"Oh iya Mary. Kau boleh istirahat atau melakukan apa yang kau mau selama jam pelajaranku berlangsung." Kata Alice saat Mary membantunya untuk berpakaian. Mary berpikir sejenak dengan meletakkan telunjuknya di bawah dagunya. "Sepertinya saya tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dilakukan nona." Balasnya.
"Benarkah? Mungkin saja kau akan menemukannya saat sedang berkeliling akademi nantinya."
"Baiklah, saya akan mencobanya nanti."
Setelah berpakaian dan menyiapkan alat belajarnya. Alice berangkat menuju gedung akademi. Alice sengaja pergi lebih awal di banding murid lainnya, selain tidak menarik perhatian, dia bisa menikmati suasana fajar dan segarnya udara embun pagi. Alice juga mengintip beberapa tempat yang nantinya akan menjadi tempat ia belajar.
Ketika ia sedang berdiri sambil memandangi denah akademi. Tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menabraknya. Orang itu tadinya membawa tumpukan kotak yang tinggi hingga menghalangi pandangannya.
Kotak-kotak itu berjatuhan dan pakaian serta beberapa barang lain sedikit berserakan keluar dari kotak itu.
"Ma..maafkan aku." Dengan canggung gadis itu merapikan kembali barangnya masuk kedalam kotak. "Maaf, aku tidak sengaja."
Alice diam sejenak dan melihat wajah yang terasa familiar itu. "Oh. Aku akan membantumu." Segera ia membantunya memungut barang milik gadis itu.
Ketika ia menyerahkan salah satu barangnya. Keduanya bertemu dan saling bertatap muka.
Gadis itu kaget melihat Alice. "Ka-kamu...Alicia?"
Alice memiringkan kepalanya sedikit karena heran "Ya...Aku Alicia?"
"Ta-tapi... bukannya kamu sudah di keluarkan? Apa benar kamu Alicia dari keluarga Strongfort." Gadis itu mulai kehilangan wajah senyumnya dan makin panik.
"Ya. Itu aku. Alicia Lein Strongfort yang pernah di keluarkan."
Keduanya mulai mengingat wajah masing-masing. Dengan begitu banyak celaan dan juga penganiayaan yang Alice pernah lakukan membuat dada gadis itu terasa berat. Sementara itu, Alice sendiri merasa tidak enak dengan gadis yang di depannya. Ia pernah mendorongnya ke air mancur, membuang beberapa pakaiannya dan mengacak-acak buku-bukunya.
Alice tiba-tiba bangkit, sontak membuat gadis itu kaget. "Eh?A-apa yang akan ia lakukan? Apa jangan-jangan aku akan di siksa lagi?" Pikirnya takut. Dengan status keluarganya, tidak orang yang berani melawan saat Alice menyakiti mereka. Gadis itu berpikir bahwa mungkin ia selamat diakademi ini, namun bagaimana dengan keluarganya atau saat ia telah lulus.
Sayangnya kecurigaannya itu berbanding terbalik. Alice kembali duduk dengan posisi yang sama dengannya. Ia meraih kedua tangan gadis itu. "Sungguh, aku minta maaf sedalam-dalamnya."
Hah?! Gadis itu hampir tidak bisa menjaga rahangnya mendengar permintaan maaf Alice.
Alice lalu membantunya berdiri, mengambil salah satu kotak miliknya dan menyodorkannya pada gadis itu. "Aku tahu, aku telah banyak bersalah padamu tapi ku mohon maafkan aku." Katanya sambil menundukkan kepalanya.
Gadis itu bingung. Apa yang terjadi? Apakah yang di depannya itu adalah Alice yang sama? Apa waktu dua bulan itu bisa membuat orang berubah 180° seperti ini? Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Tu-tunggu sebentar. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Gadis itu kembali canggung dan bingung. Ia melirik ke kiri dan ke kanan karena tak tahu bagaimana harus menatap Alice. Ia harap seseorang bisa muncul dan membantunya.
"Jadi...Apak kau memaafkanku?" Sekali lagi tanya Alice dengan lembut membuat perhatian gadis itu kembali terpaku padanya.
"Hmm..iya." Jawabnya pelan sambil ia mengangguk.
Sebuah pelukan hangat tiba-tiba ia dapatkan dari Alice yang membuatnya tekejut. "Bahkan Alice yang dulu tidak pernah mau menyentuhku. Ia selalu memandang ku rendah dan jijik hanya karena kasta kami yang jauh berbeda. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi." Benak gadis itu.
"Karena kau sudah memaafkan ku. Sini aku bantu."
"Sungguh? Terima kasih."
" Oh iya. Sekali lagi aku ingin memperkenalkan diriku. Aku Alicia Strongfort putri pertama dari keluarga Strongfort. Kau boleh memanggil ku Alice."
"Aku Latina. Dari keluarga yang sederhana dan kau boleh memanggilku Tina jika kau menyukainya."
"Tentu Tina Senang berkenalan denganmu."
"Senang berkenalan denganmu juga Alice."
Keduanya bertukar perkenalan hangat dan ramah. Dalam hatinya Latina merasa kalau ia bisa akrab dan menjadi sahabat dengan Alice. Ia bahkan kagum dengan wajah Alice yang berseri dan senyuman hangat yang ia berikan padanya.
Keduanya tertawa pelan setelah mereka berkenalan.
~
Setelah lonceng besar berbunyi yang menandakan jam pelajaran sudah di mulai. Alice berjalan mengikuti seorang guru wanita yang akan membawanya ke kelasnya.
Suara bising para murid yang bercengkrama masih bisa terdengar dari koridor luar kelas.
Ketika guru wanita itu membuka pintu. Puluhan pasang mata menyaksikan sosok anggun dan menawan yang ada di belakangnya. Gadis itu menoleh dan memberikan sebuah senyuman pada mereka. Sontak para pria, tidak, bahkan beberapa wanita serasa jatuh hati padanya.
Kulit putih mulus yang berseri, wajah imut dengan bibir kecil berwarna merah muda dan hidung mancung serta matanya yang memberikan kesegaran layaknya lautan biru yang luas membuat orang-orang sulit memalingkan pandangannya.
"Ehhem!" Guru itu membuat para murid yang terpesona kembali sadar.
Dalam hatinya Alice tertawa kecil. "Hah....Dasar anak-anak. Setampan apapun kalian, kalian masih terlalu dini untukku. Kembali setelah seratus tahun lagi." Benaknya. Konsep tentang usia manusia memanglah berbeda. Sihir tidak membuatmu abadi, meski membuatmu muda tentu ada imbalan yang harus di bayar. Karena telah hidup ratusan tahun lama, Alice bahkan tidak memandang mereka sebagi pria apalagi trauma masa lalu ketika ia dikhianati masihlah berbekas di kepalanya.
Bicara tentang sihir. Guru itu mengkerutkan Alisnya pada Alice. Seolah Alice membawa sihir pemikat tapi ia sadar, dengan kecantikannya siapapun mungkin akan sulit menolaknya.
"Tenang murid-murid. Saya akan memperkenalkan murid baru kali ini."
Para murid mulai bising di tempatnya. Bukankah waktunya kurang tepat? Murid darimana? Sebentar lagi kan turnamen musim dingin apa tidak masalah? Dan begitulah diskusi mereka.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Tapi kali ini berbeda. Dia sebenarnya bukan murid baru, hanya saja karena terjadi suatu masalah, dia harus tinggal di rumah dan harus belajar privat."
Masalah? Bukan murid baru? Apakah dia sakit-sakitan? Aku tidak pernah melihatnya tapi....
"Diam!" Teguran tegas guru itu membuat kelas kembali tenang. "Silakan perkenalkan dirimu." Guru itu memberi isyarat dengan tangannya pada Alice.
"Senang berkenalan dengan kalian. Aku Alicia Lein Strongfort atau lebih di kenal Alicia."
HAAAH?!
Kaget. Murid di kelas itu kompak terkejut setelah mereka mendengar gadis itu memperkenalkan dirinya. Senyuman dan rasa penasaran mereka tiba-tiba memudar.
Dan sekali lagi Alice tertawa dalam batinnya "Menyenangkan.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments