Seorang kakek tua dengan janggut panjang serta rambutnya yang mulai memutih sedang berjaan mondar-mandir di tempatnya dengan perasaan cemas yang tak karuan. "Dia memang mengatakan bahwa putrinya sudah berubah tapi.." Kakek tua itu mengingat beberapa masalah yang pernah di timbulkan oleh Alice. "Aku sendiri masih belum yakin." Gumamnya diikuti helaan nafasnya.
Kakek tua itu adalah pemilik akademi dari Royal Seed, dimana para bangsawan menempatkan putra putri mereka dan juga jalur emas bagi rakyat biasa yang memiliki kemampuan.
Setelah melewati perjalan yang cukup panjang, akhirnya Alice telah sampai di depan gerbang akademi Royal Seed. Disuguhi dengan pemandangan air mancur yang megah di bagian tengah dan jalanan bata yang tertata rapi serta taman-taman indah di setiap sisinya. Alice menghirup nafasnya dalam-dalam. "Setelah sekian lama, aku kembali lagi meenjadi seorang murid." Gumamnya
Di bawah langit senja, Alice menapaki jalanan bata itu menuju ke ruangan kepala akademi di temani Leon dan juga Mary. Menyusuri koridor sepi dan melirik ke beberapa ruang kelas tampaknya para murid telah benar-benar kembali ke asrama mereka.
"Kalian tunggu saja disini" Kata Alice setelah ia sampai di depan pintu ruang kepala akademi.
"Baik nona." Jawab keduanya bersamaan.
Alice membuka pintu dan menemui seorang kakek tua yang sedang menatap keluar jendela. Setelah kakek tua itu berbalik. Alice dengan anggun dan hangat menyapanya. "Selamat sore Pak Kepala Sekolah." Katanya sambil melemparkan sebuah senyuman hangat.
Untuk kesan pertama, Kakek tua itu merasa takjub dan terdiam sesaat untuk mengamati perubahan seperti apa yang terdapat pada Alice. Kakek itu menyipitkan kedua matanya. "Kenapa orang-orang selalu mengamatiku saat mereka melihatku?" Batin Alice. "Tapi berkat itu aku jadi terbiasa." Lanjutnya terkekeh pahit dalam kepalanya.
"Seperti yang kau tahu, Alicia Lein Strongfort. Ayahmu dan juga beberapa guru pembimbingmu telah merekomendasikanmu untuk kembali belajar di akademi ini." Kakek tua itu berhenti sejenak lalu ia mengambil selembar kertas yang ada di atas meja kerjanya. "Berdasarkan dari surat mereka, kau telah mengalami kemajuan pesat dalam pembelajaranmu. Tapi, apa kau yakin untuk masuk dan menaati peraturan yang berlaku di akademi ini?" Jelasnya menegaskan dengan wajah serius.
"Tentu Pak. Aku tahu dan sadar akan peraturan itu."
"Kalau begitu, sekali lagi aku ingatkan bahwa status kebangsawanan di sekolah ini tidakklah berlaku, bahkan pangeranpun harus tunduk pada setiap peraturan yang ada selama ia masih menjadi murid di akademi ini." Lanjut kakek tua itu.
" Aku mengerti."
Setelah menjelaskan cukup panjang pada Alice mengenai kelas dan beberapa materi lainnya. Kakek tua itu lalu mempersilakan Alice untuk ke asramanya. "Alicia. Selamat datang di akademi Royal Seed." Sambut kakek tua itu dengan senyuman membuat Alice berbalik sebelum ia keluar dari pintu. "Ya, Terima kasih."
Setelah Alice pergi, kakek tua itu duduk dan menyandarkan tubuhnya seolah ia melepas semua beban yang baru saja menumpuk pada kedua pundaknya. Kakek tua itu menegelus janggutnya yang panjang sambil berkata. "Aku bahkan merasa kalau dia bukanlah Alicia yang sesungguhnya. Pembawaannya yang berbeda, senyuman dan tutur bahasanya benar-benar berbanding terbalik dari apa yang ku ingat. Yah, setidaknya aku bisa yakin dengan apa yang mereka katakan padaku."
~
"Meski mereka berkata bahwa tidak ada perbedaan status tapi jelas-jelas ruangan ini memang di khususkan untuk seorang bangsawan." Kata Alice setelah ia melihat kamarnya yang ternyata begitu besar untuk satu orang murid.
"Kalau begitu nona, saya pamit dulu." Mary lalu membungkukkan badannya dan berbalik pergi tapi, ia bahkan belum sempat untuk melangkah. Alice menahan tangannya.
"Kau disini saja." Singkatnya saat ia melihat wajah kaget.
"Tapi nona, untuk sekamar dengan anda...saya tidak berani. Lagipula mereka telah menyediakan kamar khusus untuk para pelayan."
"Ruangan dan tempat tidurnya cukup luas untuk dua orang. Bahkan ada satu kamar kosong disini. Kau bisa menempatinya jika tidak ingin berbagi ranjang denganku." Alice menarik Mary ke dalam. Lalu ia menoleh ke Leon yang telah meletakan barang bawaan mereka. "terima kasih Leon, kau boleh isitrahat sekarang."
"Baik nona."
Leon pun dengan bimbang berlalu meninggalkan kamar Alice. Dalam hatinya, semenjak malam itu, Leon telah menumpuk begitu banyak pertanyaan.
Di gelapnya malam di temani angin dignin yang berhembus, seperti biasa Leon berlatih dengan giat dan keras di suatu tanah lapang tak jauh dari asrama Alice. Karena kedua asrama antara putra dan putri terpisah, Leon yang mendapat tugas untuk melindungi Alice memilih untuk tidak terlalu jauh darinya apalagi upaya pembunuhan pada Alice telah terjadi dua kali.
Berat dugaannya, Leon merasa kalau pembajakan Hangard dan kelompoknya telah di rencanakan seseorang. Leon mulai kehilangan fokus pada ayunan pedangnya ketika ia mengingat kepungan Hangard yang tiba-tiba dengan senjata lengkap dan jumlah yang banyak, Leon yakin kalau apa yang telah terjadi di hutan bukanlah kebetulan. Apalagi Ernard kala itu sengaja memberangkatkan Alice dengan karavan kecil dan tidak begitu mewah. Bermaksud untuk merahasiakan perjalanannya. "Apa mungkin ada seseorang yang berkhianat di kediaman Strongfort?" Benak Leon lalu ia menghentikan ayunan pedangnya. Leon meraih sehelai kain yang ia sandarkan di dekat sarung pedangnya dan mengelap keringatnya. "Kurasa aku harus memberi tahu Duke tentang hal ini."
Leon meninggalkan tanah lapang itu dan melirik ke arah asrama putri. "Aku tidak tahu kenapa mereka mengincar nona Alicia dan aku tidak tahu sebenarnya apa yang telah terjadi pada nona."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments
Arifa Zahra
siapa pengkhianat sebenarnya
2023-03-18
1
Rita Susanti
semakin seru.....
2023-03-03
1