"No-nona...apa benar saya boleh menikmati ini semua?" Dihadapkan pada sebuah pancake lezat dari toko kue terkenal di kota. Mary terkejut karena ketika dia memakannya, makanan itu akan menjadi kue terenak pertama yang pernah ia nikmati dalam hidupnya.
"Tentu dan Mary, bukankah sudah ku bilang panggil aku Alice."
"Sa-saya....ehem, maaf." Mary lagi-lagi hampir saja kelupaan untuk tidak berbicara dengan formal.
"Kalau begitu, terima kasih." Dengan senyum lebar, tangan Mary yang sedikit gemetaran meraih garpu yang ada di sisi kue tersebut. Perlahan memotong sedikit kue dengan garpunya, lalu mengoleskannya pada saus karamel yang terlihat menggoda yang meleleh dari bagian atas hingga bawah pancake itu. Mata Mary berbinar-binar saat melihat potongan kue kecil yang akan ia suap ke dalam mulutnya. "Enak!Ueenaak!"
Senyum lebar yang terpampang di wajahnya membuat Alice tertawa kecil. Mary sadar setelah ia mendengar suara tawa Alice. Ia merasa malu sampai-sampai pipinya memerah.
"Tak perlu malu. Lanjutkan saja."
Alice yang duduk di depan Mary sambil menopang dagunya memperhatikan sikap manis pelayan kecilnya itu. Sepang waktu kemudian suara bel pintu dan sambutan pemilik toko membuat perhatian Alice tiba-tiba teralihkan.
Selagi ia menikmati pemandangan di depannya, muncullah seorang pemuda yang mengenakan jubah bertudung. "Apakah aku akan terlihat seperti itu jika seandainya aku memakai pakaian yang Mary katakan tadi?"Benaknya. Dari atas hingga bawah, Alice memperhatikan pakaian yang pria itu kenakan. "Mencolok. Terlalu mencolok. Hanya orang bodoh yang mau mengenakan pakaian seperti itu di siang bolong" Benaknya lagi.
Bagaimanapun dilihatnya, pria itu memang tampak mencurigakan. Dia berdiri di meja depan kasir dan terlihat sedang memesan sesuatu. "Dia bukan orang biasa." Alice masih menilai pria itu dalam pikirannya. Postur tubuh yang tegap, langkah kakinya dan caranya bernafas menunjukkan bahwa pria itu adalah seseorang yang terlatih.
Merasa kalau ia diperhatikan sejak tadi. Pria itu menoleh dan mencari sorotan mata yang memperhatikan dirinya. Saat ia melihat sekelilingnya, ia hanya menemukan seorang gadis biasa yang terus saja memandanginya. Pria itu tak berpikir panjang dan hanya merasa kalau pandangan gadis itu mungkin hanya rasa penasaran saja.
Sedikit yang perlu ia ketahui bahwa gadis yang ia anggap biasa itu sebenarnya adalah Alicia Lein Strongfort yang selalu mengejar-ngejar dirinya. Begitu pula dengan Alice. Karena tak bisa melihat wajah pria itu. Ia tak mengira kalau pria itu sendiri adalah pangeran Kevin Ries Solus, sekaligus putra mahkota kerajaan Solus yang dahulu ia tergila-gila padanya.
Setelah Menyantap kue dengan nikmatnya, Mary masih tak bisa menurunkan kedua sisi bibirnya bahkan setelah mereka keluar dari toko.
"Apa memang seenak itu ya?" Bagi Alice yang tiap hari memakan hidangan lezat, pancake yang tadi mereka nikmati adalah hal yang biasa-biasa saja.
Mary mengangguk-angguk dengan cepat. "Aku bahkan sampai ingin tambah."
"Lalu kenapa kau tak mengatakannya tadi? Bagaimana kalau kita kembali lagi?"
"Ti-tidak perlu. Aku jadi tidak enak. An-Kau juga sudah membeli banyak untuk keluarga ku." Mary sangat bersyukur dengan apa yang sudah ia terima saat ini. Baginya sosok Alice adalah orang yang penting selain keluarganya. Ia begitu baik dan memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Mary Bahkan tak pernah bisa membayangkan hari dimana ia akan berteman dengan seorang bangsawan, meski itu hanya untuk kali ini saja.
"Kalau begitu selanjutnya kita lewat mana?" Mereka tiba di perempatan jalan yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah air mancur kecil.
Mengikuti petunjuk Mary mereka berjalan lagi ke arah kanan. "Rumahku ada di seberang jalan dalam gang kecil."Alice bergerak mengikuti Mary. Setelah melewati beberapa orang yang berlalu-lalang. Mary berhenti "Dann? Dann!" Teriak Mary memanggil seseorang dari seberang jalan.
Alice melihat seorang bocah laki-laki dengan pakaian yang sedikit lusuh melambaikan tangannya dari seberang jalan. Laki-laki itu membawa sebuah keranjang dan beberapa lembar kertas. Apa dia sedang berjualan? Apa itu surat kabar?
Senyum di wajah laki-laki itu menyambut Mary, kakaknya. Sangking senangnya ia bergegas berlari ke arah Mary melewati beberapa orang yang berlalu lalang. "Kakak!" Panggil adik Mary berlari mendekat.
"Minggir! Minggir! Menyingkir dari jalan!" Teriak seorang kusir yang mengendarai kereta kuda dengan begitu cepat. Bagaimana bisa kereta kuda melaju dengan cepatnya di tengah kota?
Kusir itu tak peduli dengan warga yang ada di hadapannya. Ia terus saja mencambuk kuda-kudanya sambil meneriaki orang-orang untuk menyingkir.
Suara teriakan dan hentakan kaki kuda itu sampai pada telinga Alice. Namun jarak dan kerumunan orang makin banyak membuat Alice sulit untuk bergerak menolong Alice.
"Awas! Minggir dari jalan! Ha!" Kusir itu makin mendekat
"Sial!Tubuhku masih belum pulih total. Kalau begini..."
Dann adik Mary terus berlari menghampiri mereka.
"Dann! Berhenti! Berhenti!" Alice tiba-tiba berteriak. membuat Mary heran dan takut. "Nona!? kenapa?" Benaknya.
Sayang teriakan itu tak mampu meraih perhatian Dann. Dann terus saja berlari menyebrang jalan "Mau bagaimana lagi." Alice mengambil ancang-ancang dan sudah siap untuk bergerak cepat ke arah Dann "Setidaknya aku punya potion penyembuha saat ini. Tapi sebelum ia melompat, sebuah pria melesat mendahuluinya.
Pria itu melesat begitu cepat dan segera meraih Dann. Karena kemunculannya yang tiba-tiba, kuda-kuda yang kusir itu kendalikan kaget dan berhenti tiba-tiba. Untungnya Kereta kuda yang belakangnya tak terbalik tapi hanya berhenti mendadak saja.
Kusir itu marah dan turun dari kereta. "Kau! Apa kau tahu apa telah yang kau lakukan?!" Dengan jari telunjuknya dan wajah yang memerah karena amarah, kusir itu meneriaki pria yang menolong Dann.
Alice terkejut, ternyata yang menyelamatkan Dann adalah pria berjubah tadi yang ia temui di toko kue. Alice dan Mary menghampiri mereka.
Setelah turun dari gendongan pria itu. Dann berlari sambil menangis ke dalam pelukan Mary. "Kakak! Aku takut!
Bocah yang berusia sekitar 9 tahun itu hampir saja mati di hadapannya. Alice mengeratkan giginya karena marah dan menatap tajam si kusir.
Si kusir yang tak sadar pada tatapan tajam Alice terus saja mengoceh."Oi kau! Apa kau tuli hah?! Aku tanya apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?!" Kusir itu sekali lagi membentak pria berjubah itu dengan suara kerasnya.
"Ck. Beginilah rakyat jelata yang tak tahu akan posisinya." Kusir itu mendengus. "Ku beri tahu ya. Kalian itu menghalangi kereta kuda milik Count Lehman." Jelasnya begitu angkuh. Kusir itu kemudian melihat Dann yang menangis terisak dalam pelukan Mary. "Bocah, sebaiknya kau dan keluarga mu siap-siap menanggung resiko karena menyinggung seorang bangsawan." Ancamnya sambil menatap rendah Dann dan Mary.
Pria berjubah itu hanya bisa diam menunggu waktu yang tepat untuk bergerak tapi berbeda dengan Alice. Melihat Dann yang menangis dan wajah ketakutan Mary membuatnya naik pitam.
Memang kenapa kalau ia telah hidup lima ratus tahunan namun belum bisa mengendalikan amarahnya, persetan dengan hal itu. Alice sudah cukup melihat prinsip kekuatan untuk menindas dan mengendalikan mereka yang lemah.
"Bangsawan inilah bangsawan itulah. Rendahan inilah rendahan itulah." Gumamnya pelan.
Suasana di sekitar mereka tiba-tiba menjadi sedikit lebih dingin. Mungkin kusir, Mary dan orang lain tak menyadari itu, tapi pria berjubah itu merasakan sesuatu yang aneh.
"Energi apa ini? Tidak terasa seperti sihir, darimana asalnya?" Benaknya curiga merasakan lonjakan kekuatan yang asing.
Pria berjubah itu tertegun sejenak dan mulai mengamati sekelilingnya. Ia tidak merasakan apapun yang datang dari kerumunan di sekitarnya. Kalau begitu..., pria berjubah itu menoleh ke arah gadis yang ada di sampingnya.
"Dia? Tak salah lagi, energi aneh itu berasal darinya."
Di lain pihak. Kusir itu terus saja mengoceh dan mencela Mary beserta adiknya. Bagaimana dengan si pemilik kereta kuda itu? Ia bahkan tak menunjukkan dirinya.
Kusir itu semakin menjadi-jadi. Ketika tangannya mulai memegang lengan Mary dengan cukup keras. Pria berjubah itu sadar kalau kusir itu sedang berada di ambang nyawanya. Dari tekanan yang gadis di sampingnya keluarkan, pria berjubah itu cukup ragu jika bisa menghentikan gadis itu dengan kekuatannya. Ia tidak ingin ada korban jiwa apalagi jika harus di hadapan publik.
Pria berjubah itu dengan segera menarik tangan si kusir yang memegang lengan Mary.
"Kau!? Apa yang-"
Belum selesai ucapannya, kusir itu menjerit kesakitan. Pria berjubah itu melakukan hal yang sama bahkan lebih keras dari apa yang ia lakukan pada Mary.
Tetap mencengkram tangan si kusir, pria berjubah itu kemudian membuat si kusir bertekuk lutut. Ia "Katakan pada tuanmu, kalau ia masih ingin duduk di posisinya sebagai bangsawan. Segera pergi dan jangan pernah melakukan hal yang sama lagi." Tegas pria itu saat berbisik di telinga si kusir.
Si kusir yang takut, segera berlari menuju kereta kuda yang ia bawa. Dari balik jendela ia menyampaikan pesan si pria berjubah.
Karena tak ada respon dan melihat si kusir hanya diam disana. Pria berjubah itu mendekati mereka. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan sontak suara teriakan laki-laki yang memerintahkan si kusir untuk pergi dari tempat itu terdengar keluar.
Melihat apa yang baru saja terjadi. Alice mulai merasa heran dan curiga pada pria berjubah yang ada di hadapannya "Apa sebenarnya identitas pria itu?" Namun, lebih dari itu, syukurlah Mary dan adiknya baik-baik saja.
Mereka bertiga kemudian berterima kasih pada pria berjubah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments