"Aku tidak tahu hal aneh apa yang telah terjadi pada Nona Alicia. Menurut para para pekerja di kastil, dia berubah total setelah mengalami kecelakaan." Benak Leon.
Setelah menikmati makan malam, Leon memutuskan untuk berjaga dengan memilih bersandar pada batang pohon sambil memejamkan matanya.
Leon merasa aneh ketika ia memikirkan tentang Alice. "Aku yakin dia benar-benar nona. Tapi, ada sesuatu yang membuatku merasa seperti ia adalah sosok yang lain." Masih dalam keadaan bersiaga. Leon mengingat akan sikap dan sifat Alice yang baru ia temui hari ini setelah sebulan lamanya berjaga di perbatasan. "Nona biasanya tempramental dan begitu arogan. Bahkan ketika melihatku ia selalu berusaha mencari kesempatan untuk menggodaku. Tapi saat ini aku sama sekali tidak melihat satu pun dari tingkahnya itu."
Leon tidak mengira bahwa kepergiannya sebulan membuat ia melewatkan banyak perubahan pada kediaman Duke. Para pelayan yang biasa kaku dan tegang saat berhadapan dengan Alice kini begitu santai dan selalu antusias dipenuhi senyuman saat mereka melayaninya.
Leon yakin bahwa dia memanglah Alice yang selama ini ia temui, hal yang membuatnya yakin adalah selain fisik dan ciri khas Liana ibu Alice yang melekat padanya. Ketika mereka pertama bertemu dimana Alice memalingkan pandangannya saat itu. Leon tahu kalau ia merasa malu akan kejadian malam itu tapi itulah yang membuatnya heran. Sejak kapan Alice malu akan perbuatannya? Bahkan dari tatapan matanya, Leon tidak lagi melihat putri manja dan naif itu. Hanya rasa percaya diri dan sesekali kali sesuatu yang lembut dan hangat yang ia tunjukkan pada orang lain disekitarnya.
Setelah tenggelam cukup lama dalam pikirannya. Leon tiba-tiba mendengar suara rumput yang berbunyi tak cukup jauh dari tempat mereka berkemah. Leon meletakkan satu tangannya pada pedangnya. Tetap santai dan fokus akan suasana di sekitarnya, Leon tahu kalau serangga malam itu tiba-tiba tenang seolah mereka terganggu dan meninggalkan sarang mereka.
Berselang beberapa lama, sebuah anak panah melesat ke arahnya, tapi dengan tangkas Leon menangkapnya dengan satu tangan. Ia memasuki posisi siaga dan siap untuk menghunus pedangnya. Leon menghampiri kusir yang sedang tertidur pulas dan membangunkannya. Si kusir yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba panik dan agak pucat setelah Leon mengatakan padanya untuk bersiap akan adanya serangan.
Suara langkah kaki yang berat mulai mendekati mereka dan begitulah rombangan bandit bersenjata berlari mengepung tempat mereka berkemah.
"Hahahaha!" Gelak tawa salah seorang bandit dengan badan besar dan kekar di antara mereka. "Rampas semua milik mereka. Bunuh para pria dan sisakan yang wanita." Tegas pemimpin mereka dengan suara yang lantang.
Puluhan bandit mengepung sebuah kelompok kecil yang hanya terdiri dari satu prajurit dan seorang kusir serta wanita cantik yang tak berdaya. Sepertinya para bandit mendapatkan santapan yang lezat malam, begitu pikir pemimpin bandit itu.
Karena takut, si kusir dengan pedang dan perisai sederhana berusaha melindungi dirinya sambil gemetaran. Sementara itu, Leon yang sudah siap telah menghunuskan pedangnya.
Para bandit itu berpikir jika mereka menghabisi si ksatria itu, mereka akan dengan mudah melakukan pekerjaan mereka. Toh, mereka menang dalam jumlah.
Beberapa bandit kemudian berlari dengan pedang di tangan mereka ke arah Leon. Dua sabetan pedang dari arah depan tiba-tiba menerjangnya. Leon menahan keduanya dengan pedangnya. Kemudian seseorang bergerak dengan cepat ingin menusuknya dari belakang. Dengan sigap Leon yang mendorong keduanya dan berputar kebelakang sambil menebas perut orang itu.
Pertarungan yang sengit dan melelahkan dimana Leon terkepung seorang diri melawan para bandit. Leon yang yang khawatir menengok sejenak ke arah kereta kuda. "Apakah Nona masih tertidur dalam keadaan ini? atau dia terlalu takut untuk bersuara?" Benaknya cemas.
"Apa yang kau lihat. Lawanmu ada disini!" Bandit lainnya kembali mengayunkan ayunan pedangnya dari bawah, tapi Leon lagi-lagi berhasil menghindarinya layaknya setipis kertas dan diikuti dengan tusukan pedangnya.
