Melihat Alice yang diam Ernard merasa ia lebih baik membatalkan keputusannya "Kau tidak harus pergi jika kau tid-"
"Aku akan pergi." Jawab Alice yakin memotong Ernard.
"Apakah kau serius?"
"Ya ayah. Lagi pula itu hanya 1 tahun." Alice pernah di keluarkan karena masalah perilaku dan nilai akademis. Kini setelah ia mendapat kembali ingatan dan juga kemampuannya di dua kehidupan sebelumnya. Mungkin ia harus menilai sendiri seperti apa standar pengetahuan umum di dunia ini dan belajar lebih banyak lagi di luar sana. "Lagi pula akademinya dekat dengan menara penyihir. Aku jadi bisa lebih sering melihat Iris." Batinnya girang ketika ia mengingat wajah imut adiknya.
"Syukurlah. Dengan rekomendasi dari beberapa pembimbing mu. Tidaklah sulit untuk masuk kembali dan membuatmu menyusul materi yang tertinggal. Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian mereka, sepertinya kau mengalami banyak kemajuan yang pesat." Jelas Ernard sambil sesekali ia membuka beberapa lembar kertas. Kertas itu adalah laporan hasil penilaian dari pembimbing yang mengajar Alice. "Yang berarti Minggu depan kau sudah harus berangkat." Akhir katanya setelah ia menutup kertas laporan di tangannya.
"Baik ayah." Alice berbalik dan meninggalkan ruangan.
Di malam hari, di dekat balkon kamarnya. Alice bersandar pada teralis batu sambil menopang salah satu dagunya. "Masih banyak yang belum ku tahu tentang dunia ini. Benar-benar pengetahuanku masihlah dangkal."
"Nona." Panggil Mary dari balik gorden kemudian ia menghampiri Alice. "Apa yang anda lakukan di luar sini? Udaranya cukup dingin." Tatapan khawatir terlihat di matanya.
"Aku sedang ingin menikmati pemandangan langit malam." Jawab Alice dengan nada yang sedikit rendah terdengar ia seperti sedang mencemaskan sesuatu.
"Apakah saya harus mengambilkan sesuatu yang hangat untuk menemani nona?"
"Terima kasih. Kalau begitu tolong coklat panas ya." Pinta Alice dengan ramah.
Setelah Mary berlalu, Alice kembali melihat bintang-bintang di langit. Ia mengangkat tangannya seolah ingin meraih salah satu dari mereka. "Begitu banyak hal yang terjadi di tiga kehidupan ku. Aku tidak tahu kenapa jiwaku menyatu pada jiwa Alicia, apakah langit sekali lagi ingin memainkan triknya padaku?" Alice menatap langit malam dengan penuh pengharapan. "Aku tidak mengerti apa yang akan terjadi kedepannya. Siapa yang mengincar keluarga ku? Apakah ada sesuatu yang masih belum ku ketahui? Setidaknya aku harap mereka baik-baik saja selama aku di akademi." Batinnya penuh harap. Meski ia bisa mengunjungi mereka di hari liburnya tapi berada jauh dari tempat yang ia sebut rumah dan selalu diidam-idamkannya adalah hal yang cukup berat.
"Aura ini..." Alice tiba-tiba merasakan kehadiran dari beberapa orang dengan cepat menuju rumahnya. Alice melompat dari balkon ke atap kastil menggunakan Qigong nya. Ia menyipitkan matanya dan melihatnya ke arah gerbang. "Dari simbol di baju besi mereka. Sepertinya mereka ksatria milik kami." Gumamnya. Semenjak ia meningkatkan kekuatannya. Indranya meningkatkan lebih tajam.
Melihat ksatria-ksatria yang menunggangi kuda itu. Alice merasa tertarik orang pada yang memimpin pasukan tersebut. Seorang ksatria dengan baju besi lengkap beserta helm nya yang berada paling depan terasa benar-benar berbeda dari yang lainnya.
"Aku bisa merasakan kekuatan yang besar darinya meski mereka terlihat sama." Batinnya lalu ia diam mencoba mengingat siapa orang yang memiliki kekuatan seperti itu di kediaman Strongfort. "Aku cuma tahu satu orang selain ayah. Kalau itu dia... mungkin saja." Gumamnya lagi, lalu ia mengangkat kedua bahunya mulai acuh dan segera melompat turun dari atap ke balkonnya. "Kalaupun itu benar dia, ku harap aku tidak bertemu dengannya sampai waktu aku keberangkatan ku ke akademi.
Merasa bahwa Mary sudah begitu dekat. Alice memperbaiki pakaiannya yang terlibas saat ia melompat tadi. "Nona, ini coklat panasnya" Kata Mary dengan senyuman sambil membawa nampan.
Seolah tak terjadi apa-apa Alice lalu berjalan menuju kursi yang di sampingnya. "Hanya satu?" Katanya setelah ia duduk dan melihat Mary meletakkan secangkir coklat panas itu di meja depan Alice.
"Ya...?" Balas Mary dengan nada bertanya. "Apakah saya harus membuat secangkir lagi untuk nona?"
"Tidak, tidak perlu. Duduklah" Alice menepuk pelan meja di depannya.
Mary kaget dan segera menolak ajakan Alice "Maaf nona saya... tidak bisa" Balasnya membungkuk sedikit.
Alice menghela nafasnya dan berdiri. Ia berjalan ke belakang Mary "Tidak apa-apa. Tidak ada orang lain disini." Mary menarik kursi dan menekan lembut kedua pundak Mary untuk membuatnya duduk. Mary bingung melihat ke kiri dan ke kanan tidak tahu harus apa dan terpaksa ia hanya bisa menerima ajakan Nona nya begitu saja.
Setelah Mary duduk, Alice pergi dan mencari sesuatu dari lacinya. "Sepertinya ada beberapa biskuit yang ku simpan disini." Gumamnya sambil membuka beberapa rak lemari. "Ini dia." Lalu Alice kembali ke mary dengan senyum hangat dan duduk berhadapan dengannya.
"Silakan. Kau tidak perlu terlalu tegang." Kata Alice menyodorkan biskuit yang ada dalam kantung kemasan.
"Ba-baik. Terima kasih nona." Mary dengan ragu kemudian mengambil sepotong biskuit itu dan menggigitnya sedikit demi sedikit sambil menatap Alice.
Alice menarik nafas panjang dan melipat kedua tangannya di tas meja. "Mary, sebentar lagi aku akan pergi ke akademi. Apakah kau mau ikut?" Tanpa basa-basi Alice membuat Mary terkejut dengan apa yang ia katakan.
"A-akademi?!" Mulutnya berhenti mengunyah mendengar pernyataan Alice.
"Ya. Aku kembali untuk menyelesaikan satu tahun terakhir ku disana."
Mary ragu sekaligus kaget. Kenapa harus sekarang? Bukankah nona Alicia sudah di keluarkan? Sebagai seorang pelayan pribadi tentu pertanyaan Alice adalah sesuatu tidak memerlukan jawaban yang lain selain iya. Dilema, Mary baru saja bekerja di kediaman Strongfort terlebih lagi, keluarganya tinggal di kota Vulture.
Mary ragu untuk menjawab dan hanya bisa diam menunduk. Melihat sorot mata Mary sebelumnya Alice tidak begitu tega untuk memaksanya "Kalau kau tidak mau juga tak apa. Aku tidak memaksamu." Jelasnya tersenyum hangat.
Mary masih menunduk sambil memainkan kedua jari telunjuknya. "Ta-tapi nona...kalau saya tidak menemani nona, lantas nona bagaimana?"
"Aku? Tentu aku akan pergi sendiri." Dalam benaknya Alice berpikir kalau ini bukan pertama kalinya ia berpergian seorang diri. Lagi pula ia tidak ingin membuat Mary kesulitan jika harus berkata bahwa ia akan kesepian tanpanya.
Alice kembali meneguk minumannya. "Jika hatimu berat. Tinggallah disini, jadi kau bisa lebih sering mengunjungi keluargamu." Kata Alice begitu lembut. Alice tahu dan sedang mengalaminya saat ini, bagaimana rasanya jika harus jauh dari yang namanya rumah. Tapi disisi lain ia berpikir kalau mereka berbeda. Setidaknya Alice telah mengalaminya beratus-ratus tahun lamanya, berbeda dengan Mary yang memang tumbuh besar bersama keluarganya sejak lahir.
Mary tiba-tiba berdiri dan membungkuk. "Ma...maaf kan saya nona." Tanpa penjelasan lain dan tak memandang wajah Alice, Mary berlalu meninggalkan kamar Alice.
Alice menarik nafasnya dalam-dalam dan menghelanya. "Setidaknya aku bisa mempercayakan keluargaku padanya" Gumamnya pelan.
~
Setelah persiapan yang matang dan beberapa jam lagi sebelum ia berangkat ke ibu kota. Ernard memanggil Alice ke ruang belajarnya.
Ketika Alice telah sampai dan membuka pintu. Sosok pria berambut merah dan bermata ungu yang indah seperti menyambut Alice dengan postur tubuhnya yang tegap. Kedua mata mereka saling bertemu. Bertukar pandang sejenak. Wajah pria itu memang begitu tampan. Hidung mancung dan kulit putihnya terlihat mempesona bagi kaum wanita.
Seketika ketika melihat pria itunya, Alice langsung menolehkan pandangannya ke arah lain dan ia pun teringat akan kenangan masa lalunya saat dirinya masihlah Alice yang dahulu.
Apakah ada sesuatu yang terjadi diantara mereka?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments