Termenung dalam ruang belajarnya. Ernard menunduk sambil memijat dahinya. "Sepertinya Mana Heart nona Alicia tidak stabil dan kemungkinan besar ketika ia terbangun Mana Heart miliknya akan menghilang." Kata salah satu Priest saat itu.
Saat aku menyuruh Alice untuk memegang batu pendeteksi Mana hari itu, aku tahu kalau hal ini akan terjadi. Dia... benar-benar kehilangan kemampuannya. Benak Ernard.
"Ayah tak perlu mencemaskan ku. Aku akan menerima apapun yang terjadi. Lagi pula, hal ini juga disebabkan karena kesalahanku. Jika..." Alice memalingkan wajahnya kemudian ia berbalik menatap Ernard dan meyakinkannya. "Aku baik-baik saja Ayah." Jelasnya sambil tersenyum.
Mengingat bahwa putrinya sendiri tidak masalah dengan hilangnya Mana Heart miliknya, Ernard sedikit lega. Tapi bukankah itu berarti kalau Alice akan hidup sama seperti para rakyat biasa di luar sana yang tak dapat melakukan sihir? Bahkan dulu ia begitu kompetitif terhadap adiknya. Ketika adiknya lebih baik dalam sihir daripada dirinya. Alice melemparkan kemarahannya pada para pelayan. Apakah ia akan baik-baik saja kedepannya?
Setelah mengetahui hal itu. Ernard segera memerintahkan Hubert untuk menjaga agar informasi tentang hilangnya Mana Heart milik Alice terjaga dan tidak tersebar luas. Demi menjaga Alice dari cercaan para bangsawan di luar sana. Ernard terpaksa harus mengunci hal ini dari pihak luar.
Di tempat lainnya dalam kediaman Strongfort. Para pelayan yang sibuk bekerja kerap kali membicarakan tentang perubahan Alice. Bukan hanya tutur bicaranya saja tapi juga sikap dan aura yang ia pancarkan tampak benar-benar berbeda.
Alice yang sekarang terasa begitu hangat dan ramah. Ia bahkan tak lupa memperhatikan hal-hal kecil pada setiap pegawai yang ia temui. Baik dari kesehatan mereka, keluarga mereka atau keadaan mereka.
"Kalian tahu tidak? Tadi Nona Alicia memberiku sebuah balsem luka?" Mulai percakapan salah satu pelayan wanita yang sedang merapikan peralatan dapur.
" Balsem luka?"
"Iya. Waktu itu kan Nona Alicia tidak sengaja melihat luka bakar di tanganku."
"Lalu, lalu?" Kompak beberapa pelayan lainnya.
"Ia menyuruhku untuk pergi kamarnya. Aduh, kupikir aku ada kesalahan apa atau akan diapa-apain tapi ternyata Nona Alicia hanya ingin memberiku sebuah balsem ini." Ucapnya penuh rasa senang menunjukkan pemberian Alice.
"Itukan balsem kualitas terbaik dari perusahaan Lombard yang sekarang sedang naik daun."
"Irinya..."
"Kau mau? Katanya kau boleh datang padanya jika ada masalah atau sesuatu yang terjadi."
"Benarkah? Sepertinya nona benar-benar berubah ya?"
"Apa kubilang kan. Nona Alicia itu tampak seperti dewi sekarang"
"Iya benar. Senyuman bisa membuat orang luluh dan saat ia berjalan. ia benar-benar terlihat anggun dan mempesona Ku pikir aku jatuh hati padanya."
"Aku setuju itu."
Sejak terbangun, kehidupan Alice memang berubah.
~
Menikmati Teh hangat dengan aroma madu dan sedikit perasan lemon dalam gazebo kecil di taman bunga dekat kamarnya. Alice tampaknya jatuh hati pada tempat itu dan menjadikannya tempat favoritnya.
Semilir angin sore begitu nyaman menerpa wajahnya. "Aku ingin memainkan seruling atau kecapi" Gumamnya.
Ia ingat kalau dulu ia sangat sering meluangkan waktu di tepi danau miliknya sambil bermain seruling atau kecapi. Alice tersenyum sendiri saat ia mengingat kenangan indah dimasa lalunya. Pelan dan semua masa nostalgia itu datang mengisi kepalanya namun ketika ia sadar akan pria yang mengkhianati nya. Hatinya menjadi sakit. Tiba-tiba rasa pahit seolah-olah memenuhi lidahnya.
Alice menghela nafasnya. "Sulit untuk melupakannya. Meski aku berkata pada diriku bahwa itu adalah masa lalu tapi kenangan itu tetap saja masih membekas" Pikirnya
Di dalam istananya, saat Alice merasa lelah dengan semua urusan politik dan ekonomi kekaisaran yang ia bangun. Ia kerap kali memainkan kecapi kesukaannya di tepi kolam atau danau yang tak jauh dari istananya.
Ketika suara senar yang di petik itu mulai memainkan melodi. Langkah kaki yang cukup berat menghampiri dirinya dari belakang.
"Zhou kecil" Panggil akrab Alice yang saat itu adalah Lan You Nian
"Guru. Lagi-lagi anda kabur dari tugas?"
"Ayolah Zhou kecil. Biarkan gurumu menikmati hidupnya juga" Candanya.
Yun Zhou berjalan mendekat dan meraih sebuah seruling yang ia selalu bawa di pinggangnya. Seruling itu adalah pemberian pertama You Nian saat pertama kali mereka bertemu.
"Kalau begitu...biarkan muridmu ini menemanimu."
You Nian tersenyum "Bagus, bagus. Kemarilah."
Di bawah bulan purnama, keduanya saling berbagi melodi. Selaras dan seirama menciptakan musik yang begitu indah. Yun Zhou sesekali melirik You Nian, terpesona dengan gurunya yang duduk sambil memetik kecapi disampingnya. Yun Zhou tak tahu harus berbuat apa. Perasaan suka atau cinta mungkin terhadap gurunya itu bukanlah masalah tapi hal itu adalah tabu jika antara pria dan wanita. Yun Zhou tidak ingin menjadi murid yang lancang dan tidak berbakti pada gurunya.
Yun Zhou hanya bisa menyalahkan takdir karena terlahir sebagai muridnya dan memendam perasaan itu.
Namun, bagaimana dengan You Nian? Jauh dalam lubuk hatinya, You Nian juga merasakan hal yang sama. Tapi dengan status mereka. Keduanya benar-benar tak bisa berbuat apa-apa selain melanggar tabu tersebut.
Perasaan Alice bercampur aduk setelah mengingat masa lalunya. Ia memegang dadanya yang terasa sedikit sakit.
"Nona, apa terjadi sesuatu?" Mary bertanya setelah ia melihat Mood Alice tiba-tiba berubah. Tadinya ia melihat wajah Alice begitu tenang dan santai namun sekarang ia melihat Alice seperti dalam kesulitan.
" Tidak. Tidak ada apa-apa" Balas Alice menggelengkan kepalanya.
" Oh iya Nona, Lusa sepertinya Nona Iris akan pulang."
Iris? Adikku? Aku hampir lupa. Kalau ia biasanya pulang seminggu sekali atau sesekali dalam sebulan jika memang ada waktu.
Iris Lein Strongfort. Putri kedua dari keluarga Strongfort saat ini. Dikenal sebagi jenius yang ahli dalam sihir elemen petir. Saat usianya baru dua belas tahun ia sudah mencapai tingkat 4 dimana dirinya sudah bisa menciptakan sihir tanpa harus menggunakan media.
Tingkatan penyihir terbagi menjadi beberapa level. mulai dari tingkat satu yang terendah hingga 7 yang merupakan level tertinggi saat ini.
Tingkat Satu atau pemula, dimana seorang penyihir sudah bisa merasakan mana disekitarnya. Pada tahap ini penyihir pemula lebih fokus untuk mengendalikan Mana.
Tingkat Dua, penyihir pemula mulai belajar mengimajinasikan dan menciptakan jenis sihir sesuai dengan kecocokan unsur Mana Heart mereka. Penyihir tingkat dua masih membutuhkan media untuk menciptakan sebuah sihir.
Tingkat tiga, mereka yang memiliki Mana Heart pada level ini sudah dapat menciptakan sihir tingkat lanjut, baik dalam hal menyerang maupun bertahan.
Tingkat Empat, para penyihir tak membutuhkan media lagi untuk menciptakan sebuah sihir. Mereka hanya perlu merapalkan mantra. Hal itu karena kondensasi Mana dalam tubuh mereka begitu tinggi dan mereka semakin ahli dalam mengendalikan aliran Mana di sekitar mereka.
Tingkat Lima adalah ketika penyihir sudah benar-benar ahli dan dapat menciptakan sihir tanpa perlu melakukan rapalan.
Tingkat Enam dan Tujuh sendiri dikatakan bahwa penyihir tersebut sudah dapat menciptakan sihir tingkat tinggi yang dimana dapat menghancurkan hampir seluruh kerajaan jika mereka benar-benar serius. Benar atau tidaknya, di kerajaan Solus ini belum pernah terdengar orang yang dapat melangkah pada tahap itu.
Tapi rumor mengatakan bahwa pemilik menara penyihir adalah seorang ahli tingkat enam.
Setelah mendengar nama Iris, tubuh Alice sedikit tersentak karena terkejut.
Perasaan ini...? Takut?
Dia dan Iris memang tak akur, terutama untuk dirinya yang dulu. Rasa iri dan dengki membuat dia mulai memisahkan dirinya dari adiknya itu.
Iris sendiri melihat Alice perlahan mulai berubah, ia merasa kalau kakaknya sudah tidak lagi berguna dan tidak dapat diandalkan. Kadang mereka saling membuang muka saat berpapasan dan terkadang Iris melakukan pengancaman terhadap Alice dengan menggunakan sihir ringan.
Mengingat kalau Iris beberapa kali menyerangnya dengan kejutan listrik. Tubuhnya seperti tahu untuk memberikan reaksi seperti apa saat ia harus bertemu dengan Iris.
Alice menoleh ke arah Mary
" Benarkah? Aku sudah tak sabar menantikannya." Ucapnya penuh senyum.
Ya, rasa takut itu hanya berlaku untuk Alice yang dulu. Baginya yang sekarang, saat ini Iris adalah seorang adik yang harus ia sayangi. Berharap memiliki keluarga di kehidupan yang dulu. Kini ia benar-benar memilikinya ditambah seorang adik perempuan.
"Kalau ku ingat-ingat...dulu dia anak yang periang dan sering menempel padaku." Benaknya. Alice tertawa kecil sambil meletakkan salah satu tangannya di depan mulutnya. "Ku harap aku bisa membuatnya kembali seperti saat itu. Yah. Ini juga salahku karena menjauhinya waktu itu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments