Di malam itu ketika Alice baru saja pulang dari salah satu rumah keluarga bangsawan lainnya. Ia berjalan sempoyongan sendirian menuju kamarnya. Alic dalam keadaan mabuk berusaha sebisa mungkin untuk tetap stabil dan terus berjalan meski penglihatannya tidak begitu jelas. Sesekali kali ia berhenti dan membungkuk karena perasaan mual.
Ketika Leon yang saat itu baru saja selesai dengan latihan rutinnya di malam hari sedang berjalan berkeliling kastil. Ia tak sengaja melihat Alice yang sedang jongkok dekat sisi tembok. Leon segera berlari menghampirinya "Nona Alicia?! Apa yang terjadi? Apa anda baik-baik saja?" Panik, Leon mengira Alice terluka atau sedang kesakitan.
Dengan mata sayup Alice mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria berdiri tepat di depan wajahnya. "Hweeh?" Alice mengamati wajah pria itu semakin dalam meski penglihatannya berbayang-bayang. "Pria tampan~" Alice terkekeh lalu menyeringai.
Tatapan panik Leon berubah menjadi heran dengan salah satu alisnya yang terangkat. "Nona Alicia?"
Alice menyeimbangkan tubuhnya dan berusaha berdiri. Ketika ia baru saja setengah berdiri, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Leon dengan sigap segera menangkap Alice. "No-nona?"
Alice yang terjatuh ke dalam balutan lengan Leon mengangkat kedua kakinya "Yey..aku terbang~" Ucapnya sambil meluruskan kedua tangannya ke depan.
"Sepertinya anda sedang mabuk nona."
Leon segera mengangkat dan memperbaiki posisi Alice untuk berdiri tegak. "Saya akan mengantar anda ke kamar." Kata Leon lalu ia dengan tampang yang tidak enak dan gelagat yang pasrah memapah Alice. "Kuharap dia tidak muntah padaku." Benaknya risau.
Ketika telah sampai depan pintu kamar Alice. Leon melepaskan tangannya "Baiklah, kalau begitu saya harus pergi nona." Leon lalu berbalik untuk pergi namun, Alice tiba-tiba saja meraih salah satu tangannya. Sontak Leon berhenti dan melihat kebelakang. Wajah yang sedikit merah dan mata sayup itu menatap dirinya. "Mau kemana~?Temani saja aku~" Suaranya yang dibuat-buat untuk terdengar lembut dan menggoda membuat Leon jijik. Ia merasa bulu kuduknya baru saja berdiri sejenak.
"Ma-maafkan saya nona, tapi saya harus pergi" Kata Leon berusaha menarik tangannya tapi sayangnya Alice menggenggamnya dengan cukup kuat.
"Eeeh~Tapi aku kan kesepian~"
Leon menghela nafasnya begitu panjang dan menepuk jidatnya. "Aku benci dengan wanita pemabuk." Keluh batinnya. "Maaf nona tapi saya memang harus pergi. Tuan baru saja memanggil saya."
"Ayahku? Dimana?"
Karena tidak ada jalan lain. Leon pun menipu Alice dan segera kabur meninggalkannya "Di sana, di belakang anda?" Kata Leon sambil menunjuk ke arah belakang Alice.
Ketika Alice berbalik saat ia tidak menemui siapapun di belakangnya. Kehadiran Leon sudah tidak lagi di depan matanya.
"Ya sudahlah..." Alice yang masih sedikit sempoyongan berjalan ke arah ranjangnya. Tanpa mengganti busana atau melepaskan sepatunya. Alice merebahkan tubuhnya begitu saja di atas kasur.
Dan seperti itulah kisah memalukannya saat dengan Leon, ksatria yang saat ini di hadapannya.
"Aaagghh..!!!" Jerit batinnya. "Aku seperti ingin segera menggali lubang dan mengubur diriku."
Sambil menahan malu karena pertemuan yang tak terduga ini. Alice mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Aku rasa kau sudah tahu siapa dia." Ucap Ernard yang berdiri di samping Leon.
"Iya ayah."
"Dia yang akan menjadi ksatria pribadi mu mulai dari sekarang." Jelasnya singkat lalu ia berjalan ke belakang meja kerjanya.
Alice benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak protes. Tapi karena itu adalah keinginan ayahnya dan itu memang adalah yang terbaik baginya. Alice menahan egonya.
Alice menghadap ke arah Leon "Kalau begitu, Terimakasih karena mau menjadi pengawal ku." Katanya dengan senyum hangat dan suara lembut. Memulai kesan yang hangat dan menghilangkan pengalaman memalukan yang pernah terjadi.
Leon tak bergeming untuk sesaat. Ia malah menatap Alice dengan dengan datar. Leon merasa ada sesuatu yang berbeda tapi dia tak tahu apa itu. "Suatu kebanggaan bisa melindungi nona." Balasnya juga dengan sopan sambil menundukkan kepalanya. Kebanggaan? Leon bahkan berusaha untuk menyembunyikan perasaan risih nya.
~
Ketika semuanya telah siap dan begitu pun dengan Alice. Kereta kuda dan beberapa koper sudah menunggu. Alice melihat wajah-wajah haru mereka ketika mengantar keberangkatannya. Suasana hangat terasa hingga ke lubuk hatinya.
"Nona jangan lupa untuk pulang." Ucap seorang pelayan wanita ketika Alice berjalan mendekati mereka.
"Nona juga harus jaga diri disana." Lanjut yang lainnya.
Alice tersenyum lembut dan tertawa pelan. "Kalian ini kenapa? Aku hanya pergi selama setahun dan aku bukannya mau ke kerajaan lain. Itu hanya ibu kota." Balasnya sedikit bercanda. Alice berjalan mendekati Hubert dan Hilda.
"Paman Hubert dan Bibi Hilda. Aku sudah menganggap kalian sebagai keluarga ku. Tolong jaga ayah dan ibuku." Pintanya saat ia melingkupi tangan Hilda.
"Baik nona." Jawab Hubert.
Alice lalu menghampiri Liana dan Ernard. Dia langsung memeluk erat ibunya seolah mereka tak akan bertemu lagi. "Ibu, jaga dirimu ya."
"Iya sayang. Jangan lupa untuk mengirim surat." Liana menepuk-nepuk punggung Alice perlahan.
Ketika ia melepas pelukannya. Alice selanjutnya mengucapkan salam perpisahannya pada Ernard. "Ayah, aku pergi dulu."
Ernard merasa senang dan bangga, ia berharap dengan perubahan putrinya ini. Alice akan menjadi lebih baik dan memiliki masa depan yang cerah. Ernard meletakkan tangannya di atas kepala Alice dan mengelusnya pelan. "Jaga dirimu dan jangan buat kami khawatir lagi terutama ibumu."
"Iya, Ayah."
Alice pun berbalik berjalan menuju kereta kudanya diiringi lambaian dari para pelayan wanita yang begitu dekat dengannya setelah ia bangun dari koma dan mulai berubah. Saat ia baru saja selangkah di tangga kecil pada kereta kuda itu. Ia mendengar suara dan nafas tersengal-sengal dari seorang pelayan perempuan.
Alice tersenyum, ia tahu siapa gadis yang berlari dengan susah payah itu. "No...nona...!" panggil Mary dengan nafas tak karuan. "Ma..maafkan saya. Kalau boleh saya ingin ikut bersama anda." Lanjutnya setelah ia memperbaiki nafasnya.
" Tentu."
~
"Berapa lama kita akan sampai kesana?",
" Sekitar 1 hari nona."
Alice dan Mary duduk berdua dalam kereta kuda sedangkan Leon mengikuti mereka sambil mengendarai kuda.
Ketika perjalan yang cukup panjang dan hari telah larut. Mereka berhenti dan berkemah untuk beristirahat. " Kita akan melanjutkan perjalanan saat fajar sudah terbit." Ucapnya lalu ia turun dari kuda dan memeriksa keadaan Alice yang ada dalam kereta. "Nona. Kita akan berkemah disini. Apa anda baik-baik saja?"
Meski risih dan terkadang canggung setelah kejadian malam itu. Sebagai seorang ksatria, Leon tetap harus melaksanakan perintah dari tuannya untuk melindungi Alice.
Alice menutup buku yang ia baca dan menjawab Leon "Ya. Aku baik-baik saja." Alice lalu melihat Mary yang tertidur dalam keadaan duduk sambil bersandar di sisi kereta. Alice menepuk-nepuk pelan lengannya "Mary. Bangunlah." Mary perlahan membuka matanya dan melihat Alice tepat di wajahnya. "Hmm, No..nona? Nona?!" Segera ia terbelalak dan kaget saat tahu akan kesalahannya. "Ma-maafkan saya. Saya tertidur. Saya..."
"Tidak apa-apa, lagi pula ini perjalanan pertamamu kan?"
Mary bangkit dari kursinya setelah ia merapikan rambut dan pakaiannya. "Kalau begitu saya akan segera menyiapkan makan malam untuk kita." Lalu Mary turun dan mengambil beberapa peralatan dan bahan masak.
Di tengah hutan yang gelap, berteman dengan api unggun sebagai penerangan. Alice dan yang lainnya menikmati makan malam sederhana mereka.
Setelah makan malam selesai. Leon memutuskan untuk berjaga. Ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon sambil bersiaga. Sementara itu kusir dan Mary mulai menyiapkan alas untuk mereka tidur.
"Mary, kau tidak perlu tidur di luar. Kursi ini cukup luas untuk merebahkan tubuh. Masuklah."
Mary yang sudah terbiasa dengan ajakan Alice tak lagi membantah atau menolak. Ia tahu kalau Alice akan tetap mengajaknya meski ia sudah menolak. "Terima kasih nona." Ucap Mary tersenyum dan segera naik ke dalam kereta.
Alice memberikan isyarat dengan tangannya untuk mempersilahkan Mary tidur di kursi kosong di depannya.
Malam semakin gelap dan suara jangkrik semakin jelas berbunyi. Dengan sikap siaga Leon, Alice tidak perlu terlalu cemas akan serangan mendadak. Hanya saja..."Kurasa kita kedatangan tamu yang cukup banyak malam ini." Ia tersenyum dengan tatapan dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments