Bukan Begitu Maksud Ku.

Dua minggu kemudian.

"Gays, ayo kita beli minum dulu. Aku haus." Cicit Nisa.

Mereka baru saja selesai latihan pertama, dan sekarang waktunya untuk istirahat sejenak, sebelum latihan berlanjut.

"Iya sama Nis, kita juga haus." Kata Tina mewakili Ayu dan Dia.

"Ya sudah, ayo kita ke warung sana." Tunjuk Nisa ke warung yang berada di luar pagar rumah sekolah mereka.

Mereka pun berangkat bersama menuju warung yang tak begitu jauh dari tempat mereka latihan, hari nampa sangat panas. Namun untung saja mereka latihan di bawah pohon beringin besar yang mampu menutupi mereka dari teriknya matahati.

"Bu permisi!." Teriak Nisa, karena pemilik warungnya tak terlihat.

"Bu kami mau beli!!." Teriak Dia karena pemilik warung tak kunjung keluar.

Sudah pangilan ke tiga, namun pemilik warung belum juga muncul, tak berselang lama muncul lah seorang Ibu-ibu dari pintu belakang warung.

"Ada apa dek, maaf tadi Ibu tidak dengar. Ibu lagi nyuci di belakang, jadi warung nggak ada yang jaga. Maklum anak Ibu lagi nggak ada di rumah." Jelas Ibu pemilik warung tak enak hati.

"Nggak apa-apa Bu, Kita cuma mau beli minum." Ujar Nisa.

"Apa Ibu menjual air minum kemasan?." Tanya Nisa lagi, sedagkan teman-temannya sedang mengipas-ngipas wajah mereka menggunakan telapak tangan mereka saking panasnya.

"Ya ada neng, tinggal di pilih. Di sana letak kulkas nya." Tunjuk Ibu pada kulkas yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri namun terletak di bagian paling sudut.

Ayu, Tina, dan Dia segera berjalan menuju kulkas pendingin, mereka memilih miniman dingin dan beberapa jajanan untuk mereka makan.

"Bu, ada nggak minuman yang nggak dingin?, maksud saya minuman yang nggak berasal dari dalam kulkas." Tanya Nisa pada Ibu pemilik warung.

"Oh, ada neng. Itu di sana. " Ibu pemilik warung menunjuk ke arah deretan minuman yang tersusun rapi di atas papan yang di tangkupkan dinding warungnya.

Nisa mengikuti arah yang di tunjuk Ibu pemilik warung, dan benar saja banyak sejenis minuman yang tersusun rapi di sana.

Nisa segera mengambil minuman yang akan ia minum, kemudian kembali ke depan untuk membayar minumannya.

"Ini berapa Bu." Tanya Nisa, sedangkan teman-temannya sudah menunggu duduk di depan warung. Karena mereka sudah lebih dulu membayar.

"Lima ribu saja nak." Kata Ibu pemilik warung.

Setelah membayar Nisa berjalan bergabung bersama teman-temannya, sedangkan Ibu pemilik warung kembali kebelakang melanjutkan kegiatannya yang belum selesai.

Nisa dan teman-temannya belum kembali, melainkan duduk di depan warung, mereka masih menikmati air minun yang mereka beli tadi." Nis, kamu nggak beli minuman yang dingin?." Tanya Dia, karena dirinya sempat mendengar Nisa menanyakan air minum yang tidak dingin kepada pemilik warung tadi. Dan benar saja, Nisa tengah meminum air biasa.

"Tidak, Aku lebih suka minum air biasa." Kata Nisa apa adanya.

Teman Nisa manggut-manggut.

"Kenapa?." Tanya Nisa.

" Nggak apa-apa, hanya saja aku rasa lebih enak dari air dingin."

"Air dingin seger lo Nis." Sambung Dia.

"Dia, bagiku air biasa lebih cepat menghilangkan haus dari pada air dingin, dan juga lebih sehat. Meminum seperti air es tidak begitu baik sehabis berolahraga karena akan berdampak pada jantung dan masih banyak lagi." Jelas Nisa.

"Benar kah?, kok Aku nggak tau. Kamu tau dari mana." Tanya Ayu kurang updet.

"Tau dari kakak Aku, dulu Aku juga sering minum air es sehabis joging keliling rumah. Tapi kalau kakak Aku lihat Aku langsung kena marah, sejak saat itulah Aku nggak lagi minum setelah kakak Aku ngasi tau alasan dia ngelarang Aku minum air es sehabis olahraga." Jelas Nisa panjang lebar.

Teman-teman Nisa mengangguk mengerti.

"Nisa, cepat ajak yang lain, latihan akan di mulai lagi." Teriak salah satu siswa yang merupakan kakak senior mereka.

Nisa dan teman-teman kompak melihat ke arah senior mereka."Iya kak, bentar." Ujar Nisa.

"Oke, kakak duluan, cepetan nyusul." Balas kakak senior nya yang bernama Keyla.

Setelah mengatakan itu keyla segera meninggalkan Nisa dan teman-temannya menuju tempat latihan mereka.

Setelah menghabiskan minuman dan makanan yang mereka beli tadi, mereka segera berlenggang menuju tempat latihan.

*

*

*

"Nis, kamu beli nggak?." Tanya Tina, kini mereka tengah dalam perjalanan pulang.

"Aku pengen si Tin, tapi belum tau. Aku belum ngomong sama orangtua Aku." Cicit Nisa yang berada di boncengan Tina.

"Oh iya Nis, Aku lupa." Ujar Tina kikuk.

"Eh Tin, Aku nggaak nyangka lo kalau Pak Andika ternyata ikut latihan silat juga."

"Iya Nis Aku juga nggak nyangka bakalan latihan bareng pria idaman ku." Cicit Tina gemas.

" Bukan begitu maksudku, maksu Aku itu Kenapa pak Andika nggak jadi pelatih saja, kalau di lihat dari penampialannya kan sudah oke banget. Pak Andika juga tingkatannya sudah tinggi." Jelas Nisa.

"Iya juga, biar tambah jago mungkin. Alasan belum mau jadi pelatih, mungkin karena merasa belum sanggup menjadi seorang pelatih. Karena seorang pelatih itu tanggung jawabnya besar Nis."

" Mungkin saja Tin."

" Kita beruntung Tin bisa ikut latihan silat, karena jaman sekarang banyak orang-orang jahat berkeliaran. Dari penjahat kelamin sampai penjahat harta. Kita harus pandai-pandai jaga diri." Nisa mengungkapkan kekhawatirannya.

"Iya Nis, kalau yang cuma bawa badan saja Aku rasa kita sudah sanggup melawannya, tapi kalau senjata tajam sama senjata api Aku ngeri Nis. Sekarang banyak begal di mana-mana." Jelas Tina bergidik ngeri.

Nisa dan Tina terus bercerita mengenai beragam kejahatan, dari pembegalan, Pencopetan, pemerkosaan dan berbagai tindak kriminal lainnya.

"Nis, Aku pulang dulu ya. Titip salam sama Ibu dan Bapak,maaf Aku belum bisa mampir. Udah hampir magrib, takut pulang sendirian, lain kali kalau ada waktu Aku mampir." Ujar Tina, kini mereka sudah sampai di depan pagar rumah Nisa.

"Iya Tin, nanti Aku sampaikan. Sekarang cepat sana pulang, keburu magrib, nggak baik untuk keselamatanmu. Nanti kalau sudah sampai rumah kasih kabar ke Aku melalui pesan biasa." Pesan Nisa.

Tina mengangguk seraya menarik sudut bibirnya." Ya sudah Aku pulang dulu, sampai jumpa besok Nis." Tina menarik gas motornya melaju meninggalkan perkarangan rumah Nisa.

"Sampai jumpa, hati-hati di jalan Tin." Balas Nisa melambaikan tangan nya di udara.

Nisa baru masuk ke rumah setelah memastikan Tina benar -benar menghilang dari pandangannya.

" Asslammualaikum, Nisa pulang."

"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu yang baru saja keluar dari dalam kamar.

"Teman kamu mana Nis?, sudah pulang." Ibu mendongak melihat ke arah teras rumah, karena tadi Ibu mendengar suara motor berhenti di depan rumah.

"Iya Bu sudah pulang, oh Iya Bu tadi Tina nitip salam buat Ibu sama Bapak."

"Wa'alaikumsalam, nak apa temen mu nggak takut pulang sendirian." Tanya Ibu khawatir.

"Takut Bu, itu dia nggak mampir karena takut. Makanya Aku suru cepat-cepat pulang."

"Memangnya kalian pulang tidak bisa di percepat, misalnya izin pulang lebih dulu begitu. Kalian kan anak perempuan, bahaya di jalan." Ujar Ibu.

"Nggak tau Bu, nanti Nisa coba tanya sama pelatihnya. Siapa tau boleh, ya sudah Bu Nisa ke dalam dulu, mau mandi." Kata Nisa dan di jawab anggukan oleh Ibu nya.

Sesampainya di kamar Nisa segera me mebaringkan tubuhnya sebentar,menetralkan terlebih dahulu suhu tubuhnya. Setelah merasa sudah normal baru lah Nisa bergegas menuju kamar mandi, guna membersihkan tubuh dari keringat dan kotoran debu yang menepel.

**********

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!