter baru saja keluar dari kamar Alice.
Melihat raut wajah Ernard dan Liana, Salah satu dokter mulai berkata. " Lukanya sangat parah. Sungguh beruntung nona masih hidup, tapi...mungkin peluangnya akan sangat kecil."
Liana terkejut dan menahan nafasnya sejenak. Apa...Alice akan pergi meninggalkannya?
Liana kembali berderai air mata. Ia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Ernard.
" Luka sobek pada beberapa bagian tubuh, kemungkinan akibat ranting atau benda tajam lainnya mungkin bisa sembuh tapi...pendarahan pada bagian kepala dan luka memar di sekitar jantung cukup sulit untuk bagi kami. " Jelas dokter itu. Ia terdiam sejenak lalu berpikir " Mungkin jika itu orang-orang dari kuil. Nona muda akan memiliki peluang hidup lebih tinggi. " Lanjutnya.
Kuil ya...?
Dalam hal ilmu medis para dokter memang ahlinya. Namun sangatlah sedikit dari mereka yang memiliki kemampuan penyembuh seperti orang-orang di kuil.
Sihir penyembuh sendiri terbilang cukup langkah untuk ditemukan. Sifatnya bukan hanya memulihkan, tergantung dari kemampuan orang tersebut, sihir mereka bahkan seperti memutar balik waktu dimana membuat sebuah luka seolah tidak pernah ada. Namun tidak banyak orang yang bisa membayar mereka, berhubung jumlah orang yang ahli dalam sihir pemulihan di kerajaan solus hanya sedikit.
" Baiklah. Kurasa aku akan meminta kuil untuk mengirimkan satu ada dua priest mereka "
Setelah mengantar kepergian para dokter. Liana yang sejak tadi menahan tangisnya berlari ke dalam kamar Alice.
Ia melihat putrinya terbaring di ranjang dengan keadaan tubuh penuh luka.
Perban putih hampir bisa menutupi sekujur tubuhnya.
Liana menarik sebuah kursi dan duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Alice perlahan dan membelainya.
" Sayang... Bangunlah... Jangan tinggalkan ibu. " Harapnya penuh kecemasan.
Meski Alice terbilang susah di atur dan keras kepala namun Liana tetaplah menyayanginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments