"Namaku Cloud dan aku adalah seorang tentara bayaran. Entah kenapa aku berakhir mengawasi seorang gadis remaja. Yah, apalagi gadis tersebut adalah putri tertua dari Duke Strongfort. Sungguh aku sedang sial atau beruntung?"
Cloud. Seorang tentara bayaran peringkat B. Kemampuannya telah terasah dengan baik saat ia masih cukup muda. Ia telah menyelesaikan berbagai pekerjaan dari serikatnya. Mengawasi, melindungi atau bahkan membunuh telah ia lakukan.
Cloud ingat kala itu ia sedang senggang dan sedang menikmati waktunya di sebuah bar. Dalam keadaan setengah sadar karena mabuk. Cloud mengucapkan suatu kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan.
Ia berkali-kali mengingatnya, namun yang ia ingat hanyalah ketika ia menghantam botol minuman ke kepala seseorang. Selebihnya, ia hanya mendengar dari rekan-rekan minumnya bahwa ia tak seharusnya mengumpat keluarga Duke seperti itu. Sialnya, beberapa ksatria yang kebetulan bekerja di keluarga Duke sedang ada di bar tersebut. Demi menjaga reputasi keluarga Strongfort. Para Ksatria itu memberi pelajaran padanya.
Karena mabuk Cloud dihajar habis-habisan oleh mereka dan jatuh pingsan. Setelahnya, Cloud diseret ke hadapan Duke Strongfort. Cloud menarik sikapnya yang suka memberontak. Di bawah tatapan mata dan tekanan dari aura dingin yang di timbulkan Ernard, Cloud hanya bisa diam dan menerima kesalahannya.
"Putriku Alicia, dia ingin mengunjungi kota. Kuharap kau bisa bekerjasama denganku dan melindunginya." Tanpa basa-basi, dengan suara dinginnya Ernard malah tidak terdengar seperti meminta pertolongan, tapi terdengar seperti memaksa Cloud.
Cloud yang sudah sadar dari mabuknya saat berhadapan dengan Ernard menjawab permintaan itu dengan begitu gugup. Keringat dingin terlihat mengucur dari pelipisnya. "Ba-baik Tuan. Saya akan melakukannya." Ia terlihat seperti anak anjing yang bertemu dengan serigala.
Di balik gang kecil, Cloud dan beberapa pengawal kediaman Strongfort bersembunyi sambil mengawasi Alicia.
"Ughh...Andai saja aku tidak mabuk malam itu. Mungkin akan mengalahkan kalian dan kabur setelahnya. Sialan." Keluhnya sambil memegang kepalanya yang masih sakit. "Tapi benar-benar Duke Strongfort seperti monster. Bahkan aku yang peringkat B saja tak sebanding dengannya." Cloud menghela nafas panjangnya. "Yah....Setidaknya aku mendapat bayaran yang cukup memuaskan pada pekerjaan ini."
Dengan mengenakan topi bundar dan berpakaian sederhana layaknya rakyat biasa, Alice mengunjungi kota bersama Mary. "Kenapa nona harus berpakaian seperti ini?" Tanya Mary sambil mengikuti Alice disisinya.
Mary kaget sewaktu Alice mendatanginya dimalam hari untuk meminjam pakaian miliknya. Ia ingin menolak permintaan Alice. Tapi apalah daya baginya yang seorang pelayan.
"Aku tidak ingin terlalu mencolok, kau tahu." Jawab Alice sederhana dan santai.
"Kalau begitu kenapa nona tidak memakai jubah bertudung saja?"
"Bukannya itu akan membuatku tampak lebih mencolok? Lagi pula memakai jubah beserta tudungnya di hari yang cerah ini hanya akan membuatku gerah."
Mary mengangguk "Benar juga apa kata nona." Mary kemudian terdiam sejenak lalu menatap rambut Alice.
Melihat lirikan mata Mary, Alice tahu kalau Mary sedang melihat rambutnya. "Rambutku? Oh...kurasa kita memang harus segera menemukan seorang alkemis." Ucapnya sambil memegangi rambutnya. Rambut Alice dan Liana memang sangatlah langkah dan jarang ditemui dikalangan rakyat biasa.
Menikmati hirup pikuk keramaian kota dan suara para pedagang yang menjajakan dagangan mereka di pinggir jalan. Membuat Alice merasa seperti sedang ada di pasar malam.
"Apa kau biasa datang kesini Mary?" Alice tiba-tiba bertanya setelah melihat Mary yang cukup familiar dengan lingkungan sekitar mereka.
"Iya, saya biasa kesini bersama adik laki-laki saya."
"Adik? Aku baru tahu kau punya seorang adik?" Karena Alicia yang sebelumnya memang tidak pernah begitu peduli pada orang lain selain dirinya.
"Dulu sebelum saya bekerja di kediaman Strongfort. Kami berdua biasa kemari untuk menjual setangkai bunga." Mary tersenyum saat mengingat masa-masa yang ia habiskan bersama adiknya waktu itu. "Tapi semenjak saya di terima sebagai pelayan di kediaman Strongfort, saya akhirnya mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menghidupi kami bertiga." Lanjutnya sambil tertegun dengan nada suara yang terdengar sedih.
"Bertiga? Kalian hanya tinggal bertiga?"
"Iya, saya, ibu saya dan adik-adik laki-laki saya." Wajah Mary terlihat sedikit muram.
Aku ingin menanyakan tentang ayahnya tapi aku takut lancang.
"Bagaimana kalau setelah aku mendapatkan apa yang kucari, kita kunjungi keluarga mu?" Alice berencana untuk menghibur suasana hati Mary dengan mengunjungi keluarganya.
Mary kaget "Eh?Ah? Ta-Tapi Nona...rumah saya sedikit..." Mary terbata-bata sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya berusaha untuk menolak Alice.
"Tidak masalah, sekalian aku juga ingin memberikan sebuah oleh-oleh." Timpal Alice disertai senyuman. "Lagi pula. Mary yang telah merawat ku saat sedang tak sadarkan diri waktu itu. Bukan begitu?" Setelah ditunjuk menjadi pelayan pribadi Alice, Mary dengan tulus merawatnya. Merapikan dan membersihkan kamar Alice. Membersihkan tubuhnya dengan kain, terkadang Mary juga memijat lengan atau kaki. Alice agar tidak begitu kaku saat ia terbangun nantinya. Alice yang telah sadar, akhirnya tahu tentang apa yang di lakukan Mary padanya sewaktu ia berkeliling kastil. Para pelayan wanita selalu membicarakan tentang jerih payahnya.
Melihat senyum lembut Alice dan ucapan yang terasa manis itu membuat pipi Mary memerah. "No-nona..." Benak Mary di penuhi perasaan kagum pada Alice.
Setelah berjalan di tengah keramaian dan melihat sekitar. Akhirnya mereka menemukan toko seorang Alkemis
"Toko Kucing hitam?" Begitulah papan namanya tertulis. "Apa kau pernah kesini Mary?"
"Tidak. Saya juga baru pertama kali kesini."
Pakar padu atau Alkemis adalah seorang ahli yang menggunakan Mana dan ilmu fisika dalam membuat ramuan. Di dunia ini mereka tidak membuat pil menggunakan tungku. Melainkan mereka menggunakan botol kaca. Kalau kuingat-ingat mereka memang menggunakan teknik orang barat dalam bereksperimen. Dengan pengetahuan ku sebagai seorang doktor di kehidupan pertamaku, ku rasa membuat ramuan adalah hal yang patut dicoba. Keduanya kemudian masuk ke dalam toko.
"Ohh...selamat datang di toko kami." Sapa penuh senyum seorang wanita cantik dari balik pintu. Rambut panjang sebahu berwarna ungu dengan paktian yang sedikit terbuka pada bagian dada dan lengan atasnya membuat Alice tertegun. "Ba-bahkan guru pembimbing ku yang ahli sihir tingkat 5 pun tak seperti ini. Apakah ini memang pakaian khas kalau mereka sudah semakin mahir dalam bidangnya?" Benak Alice. Alice menahan dirinya untuk berkomentar. Tiba-tiba saja ia mengingat Iris, adiknya. Membayangkan kalau Iris akan seperti itu juga...Alice terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Ada apa nona? Apa ada sesuatu?" Mary cemas melihat Alice yang melamun tiba-tiba dan terlihat seperti ketakutan.
Alice tersenyum sambil tertawa kecil menutup rasa malunya. "Tidak apa-apa."
Alice kembali melihat Wanita tadi. "Dia..." Setelah ia perhatikan dengan baik, Alice merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. "Aura yang kuat dan ada sesuatu yang tidak nyata darinya." Begitulah menurut Alice. Semenjak ia tak begitu tahu banyak tentang sihir. Ia hanya bisa menduga-duga perasaan mengganjal yang timbul tiba-tiba.
Aku harus lebih banyak belajar lagi.
"Kedua gadis cantik ini, kalau boleh tahu apa yang sedang kalian cari?" Tanya wanita itu dengan ramah.
Alice melirik beberapa barang di sekeliling toko. Alice mengangkat jari telunjuknya di hadapan wanita itu. "Pertama, aku ingin sebuah pewarna rambut yang tidak permanen. Apakah kau menjualnya?"
"Tentu kami memilikinya. Apa ada hal lain lagi?"
Alice berjalan ke sebuah benda yang menarik perhatiannya. "Aku ingin ini." Ucapnya sambil menunjuk benda tersebut. "Selain itu aku ingin beberapa potion." Lanjutnya.
Setelah mendapatkan barang pesanan. Alice mengambil dan menunjukkan potion pewarna rambut yang baru saja ia beli. "Bagaimana cara memakai ini?"
"Mudah saja, kau hanya perlu meminumnya." Jawab Wanita itu.
"Meminumnya?" Alice menatap wanita itu seolah-olah tak percaya. Semudah itu?
"Ya. Hanya meminumnya saja dan rambutmu akan berubah warna." Jelasnya lagi.
Alice melihat botol potion di tangannya. Warna ungu pekat itu terlihat mencurigakan. Apakah rasanya pahit? Tidak ada obat yang tidak pahit. Menahan rasa curiganya. Alice langsung saja meneguk potion tersebut.
Sekali teguk dan Alice memasang wajah masam. Mary bisa tahu kalau potion itu pastilah terasa pahit. Hanya butuh waktu beberapa detik saja. Warna rambut Alice sudah mulai berubah warna. Dari kulit kepala hingga ke ujungnya, perlahan-lahan. Warna pirang keemasan itu, berubah menjadi coklat.
"Bagaimana?" Tanya Alice sambil mengibaskan kan rambutnya di hadapan Mary.
Mary yang takjub bukan karena perubahan warna rambut Alice, spontan menjawab. "Y-ya. Cantik."
Alice merasa senang dengan jawaban Mary. Meski keduanya sebenarnya saling salah paham.
"Datang lagi ya..." Ucap ramah wanita itu setelah melihat Alice dan Mary akan meninggalkan tokonya.
"Tentu, terima kasih."
Alice dan Mary Kembali berjalan melihat-lihat suasana sekitar kota. Mereka singgah di beberapa toko cemilan sebelum menuju ke rumah Mary. "Paman, aku beli 2 tusuk" Alice memesan di salah satu kedai yang menjajakan daging panggang tusuk.
"Tentu." Penjual itu kemudian memberi mereka dua tusuk dagangannya. "Silakan."
"Terima kasih paman." Setelah mengeluarkan dua keping perunggu. Alice memberikan satu tusuk pada Mary dan mulai melahap bagiannya.
"Apa nona tidak masalah?"
"Tentang apa?" Jawab Alice dengan mulut yang sedang mengunyah.
"Maksud saya... bukankah nona tidak seharusnya melakukan hal ini."
Alice memiringkan kepalanya karena tidak mengerti. Ia terdiam sambil mengunyah makanannya memikirkan maksud pertanyaan Mary. "Owh...Maksudmu tentang apa yang ku lakukan sekarang?" Ia baru sadar setelah melihat sisa tusuk yang ia pegang.
Mary mengangguk-anggukan kepalanya tampak khawatir. "Kalau tuan melihatnya, nona pasti akan mendapat masalah lagi."
Dengan santai Alice mengibas-ngibaskan salah satu tangannya. "Selama tidak ada yang memberi tahunya. Aku tidak akan kena masalah, iya kan?" Ia mengedipkan salah satu matanya pada Mary.
"I-iya! Nona tenang saja!" Mary menatap Alice penuh yakin sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Alice tertawa kecil melihat tingkah lucu mary. "Oh iya, kau tidak perlu memanggilku nona, panggil saja aku Alice. Lihat, bukankah kita terlihat sama saat ini." Alice bergerak lebih dekat ke Mary hingga kedua lengan mereka bersentuhan.
"Ta-tapi nona..."
"Alice." Tegasnya singkat.
"A-Alice..?"
Alice tersenyum dan menarik lengan Mary. "Ayo, selanjutnya kita ke toko kue untuk membelikan adik dan ibumu sesuatu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments