Setelah Mary meninggalkan kamar. Alice bersiap untuk memulai latihan tenaga dalamnya. Kali ini ia tidak ingin terlalu berkeringat dan membuat pakaiannya basah kuyup lagi.
Tidak jauh dari ranjangnya di tengah kamar pada area yang kosong,cAlice berdiri dan menekuk lututnya sedikit ke bawah. Alice mengambil posisi kuda-kuda dan merentangkan kedua tangannya ke depan. Perlahan ia mulai mengalirkan energi Qi pada tangan dan kakinya diiringi dengan tarikan dan hembusan nafas. Kemudian terciptalah sebuah kobaran api kecil menyelimuti tangannya. Ia ingat kalau sebelum ia kehilangan Mana Heart nya, ia memiliki kecocokan dengan unsur api dan seperti saat inilah kobaran api kecil yang ia mampu buat waktu itu. Alice merasa kalau tubuhnya masih menyimpan sisa mana dan unsur api sehingga prinsip dunia ini mempengaruhi energi Qi yang mengalir dalam tubuhnya.
Alice mulai menggerakkan tangan dan kakinya seirama. Berayun, mendorong dengan lembut dan sesekali ia meninju. Dengan energi Qi panas yang mampu membuat kobaran api, Alice terlihat seperti sedang memainkan dua buah obor di tangannya sambil menari.
"Tidak salah lagi, Mana Heart ku yang dahulu berpengaruh pada tubuhku hingga energi Qi ku mampu menghasilkan kobaran api dengan begitu mudahnya." Benaknya.
Ia bahkan tidak perlu membuka kembali teknik dan jurus-jurus yang pernah ia pelajari. Namun terselip sesuatu yang janggal dalam batinnya. Ia merasa kalau ada sesuatu yang berbeda sewaktu ia melepaskan energi Qi nya di tengah kota waktu itu.
Alice menghentikan gerakannya dan kembali pada posisi tegak. Ia melihat salah satu tangannya lalu kembali mengalirkan energi Qi nya untuk membuat kobaran api tersebut.
Perlahan kobaran itu semakin besar dan membentuk bola api seukuran bola kasti. Alice menyipitkan matanya saat ia melihat bola api yang berkobar di depannya. "Bukankah...ini seperti sihir?" Ia heran dengan begitu mudahnya membentuk bola api sebesar itu. Mungkin jika dirinya yang dulu memang sangatlah mudah karena kekuatannya yang begitu besar, namun jika di bandingkan dengan dirinya yang sekarang yang mungkin masih dalam tahap pengembangan energi Qi, apakah itu mungkin?
" Apakah Mana Heartku tidak sepenuhnya hilang?"
Alice mengira bahwa selain dari energi Qi yang ia serap dan bentuk dalam tubuhnya. Mana yang terkandung dalam udara di sekelilingnya juga mempengaruhi kemampuannya, selain itu kecocokannya pada unsur api di waktu dulu yang membuat perkembangannya lebih cepat dan stabil dalam menggunakan Qi panas. Namun itu semua masihlah sebuah dugaan baginya. Qi dan Mana yang dimiliki prinsip dunia ini berbeda dengan dunia di kehidupan yang keduanya. Meski sama-sama menciptakan kekuatan tenaga dalam tapi ada hal membuat keduanya terpisah.
Selagi Alice memperhatikan bola api di tangannya ia merasa aneh ketika hawa panas sama sekali tidak terasa dari bola api itu. Alice mengernyitkan kedua alisnya. "Panasnya ada, tapi tidak begitu kuat" Gumamnya setelah ia meletakkan tangannya yang lain di atas bola api itu.
Karena penasaran Alice mengalirkan energi Qi lebih banyak pada tangannya dan membuat bola api yang lebih besar. Alhasil bola itu menjadi seukuran kepala orang dewasa.
"Huh, aku tidak menyangka ternyata tidak sesulit yang ku bayangkan" Alice terkejut. ia pikir bahwa ia akan membutuhkan usaha yang lebih tapi malah sebaliknya, ia hanya perlu sedikit tambahan energi Qi.
Sekali lagi Alice mendekatkan satu tangannya yang lain pada bola api itu. Ia tercengang ketika ujung jarinya menyentuh bola api itu. Rasa dingin dan sakit yang menusuk baru saja menyambar telunjuknya.
"I-ini...[ Freezing Flame ]" Sesegera mungkin Alice melepaskan energi Qi nya dan memadamkan api di tangannya. "Luar biasa. Aku tidak menyangka bisa menciptakan Freezing Flame."
Rasa yang teramat senang dengan gamblang terlukiskan di wajahnya. Ia menyeringai cukup lama akan pencapaiannya yang tak terduga.
"Untuk melatih kedua unsur dan energi Qi yang berlawanan saja sudah sulit apalagi jika harus menyatukannya. Aku ingat dengan jelas ketika seseorang yang bodoh berusaha menyatukan api dan es pada tubuhnya" Alice terkekeh sejenak "Dia meledak karena energi Qi yang saling kontradiksi itu."
Freezing flame menurut Alice adalah api yang terbentuk karena penyatuan antara Qi panas dan dingin. Meski menyatu namun mereka tidak menghilangkan unsur dasarnya. Qi dari Freezing flame sendiri tidak akan membakar atau membuat api yang bergejolak. Tapi dia akan membekukan siapapun yang terkena serangan dari api itu. Freezing flame atau api pembeku merupakan sesuatu yang berbahaya. Pembekuan yang terjadi hanyalah terlihat dari luarnya saja tapi bagi objek yang terkena, mereka akan merasakan panas jarum yang menusuk hingga ke dalam tulang. Freezing flame tidaklah membakar pada bagian luar tapi api itu membakar dari dalam.
"Aku harus lebih berhati-hati dalam menggunakan teknik ini. Sebaiknya aku belajar untuk menggunakan keduanya secara terpisah juga." Alice terdiam sejenak sambil berpikir. "Divine Fire Dragon dan Freezing Lotus Palm mungkin akan menjadi cara yang cocok untuk melatih keduanya secara terpisah." Gumamnya mengangguk menyetujui keputusannya sendiri.
~
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama berlatih. Alice kali ini berkunjung ke ruang belajar ayahnya. Sambil membawa secangkir teh dan beberapa potong kue kering, Alice mengunjungi ayahnya.
Suara ketukan membuat Ernard berhenti memeriksa dokumen di tangannya. "Ayah...ini aku, Alice."
"Masuklah."
Alice dengan anggunnya melangkah menuju meja Ernard. Dengan nampan yang diatasnya secangkir teh dan cemilan yang ia bawa di kedua tangannya membuat Ernard bertanya "Apa yang membuat mu kemari? Apakah tidak ada pelayan diluar sana?" Ernard bermaksud untuk menanyainya tentang kunjungannya yang sangat jarang ke ruang belajar miliknya, terlebih lagi kenapa seorang nona dari pemilik rumah harus membawa teh dan cemilan yang dimana itu adalah pekerjaan seorang pelayan.
Alice berjalan mendekati meja Ernard. Ia tersenyum lembut."Kue nya dibuat oleh kepala dapur sedangkan tehnya dibuat olehku. Cobalah ayah." Ucap Alice sambil menyuguhkan teh dan cemilan itu dihadapan Ernard.
"Kau yang membuat tehnya?" Alice mengangguk menjawab pertanyaan Ernard.
Meski ragu tapi Ernard tetap mengambil secangkir teh di hadapannya itu. Perlahan ia mulai meminum teh itu.
"Rasanya manis dan sedikit asam, aromanya juga enak."
"Itu karena aku menambah sedikit madu dan lemon serta bunga chamomile yang ada di taman bungaku."
Ernard heran dan sedikit terkejut, ia baru tahu kalau Alice ternyata mahir dalam membuat teh terutama pengetahuan tentang bunga yang bisa di gunakan untuk menambah aroma teh.
Ernard meletakkan secangkir teh itu. "Kebetulan kau ada disini. Aku ingin menanyakan sesuatu?" Raut wajahnya menjadi lebih serius seakan ia akan mengatakan sesuatu yang begitu penting.
"Apa itu ayah?"
Ernard tidak begitu yakin dengan pertanyaannya tapi meski begitu demi kebaikan putrinya ini setidaknya ia mencoba untuk memberikan jalan yang terbaik.
"Apa kau ingin kembali ke akademi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 306 Episodes
Comments