Jeritan teriakan para bandit terdengar nyaring di tengah hutan. Satu persatu jumlah dari puluhan mereka sudah mulai berkurang. Tapi naas, Pemimpin bandit itu mulai bergerak. Sebuah anak panah dengan cepat melesat menuju Leon. Ketika ia berusaha menghalaunya dengan pedang, tubuhnya terdorong kebelakang beberapa meter jauhnya.
"Seorang pengguna Aura." Tidak ia sangka, Leon terkejut karena lawannya kali ini bukan bandit biasa. Berdasarkan serangan panahnya. Leon tahu kalau Aura dari pemimpin bandit ini begitu kuat.
"Hahaha! Untuk tubuhku kecil sepertimu bisa menahan serangan ku. Rupanya kau punya kemampuan juga." Bandit itu berjalan selangkah demi selangkah mendekati Leon.
"Hangard!" Kata Leon terkejut ketika ia melihat wajah pemimpin kelompok bandit itu lebih jelas. "Hangard si Taring berdarah dari serigala merah."
"Oohh..Kau mengenal ku?" Bandit itu kemudian tertawa besar sekali lagi. "Dia mangsaku kalian urus sisanya." Ucap Hangard lalu ia menarik pedang besar dari punggungnya. "Buat aku serius wahai ksatria." Lanjutnya lalu ia memasang kuda-kuda siap untuk bertarung.
Sial!
Leon benar-benar terpojok. Di satu sisi dia perlu melawan Hangard yang terkenal dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, namun disisi lainnya ia harus melindungi Alice yang mana ia sendiri tidak bisa bergerak bebas karena terhalang oleh Hangard.
"Sebelum kau mengkhawatirkan mereka. Khawatirkan dirimu terlebih dahulu." Jelas Hangard lalu ia menebas pedangnya ke samping. Tekanan udara yang kuat membuat beberapa batang pohon di belakang Leon terkikis dan hampir patah. Untungnya Leon segera menghindar.
Karena lawannya adalah pengguna pedang Aura, maka Leon juga menggunakan pedang Aura miliknya.
[ Aura Sword ] Kemampuan bagi pengguna senjata. untuk mengumpulkan mana pada senjata mereka guna memperkuat kekuatan, ketahanan, ketajaman dan serangan yang dihasilkan dari senjata yang digunakan.
Suara bilah logam yang saling bertubrukan dan tekanan angin yang kuat menghempaskan dedaunan di sekitar keduanya.
Dengan cepatnya mereka bergerak dan saling mengadu pedang.
"Hahaha!Bagus Bagus. Aku suka ini."
Leon mendecihkan lidahnya, berharap ia bisa segera menolong Alice.
Sementara itu dari dalam kereta, Alice sendiri tetap duduk dengan santai sambil membaca bukunya. Ia melihat dari celah kecil jendela akan pertarungan Leon dan Hangard. "Jadi itu yang namanya pedang Aura ya. Hampir tidak jauh berbeda dengan pedang Qi yang kumiliki." Alice lalu mengumpulkan energi Qi pada salah satu telapak tangannya dan membuatnya memanjang hingga seperti sebilah pedang.
Sesaat kemudian pintu keretanya terbuka dan seorang bandit berdiri disana. "Hehe...cantik sekali." Seringai bandit itu membuat Alice merasa jijik. Bandit itu menggosok-gosok kedua telapak tangannya "Diam dan tenanglah manis. Dengan begitu ka--uu..." Bandit itu terjatuh begitu saja setelah Alice menusuk tembus dadanya dengan pedang Qi di tangannya. Alice bahkan tidak berkedip saat melihat darah yang mengalir keluar dari tubuh orang itu.
Para bandit lainnya yang melihat rekannya tewas begitu saja mulai terlihat pucat dan panik. Haruskah kami maju? Entah kenapa aura disini lebih mencekam dibandingkan disana. Mereka menoleh kebelakang dan ke depan membandingkan mana yang lebih menakutkan.
Melihat Mary bergerak, Alice menahan sehelai kain yang menyelimutinya agar tidak jatuh. "Kalau kalian benar-benar masih ingin hidup, aku sarankan untuk tidak menggangu ku." Singkatnya jelas sambil ia merapikan kembali selimut Mary.
"A-Apa yang kalian takutkan?! Dia seorang gadis kecil dan sendirian. Kita pasti bisa mengalahkannya!" Sorang semangat salah seorang diantara bandit-bandit itu. Para bandit lainnya setuju dan mengangguk. Kenapa harus takut? Bisa saja yang tadi itu hanya beruntung saja karena mereka lengah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments